Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 33. Kajian Pembuka


__ADS_3

Suasana Masjid Asy-Syifa yang terletak di bagian depan area komplek kampus Universitas Bumi Pertiwi cukup ramai sore ini selepas adzan ashar. Para mahasiswa baru saja menyelesaikan kuliah perdananya minggu ini, dan bagi mereka yang tertarik bergabung dengan organisasi lembaga dakwah kampus akan menghadiri kajian perdana serta penyambutan anggota baru. 


Meskipun suasana masjid ramai, karena banyak civitas akademik yang menunaikan shalat ashar di sana. Hanya saja, peserta anggota baru LDK terlihat tidak terlalu ramai. Para panitia menggunakan ruangan di lantai dua masjid sebagai tempat untuk menyambut anggota baru mereka, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Hijab atau tiang pembatas kain sudah ditegakkan di sana, menjadi sekat antara anggota perempuan dan laki-laki agar tidak saling mencuri pandang atau berinteraksi.


Arsene duduk bersila di atas karpet merah empuk yang terasa bersih. Ia bergabung dengan puluhan mahasiswa baru lainnya untuk menghadiri acara sore itu. Seorang mahasiswa berkacamata, yang pernah ditemuinya beberapa hari lalu tampak memimpin acara yang kini sudah dimulai. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Ilman, Ketua LDK DKM Asy-Syifa. Laki-laki itu memberikan sambutannya kepada para anggota baru yang ia harapkan bisa semakin meramaikan masjid kampus serta memberikan kontribusi terbaiknya dalam dakwah.


Tak lama, seorang pria dewasa matang maju ke depan, setelah Ilman mempersilakannya. Arsene begitu terkejut mendapati Abu Zaara, alias Om Reza berdiri di depan dan duduk bersama dengan Ilman. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai aktivis bakti LDK, atau aktivis yang sudah lama keluar tetapi masih aktif dan memberikan kontribusi untuk perkembangan dakwah di kampus. Arsene jadi mengerti mengapa Om Reza hadir di sana., bahkan sepertinya pandangan mereka bertemu sesaat ketika ia hendak menyampaikan materinya.


“Hidup adalah pilihan. Mengapa saya membuka materi ini dengan kalimat singkat itu? Karena saya melihat, kawan-kawan mahasiswa di sini telah memilih dan memutuskan untuk berada di acara yang Insya Allah akan membuka hidup kawan-kawan menuju masa depan yang cerah.” Ustadz Reza mulai menyampaikan materi keislamannya sore itu.


“Memilih berarti siap dengan konsekuensi, apapun itu. Kawan-kawan di sini kenapa memilih untuk bergabung dengan LDK? Ada yang mau jawab? Nanti ada doorprize dari panitia,” ucapnya renyah, sehingga para mahasiswa baru tidak terlalu tegang menyimak materi keislaman ini.


Seorang mahasiswa laki-laki yang duduk di depan mengacungkan tangannya.


“Siapa namanya?” tanya Ustadz Reza.


“Saya Asep, mahasiswa Fakultas Pertanian.” 


“Apa yang membuat Antum memutuskan untuk bergabung di LDK?” tanya Ustadz Reza mengulang pertanyaan sebelumnya.


“Saya ingin menimba ilmu keislaman dan menambah ketakwaan saya di sisi Allah,” jawabnya percaya diri.


“Alhamdulillah, jawabannya bagus sekali. Semoga istiqomah ya?!”


“Aamiin!”


“Nah kita lanjutkan. Tadi kalau kita mendengar jawaban Dik Asep ini, beliau ingin menimba ilmu keislaman dan menambah ketakwaan di sisi Allah. Apakah ada konsekuensi dari apa yang diputuskannya? Tentu ada. Apa itu? Misalnya, Dik Asep jadi rajin ke masjid untuk ngejar semua kegiatan yang ada di sini. Ikut tahsin, Bahasa Arab, mentoring keislaman, muroja’ah dan agenda lainnya, demi mendapat pahala dan ridho Allah. Capek gak kira-kira, apalagi misalnya setelah kuliah, dosen ngasih tugas banyak? Capek pastinya. Nah itu adalah konsekuensi, sesuatu yang akan kita terima dari apa yang sudah kita putuskan. Tapi ada konsekuensi lainnya, yaitu pahala dari Allah.”


Baru kali ini Arsene menyimak penjelasan materi dari abinya Zaara, ternyata beliau sangat berjiwa muda, gaya penyampaiannya seperti masih seorang mahasiswa saja, dan juga hangat. Ia begitu menikmatinya. Apalagi pesan materi yang disampaikannya sangat cocok dengan apa yang ia butuhkan.


“Coba contoh lain dari kalimat hidup adalah pilihan. Akhwatnya coba!” Ustadz Reza menoleh pada peserta perempuan.


Seorang akhwat mengangkat tangannya. 


“Siapa namanya?” tanya Ustadz Reza, ia terlihat tersenyum pada akhwat yang tidak bisa terlihat oleh para ikhwan karena terhalang hijab tinggi.


“Zaara dari Fakultas Ilmu Budaya,” jawabnya membuat Arsene terkejut. Ternyata Zaara hadir juga di sini.


“Mangga, Neng!”

__ADS_1


“Kalau memilih sesuatu karena ada niat terselubung gimana konsekuensinya?” Zaara bertanya.


“Eh, dikirain teh mau ngasih contoh, malah bertanya padahal diskusi belum dibuka ya?” ucap Reza terkekeh-kekeh mendengar pertanyaan anaknya itu.


Zaara jadi tersipu dibuatnya. Ia lupa kalau forum diskusi tanya jawab belum dibuka.


“Ya udah, nanggung ya?! Sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda “Innamal a’malu binniyati’. Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” 


“Jadi apa yang ia kerjakan akan kembali lagi ke asal niatnya. Hasilnya pun akan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Merugilah jika kita datang ke sini hanya karena ada gebetan atau karena ada sesuatu yang bukan karena Allah. Pahalanya bisa jadi menguap begitu saja, jika niatnya tidak karena Allah swt. Jadi itu konsekuensinya. Capek iya, pahala hilang bisa jadi. Mau amalnya sia-sia?”


“Enggak!” jawab para peserta serempak.


“Oleh karena itu, kawan-kawan di sini usahakan niatnya harus lurus. Pilihan kalian sudah tepat, bergabung dengan LDK DKM Asy-Syifa. Hanya niatnya kembali diluruskan, untuk apa kita bergabung di sini? Coba tanyakan hati nurani. Jika kalian bergabung kesini karena ingin meraih ilmu yang bermanfaat, teman yang shalih-shaliha, dan ridho dari Allah swt. insya Allah kedatangan kawan-kawan kesini tidak akan sia-sia. Sekali lagi, setiap keputusan yang kita pilih akan mendatangkan konsekuensi yang berbeda-beda. Hanya kembali lagi pada niat, jika itu karena Allah maka konsekuensinya tentu saja akan ada pahala dari Allah. Mau pahala dari Allah?”


“Mauuu!”


“Mudah-mudahan kawan-kawan di sini semua sudah meluruskan niat ya, sehingga ketika menjalankan semua kegiatan yang ada di sini akan terasa ringan, karena semuanya akan dibalas oleh Allah. Begitu saja mungkin ya pengantar kajian dari saya.”


Arsene tertegun dengan semua penjelasan yang dipaparkan oleh Ustadz Reza. Pertanyaan dari Zaara tentu saja menohoknya. Meskipun ia bersyukur, bahwa kedatangannya ke majelis ini bukan untuk apa atau siapa, niatnya memang untuk belajar memperdalam agama, yang berarti untuk meraih ridho Allah. 


Forum diskusi untuk para anggota baru telah dibuka. Mereka boleh mengajukan pertanyaan kepada pemateri yang ada di depan untuk mengobati rasa haus yang ada di dalam benak mereka.


Arsene mengacungkan tangannya. Seorang panitia lelaki memberikan mikrofon kepadanya. Reza terlihat tersenyum kecil ke arahnya.


"Silakan, sebutkan nama dan asal fakultasnya," seru Ilman.


"Assalamu'alaikum Tadz, saya Arsene dari Fakultas Ilmu Budaya. Mau bertanya, jika seseorang sudah memiliki visi & misi serta komitmen kuat dalam hidupnya, menurut Ustadz, apakah semua hal yang sudah direncanakannya wajib dieksekusi?" tanya Arsene.


Reza mengambil mikrofon miliknya. Lalu mulai berbicara.


"Setiap manusia dibekali potensi oleh Allah SWT. Dimana dari potensi tersebut manusia bisa melakukan semua yang dikehendakinya, termasuk membuat rencana hidup untuk masa depannya. Manusia bisa berikhtiar sekuat tenaga dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Ia juga bisa berdoa sambil menumpahkan tangis darah meminta agar Allah mengabulkan keinginannya. Tetapi harus ada yang mesti diingat, jangan lupa, bahwa Allah telah memberikan segala ketetapan dan kehendak bagi setiap jiwa manusia. Jadi, manusia boleh memetakan visi dan misi hidupnya, sangat dianjurkan malah. Ia juga boleh berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Hanya saja kembalikan itu semua kepada Allah. Tawakal istilahnya. Kita memasrahkan segalanya setelah ada ikhtiar dan doa, menyerahkan semua hasilnya kepada Allah. Harus diingat juga bahwa apa yang datang dari Allah adalah yang terbaik, terlepas kita suka dengan hal itu maupun tidak. Jadi manusia boleh berencana, tetapi sebaik-baik rencana adalah milik Allah. Jadi kalau Dik Arsene ini punya impian, bahkan sudah dirancang dengan sangat baik, tidak ada salahnya tetap mencoba untuk mewujudkannya satu persatu. Hanya saja sikap tawakal yang harus dikedepankan setelah itu. Bersyukur ketika Allah mengabulkan permintaan kita, bersabar jika Allah belum berkehendak. Ingat dengan ayat ini, surat Ar-Rad ayat 11, yang artinya, 'Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka …,' ayat itu Allah menyuruh kita melakukan perubahan yang diupayakan oleh diri sendiri. Dari sini kita bisa memahami, bahwa untuk menjadi lebih baik, maka harus ada upaya yang mesti kerjakan terlebih dahulu. Begitulah kira-kira sedikit penjelasan untuk pertanyaan Dik Arsene tadi."


Arsene mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dari sini ia paham bahwa rencana serta visi misi yang sudah ditulisnya sudah tepat dan ia akan berusaha diwujudkannya satu persatu. Hanya saja masih banyak yang perlu kembali dibenahi, termasuk dirinya sendiri.


\=\=\=\=\=


Langit telah gelap bersapukan kelabu. Adzan Maghrib telah berkumandang setelah kajian pembuka untuk rekrutmen anggota LDK selesai. 


Para mahasiswa baru sudah membentuk sebuah kelompok kecil, untuk pementoringan keislaman yang lebih intensif. Mereka datang dari berbagai fakultas, sehingga pertemanan itu semakin beragam dan meluas saja. Mereka juga sudah memilih satu departemen untuk keaktifan kegiatan mereka kedepannya. Arsene telah memilih departemen propaganda, sebuah divisi yang bergerak dan berkegiatan untuk lebih mengaruskan opini keislaman baik di wilayah masjid maupun luar masjid. Ia merasa divisi ini lekat dengan jiwanya, berharap semakin bisa menumbuhkan potensi dirinya yang lain. 

__ADS_1


Malam semakin gelap saja. Pemuda itu belum beranjak dari karpet masjid karena terlalu asyik berbincang-bincang dengan kawan barunya sesama anggota baru atau dengan senior. Mereka mendiskusikan banyak hal termasuk isu-isu yang terjadi di tengah masyarakat. Arsene tidak menyangka diskusi ini membuatnya semakin tertarik saja, hingga ponselnya bergetar dalam saku celananya.


"Kenapa, Mom?" tanyanya ketika tahu itu panggilan dari ibunya.


"Mau pulang jam berapa?" tanyanya cemas.


"Ah iya ini sebentar lagi ya, nanggung mau sholat isya berjamaah dulu," jawabnya.


"Ya udah, hati-hati di jalan, sweetheart. Jangan terlalu malam!"


"Siap, Mom!"


Arsene menutup ponselnya dan kembali memasukannya ke dalam saku celana. Terdengar suara memanggil namanya dari belakang.


"Om? Eh, Tadz!" sapanya canggung ketika Reza memanggil namanya. Ia bahkan kebingungan untuk memanggil sapaan apa yang tepat untuk pria di hadapannya itu, meski sebenarnya ia sudah nyaman dan terbiasa menggunakan kata Om. 


"Belum pulang?"


"Belum Om, eh Tadz!"


"Panggil seperti biasanya aja, Sen!" Reza tersenyum menepuk pundak pria muda itu


"Semoga kamu betah ya di organisasi ini. Akan ada banyak hal yang bisa kamu pelajari di sini. Termasuk cara pandangmu mengenai kehidupan. Om sudah merasakannya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di masjid ini." Reza mendudukkan dirinya di atas karpet, seperti ingin mengajak Arsene berdiskusi. 


Arsene ikut duduk di sampingnya, sambil menatap halaman masjid yang mulai sepi karena sudah banyak mahasiswa yang pulang ke kediamannya masing-masing. Hanya ada beberapa motor yang terparkir di sana.


"Om ingin bertanya banyak hal sama kamu, cuma mungkin waktu kita terbatas malam ini. Tapi ada beberapa hal yang mengganjal yang mungkin akan Om tanyakan terlebih dahulu sama kamu." Reza menatap pria muda di sampingnya yang terlihat gugup. 


"Tanya apa Om?" 


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu yaa 😁


Ayo rajin like, comment dan votenya


InsyaAllah akan ada banyak pelajaran dan isu yang akan saya angkat dalam kisah Arsene ini


Semoga bermanfaat ❤❤

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2