Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 89


__ADS_3

Sore itu Ajeng sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP klinik bersalin Kasih Bunda. Baby Arsene sudah diperiksa dan dibersihkan, bayi berhidung mancung mungil itu sedang tertidur setelah tadi ibunya berjuang memberikan ASI pertamanya. Keluarga Ajeng dan Ferdian baru bisa menengok mereka sekarang di kamar itu.


"Selamat Ajeng Sayang!" peluk Mama, ia menciumi putri bungsunya yang baru saja melahirkan siang tadi. Mama berderai air mata, hatinya bahagia cucunya sudah bertambah.


"Makasih Ma, berkat doa Mama, aku bisa melahirkan dengan normal dan lancar."


Mama mengusap air matanya. Kali ini giliran Papa yang memeluk Ajeng, tak kalah haru dengan Mama, Papa pun meneteskan air mata ketika memeluk putrinya itu.


"Ferdian mana?" tanya Papa.


"Lagi ke minimarket, Pa!" jawab Ajeng di atas kasurnya.


"Ajeng, selamat ya Sayang! Terima kasih sudah memberikan cucu pertama untuk keluarga kami!" kali ini Bunda yang menghamburkan tubuhnya untuk memeluk erat menantunya itu. Bunda menciumi kepala menantunya itu penuh dengan rasa haru dan bahagia.


"Makasih Bunda untuk doa dan dukungannya, Ferdian bisa melewati traumanya dengan sangat baik."


"Iya, Bunda juga gak nyangka, Ferdian sama sekali tidak terpengaruh. Dia hebat!" ucap Bunda sesenggukan yang tidak dapat menahan tangisnya lagi. "Sekarang dia sudah menjadi ayah," ucap Bunda memegangi wajah Ajeng. Ajeng tersenyum haru.


"Ayah mana Bun?" tanya Ajeng melihat ke arah pintu depan, tidak terlihat ayah mertuanya di sana.


"Ayah menuju kemari sama Pak Yusuf karena barusan dari rumah terapi," jawab Bunda, "Mungkin sebentar lagi sampai," jawab Bunda lagi.


Ajeng tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya ayah mertuanya itu yang kini sudah mendapatkan cucu pertamanya dari rahim dia sendiri. Ia hanya berharap ayah segera sembuh dari penyakit yang selama ini dideritanya. Kabar terakhir yang ia tahu, ayah mertuanya itu sudah sembuh dari stroke di wajahnya, dan sudah mulai berbicara dengan lancar, mungkin karena semangatnya bergelora karena akan segera memiliki cucu.


Mama dan Bunda mengobrol bersama di atas sofa di kamar inap itu, sementara Papa duduk di atas matras menemani Ajeng sambil melihat bayi mungil yang tertidur di atas ranjang kecil.


"Mirip siapa ya cucu Kakek yang satu ini?" tanya Papa memandangi wajah bayi yang tenang itu.


"Hidungnya udah pasti mirip Ferdian," jawab Ajeng.


"Makin besar makin keliatan mirip siapa nanti," ujar Papa, "yang penting anak kamu sehat, baik, pinter, dan sholeh, itu cukup buat kebahagiaan orang tua."


"Doain kita ya Pa, biar bisa jadi orangtua yang hebat seperti Papa!" ucap Ajeng menatap papanya.


Papa terkekeh.


"Papa malu dikatain hebat sama kamu, Jeng! Bahkan hidup kalian aja Papa yang atur sesuai kehendak Papa!"


"Tapi Papa melakukannya demi kebaikan kita kan?"


"Iya, tapi seharusnya kalian bisa memilih dan kami sebagai orang tua cukup mengarahkan."


"Aku gak pernah menyesal dengan keputusan Papa, bahkan aku sudah merasa bahagia bisa bersama Ferdian. Kini sudah lahir malaikat kecil kami."


Mata papa berkaca-kaca. Ia mengusap-usap lengan Ajeng.


"Assalamu'alaikum..." Ferdian masuk ke dalam kamar, ia tersenyum pada orangtua dan mertuanya. Di tangannya ada sebuah kantung kresek berisi berbagai macam makanan, minuman, dan buah-buahan untuk istrinya. Maklum Ajeng sedang menjadi ibu menyusui sekarang, ia harus banyak mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi agar produksi ASI-nya lancar. Meskipun pada tiga hari di awal, seorang ibu menyusui bakal merasa kesulitan, karena ASI yang diproduksi masih sedikit. Ia harus lebih bisa bersabar menghadapi bayinya yang kemungkinan akan sering rewel karena kelaparan.


"Wa'alaikumsalam..." jawab semuanya.


"Ayah belum datang, Bun?" tanya Ferdian pada ibunya.


"Sebentar lagi kayanya."


Ferdian sudah tidak sabar bertemu dengan ayahnya itu. Ia sudah sangat merindukannya, terlebih lagi saat ini ayahnya itu sudah mendapatkan cucu pertamanya. Tidak terbayangkan rasanya bagaimana perasaan ayahnya itu.


"Arsene belum bangun?" tanya Ferdian menatap bayinya yang mungil.

__ADS_1


"Kata suster, kalau bayi baru lahir lebih lelap tidur siang hari daripada malam hari. Aku mesti siap-siap nih!" jawab Ajeng.


"Iya harusnya kalau bayinya tidur, ibunya ikut tidur, biar energinya sama-sama cukup," Mama menimpali.


"Ferdian, ayah kamu udah sampai katanya, bisa kamu jemput sekarang di depan?" ujar Bunda.


Mata Ferdian berbinar, "Siap Bun!" jawab Ferdian yang kemudian langsung bergegas pergi menuju halaman parkir klinik.


Ferdian langsung menghampiri ayahnya yang baru saja keluar dari mobil, dibantu oleh supirnya Pak Yusuf. Ferdian menyalami tangan ayahnya dan memeluknya erat.


"Se..selamat Fer! Kamu udah jadi ayah sekarang! Ayah bahagia sekali," ucap ayah terbata-bata sambil membalas pelukan anaknya itu. Air mata menetes mengalir di pipinya.


"Makasih Ayah!" ucap Ferdian berderai air mata. Ia selalu tidak bisa menahan air matanya ketika bertemu dengan ayahnya, apalagi sekarang kondisi ayahnya sudah jauh lebih baik.


"Ayah udah bisa jalan?" tanya Ferdian mengusap air matanya.


"Udah tapi sedikit-sedikit, masih terapi terus biar makin lancar."


Ferdian merasa bahagia. Meskipun begitu Pak Yusuf mengambilkannya kursi roda agar Pak Gunawan tidak merasa kesulitan untuk berjalan di dalam klinik. Ferdian mendorong kursi roda dan ayahnya menuju kamar Ajeng.


Mama, Papa, dan Bunda menyambut kedatangan Pak Gunawan di dalam kamar. Ajeng yang masih berada di atas matrasnya, mengambil tangan mertuanya itu untuk mencium punggung tangannya. Bunda menggendong Arsene yang masih lelap tertidur. Bayi itu menggeliat membuat gemas orang-orang yang memandangnya. Pak Gunawan tidak bisa menahan tangis harunya ketika melihat cucu pertamanya itu, begitu mungil dan polos. Ia menangis sesenggukan ketika berusaha mencium cucu pertamanya itu. Rasa haru berpendar dan menyelimuti ruangan itu, semuanya jadi kembali menangis karena Pak Gunawan.


"Siapa namanya?" tanya Pak Gunawan sambil mengusap air matanya.


"Arsene Rezka Winata," jawab Ferdian.


"Masya Allah, cakepnya cucu Opa Gunawan!" ucap Pak Gunawan yang tidak berhenti meneteskan air mata harunya. Semuanya jadi kembali terharu. Bunda Bella menciumi cucunya itu lalu mengembalikan pada ranjang kecil di samping Ajeng.


Para orangtua di sana mengobrol saling menyapa kabar dan menanyakan keadaan sejauh ini. Sementara Ferdian duduk di matras menemani istrinya.


"Kamu capek, Sayang?" tanya Ferdian mengelus tangan istrinya.


Ferdian tersenyum.


"Mungkin karena perasaan bahagia aku jauh lebih besar dari rasa lelah. Jadinya gak kerasa sama sekali."


"Iya aku juga bahagia banget sekarang ini. Anak kita udah lahir, dan ayah yang udah jauh lebih baik daripada terakhir kita ketemu. Rasanya hari ini penuh dengan keajaiban," ucap Ferdian yang matanya berkilauan. Ajeng mengelus pipi suaminya itu, mereka berdua pun berpelukan karena bahagia atas apa yang terjadi hari ini.


Tak terasa hari pun sudah sore.


"Ajeng sayang, kita semua pulang dulu ya, kalian berdua harus istirahat, pasti nanti bayi kamu bangun malam nanti!" ujar Mama menghampiri Ajeng.


"Ah, iya Ma! Makasih banyak, Ma!" ucap Ajeng memeluk mamanya.


"Sehat selalu ya Sayang!" kali ini bunda mertuanya yang memeluknya.


"Bunda juga!" balas Ajeng.


"Sehat-sehat Nak Ajeng, Ayah sangat bahagia melihat kalian!" ucap Pak Gunawan yang kali ini berucap dengan lancar.


"Ayah juga, semoga Allah selalu memberi kesehatan!"


"Ajeng sayang, kalau butuh apa-apa jangan sungkan, langsung bilang aja sama Papa! Papa akan coba bantu apapun yang kamu butuhkan!" ucap Papa mengelus kepala putrinya itu juga sambil melirik ke Ferdian yang juga mendengarkan.


"Iya, Pa! Makasih banyak!"


"Makasih banyak Pa!" jawab Ferdian.

__ADS_1


Para orangtua itu pun keluar dari kamar inap Ajeng. Hari sudah mulai gelap, semburat lembayung berwarna jingga sudah muncul di balik awan yang cukup tebal. Angin sepoi-sepoi berhembus menemani hari yang bahagia itu. Ferdian menutup pintu kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Kamu udah makan, Sayang?" tanya Ajeng yang khawatir suaminya belum makan sejak tadi ia dipindahkan ke kamar ini.


"Udah barusan, pas mau ke minimarket!"


"Oh syukurlah!"


Tak lama dari itu, seseorang mengetuk pintu kamar. Seorang perawat membawakan makan malam juga vitamin dan obat untuk Ajeng. Perawat itu juga memberitahukan kalau pagi besok akan ada perawat yang akan membantunya melakukan senam kegel dan bagaimana cara merawat payudara agar ASI-nya lancar. Perawat itu pun keluar setelah keperluannya selesai.


"Sayang, aku boleh pulang dulu gak sebentar aja?" tanya Ferdian ragu-ragu.


"Mau apa?"


"Mau ambil baju aku buat besok ganti. Gerah banget, udah gak nyaman badan aku!" ujar Ferdian, wajahnya berkilauan karena minyak dan keringat.


"Tapi jangan lama-lama ya, aku gak mau sendirian di sini!"


"Iya Sayang, aku langsung balik lagi kesini kok kalau udah selesai!" jawab Ferdian menenangkan istrinya.


Ajeng mengangguk.


"Aku pulang dulu ya? Kalau ada apa-apa panggil suster aja, atau kamu telepon aku!" ucap Ferdian, ia mengecup pipi Ajeng.


"Hati-hati Sayang!" ucap Ajeng.


Ferdian keluar tersenyum lalu menutup pintu. Ajeng menghela nafas ketika melihat suaminya pergi. Rasanya tidak nyaman berada sendirian di dalam kamarnya itu.


\=====


Ajeng menatap pada bayi mungilnya. Ia tersenyum kecil. Beberapa kali bayinya itu menggeliat, membuat kulit merahnya terlihat semakin merah. Ajeng memegangi tangan imutnya.


Adzan maghrib sudah berkumandang. Ajeng merasa tidak nyaman, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dulu. Meskipun bagian tubuh bawahnya itu masih terasa linu. Tapi ia harus memaksakan diri apalagi sejak tadi ia belum sama sekali buang air kecil. Ajeng pun pergi ke kamar mandi mumpung bayinya itu masih tertidur.


Setelah selesai mandi ia merasa lebih lega, segar, dan nyaman. Ajeng menyalakan televisi agar tidak terlalu sepi, ia pun menyantap makan malam yang sudah dingin. Sambil menikmati makan malamnya, ia membuka ponselnya. Banyak notifikasi pesan masuk dalam whatsapp, facebook, dan instagramnya. Ternyata sudah banyak kerabat dan rekannya sudah mengetahui kabarnya yang sudah melahirkan hari ini. Ia tahu Ferdian sudah memberitahukannya pada pihak kampus.


Ratusan chat memenuhi whatsapp miliknya. Hampir setiap chat berisi ucapat selamat. Tentu saja ia tidak akan sanggup membalas semua pesan yang kebanyakan dari rekan dosen dan mahasiswanya. Ia hanya menuliskan sebuah status di whatsapp dan instagramnya, yaitu berupa kabar dan ucapan terima kasih.


Tiba-tiba ponselnya itu berdering, sebuah nomor tidak yang tidak dikenalnya meneleponnya malam itu.


"Halo selamat malam?" sapa sebuah suara berat di seberang sana, suara laki-laki.


"Selamat malam, dengan siapa ini?" tanya Ajeng ragu.


"Selamat malam, Bu! Kami dari kepolisian!"


Ajeng mengernyitkan alisnya.


"Kepolisian? Ada apa ya, Pak?" tanya Ajeng, hatinya cemas.


"Kami ingin memberitahukan bahwa suami Anda mengalami kecelakaan!"


"APA?!"


\=====


Ada apa ini???!!!

__ADS_1


Bersambung dulu yaa >.<


Like dan komennya jangan lupa biar ramai 😆


__ADS_2