
Hari Jumat telah tiba. Bagi para peserta Muslim, panitia pelatihan memberikan kelonggaran bagi mereka untuk menunaikan sholat Jumat. Ternyata toleransi di sini cukup tinggi, meskipun di luar sana baik Amerika atau Eropa isu Islamfobia berkembang tinggi. Siang itu Ferdian, Ridho, dan keempat teman pelatihan mereka yang sesama Muslim, menaiki taksi menuju sebuah masjid yang letaknya kurang lebih 3 kilometer dari gedung pelatihan. Mereka diberitahu bahwa di sanalah para Muslim biasanya melakukan ibadah, belajar juga syiar dakwah, yaitu di Downtown Islamic Center, Chicago.
Mereka turun di sebuah trotoar lebar. Ternyata masjid itu tidak seperti yang ada di dalam bayangan Ferdian dan Ridho. Jika melihat di negeri mereka, masjid berdiri megah dengan kubah kokoh dan menara menjulang tinggi. Pilar-pilar di teras masjid menunjukan betapa masjid ini dibuat sedemikian rupa agar para jama'ah bisa betah dan berlama-lama. Namun, tidak begitu dengan masjid Islamic Center ini. Dari luar tidak terlihat bahwa bangunan bercat cokelat gelap dengan teralis besi yang menutup setiap jendela luarnya ini adalah masjid. Bangunannya seperti bekas gedung ruko yang memiliki lima lantai. Banyak pria Muslim memasuki masjid itu. Ferdian dan kawan-kawannya memasuki pintu masjid yang lebarnya sempit.
Ketika memasuki bangunan itu, lorong selebar kurang lebih 2 meter menyambut mereka dengan alas karpet dan sebuah rak tempat menyimpan alas kaki. Di sebelah kiri lorong ada ruang kantor pengurus masjid, dan sebuah ruang pertemuan kecil. Di sudut lorong, ada toilte dan tempat wudhu khusus pria dan juga tangga di sebelahnya. Ferdian menaruh alas kakinya di rak. Pandangannya terus mengamati setiap sudut yang ada di masjid itu. Ia pun masuk ke dalam tempat wudhu, dimana para pria Muslim lainnya sedang mengantri untuk mengambil air wudhu. Ferdian menunggu di barisan antri itu. Berbagai etnis dan warna kulit terlihat di sana, mulai dari kulit putih hingga hitam legam. Hanya akidah yang menyatukan mereka semua di sini.
Allahu akbar... allahu akbar....
Suara adzan terdengar sayup dari lantai atas lalu terdengar di mesin speaker yang terletak di sudut ruangan. Rupanya adzan di sini tidak boleh bergaung keluar, sehingga cukup terdengar dari dalam saja oleh para jama'ah. Ferdian bergegas mengambil wudhu ketika gilirannya tiba di depan sebuah keran pancuran. Air yang mengalir membasahi setiap bagian tubuh luarnya, terasa dingin dan segar. Seketika rasa penat dan lelah yang melandanya hilang. Langkahnya menginjak setiap anak tangga kecil yang mengantarkannya ke ruangan solat yang sudah dipenuhi oleh jama'ah pria.
"Penuh Fer!" ucap Ridho.
"Ke atas lagi saja!" ajak Ismael, salah satu kawan mereka yang berasal dari India.
Mereka pun menaiki anak tangga lagi menuju lantai tiga. Ruangan di sini terlihat masih cukup lengang untuk melaksanakan sholat Jumat. Mereka pun merapatkan barisan dengan jama'ah yang sudah berjejer rapi. Suara imam dari lantai bawah mulai bergaung, ibadah sholat Jumat di hari ini pun terasa begitu syahdu.
"Fer, sebentar! Aku mau lihat jadwal kajian dulu!" ucap Ridho sehabis mereka menunaikan sholat Jumat siang itu.
Ridho tampak serius memperhatikan tulisan-tulisan yang terpampang di sebuah kertas A4 yang tertempel di papan lorong lantai tiga.
"Alhamdulillah..." ucapnya kemudian.
"Ada apa?" tanya Ferdian.
"Ini ada jadwal kajian setiap hari Minggu, kan kita cuma bisa keluar cuma di hari Minggu aja," tunjuk Ridho pada kertas putih yang berlist hijau tua itu.
"Kamu mau ikut?"
"Iya, dimana pun kaki berpijak, aku harus ikut kajian keislaman. Mau ikut?"
"Insya Allah," jawab Ferdian.
Ridho memang berbeda dengan Ferdian. Sejak kuliah dulu, Ridho sering sekali mengikuti kajian di masjid kampusnya. Sementara Ferdian tidak, justru beberapa bulan terakhir ini saja ia mengikuti kajian keislaman yang diselenggarakan beberapa masjid besar yang ada di dekat cafenya, atau kampus lain. Ridho benar, dimana pun berada, seorang Muslim harusnya tetap terus mencari ilmu apalagi ilmu untuk bekal di akhirat. Jadi, Ferdian berpikir ini adalah kesempatan bagus, meski jadwal pelatihannya cukup padat.
Akhirnya, peserta pelatihan Muslim yang sudah melaksanakan sholat Jumat di masjid itu pun kembali ke Winston Tower. Sepertinya mereka harus merelakan sebagian waktu makan siang, karena waktu belajar dimulai 15 menit lagi, jadi mereka harus cepat-cepat jika masih ingin memenuhi kebutuhan makan siang mereka.
\=====
Arsene berlari-lari menyambut kepulangan mommy di sore itu ketika ia mendengar bunyi decitan pintu yang terbuka.
"Mommy...." teriaknya riang, lalu memeluk tubuh ibunya yang masih berbalut jaket tipis yang dikenakannya.
"Hai, sweetheart! Mommy bawain es krim untuk kamu," ujar Ajeng menunjukan kantong plastik berwarna putih berisi sebungkus es krim berukuran mangkok dengan rasa cokelat.
"Thank you," ucapnya yang semakin lancar saja. Anak itu langsung berlari ke dapur dan memberikannya ke Bi Asih agar menaruhnya di gelas, sehingga ia bisa menikmatinya. Lalu ia kembali pada ibunya.
"Mommy mau mandi dulu ya, Sayang! Nanti kita makan es krim bareng!" ucap Ajeng menaruh helm dan sepatunya di rak.
"Okay!"
Ajeng tersenyum dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Arsene sudah siap dengan dua gelas es krim yang telah ditaruh di atas meja makan. Ajeng menghampirinya lalu memangku di atas pahanya.
"How do you feel right now?" tanya Ajeng ketika ia mulai menyendokan es krim itu dan menyuapnya pada mulut anaknya.
"Happy!" jawab Arsene singkat, kakinya berayun-ayun di atas pangkuan ibunya.
__ADS_1
"Good, I'm happy too!"
Ajeng memang membiasakan percakapan Bahasa Inggris dan Indonesia ketika berbincang dengan Arsene, bahkan sejak ia bayi. Agar anaknya itu tidak pasif ketika melafalkan bahasa internasional itu.
"But i'm sad!" ucapnya lagi, sambil memainkan sendok es krim.
"Why?"
"I miss daddy!" ucapnya lembut, bibirnya membulat dan berkilau.
Hati Ajeng seketika menciut ketika mendengar ucapan polos Arsene. Ajeng mengelus rambutnya yang hitam dan tebal.
"Kita tunggu daddy telepon ya, Sayang? Daddy masih belum bangun jam segini."
"Okay!"
Lalu mereka saling menyuap es krim agar rasa sedih mereka sedikit berkurang. Arsene menguap lebar dengan mata berkaca-kaca.
"Are you sleepy?" tanya mommy.
Bocah itu menggeleng. "I miss daddy!"
Ajeng menghela nafas. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Jam tidur Arsene tiba sebentar lagi, dan ia masih menahan kantuknya untuk menunggu telepon dari daddy-nya. Ajeng terpaksa mengambil ponsel dan menghubungi langsung Ferdian saat itu juga.
"We're calling daddy, okay?"
Arsene mengangguk riang, matanya berbinar.
Ajeng melakukan panggilan video call dari ponselnya melalui aplikasi Skype. Suara panggilan tersambung, Ajeng harap-harap cemas. ia berharap Ferdian mengangkat teleponnya, meski ia tahu mungkin di Amerika matahari belum bersinar.
"Hallooo...." panggilan itu terhubung. Wajah Ferdian terlihat segar dengan rambut depannya yang basah.
"Aceeeen!" seru Ferdian berbinar.
"Hai, Daddy! Arsene said he miss you so much!" ucap Ajeng tersenyum melihat suaminya yang ternyata sudah bangun.
"Really?" tanya Ferdian pada anaknya.
Arsene hanya memandangi wajah ayahnya saja sambil tersenyum.
"Arsene, ayo bilang! Katanya kamu kangen daddy," Ajeng membujuk..
Namun anak itu tidak mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia bertingkah seolah-olah menyimpan gengsinya di depan sang ayah.
"Cen, daddy miss you too!" ujar Ferdian, matanya berkaca-kaca.
Entah kemana sekarang perhatian anak berambut tebal itu. Kadang ia bersembunyi di balik lengan mommy-nya, lalu mulai menaiki punggung dan merangkulnya dari belakang. Ajeng jadi tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya.
"Di sana udah adzan subuh?" tanya Ajeng, ia mengalihkan pembicaraan.
"Belum, sebentar lagi."
"Kok udah bangun?" tanya Ajeng heran.
"Aku baru selesai sholat tahajud!"
Hati Ajeng terkesiap, mendengar Ferdian melaksanakan sholat tahajud. Selama mereka bersama, Ferdian paling susah jika adzan subuh belum berkumandang.
"Daddy keren!" puji Ajeng.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Rencananya tiap hari Minggu aku mau ikut kajian di Islamic Center bareng Ridho," terang Ferdian, membuat sudut bibir istrinya melebar sekian centimeter.
"Alhamdulillah."
"Kapan kamu mulai ngaji, Sayang?"
Pertanyaan itu tiba-tiba membuat Ajeng jadi merasa gugup. Ia belum menghubungi Karin seperti pintanya waktu itu. Ia jadi salah tingkah.
"Ah-eh, itu aku lupa belum hubungi Karin."
"Masih sibuk ya?" tanya Ferdian lembut. Ia tidak mempermasalahkan hal itu.
"Ah, iya... Aku ada penelitian semester ini," jawab Ajeng ragu.
"Ooh..."
"Arsene Sayang, sini! Daddy mau lihat wajah kamu!" panggil Ferdian.
Ajeng membuat posisi Arsene di atas pangkuannya lagi. Namun bocah itu menggeliat untuk pergi dari sana, lalu ia mengucek matanya yang mulai mengantuk.
"Acen ngantuk ya?" tanya daddy-nya. Bocah itu mengangguk.
Ferdian jadi tersenyum.
"Kiss Daddy dulu dong, baru boleh tidur!" ucap Ferdian.
Dengan cepat Arsene mencium layar ponsel milik mommy-nya. Bibir Ferdian membulat. "Mwuaah!"
"Bye..bye... have a nice sleep!" ucap Ferdian.
"Bye Dad!" ucap Arsene imut, dan ia langsung berlari menuju kamarnya. Ajeng menggeleng-geleng saja dibuatnya.
"Udah adzan subuh di sini," ucap Ferdian.
"Sama di sini juga udah adzan maghrib."
"Ya udah kalau gitu kita sholat ya, besok kita teleponan lagi."
"Oke!"
"Bye, Sayang!"
"Bye..."
Ajeng menutup layar ponselnya. Sudah satu minggu Ferdian berada di Amerika. Ia tidak selalu menepati janjinya untuk meneleponnya setiap hari. Namun, Ajeng memaklumi hal itu. Ferdian meneleponnya di hari Rabu malam atau Minggu pagi waktu Indonesia. Oleh karena itu, Arsene mungkin merasa rindu, apalagi ayahnya itu menelepon ketika dirinya tengah tertidur. Ajeng menghela nafasnya, rasa rindu untuk suaminya mungkin sedang ia tanam hari per hari. Berharap ketika kedatangannya nanti, hasil bibit rindunya akan berbunga di hari yang tepat.
\=====
Bersambung lagiii
Like
comment
vote
makasiiiih
__ADS_1