Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 61. Keputusan (2)


__ADS_3

Arsene mengembuskan nafasnya panjang setelah mengetikkan pertanyaan itu pada Zaara. Ia tengah menunggu pendapat Zaara terkait keputusannya untuk mendaftar di akademi memasak terbaik menurutnya itu. Ada dua pilihan yang akan menjadi pertimbangannya.


Jika Zaara memang keberatan terkait pilihannya pergi ke Aussie, Arsene akan mundur dari ta’aruf ini. Ia tidak akan membebani gadis itu dengan pilihan yang sudah dibuatnya. Konsekuensi ini terpaksa ia ambil, meskipun berat dalam hatinya. Ia hanya yakin jika memang Zaara adalah jodohnya, mereka pasti dipertemukan kembali. Dua-duanya adalah pilihan yang sulit mengingat keduanya adalah harapan Arsene.


Arsene tertunduk dalam keterdiamannya. Ia hanya meminta yang terbaik pada Allah. Allah yang mengatur semuanya, meski ia sudah membuat pilihan itu.


[Beri aku waktu sebentar untuk menjawab] Jawab Zaara.


Lagi-lagi Arsene mengembuskan nafasnya. Ia tidak membalas jawaban Zaara. Arsene menutup ponselnya dan menaruhnya di atas meja. Ia mengambil sebuah map biru yang diberikan oleh panitia. Pria itu belum membukanya, terlalu malas untuk mengetahui isinya. Meskipun begitu ia berusaha menghargai pemberi map. Pria itu membuka mapnya, terlihat ada beberapa lembar kertas di dalamnya yang berisi biodata seorang akhwat. Arsene menatap foto wajah yang pernah dilihatnya, itu adalah salah satu akhwat masjid kampusnya, salah satu teman Zaara juga.


Tertulis nama Ema Giani Rasyidah. Gadis pemilik bertubuh mungil yang cukup vokal ketika rapat diadakan. Wajahnya cantik dan bersih, ia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi seangkatannya. Tetapi Arsene sama sekali tidak tertarik untuk membaca seluruh biodata diri gadis itu. Arsene menaruh kertas itu di atas meja, lalu memejamkan matanya di atas kasur.


“Abang, Sayang!” Ajeng mengetuk pintu kamar anaknya.


Arsene membuka matanya perlahan setelah tertidur siang sebentar.


“Iya Mom?” ujarnya parau. Arsene beranjak dari kasurnya dengan rambut berantakan, lalu membuka pintunya.


Ajeng melihat wajah kusut anaknya.


“Kamu gak buka ponsel kamu ya?”


“Belum, aku tidur barusan. Emang kenapa?”


“Itu Alice telepon kamu, toko butuh bantuan tambahan. Ada pelanggan mau order banyak. Coba cek ke toko!”


“Oh ya?!” Mata Arsene langsung membesar.


“Iya coba ke sana langsung!”


Arsene langsung bergegas mencuci muka dan merapikan rambutnya, dan mengambil kunci motornya. Pria muda itu mengecup punggung tangan ibunya dan langsung berangkat.


Suasana Toko Sweet Recipes siang itu cukup ramai. Alice dan Fea cukup kewalahan melayani para pelanggan yang memesan cukup banyak dalam satu kali transaksi. Sementara itu di bagian dapur, para chef dan pelayan, sibuk memindahkan kue-kue yang baru matang ke lemari pendingin. Arsene bergegas masuk ke dapurnya, beberapa pelanggan sempat terpana melihat ketampanannya.


“Ada yang order 50 muffin ditunggu sekarang Bos!” ucap Ardan yang tengah mengaduk adonan berbahan dasar tepung itu.


“Masih kurang berapa?” tanya Arsene, sekitar 20 porsi lagi. Tapi ini juga masih kurang kayanya, di etalase muffin sisa sedikit jadi harus ditambah.


“Ada lagi?”


“Cheesecake juga Bos, ada yang pesen 2 loyang.” Kali ini Satrio yang menjawab, ia memang kewalahan karena mengerjakan tugas di luar job descriptionnya


“Oke saya kerjain cheesecake, Kang Ardan selesaikan muffin, Kang Rio kembali ke jobdesc!” ujar Arsene mencuci tangan dan mengenakan apron serta topi chef miliknya.


Suasana dapur yang cukup luas itu kini terdengar bising oleh mesin-mesin pembuat adonan yang menyala. Ardan bisa menyelesaikan adonan muffinnya dengan cepat, sehingga ia bisa membuat adonan untuk menu patisseries yang lainnya yang stoknya sudah menipis. Begitu pula dengan Arsene yang sudah menyelesaikan satu loyang cheesecakenya. Rio sedang menata cheesecake yang sudah selesai dengan topping yang dipesan oleh pelanggan, lalu memasukkannya ke dalam lemari pendingin.

__ADS_1


Adzan ashar sudah berkumandang, para pelanggan yang sudah terlayani dengan baik, berkurang satu persatu. Kerja Arsene dan timnya memang cepat, pria muda itu bisa berbangga dengan tim solidnya. Ini tentu saja menjadi bekalnya sebelum masuk ke akademi memasak yang mungkin akan terjun dan praktek langsung di tempat yang lebih sibuk dan padat.


“Istirahat dan sholat dulu, Kang!” seru Arsene, mengambil air minum dari kulkas. Pria muda itu berjalan keluar dan melihat kondisi dua sepupu cantiknya yang juga kelelahan. Meskipun begitu mereka tampak akrab dan saling melempar tawa. Arsene duduk di sofa bergabung dengan mereka.


“Kenapa ketawa-tawa?” tanya Arsene sambil membuka botol minumnya.


“Itu tuh tadi ada pelanggan yang naksir Kak Alice!” ucap Fea cekikikan.


“Lho kok bisa?” tanya Arsene penasaran.


“Malah minta nomor, sumpah jijik gue!” ucap Alice kesal.


Arsene tertawa-tawa.


“Tapi gimana lagi, gue harus layani itu pembeli,” lanjut Alice.


“Terus dikasih nomornya?” tanya Arsene.


“Ya enggak lah, toko aja masih penuh, dan gue sibuk! Untung cepat pergi!” Alice menghela nafas.


“Hahaha kalau jodoh pasti balik lagi!” goda Arsene.


“Ya untung ganteng! Ah tapi ogah deh!” sergah Alice bergidik.


“Siapa? Mas Raffa?” tanya Arsene memastikan.


“Ho’oh. Kalau ketemu salamin ya Abang Acen. Dari Fea cucu tercantik di Winata Family!” ucapnya percaya diri sekali.


“Heeuh!” Arsene hanya meledek sepupunya yang kepedean itu.


Pria itu bergegas menaiki tangga menuju lantai dua untuk menunaikan shalat Ashar yang tertunda sejenak karena pekerjaannya. Kini ia bersimpuh di atas sajadahnya memohon yang terbaik dan meminta semuanya berjalan lancar. Matahari sudah semakin turun. Arsene kembali ke lantai bawah.


Ada beberapa pelanggan yang menikmati kue di sana. Sebuah wajah dikenali Arsene, gadis mungil berkerudung yang tadi siang menitipkan berkas CV ta’arufnya padanya. Gadis itu menoleh dan matanya terlihat membesar ketika melihat keberadaan Arsene yang sedang turun dari tangga. Ia menundukkan pandangannya, wajahnya terlihat tersipu.


Arsene kembali ke dapurnya dan meminta izin untuk pulang duluan karena badannya terasa lelah. Ia keluar sambil membawa kunci motornya. Tiba-tiba, akhwat mungil yang sedari tadi memperhatikannya mengikutinya keluar.


“Afwan, apa Akhi sudah baca proposal ta’aruf saya?” tanyanya berani tetapi ia masih menundukkan pandangannya.


“Ah…, maaf, saya belum sempat!” jawab Arsene mengambil helmnya.


“Baik akan saya tunggu jawabannya!”


Gadis itu kembali masuk ke dalam toko kue. Arsene terdiam berpikir, bukankah lebih baik menjawabnya langsung sekarang, pikirnya. Hanya saja melihat gadis itu yang sudah kembali masuk membuatnya malas memanggil atau menghampiri. Arsene kembali menuju rumahnya.


“Abang Acen, capek yaa?” tanya Ajeng yang sedang duduk di atas sofa bersama anak-anaknya.

__ADS_1


“Ya gitulah, Mom! Udah kerjaannya, ini pun harusnya masih stay di sana. Tapi gak kuat badan pegal-pegal.” Arsene merebahkan tubuhnya di atas sofa. Adik-adiknya, Rainer dan Kirei sedang menonton film animasi keluaran terbaru di televisi.


Ajeng mengelus rambut anak sulungnya yang pekerja keras itu dan menyandarkan kepala anak itu di pahanya.


“Kalau kamu udah jadi kepala keluarga, capeknya pasti berkali lipat lagi. Kamu benaran siap tanggung itu?” tanya Ajeng masih terus mengelus kepala anaknya.


Arsene menghela nafas.


“Laki-laki itu jarang mengeluh capek, pasti mereka ingin terlihat kuat di depan istrinya. Beda sama perempuan, mereka akan berbicara banyak menuangkan apa yang dirasakannya di hari itu. Kamu siap mendengarkan omelan perempuan setiap hari?”


Arsene terdiam, sambil memandangi wajah ibunya. Dagu dan hidung lancip ibunya itu terlihat cantik dari sudut pandang matanya di posisi ini.


“Tapi… dari sana kamu bisa dapat pahala mengalir. Menafkahi istri, lelahnya berganti pahala. Begitupula ketika kamu nanti mendengarkan ocehan istri yang mungkin akan semakin membuatnya jatuh cinta sama kamu setiap hari. Para wanita itu hanya butuh didengarkan, ditatap, dan dipeluk. Itu cukup menjadi obat bagi kami. Mommy pengen kamu jadi pria yang kuat berapapun usia kamu. Kuat untuk diri sendiri, untuk keluargamu, dan orang-orang di sekitarmu. Mommy bangga dengan kamu yang sekarang dan segala sesuatu yang kamu putuskan. Mommy hanya terus berdoa agar kamu bisa hidup bahagia.”


“Kamu udah buka grup ta’aruf?” tanya Ajeng.


“Belum, kenapa?”


“Zaara udah kasih jawabannya tadi.”


"Oh ya?!" Arsene terperanjat bangun.


Pria itu langsung mengeluarkan ponselnya, matanya menelisik setiap kata-kata yang diketik Zaara pada grup itu. Apa jawabannya?


\=\=\=\=\=\=


Zaara merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan ponsel yang sudah siap di tangannya. Jantung Zaara berdebar ketika dirinya memutuskan jawaban terkait pertanyaan yang Arsene ajukan sebelumnya. Ia tahu, ambisi Arsene sangatlah besar untuk menjadi chef profesional kelas dunia. Tidak ada pilihan lain kecuali membiarkan pria itu pergi dengan cita-citanya.


[Assalamu'alaikum. Terkait dengan pertanyaan yang tadi, aku gak masalah kalau kamu berniat mendaftar tahun ini, silakan, kalau itu memang sudah keputusan dan rencana kamu. Aku hargai. Tapi, terkait hubungan ta'aruf ini sudah aku putuskan untuk maju ke tahap berikutnya]


Zaara terpaksa memberanikan dirinya sendiri meski Arsene belum memberitahunya. Terkait keputusan Arsene, seperti yang sudah dikatakannya tadi. Ia akan menghargai setiap keputusan teman sebangku SMA-nya itu. Ia sudah pasrah dan bertawakal kepada Allah. Selama ini hatinya mantap untuk melanjutkan ta'aruf bersama Arsene.


Arsene sedang mengetikan sesuatu di sana, yang membuat jantung Zaara berderap seperti langkah kaki kuda yang sedang berlari kencang.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung....


karena lagi libur, kasih bonus lagi deh 1 eps lagi


Votenya rajin yaa


Like dan komennya jangan sampai ketinggalan


Makasiiih

__ADS_1


__ADS_2