
Ajeng, Ferdian, dan baby Arsene tiba di klinik yang tampak sepi siang itu. Ferdian membukakan pintu untuk istrinya yang menggendong anaknya itu. Lalu Ajeng mengeluarkan kartu berobatnya dari dalam dompetnya dan memberikannya pada perawat yang berjaga.Pada akhir minggu, Dokter Sita memiliki jadwal periksa siang sampai sore. Baby Arsene juga memiliki jadwal kontrol di dokter spesialis anak, setelah ini.
Tidak butuh waktu lama, Ajeng dipanggil oleh perawat untuk masuk ke dalam ruangan dokter.
"Hai Jeng, gimana kabarnya?" sapa Dokter Sita.
"Alhamdulillah, baik, Ta!"
"Duh dedek Arsene udah gembul aja ini, bagus ya menyusuinya?" ungkap Sita melihat baby Arsene yang kali ini digendong Ferdian.
"Alhamdulillah Ta, ASI aku banyak, dan dia juga minum banyak."
"Habis ini cek up di Dokter Melia ya?"
"Iya."
"Oh ya, jadi kamu mau pasang KB IUD?"
"Iya, khawatir aku lupa konsumsi pil lagi Ta."
"Oke deh, mau ambil untuk berapa tahun? 3, 5, atau 10?"
Ajeng memandangi Ferdian.
"Terserah kamu aja!" ucap Ferdian.
"Yang 5 tahun aja, Ta!"
"Oke sebelum kita pasang, aku jelasin semuanya dulu ya?" ucap Dokter Sita. Ia mengeluarkan beberapa brosur mengenai alat kontrasepsi jenis spiral tersebut.
Ada banyak ragam jenis KB spiral yang bisa dipilih sesuai kebutuhan, harganya pun bervariasi. Namun Sita merekomendasikan jenis KB spiral yang memiliki kandungan inti perak yang mampu meningkatkan efektivitas kontrasepsi dalam merencanakan program kehamilan, khususnya untuk membuat jarak kehamilan. Dokter Sita juga menjelaskan bahwa efektivitas KB jenis ini mencapai 99% karena angka kegagalannya sangat rendah. Ia juga menjelaskan resiko ketika menggunakan alat kontrasepsi ini.
"Kamu udah siap?" tanya Sita pada Ajeng yang terlihat gugup.
"Oke!"
"Yuk kita ke ruangan sebelah dulu ya?"
Ajeng mengangguk dan mengikuti Sita ke ruangan sebelah dimana KB spiral itu akan dipasang di rahimnya. Sementara itu, Ferdian berdiri sambil menenangkan bayinya yang berusaha untuk tertidur di buaian sang ayah.
Sekitar kurang lebih sepuluh menit, Ajeng keluar dengan ekspresi wajah mengernyit, kadang ia seperti menahan rasa mual. Ferdian melihatnya penuh heran.
"Udah dipasang?" tanya Ferdian.
"Udah! Jadi kerasa mual perut aku," terang Ajeng. Ia kembali duduk di atas kursi.
"Efek mualnya mungkin gak akan kerasa lama ya? Tergantung kondisi badan kamu, ada yang cuma sehari atau paling lama seminggu," terang Sita.
Ajeng mengangguk.
"Oh ya, Karin udah lahiran kemarin ya Ta?" tanya Ajeng.
"Iya udah. Dia masih di sini kok. Kemungkinan besok pulang. Dia juga hebat kaya kamu lahirannya. Nyaris tanpa jahitan."
"Wow, keren!"
"Duh, padahal kalian ini jarang ngobrol sama aku tentang persalinan, tapi aku beruntung banget punya pasien hebat sekaligus sahabat hebat kaya kalian!"
"Ih bisa aja deh!"
"Aku sendiri malah pas lahiran anak pertama, jahitannya banyak banget. Karena aku tipe orang yang gak bisa diem, haha!" kenang Sita saat melahirkan putra pertamanya yang kini sudah menginjak usia 5 tahun.
"Haha, masa sih?"
"Iya, suami aku sampai pusing ngehadapin aku yang ribut."
"Ada-ada aja kamu, Ta!"
"Oh iya, aku kasih vitamin aja ya untuk pereda rasa mualnya. Kalau ada keluhan, kamu bisa langsung chat aku aja. Nanti kontrol lagi bulan depan."
"Oke deh! Sambil nunggu Dokter Melia, aku jenguk Karin dulu."
"Sipp! Ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Enggak ada kayanya!"
"Oke, sampai ketemu lagi ya, Ajeng! Bye baby Arsene, ih udah tidur aja! Hebat nih Daddy-nya bisa bikin anak tidur!"
"Hihi masih belajar Dok! Kebetulan aja nih, Arsene lagi tenang," ucap Ferdian. Ajeng hendak mengambil tubuh anaknya itu untuk digendongnya, namun Ferdian masih ingin membawanya.
"Kita pergi jenguk Karin dulu ya, Ta! Makasih banyak!" ucap Ajeng pamitan.
"Sama-sama!"
__ADS_1
Ferdian dan Ajeng pun keluar dari ruangan dokter lalu membereskan administrasi dan biaya untuk pemeriksaan hari ini.
"Kadonya masih di mobil ya?" tanya Ajeng setelah selesai mengurusi administrasi dan pembayaran.
"Iya, belum aku bawa kok!"
"Ya udah aku yang ambil, pinjem kunci mobilnya!"
Ferdian menyuruh istrinya mengambil kuncinya di dalam saku celana. Ia langsung bergegas ke halaman parkir menuju mobilnya dan mengambil sebuah kado untuk diberikan kepada Karin.
"Yuk!" ajak Ajeng, ia membawa sebuah kotak yang cukup besar untuk diberikan kepada sahabat SMA-nya itu
Ferdian melangkah mengikutinya. Mereka pun pergi menuju sebuah kamar yang terletak di ujung lorong. Ajeng mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam..." ucap suara laki-laki, pintu berwarna cokelat itu pun terbuka. Reza, suami Karin, tersenyum menyambut kedatangan tamunya.
"Silakan masuk," ucap Reza ramah kepada dua tamunya.
"Ajeeeeeeng!" sapa Karin yang masih terduduk di atas matras, ia merentangkan tangannya untuk memeluk sahabatnya itu.
"Kariiiin!"
"Gimana kamu udah sehat?" tanya Karin memperhatikan kondisi sahabatnya yang terlihat sudah bugar, meskipun terlihat agak sayu.
"Alhamdulillah, harus sehat jadi ibu mah!" jawab Ajeng.
"Masya Allah, maaf ya kemarin-kemarin belum sempet jenguk kamu. Eh mana bayi kamu?" tanya Karin.
"Itu sama Daddy-nya. Eh masih di luar!" ucap Ajeng baru sadar, kalau ternyata Ferdian masih di luar bersama Reza, mungkin khawatir karena Karin muslimah yang sangat menjaga auratnya. Padahal Karin pun sudah berpakaian lengkap mengenakan khimar dan pakaian muslimahnya saat ini.
"Hihi anak Daddy ya?"
"Iya gitu deh, soalnya hari ini Ferdian libur kan, jadi kesempatan buat dia bisa tidurin anaknya," terang Ajeng antusias.
Ajeng berjalan ke samping matras dan melihat anak Karin yang tertidur di atas ranjang.
"Ya Allah, imut banget ini Zaara. Dagunya mirip kamu, Rin!" ucap Ajeng memperhatikan wajah imut Zaara.
"Ah masa sih?"
"Iya banget, tapi ga tau nih, udah besar pasti berubah lagi."
"Hihi iya ya. Eh, Jeng. Kamu nyusuin pakai ASI kan ya?" tanya Karin memastikan.
"Iya. Alhamdulillah udah banyak sih ASI aku."
"Alhamdulillah, rezeki Arsene ya! Aku juga masih terus coba nih, mudah-mudahan cukup untuk Zaara."
"Yang penting kita positive thinking, nanti ASI-nya bakal ngalir terus kok!" ucap Ajeng.
"Iya, aku sih semangat dan optimis aku bisa kasih ASI buat Zaara."
"Selama suami kita dukung, selama itu juga kita kuat, ya kan?" ucap Ajeng.
Karin tersenyum senang.
"Eh aku coba bawa Arsene dulu ya, biar kamu bisa lihat anak aku," ucap Ajeng melangkahkan kaki ke luar.
Tak lama ia pun menggendong Arsene, yang mulai bangun dan mencari makanan.
"Ih mirip kamu Jeng!" ucap Karin melihat wajah Arsene yang menggeliat.
"Haha, kata keluarga Ferdian mirip Ferdian, kata keluarga aku mirip aku. Mungkin tergantung lebih banyak wajah mana yang dilihat kali ya? Makanya persepsi orang beda-beda," ujar Ajeng terkekeh-kekeh. Ia juga sambil menyusui Arsene mumpung masih di dalam kamar Karin meski dibalik apron menyusuinya.
"Iya, ya? Sama sih Zaara juga gitu kemarin pas keluarga pada datang."
"Oh ya ini ada sedikit kenang-kenangan buat Zaara. Nanti kalau udah besar kita berteman baik ya, Cen?" ucap Ajeng menunjuk sebuah kotak besar yang sudah ditaruh di dekat pintu kamar.
"Jazakumullahu khair, Mommy dan Daddy-nya Arsene. Semoga Allah membalas kebaikan kalian," ucap Karin tulus.
"Aamiiin. Oh iya, maaf ya kita gak bisa lama-lama. Arsene harus cek up lagi nih, kayanya dokternya juga udah datang!" ujar Ajeng
"Oh iya ya? Makasih banyak ya, Jeng!"
"Iya sama-sama, Rin!" ucap Ajeng yang kali ini membetulkan kancing blouse miliknya dan membetulkan posisi gendongan Arsene.
__ADS_1
"Cepet sehat lagi ya!" ujar Ajeng sambil mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya itu.
"Aamiin."
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Ajeng pun keluar dari kamar dan memberitahu suaminya untuk pergi.
"Yuk Mas Reza kita pamit dulu, karena kebetulan Arsene mau cek up lagi," ucap Ferdian pamitan.
"Oh begitu? Terima kasih banyak ya sudah mau menjenguk kami. Terima kasih juga untuk kadonya. Maaf kami belum sempat kasih apa-apa."
"Iya, gak apa-apa Mas. Assalamu'alaikum..." jawab Ferdian.
"Wa'alaikumsalam..."
\=====
Arsene telah selesai diperiksa. Semua kondisi perkembangannya dinyatakan bagus dan normal oleh dokter anak. Ajeng dan Ferdian jadi lega mendengarnya. Bayi mungil itu juga mendapat suntikan vaksin kali ini, sehingga membuatnya terlihat lebih rewel dan ribul daripada sebelumnya. Meskipun begitu, dokter juga sudah menjelaskan kalau bayinya itu mungkin akan sedikit demam dan rewel jadi tidak usah khawatir. Dokter menyarankannya untuk diberi ASI lebih banyak dan sering untuk mengurangi kerewelannya.
Karena kondisi Arsene yang agak rewel, Ajeng jadi mengurungkan niatnya untuk pergi jalan-jalan keluar bersama suaminya hari ini. Padahal ia ingin sekali pergi ke salon dan menata rambutnya yang sudah terlihat berantakan karena sudah semakin panjang. Ajeng memasang wajah kecewa di sepanjang perjalanan.
"Kamu kenapa, Sayang? Kok mukanya lesu gitu sih?" tanya Ferdian, melirik dari balik kemudinya.
"Enggak apa-apa," jawab Ajeng datar.
"Mau makan di luar?" tawar Ferdian. Namun wanitanya itu menggelengkan kepalanya.
Ferdian mulai salah tingkah jika istrinya itu merespon seperti itu. Ia jadi kehabisan ide untuk membuat moodnya ceria lagi.
"Mau jalan?" tanya Ferdian lagi, mencoba mengulik keinginan istrinya yang sedang menyusui anaknya itu.
Ajeng terdiam. Ia memandangi Arsene yang matanya sayu karena mengantuk.
"Kalau mau jalan, ayo kita jalan sekarang."
"Tapi aku khawatir Arsene rewel!" sergah Ajeng.
Ferdian jadi mengerti kondisi istrinya yang ternyata memang ingin jalan-jalan.
"Kita coba aja dulu. Kalau dia rewel, kita pulang! Gimana?"
Sejenak Ajeng bergumam dan berpikir. Tidak ada salahnya mencoba bukan? Akhirnya Ajeng mengangguk mantap. Ferdian merasa lega, ia pun tersenyum.
Mereka memilih sebuah mall besar dan luas untuk menjadi destinasi jalan-jalan perdana bersama Arsene sore itu. Untung saja, strollernya selalu dibawa di dalam mobil, jadi mereka bisa membawa baby Arsene tanpa repot menggendongnya. Beruntung, Arsene tetap tertidur ketika ia dipindahkan dari buaian ibunya ke dalam stroller yang sudah diberi alas nyaman dengan berbagai pernak-pernik di dalamnya. Wajahnya yang imut dan putih itu begitu damai terlihat. Ferdian mendorong stroller bayinya, sementara Ajeng menggandeng lengan suaminya itu. Mereka pun berjalan-jalan sambil cuci mata melewati outlet-outlet.
"Sayang, aku mau ke salon ya? Rambut aku udah gak nyaman banget deh!"
"Iya boleh, tapi jangan dicat lagi ya?" pinta Ferdian.
"Iya aku gak akan cat rambut selama masih menyusui Arsene."
Ferdian menghela nafas. Sebenarnya hati terdalamnya itu, ia ingin agar istrinya tidak pernah lagi mengecat rambutnya. Bahkan ditutup saja seperti Karin, mengenakan kerudung. Tetapi ia tidak ingin mencari masalah dulu di sini. Ajeng masih sensitif, jadi lebih baik ia menuruti kemauan istrinya saat ini dulu.
Keduanya pun pergi ke salon yang cukup ternama. Ajeng meminta kepada penata rambut di salon untuk memotong dan merapikan rambutnya sedikit agar tidak terlalu panjang melebihi pinggangnya. Ia masih menyukai rambut panjangnya.
Ferdian terduduk di salah satu kursi nyaman sambil memperhatikan anaknya yang tidur terlelap. Sesekali ia tersenyum sendiri melihat wajah damai sang anak. Sambil menatapnya, ia juga berpikir dan bertanya-tanya, apakah ia sanggup menjadi orang tua yang baik dan bisa menjadi contoh untuk anaknya itu? Kadang ia pun masih merasa egois, apalagi saat ini ia masih berkuliah. Ia hanya bisa memperhatikan full pada Arsene ketika akhir pekan saja. Selebihnya di hari biasa, ia sibuk mengerjakan tugas kuliah dan skripsinya itu. Belum lagi masalah Ajeng, sering ia mencemburui anaknya itu. Karena sekarang ini Ajeng lebih memperhatikan sang anak dibanding dirinya, apalagi nifasnya yang belum selesai. Hasrat cintanya terkubur sementara. Padahal baru sebulan saja ia menjadi orang tua, tetapi mengapa seperti ini yang ia rasakan. Mungkin benar, memang menjadi orang tua tidak bisa belajar sembarangan, tetapi learning by proccess dan learning by doing. Tidak ada orang tua yang hebat seketika, mereka belajar dari kehidupan mereka sedikit demi sedikit, melewati celah kesalahan dan berjuang untuk memperbaikinya. Ia harus bekerja sama dengan istrinya agar anak-anak mereka bisa menjadi orang yang hebat di masa depan. Ia berharap tidak cukup hanya di dunia, tetapi juga di akhirat. Namun ia sadar diri, sudahkah ia menjadi orang baik untuk di akhirat?
\=====
Bersambung dulu yaa ^_^
Jangan lupa
LIKE (wajib yes? maksa :D)
COMMENT (tinggalin jejak kalau kamu baca karya ini, meski cuma 'up' atau 'lanjut')
VOTE (support author okey)
Follow instagram author @aeriichoi
Makasiiiiih love youu
__ADS_1