
Assalamu’alaikum wr. wb.
Bismillahirrahmanirrahim, segala puji selalu terpanjatkan pada Allah swt. karena kasih sayang-Nya, saya masih bisa bernafas dan menulis surat ini dengan penuh kesadaran. Semoga shalawat selalu tercurahkan pada baginda Rasulullah saw. Dan semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dan perlindungan pada keluarga Om Reza.
Mohon maaf atas kelancangan saya mengirim surat ini pada Om. Saya bermaksud mengutarakan apa yang menjadi niat saya beberapa waktu terakhir ini. Sungguh, saya tidak bermaksud tidak sopan dengan mengirim surat ini. Hanya saja, saya pikir, lebih baik saya meminta izin pada Om terlebih dahulu, sebagai wali dan orangtua dari Zaara Haniya.
Jika Om berkenan, maka izinkanlah saya mengutarakan niat ini pada Om. Saya bermaksud untuk mengajukan ta’aruf dengan putri Om. Apakah Om mengizinkan jika memang Zaara pun menerimanya? Mohon maaf jika surat ini terlihat tidak sopan. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan saya.
Insya Allah saya akan menghubungi Om langsung untuk jawabannya. Afwan. Jazakallahu khair.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Arsene R. Winata
Reza menutup surat itu dengan hati yang cukup terkejut meskipun ia sendiri sudah memprediksi. Apakah karena Arsene tahu terkait dengan pengajuan Raffa untuk langsung meminang Zaara, jadi pria muda itu terpicu. Hanya saja, Reza merasa lebih percaya pada Arsene, dengan melihat kerja keras, impiannya, serta perubahan pria itu.
Reza menatap putrinya yang terlihat tegang, terlihat dari sorot mata dan tangannya yang mengepal.
“Kamu mau ta’aruf sama Arsene?” tembak Reza langsung pada Zaara.
Sontak mata Zaara berubah membesar dan terlihat berkilauan, mulutnya yang tadi terkatup rapat kini ikut membuka sedikit.
“Abi jangan bercanda!” sergahnya masih tidak percaya pertanyaan abinya.
Reza tersenyum memandangi putrinya. Ia mengambil surat itu dan memegangnya.
“Ada dua anak muda yang sama-sama menaruh ketertarikan pada seorang gadis. Dua-duanya berani mengutarakan langsung pada orangtua gadis itu. Hanya saja, satu di antara mereka ada yang mengambil resiko lebih berat dengan langsung membawa banyak hadiah dan datang ke rumah dengan maksud langsung meminang si gadis. Sedangkan satu lagi lebih memilih mengambil resiko lebih kecil, dengan mengirim surat ini karena ia tidak tahu apakah niat baiknya akan diterima oleh si gadis atau tidak. Kamu tahu siapa yang lebih matang rencananya di antara mereka?”
Zaara tertegun menatap ayahnya yang masih tersenyum padanya.
“Abi suka dengan kedua pemuda ini. Mereka benar-benar luar biasa karena tidak menggunakan cara yang umum terjadi di luar sana, seperti pacaran. Tetapi ada yang membedakan mereka berdua, menurut abi yang satu masih nekat, sedangkan yang satu lagi cukup berani meski dengan masih mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi. Kamu pasti bisa bedain mereka. Kamu udah tolak Raffa, dan sekarang surat ini datang dari Arsene, ia meminta izin pada Abi untuk bertaaruf dengan kamu. Apa kamu mau coba ta’aruf dengannya?”
Zaara masih bergeming. Meskipun ia merasa berbunga-bunga karena Arsene benar-benar mewujudkan rencananya, tetapi ia masih harus meminta petunjuk dari Allah agar tidak salah melangkah.
“Zaara butuh waktu untuk menjawabnya, Bi!”
“Berapa lama? Tiga hari cukup?”
Zaara meneguk air liur ke dalam kerongkongannya.
“Insya Allah.”
“Sipp. Abi akan beritahu Arsene biar dia tidak menunggu.”
Zaara mengangguk lalu pergi keluar dari ruangan kerja ayahnya dengan hati dan perasaan tidak karuan, antara senang, gugup, cemas, dan bingung. Gadis itu menepuk-nepuk pipinya berharap semua ini hanya mimpi, tetapi ini benar-benar nyata. Zaara berlari menuju kamarnya sendiri dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
\=====
__ADS_1
Malam itu para panitia Idul Adha telah berkumpul, hampir seluruh dari mereka akan menginap di masjid malam ini. Begitu pula dengan Arsene, yang sudah mendapat izin dari kedua orangtuanya. Rencananya sebagian mereka akan meramaikan takbir semalam penuh, dan sebagian lagi membuat garis pembatas bagi para jemaah yang akan mengikuti shalat ied di halaman masjid kampus. Arsene sendiri mengontrol kawan-kawannya saja.
Beberapa hewan qurban telah terikat di pohon-pohon yang ada di belakang masjid. Banyak sapi yang terikat di sana, sedangkan jumlah kambing lebih sedikit. Menurut para senior, jumlah hewan kurban kali ini lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Mereka mengapresiasi kinerja panitia tahun ini yang sangat bagus, meskipun di antara mereka benar-benar baru terjun memegang amanah ini.
Sejak sebelum subuh panitia kembali bertakbir, mengagungkan nama-Nya di hari raya kebesaran umat Islam. Suhu udara di kampus benar-benar dingin, karena memang letaknya di dataran tinggi, serta dikelilingi oleh hutan-hutan kecil. Arsene mengeratkan jaketnya, dan berjalan menuju tempat wudhu bersama kawannya yang lain. Ia hendak melaksanakan shalat tahajud setelah sempat tertidur tadi meski sebentar. Air yang dingin itu seolah menusuk kulit ketika mengalirinya. Rasa kantuk hilang seketika.
Paginya, para panitia sibuk mengarahkan jamaah untuk mengisi shaf terdepan, begitu pula dengan panitia akhwat yang lebih kesulitan, karena para ibu yang berusia uzur sulit untuk diarahkan. Untung saja, jamaah wanita lain cepat datang dan mengisi shaf yang kosong, sehingga shalat ied bisa terlaksana dengan shaf yang rapat.
Kali ini para panitia ikhwan sibuk membawa hewan qurban pada sebuah lubang galian untuk disembelih. Sudah ada para dosen agama yang juga bertugas menjadi penjagal hewan hari itu. Arsene hanya memperhatikannya, karena ia sama sekali tidak berpengalaman menggiring hewan. Seekor sapi putih dengan ukuran besar digiring. Para panitia laki-laki bertubuh besar dibantu dengan bapak-bapak yang ada di sana mulai menjatuhkan hewan tersebut. Seorang dosen bersiap-siap untuk menyembelih, lafadz takbir dikumandangkan oleh semua ketika proses penyembelihan berlangsung. Darah mengalir dari leher sapi diikuti bunyi dari mulutnya. Tidak butuh waktu lama, darah yang mengalir itu perlahan surut, beberapa panitia membawa tubuh sapi besar itu ke sebuah tempat untuk mengulitinya. Arsene ikut ambil alih dalam tugas menguliti sapi ini, ia pernah melakukannya saat dulu bersekolah di akademi memasak. Ia terlihat antusias mengerjakannya. Sebuah pisau sisit sudah dipegangnya dan ia mulai melakukan pekerjaannya itu dengan gesit. Meskipun bukan pekerjaan yang disukainya, teknik ini pernah ia pelajari dan kebetulan ia mendapat skor yang cukup baik saat itu.
“Sen, lihai banget itu pegang pisau!” seru Kang Ilman yang juga melakukan pekerjaan itu.
“Pernah belajar, Kang!” ucapnya sambil menguliti bagian paha.
“Hebat euy, belajar dimana?”
“Dulu waktu sekolah di akademi memasak!” jawabnya masih terus melakukan pekerjaannya.
“Wow keren!” puji Kang Ilman, Arsene tersenyum.
Beberapa hewan kurban sudah berhasil dikulitinya dengan baik. Bau amis daging sapi dan kambing menyeruak dari tangannya. Bajunya juga tertempel aroma itu. Tetapi pekerjaan belum selesai, ia masih harus membantu untuk memotong-motong bagian sapi atau kambing yang sudah dibersihkan organ dalamnya.
Sementara itu di pos kepanitian akhwat, para panitia sibuk memasukan daging-daging yang sudah dipotong ke dalam kantong plastik. Beberapa akhwat juga membantu memotong daging yang diserahkan ikhwan kepada mereka. Ada beberapa yang merasa jijik karena tidak tahan dengan bau amis, ada beberapa juga yang memang tidak bisa memegang daging. Ada-ada saja. Zaara sendiri mengambil pekerjaan untuk memotong daging dengan pisau tajam yang ada di tangannya.
“Ra, ini masih ada tulang besar yang gak bisa aku potong!” ujar seorang panitia akhwat bernama Ema sambil menyerahkan sepotong tulang besar yang merupakan bagian dari paha depan.
“Iya, kayanya cuma ikhwan yang punya.”
“Oke sebentar, aku minta tolong dulu!”
Zaara menghampiri Arsene yang memang memiliki jalur komunikasi dengannya. Dengan jantung berdebar, gadis itu menyerahkan wadah berisi daging dengan tulang besar, ketika pria itu sedang memotong bagian bawah tubuh kambing. Terkait pertanyaan pria di depannya itu belum dijawabnya. Ini hari terakhir dari yang sudah dijanjikan pada Arsene.
“Bisa tolong potong lagi, ini masih ada tulang besar!” seru Zaara, otomatis Arsene langsung menoleh.
“Oh, sebentar!”
Arsene dengan sigap memotong-motong bagian tulang sapi yang masih berbalut daging tebal itu, kemudian sambil berbicara pada kawan yang bertanya padanya, ia memasukan daging-daging itu pada wadah yang diberikan Zaara.
“Ini, silakan!” ucapnya tersenyum lebar.
“Makasih,” jawab Zaara menunduk dengan senyum kecilnya.
Zaara tidak memperhatikan isi wadahnya dan langsung memberikan itu pada temannya yang meminta tolong tadi.
“Zaara ini apa?!” ucap Ema, menunjuk salah satu benda aneh berbentuk lonjong dan besar.
Mata Zaara terbelalak melihat benda aneh itu. Teman-teman akhwat lainnya tertawa-tawa.
“Itu kan… a-a-anunya kambing!” ucap seorang akhwat lain.
__ADS_1
Zaara bergidik geli. Ia mengambil wadah itu dan membawanya kembali pada Arsene.
“Arsene!” panggilnya, sesekali ia menahan nafasnya, sambil melirikan matanya ke atas.
Arsene berdiri masih dengan pisau potongnya.
“Kenapa lagi?” Arsene berusaha ramah, melihat gadis yang berdiri itu terlihat tegang.
“Ini apa?! Cepet ambil lagi!” ketusnya.
Arsene menggeleng saja melihat sisi ketus Zaara muncul lagi setelah sekian lama. Namun, pria itu berdiri seperti patung ketika melihat benda yang seharusnya tidak ia berikan tadi. Entah bagaimana benda itu ia masukan juga ke dalam wadah yang Zaara bawa. Arsene langsung merebut wadah yang dipegang Zaara lalu mengeluarkan benda yang pasti membuat para akhwat bergidik geli.
“Afwan!” ucapnya tertunduk sambil memberikan wadah itu kembali pada Zaara.
Zaara berusaha menahan tawanya, lalu pergi dari sana sambil terkekeh. Ternyata Arsene cukup ceroboh juga.
Matahari telah naik, aktivitas di sekitar masjid kini sudah usai. Beberapa panitia tinggal mendistribusikan daging-daging yang telah dibungkus kepada masyarakat yang sudah mendapat tiket. Arsene telah membersihkan tubuh dan mengganti bajunya. Pria muda itu memasukan bajunya pada tas ranselnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi singkat. Sebuah notifikasi muncul dari sana.
[Kamu dimana? Aku mau titip surat] Pesan dari Zaara.
Jantung Arsene berdebar. Ia sama sekali tidak teringat pada janji Om Reza yang katanya Zaara akan menjawab pertanyaannya terkait ta’aruf dalam tiga hari. Kesibukannya selama ini membuatnya benar-benar lupa, tetapi dengan munculnya pemberitahuan itu, hatinya kini menjadi was-was.
[Aku di masjid. Mau ketemu dimana?]
[Di selasar sekarang, di tempat biasa rapat.] Balas Zaara.
[Oke!]
Jantung Arsene benar-benar bertabuh bak bedug masjid yang sedang berlebaran. Hari ini memang sedang lebaran, dan jantungnya kini bergenderang hebat. Apalagi memikirkan terkait jawaban Zaara nanti. Apakah isi suratnya sama dengan milik Raffa? Ia tidak bisa membayangkannya.
Arsene berjalan di selasar masjid menuju sebuah sudut di mana mereka terbiasa melakukan rapat kepanitiaan, ada sebuah majalah dinding yang biasa menjadi tempat ditempelnya para tulisan dan karya-karya mahasiswa LDK khusus keputrian. Arsene berdiri di sana menunggu gadis itu dengan perasaan cemas.
“Hei!” ucap Zaara mengagetkannya.
“Hai!” Arsene tersenyum kecil.
“Maaf!” ucap Zaara tertunduk sambil menyodorkan amplop berwarna ungu, warna yang sama dengan yang diberikan pada Raffa. Apakah isinya pun sama? Arsene sudah menyiapkan hatinya, berharap ini adalah yang terbaik.
Zaara pamit dari hadapannya, lalu langsung berlari dari sana karena ayahnya sudah menjemputnya pulang. Sedangkan Arsene mendekap amplop itu di dadanya sambil berpikir. Apakah ia harus membukanya di sini sekarang atau di rumahnya saja nanti?
Hmm....
\=====
Bersambung dulu yaa
Ayo jangan lupa vote, like dan comment
Makasiiih
__ADS_1