
Hari itu matahari bersinar malu-malu di atas langit. Sebenarnya bukan malu, hanya saja awan tipis terlalu bersemangat membuat udara Kota Bandung menjadi sejuk dan dingin. Bekas hujan semalam, membuat dedaunan hijau sumringah menyapa hari itu. Aspal terlihat lebih gelap dan berkilau karena basah. Motor Ferdian melaju dengan kecepatan sedang melewati ruas jalan yang cukup sunyi di bawah rimbunnya pepohonan.
Ajeng dan Ferdian memutuskan untuk berjalan-jalan menggunakan motor besar hitam mengitari Kota Bandung hari itu. Tiga hari mereka akan pindah ke Singapura, jadi keduanya memutuskan untuk menikmati suasana kota yang mereka cintai itu. Ferdian mengganti posisi kaca spion kirinya, mengarah pada wajah istrinya. Diliriknya sesekali wajah istrinya itu melalui spion. Wanitanya itu tidak sadar sedang diperhatikan diam-diam oleh suaminya. Wajahnya tidak tertutup kaca helm, karena Ajeng lebih suka jika angin menyapa dan menyentuh wajahnya, atau ia lebih menikmati udara segar di jalanan yang sepi ini. Ferdian tersenyum diam-diam, mengagumi kecantikan istrinya yang semakin cantik saja setelah berhijab.
“Kamu kok bisa cantik gitu sih?” tanya Ferdian sambil melirik ke arah spion.
“Apa?” tanya Ajeng tidak terlalu menangkap apa yang diucapkan suaminya.
“Gak jadi ah!” ucapnya.
Ajeng mengetuk helm suaminya.
“Kalau udah ngomong itu, lanjutin!” ujar Ajeng kesal.
“Aku tanya, kamu kok bisa cantik gitu?” ucap Ferdian, volume nadanya ia besarkan setelah kaca helmnya ia buka.
Bukannya menjawab, Ajeng malah tersipu menunduk.
“Sayang, dengar gak?” tanya Ferdian.
“Kalau di jalan tuh konsentrasi, gak usah goda-goda!” timpal Ajeng.
Ferdian terkekeh sambil mengerlingkan sebelah matanya ketika istrinya itu menatap ke arah spion.
“Kita mau kemana sih?” tanya Ajeng, sejak tadi Ferdian membawanya ia tidak tahu akan kemana pergi.
“Mengenang masa lalu….” teriak Ferdian.
Ajeng mengernyitkan alisnya. Ia tidak mengerti maksudnya. Namun wanita yang hari ini mengenakan hijab berwarna pink itu baru mengerti setelah Ferdian membawanya ke kawasan Punclut. Di sebuah kafe bergaya industrial yang sudah tiga tahun lalu mereka kunjungi di kencan pertama mereka sebagai calon suami istri.
“Oh… jadi mengenang masa lalu tuh ini ya?”
Ferdian tersenyum lebar.
“Yuk!”
Ferdian menarik tangan istrinya menuju kafe itu, digenggamnya erat. Kemudian mereka memilih meja di bawah pohon rimbun, tempat yang sama pada saat mereka melakukan percakapan itu. Laki-laki selalu mengingat momen terbaiknya bersama dosennya saat itu.
“Hafal betul ya?” ujar Ajeng menatap ke rimbunnya pohon yang menaungi meja mereka.
“I always remember every moment with you, Princess (Aku selalu mengingat setiap waktu bersamamu, Tuan Putri)!” ucapnya.
Ajeng tersenyum merona.
“Untung kafenya masih ada! Jangan-jangan menu yang mau dipesen juga sama lagi?” goda Ajeng.
“Haha, gak lah! Terserah kamu aja, Princess!” jawab Ferdian.
Keduanya tengah memilih menu hidangan yang dipesannya. Seketika itu berputarlah lagu yang sangat nyaman didengar.
__ADS_1
Aku dan dirimu sudah jadi satu
Di dalam ikatan percaya oooh
Benih asramaku, benih asmaramu
Tumbuh makin sempurna ooowh
Kau membuatku jadi diriku sendiri
Aku tambah yakin kepada kamu kamu kamuuuu
Kau adalah yang terindah
Yang membuat hatiku tenang
Mencintai kamu tak kan pernah takut
Sebab kau terima sgala kurangku
(Kau Adalah - Isyana ft. Rayi Putra)
Lagu itu membuat Ferdian mengetukkan jarinya di atas meja. Begitu juga dengan Ajeng yang membuat bibirnya mengikuti lirik lagu itu, karena dia salah satu penggemar lagu Isyana. Wanita itu menyanyikan lagu itu di hadapan suaminya, dengan segenap perasaan yang ada di dalam hatinya. Lagu itu benar-benar mewakili perasaannya selama ini pada Ferdian, yang dulu menjadi mahasiswanya.
“Kamu nyanyi lagu itu untuk aku?” tanya Ferdian yang tersenyum merekah.
“I love it, and I love you!”
Wajah Ajeng merah merona mendengar pernyataan cinta kesekian kalinya dari suaminya. Entah mengapa, ketika suaminya itu mengucap kata cinta hatinya selalu merasa berdebar, bahkan seperti pertama kali jatuh cinta.
“Kamu lucu deh, dulu wajah aku yang merah. Sekarang wajah kamu yang merah,” ujar Ferdian cekikan.
“Kan kamu jago banget bikin aku grogi!” ucap Ajeng.
“Kamu lebih jago bikin aku klepek-klepek sama kamu waktu itu. Kok bisa?”
“Entah, aku suka banget usilin kamu waktu itu. Apalagi pas wajah kamu merah gitu, makin pengen jahilin aja sekalian,” jawab Ajeng tertawa-tawa.
“Hmm… dasar dosen jahil!” ucap Ferdian mencolek hidung istrinya.
Ajeng tersenyum, pikirannya terbang ke masa lalunya yang indah, membuat bunga di hatinya kini bermekaran kembali seperti di taman bunga.
Motor Ferdian kembali melaju setelah kedua sejoli itu menikmati hidangan makan siangnya. Rangkulan Ajeng di tubuh Ferdian begitu erat, membuat pria yang sedang melajukan gasnya itu tersenyum-senyum sendiri. Sesekali ia mengelus tangan istrinya yang berada di perutnya. Membuat Ajeng pun tersenyum merona bergantian.
Hujan rintik-rintik turun tiba-tiba, yang awalnya lembut kini semakin deras saja. Ferdian menepikan motornya di sebuah halte bus sepi yang tidak terpakai. Tidak ada orang di sana, karena memang jalanan sedang sepi. Sedangkan pria itu lupa membawa jas hujannya. Terpaksa, berteduh sampai hujan berhenti adalah keputusan yang bagus untuk saat ini.
Keduanya duduk di sebuah kursi yang tersedia. Coretan cat semprot ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab menjadi dekorasi di sana. Namun mereka tidak mempedulikan hal itu, hujan yang turun inilah yang lebih menjadi perhatian.
“Kamu betul, hujan itu romantis. Aku sepakat dengan kamu dan juga William Wordsworth,” ucap Ferdian tiba-tiba sambil memandangi hujan di depan matanya.
__ADS_1
Ajeng menoleh ke sampingnya.
“Kenapa tiba-tiba?” tanya Ajeng tidak mengerti.
“Karena setiap melihat hujan, aku selalu merindukan kamu,” ucap Ferdian yang kini menoleh ke arah wanitanya lalu menggenggam tangannya.
“Saat di Amerika, hanya ada angin yang berhembus kencang, membuat hati aku kering dan hampa. Tetapi setelah hujan turun, hati aku selalu tersiram rindu akan kamu. Tapi rindu itu membuat aku tersiksa, karena aku gak bisa menyentuh kamu,” ucapnya lagi membuat Ajeng tertegun.
“Aku bersyukur jarak yang memisahkan kita, akhirnya membuat kita bersatu lagi. Meski harus ada yang dibayar mahal. Tapi, itu sepadan dengan apa yang terjadi hari ini. Apa kamu menyesalinya?” tanya Ferdian menatap tajam.
Ajeng balik menatap mata Ferdian yang berkilauan.
“Selalu ada hikmah dalam peristiwa yang kita alami. Aku juga bersyukur karena Allah masih menunjuki jalan itu, hingga aku merasa lebih dicintai oleh siapapun yang hadir dalam hidupku, terutama kamu!” ucap Ajeng.
Ferdian mengelus lembut pipinya. Andai saja mereka tidak berada di pinggir jalan raya, mungkin saja pria itu sudah mengecup lembut bibir istrinya. Ia hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Ajeng.
Tetesan air hujan terjatuh lembut di atas aspal. Genangan-genangan memantulkan sedikit rupa langit siang itu. Namun air hujan membuatnya bergetar, hingga pantulan warna langit terlihat bias.
“Udah reda, yuk pulang!” ajak Ferdian.
“Bentar lagi, please! Aku suka momen ini yang mungkin gak akan bisa kita ulang lagi. Aku cinta kota ini, meskipun sekarang sudah tidak sesejuk dulu. Tapi hari ini terasa berbeda.” ucap Ajeng merangkul pinggang suaminya.
Ferdian tersenyum, tangannya mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab.
“Kamu gak mau ke kampus?” tanya Ferdian. Karena kampusnya itu pasti menyimpan berjuta memori indah lainnya.
Ajeng menatap suaminya, kilau matanya menyiratkan persetujuannya. Ferdian menarik lengan istrinya, lalu mereka kembali menaiki motor dan pergi menuju kampus yang membesarkan nama mereka.
Tidak butuh waktu lama untuk menuju kampus yang cukup luas itu. Ferdian mengurangi laju gasnya. Mereka mengitari halaman gedung rektorat, lalu menyusuri aspal jalanan yang basah menuju gedung Fakultas Ilmu Budaya, di sana Ferdian memarkirkan motornya. Suasana kampus tampak sepi, karena mahasiswa masih berlibur di akhir tahun ajaran ini. Hanya ada beberapa mahasiswa berjalan di koridor gedung. Keduanya duduk di taman yang dikelilingi oleh tiga gedung, gedung B, C, dan perpustakaan..
Entah mengapa hati Ajeng merasa tersentuh kembali melihat kampus yang dicintainya itu. Aura dan atmosfer gedung perkuliahan begitu lekat dalam ingatan dan sanubarinya, seolah jiwanya tetap hidup di sana. Sekelebat bayangan dirinya yang tengah berjalan di sepanjang koridor memenuhi benaknya, dimana ia sering melempar senyum kepada para mahasiswa atau staff yang bertemu dengannya. Ia selalu merasa bahwa hari-hari terbaiknya ada di kampus ini. Pesona dirinya mengawang dengan imejnya sebagai dosen cerdas nan cantik, favorit semua mahasiswanya.
Wanita itu memejamkan matanya, sementara pria di sampingnya memandang sambil memegang tangannya.
“Hari terbaikku ada di sini. Tapi sudah aku putuskan, bahwa aku akan mendapatkan hari terbaik lainnya bersama kamu dan Arsene sekarang,” ucapnya yang netranya dipenuhi air yang tergenang.
“Kamu selalu menjadi salah satu dosen terbaik di kampus ini, dan itu tidak akan pernah dilupakan oleh mahasiswa-mahasiswa yang pernah kamu ajari, terutama aku, karena aku mahasiswa yang selalu mengagumi semangat dan energi kamu.”
Ajeng menghamburkan dirinya di pelukan kekasihnya, ia tidak bisa lagi menahan gejolak emosinya. Cita-citanya sudah ia tanam di kampus ini, dan hal itu tidak akan pernah ada yang mencabutnya. Kini ia menggantungkan cita-citanya di tempat lain, dan berharap bisa membawanya ke tempat tinggi yang abadi.
\=\=\=\=\=
:')
Makasih banyak sudah menemani perjalanan Ajeng dan Ferdian sejauh ini, love you all
Kutunggu komen, like, dan votenya yaa untuk perpisahan mereka, hiks hiks 😭
Terima kasih banyak atas dukungan, komentar, dan semuanya
__ADS_1