Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 90. Tembak


__ADS_3

Alice sedang mengecek ulang transaksi yang masuk hari ini dan disinkronisasikan dengan jumlah kue yang diproduksi oleh tim. Hari ini penjualan Toko Sweet Recipes memang cukup bagus, bahkan lebih bagus dari minggu-minggu sebelumnya. Alice tersenyum puas melihat hasilnya. Ia berharap toko milik adik sepupunya ini akan terus berkembang dan meluas. Laporan transaksi itu langsung terintergrasi dengan aplikasi di ponsel milik Arsene, jadi sebagai pemilik toko, ia bisa mengontrol dan mengevaluasinya secara langsung. Alice hanya perlu mengawasi saja setiap hari.


Alice bersiap-siap mengemasi barang miliknya untuk pulang, ketika dua chef di dapur juga telah siap kembali ke kediaman masing-masing. Ardan, pria tinggi yang rambutnya sedikit panjang itu keluar terlebih dahulu.


“Al, bisa bicara sebentar?” tanyanya pada gadis berambut panjang itu.


“Bentar aja kan?!” tanya Alice memastikan.


“Iya, janji!”


Keduanya pun berjalan keluar, sementara Rio dan Dika, seorang pelayan, membereskan toko dan mengunci semua pintu dan jendela. Alice dan Ardan berdiri di samping mobil minivan milik Alice.


“Kenapa?” tanya Alice tidak berbasa-basi. Wanita itu memang cukup perhitungan dengan waktu dan selalu ingin fokus pada titik masalah.


“Mmh…,” Ardan terlihat gugup, sambil menggaruk-garuk kepala bagian depannya.


Alice menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, sambil menunggu pria di depannya berbicara.


“Mau minta gaji naik?” tebak Alice, karena pria itu tidak kunjung bicara.


“Enggak, bukan itu!” sergah Ardan.


“Terus?!”


“Maaf mungkin gue sedikit lancang, tapi gue suka sama lo, Al!”


Mata Alice membesar, sedikit tidak percaya dengan apa yang diutarakan oleh pria di hadapannya itu. Sejak kapan Ardan menyukainya? Pria itu sama sekali tidak pernah menunjukkan gerak-geriknya bahwa ia menaruh perhatian pada Alice. Jadi, Alice sama sekali tidak pernah mengira. Atau karena Ardan dan dirinya terlalu sibuk? Mereka memang sering berbicara ketika senggang atau saat pengunjung sepi, tetapi tidak pernah menjurus pada perasaan masing-masing.


“Are you sure?!” tanya Alice.


Ardan mengangguk tak berani menatap mata Alice.


“Terus mau lo apa, Ar?” Alice menantangnya.


“Gue mau kita pacaran,” ucap pria itu tak lagi terbata-bata.


Alice mendengus pelan. Perasaannya tidak pernah hadir untuk pria itu, apakah ia perlu mencobanya? Sementara Ardan pun terlihat biasa saja di matanya. Ardan memang seorang koki yang handal, kue buatannya selalu menyaingi kue milik Arsene. Hanya saja terkait tingkah laku pria itu yang sedikit cuek sama seperti dirinya, Alice jadi meragukannya.


“Jawabannya mau sekarang atau nanti?” tanya Alice tegas.


Ardan menatap wajah perempuan yang terlihat galak itu. Hanya saja justru itulah yang membuat pesonanya menarik di hadapannya. Ardan benar-benar jatuh cinta pada sosok Alice yang tegas, galak, tetapi ramah jika didekati. Sesuatu yang berlawanan dengan dirinya.


“Lo bisa pikirin hal ini dulu. Gak usah terburu-buru!” jawab Ardan mengusap lengannya sendiri.


“Oke, gue akan pikirkan!”

__ADS_1


“Thanks!”


Ardan kembali masuk ke dalam toko untuk mengambil barang miliknya yang tertinggal. Sementara Alice menengadahkan wajahnya ke langit malam yang pekat. Hanya ada satu bulan di sana, tanpa bintang-bintang.


Alice masuk ke dalam mobilnya. Sambil memperhatikan rekan lainnya pergi, ia termenung. Ardan yang sudah memakai helm dan duduk di atas motornya, menganggukkan kepala berpamitan padanya untuk melaju lebih dulu. Tiba-tiba saja Alice merasa kesal. Mengapa pekerjaan harus bersinggungan dengan urusan asmara? Ia jadi merasa akan ada hal yang berbeda untuk hari esok. Kening lebarnya sengaja dibenturkannya ke setir mobilnya.


Wanita itu ingin sekali menelepon sepupunya, tetapi teringat bahwa waktu Sydney lebih cepat tiga jam dari waktunya di sini, ia pikir mungkin Arsene sudah tertidur. Apalagi Zaara sedang bersamanya di sana. Lebih baik ia memutuskan untuk segera pulang saja dulu ke rumah kakeknya, karena hari sudah larut.


\=\=\=\=\=


“Nyaman gak?” tanya Arsene pada istrinya yang berada berdempetan dengan dirinya.


“Mmh… lumayan lah!” jawab Zaara sambil mengibas tangannya ke arah wajah.


Keduanya memang sedang berusaha tidur dengan nyaman di kasur yang diperuntukkan satu orang saja.  Apalagi udara cukup panas. Tidak ada pendingin udara atau kipas angin di sana. Meski sebenarnya tidak jauh berbeda dengan suhu di Bandung ketika musim kemarau.


“Bentar lagi udara juga dingin, aku buka jendela sedikit aja ya?” saran Arsene.


Zaara mengangguk.


Arsene membukakan jendela kamarnya, membiarkan angin malam bertiup lembut mengusir hawa panas yang berputar di dalam ruangan. Pria itu kembali ke atas kasurnya dan langsung merangkul tubuh istrinya. Baru saja ia hendak menarik dagu istrinya untuk dikecupnya, suara dering ponsel terdengar nyaring dari sebelah telinganya. Pria itu menghela nafas lalu mengambil ponselnya.


“Kak Alice!” ucapnya mengernyitkan alisnya ketika melihat nama di ponselnya yang masih berdering itu. Zaara memandanginya saja.


“Kenapa Kak Al?” tanya Arsene mengangkat teleponnya.


Arsene melebarkan matanya, tubuhnya bangkit dari kasur.


“Ditembak siapa?” tanya Arsene tidak percaya kalau sepupunya itu akan menceritakan sesuatu pada dirinya seputar hal pribadi.


“Ardan nembak gue, Cen!”


“Kang Ardan?!”


“Iya, gue mesti gimana?”


“Ya terserah Kakak!” jawab Arsene tanpa pikir panjang.


“Ah lu gak bantu sama sekali!” Alice mendengus kesal di seberang sana.


“Ya gimana, aku aja gak tau perasaan Kakak. Tapi kalau dia serius mending langsung aja gak usah pake pacaran lah!”


“Eh gila! Lu suruh gue nikah cepet?!”


“Ya iya, nikmat lho pacaran setelah menikah. Semua jadi halal, hahahaha!” Arsene tertawa puas.

__ADS_1


“Eh, beneran ya lu! Mentang-mentang udah ngerasain. Gue gak ada perasaan apa-apa sama itu anak!” jawab Alice mendengus.


“Hmm…”


Arsene berpikir sejenak. Dirinya juga sebenarnya sulit untuk memutuskan, apalagi prinsipnya tidak setuju dengan istilah pacaran sebelum menikah setelah sempat aktif di LDK kemarin-kemarin. Meskipun begitu ia ingin membantu sepupunya itu. Ardan memang seorang laki-laki yang baik, pekerja keras, meskipun sedikit agak sulit berbaur tetapi dia bisa bekerja profesional seperti yang dikenalnya selama ini.


“Jawaban Kakak condongnya kemana?” tanya Arsene ingin tahu.


“Gue gak ada perasaan apa-apa sama dia. Jadi untuk saat ini kayaknya gue gak bisa terima dia. Gak tau kalau kedepannya, perasaan bisa berubah kan?” ujar Alice tanpa beban.


“Ya udah kasih jawaban itu aja.” Arsene berkata santai.


“Beneran, gue kasih jawaban gitu aja? Kalau ngefek sama kerja dia di dapur gimana?” tanya Alice cemas.


“Itu beda lagi, Kak! Harusnya kalau dia profesional gak bisa dicampur antara urusan pribadi sama kerjaan.”


“Iya sih. Gue khawatirnya justru itu, ketika gue nolak, dia bakal kerja gak bener atau malah keluar.”


“Udah gak usah dipikirin. Yang penting Kakak jujur sama diri sendiri dan dia. Masalah dia, kita pikirkan nanti aja.”


“Aah… lu emang adik gue paling baik, Cen! Thank you ya! Sorry ganggu pasti lagi anget-angetan sama Zaara ya?”


“Heleh, kepo deh! Ya pasti lah!”


“Haha, sorry sorry! Ya udah, lanjut lagi ya sana. Thank youuuu!”


Arsene menutup ponsel dan menaruhnya di samping.


Zaara kembali terduduk memperhatikan suaminya yang baru saja menutup ponsel. Memandang heran dan penasaran, gadis itu akhirnya bertanya.


“Ada apa?”


“Kak Alice curhat katanya ditembak Kang Ardan, entahlah, tapi kayanya bakal nolak.”


“Kang Ardan naksir Kak Al?!”


Arsene mengangguk-angguk.


“Yuk ah bobo, aku pengen dikelon!” pria itu menarik tubuh istrinya dan menenggelamkan wajahnya di dada istrinya, kebiasaan baru yang membuatnya nyaman sebelum tidur.


\=\=\=\=\=


Hmm...


Bersambung dulu yaa

__ADS_1


LIKE, COMMENT, & VOTE


Makasiiih


__ADS_2