Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 27


__ADS_3

Hingar bingar suara musik terdengar jelas dari aula utama Fakultas Ilmu Budaya. Malam itu akan diadakan 'Malam Puncak' dari kegiatan orientasi dan perkenalan mahasiswa FIB. Meski sebenarnya kegiatan ospek sendiri sudah selesai, tetapi malam puncak diadakan sebagai hiburan bagi para mahasiswa baru agar semakin semangat menjalankan aktivitas kedepannya, tanpa khawatir lagi dengan senioritas di kampus.


Acara dilaksanakan tiga puluh menit setelah adzan magrib berkumandang. Para mahasiswa baru dari 8 jurusan telah memenuhi aula malam itu. Begitu pula dengan para senior yang didominasi oleh anggota BEM Fakultas dan beberapa perwakilan dari BEM pusat juga anggota-anggota komunitas masing-masing jurusan, yang sudah berkumpul di samping dan belakang aula. Rencananya mereka akan memberikan persembahan dari masing-masing jurusan kepada mahasiswa baru.


"Sorry gue baru datang, gak telat kan?" tanya Ferdian yang berlarian dari masjid kampus.


"Gak, bentar lagi mau mulai kok!" jawab Rizal, ketua pelaksana ospek dari jurusan Sastra Perancis satu tahun di bawah Ferdian.


"Gue muncul kapan sih?" tanya Ferdian yang masih kebingungan timeline acara.


"Kamu kasih sambutan setelah saya, ya Fer!" jawab Rizal.


"Oke siap! Kenapa lah gue ini harus ngasih sambutan segala? Padahal udah pensiun juga dari BEM pusat,"


"Biar rame Bang, gak ada lo mahasiswa pasti males dateng!" ujar Rani salah satu anggota BEM pusat yang masih aktif.


"Ya elah, padahal cuma sambutan doang!"


"Gak cuma sambutan ya Fer, nanti pas perwakilan dari Sasing, Lo juga muncul!" kali ini Malik yang memberi info dadakan.


"Astaga! Dadakan lagi, kemarin pertandingan dadakan, sekarang mau show juga dadakan," Ferdian berceloteh kesal.


"Elo itu macam hadiah kejutan buat para mahasiswa baru, bersyukur aja jadi seleb di kampus!" celetuk Malik.


"Si Ipul sama Danu Dateng juga?" tanya Ferdian, mengingat dua sohibnya itu juga bagian dari anggota BEM Fakultas.


"Datang, masih solat kayanya!" jawab Malik.


"Ntar jadi nginep ke asrama gue kan?" tanya Ferdian memastikan.


"Jadi dooong, mumpung besok libur, kita bisa main PS dulu, yeah!" ucap Malik semangat.


"Ridho udah gue suruh duluan ke asrama, suruh siapin cemilan, haha!"


"Wih mantap! Eh, eh, tuh mau mulai!"


Keduanya menuju samping pintu aula dan memperhatikan jalannya acara dari sana.


Mahasiswa baru yang kurang lebih berjumlah 150-an telah duduk menghampar di atas lantai aula tanpa alas apapun.Memang tidak semua mahasiswa datang, karena acara memang tidak diwajibkan. Mereka semua tampak asyik menyimak acara malam itu. Mahasiswa-mahasiswa baru itu dibariskan duduknya sesuai dengan jurusan masing-masing, sehingga sudah tampak akrab satu sama lain.


Dua orang mahasiswa angkatan senior membuka acara. Mereka menyapa mahasiswa baru dengan semangat diiringi musik instrumental yang mengalun lembut namun bersemangat.


"Halo, halo, kalian semua apa kabar? Semangat gak nih ikutin acara malam puncak hari ini?" Sapa Fania, yang menjadi MC malam ini dari jurusan Sastra Indonesia.


"Masiiiih!!" ucap mahasiswa baru serentak.


"Kita sambut dulu yuk Ketua Pelaksana Acara Ospek dari awal sampai akhir, Rizal Setiawan dari jurusan Sastra Perancis! Sambut dengan meriah!" ucap Geri, pembawa acara lainnya.


Rizal sang Ketuplak, berdiri di atas panggung dan memberikan sambutannya kepada para mahasiswa baru dan memberikan ucapan terimakasihnya karena bisa terus mengikuti kegiatan ospek dari awal sampai akhir. Begitulah kira-kira isi sambutannya kali itu.


"Sekali lagi tepuk tangan yang meriah untuk Ketuplak kita, Kang Rizal Setiawan," ucap Geri.


"Okey, sebelum kita lanjut ke sambutan selanjutnya, kayanya ada sesuatu deh, Ger! Kok aku ngerasa merinding gini ya?" ucap Fania mengusap-usao lengannya.


"Kenapa sih Fan? Kok saya juga jadi tiba-tiba ngerasa merinding gini," timpal Geri.


JETREK. Lampu aula padam. Otomatis banyak mahasiswa, terutama yang perempuan menjerit karena kaget. Hanya ada seberkas cahaya dari luar. Suara-suara mistis mulai dimainkan, terasa menyeramkan. Tiba-tiba di panggung muncul sosok berbaju putih dan berambut panjang, disinari dengan lampu merah yang mengarah padanya, membuat panggung menjadi tempat yang menyeramkan. Mahasiswa-mahasiswi otomatis menjerit. Kemudian sosoknya hilang dan kembali gelap.


"Ya ampun, ga jelas banget sih acara!" Celetuk Ferdian di samping aula.


"Buruan elo masuk Fer! Sana berdiri di panggung!" Ujar Malik.


"Gue jadi setan?" tanya Ferdian polos.


"Ish, udah masuk aja Lo kan mau kasih sambutan!"


"Masuk Bang Fer!" Suruh Rani.


Ferdian masuk dan naik ke atas panggung yang gelap dibantu oleh panitia lainnya karena aula masih gelap.


Mahasiswa-mahasiwa baru masih diliputi ketakutan karena sosok macam-macam hantu lokal sedang berkeliaran di antara para mahasiswa yang duduk. Mereka semua banyak yang menjerit ketakutan, bahkan tak sedikit suara mahasiswa laki-laki juga ikut berteriak.


Tiba-tiba dalam suasana yang masih tegang dan gelap itu, sebuah lampu sorot menyala di panggung. Kali ini bukan sosok hantu yang berdiri di sana melainkan sosok Ferdian yang mengenakan jas almamater muncul di atas panggung. Hening.


"Kak Ferdian!" beberapa suara perempuan terdengar menyebut namanya dalam suasana hening.


"Iya itu Kak Ferdian," sahut yang lain. Pandangan mereka akhirnya fokus pada Ferdian. Ketegangan yang tadi melanda kini pudar sedikit demi sedikit. Tentu saja, dari sudut mana pun kegantengan Ferdian tampak jelas terlihat. Hal itu membuat aura ketakutan berubah menjadi takjub.


"Ada yang mengatakan, bahwa kesuksesan sejati ditentukan oleh dua faktor. Pertama keyakinan dan kedua adalah tindakan. Saya tidak akan menjelaskan kedua faktor ini, karena semuanya berawal dari diri kamu sendiri, dari diri kita sendiri," ucap Ferdian menunjuk dadanya, ia berjalan di atas panggung sambil melihat ke arah mahasiswa.


Lampu aula pun kembali menyala.


"Ketika kita memulai sesuatu, yakinlah bahwa kita akan bisa melakukan semuanya dengan baik. Dengan begitu, secara sukarela kita bisa menentukan apa yang akan dilakukan setelahnya. Saya belajar dari apa yang saya alami. Awalnya saya ragu, bahwa saya tidak akan bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Namun, keinginan saya itu begitu besar dan akhirnya membuat keyakinan saya pun menjadi besar. Dari sana, saya berpikir, bagaimana agar keinginan yang sudah dibarengi dengan keyakinan kuat itu bisa didapat? Lalu, saya pun mulai memikirkan rencana step by step, action atau tindakan yang mesti saya jalani. Saya mencoba sabar melakukan itu semua, dan memang faktor keberuntungan juga, alhamdulilah, saat ini saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan," terang Ferdian panjang.


Mahasiswa tertegun dengan kata-kata bijak Ferdian, masih dengan suara hening.


"Kalian pun bisa seperti saya, seperti yang sudah saya katakan. Kuatkan keyakinan, rencanakan tindakan, konsisten, dan juga andalkan keberuntungan dengan doa. Sekian dari saya, selamat malam!"


Tepuk tangan bergemuruh meriah dari para mahasiswa baru yang terhipnotis oleh kata-kata bijak Ferdian, sang pengusaha muda. Banyak diantara para mahasiswi meleleh karena melihat sosok Ferdian yang tampan dengan retorika bahasanya yang luar biasa menawan.

__ADS_1


"Macam Mario Teguh aja Lo, Fer!" celetuk Danu yang sudah datang ke gedung aula.


"Cuma itu yang ada di pikiran gue!" jawabnya jujur. Ia hanya ingat saat dia dijodohkan oleh ayahnya dengan Miss Ajeng.


\=\=\=\=\=


Satu jam sudah berjalan, dan malam puncak masih terus berlangsung. Hiburan musik dari band perwakilan fakultas menggema di dalam aula. Dilanjutkan dengan performa teater dari mahasiswa senior juga ikut menghibur para mahasiswa baru. Diharapkan mereka bisa juga ikut bergabung ke komunitas kegiatan di luar mata kuliah nantinya. Mahasiswa-mahasiswa baru tampak menikmati pertunjukan dari kakak kelas mereka itu.


Kali ini perwakilan dari semua jurusan di Fakultas Ilmu Budaya akan tampil di panggung, sebagai perkenalan jika para adik kelas butuh bantuan apa-apa maka tidak usah sungkan untuk meminta bantuan kepada senior mereka. Dimulai dari Sastra Indonesia, Sastra Jepang, Sastra Perancis, Sastra Jerman, Sastra Arab, Sastra Sunda, Sejarah, dan terakhir Sastra Inggris sebagai jurusan terfavorit dengan jumlah mahasiswa terbanyak diantara yang lainnya.


Perwakilan dari mahasiswa Sasing maju ke atas panggung. Ada sepuluh orang yang tampil ke depan untuk memperkenalkan diri mereka, Ferdian, Malik, Danu, Syaiful, Artha dan Gina yang berasal dari semester 5, juga ada Firman, Irfan, Vivi dan Lusi dari semester 3. Kesepuluhnya memperkenalkan diri masing-masing di atas panggung. Namun ternyata yang mendapat sambutan dan tepukan paling meriah adalah Ferdian, sudah pasti.


"Hai, saya Ferdian! Saya dari kelas A, semester 5!" perkenalan singkatnya tapi riuh tepuk tangannya seperti ia habis mengadakan konser.


"Wiiih... emang ya kalau kenalan sama Bang Ferdian ini selalu aja ramai, mana tepuk tangannya lagi buat Bang Ferdian?" ucap Geri sebagai MC.


Tepuk tangan ramai kembali.


"Iya dong, secara gitu, Bang Ferdian ini kan mantan Ketua BEM kampus kita, model juga, pengusaha juga, duh selebriti kampus deh ya!" timpal Fania, membuat Ferdian tersipu-sipu di atas panggung tersorot lampu. Ia menggaruk-garukan tangan ke alisnya.


"Siapa yang mau kenalan lagi sama Bang Ferdian?" tanya Geri pada mahasiswa-mahasiswa baru di hadapannya.


"Aku, aku, saya!" jawab mahasiswa putri, pastinya.


"Duh, kita jadi obat nyamuk di atas panggung nih, Lik!" ucap Syaiful.


"Ho'oh, 9 orang jadi obat nyamuk, sumpah si Ferdian kampretos!" ucap Malik kesal, karena kesembilan orang yang sudah memperkenalkan diri dicueki oleh MC dan mahasiswa-mahasiswa baru.


"Kalian udah pada kenal semua dosennya, belum?" tanya Danu yang merangkap menjadi MC perwakilan dari Sasing.


"Belum semua!!" jawab mahasiswa Sasing.


"Coba, sebutin dosen favorit kalian sampai detik ini!" seru Danu, ia menyuruh dua mahasiswa baru naik ke atas panggung.


"Nama kamu siapa?" tanya Danu pada seorang mahasiswi bertubuh kurus, berambut panjang.


"Andin, Kak!"


"Dosen favorit kamu sejauh ini siapa?"


"Pak Ardi!" jawabnya polos.


"Wooo!!" sorak mahasiswa yang mengenal sosok Pak Ardi.


"Kenapa suka sama Pak Ardi?" tanya Danu penasaran.


"Pinter, ngajarinnya enak dan mudah dimengerti, ganteng juga, Kak! Hehehe!" jawabnya jujur sekali dari adik mahasiswa manis ini.


"Kalau kamu, siapa namanya?" tanya Danu kepada seorang mahasiswa bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang.


"Saya Fahmi, Kang!"


"Dosen favorit kamu siapa, Fahmi?"


"Miss Ajeng Chandra!"


"WOOOOO!!!" sorak sorai mahasiswa yang kebanyakan berasal dari suara mahasiswa cowok.


Danu tertawa-tawa di atas panggung.


"Kenapa suka sama Miss Ajeng?"


"Cantik!" ujar mahasiswa itu tegas.


"Karena cantik doang nih?"


"Enggak juga sih, pinter, tegas, dan pokoknya cantik abis!"


"WOOOOO!!" yang lain kembali bersorak ramai.


"Yang lain gimana, siapa dosen favorit kalian?" tanya Danu pada mahasiswa Sasing yang lain.


"Miss Ajeng!" jawab mahasiswa cowok kompak, bahkan dari jurusan lain pun ada yang ikut bersuara.


"Pak Ardi!" jawab mahasiswa cewek.


Ferdian berusaha menahan tawa, meskipun tidak bisa. Istrinya itu memang sama populer dengan dirinya,


"Oke makasih semuanya ya! Kalau mau kenalan sama kita semua, langsung aja cari di belakang panggung! Tapi jangan sama Ferdian ini ya, udah basi!" ucap Danu. Ferdian memelototinya.


Kesepuluh mahasiswa Sasing itu akhirnya mengundurkan diri dari panggung sambil melambaikan tangannya ke arah mahasiswa baru.


"Sumpah, kocak abis adik-adik mahasiswa kita, entah polos atau emang nafsu pas nyebut nama dosen favoritnya itu!" kata Danu tertawa-tawa sambil menepuk tangannya.


"Cuma dua nama yang keluar, kita jodohin aja yuk Miss Ajeng sama Pak Ardi!" ujar Danu lagi.


Ferdian mendelik tidak suka.


"Kenapa Lo Fer? Jealous!" tanya Syaiful yang menangkap aura ketidaksukaannya pada apa yang diucapkan Danu.

__ADS_1


"Ya ampun gue lupa! Sorry Fer, lo kan punya rencana buat pedekate sama Miss Ajeng,"


"Ssssttt ah!" Ferdian meminta Danu untuk tidak berisik tentang hal itu, apalagi di tempat mereka masih ramai dengan anak-anak mahasiswa lainnya.


"Udah selesai?" tanya Ferdian.


"Belom, bentar lagi! Tinggal bandnya si Dito yang tampil, sambil penutupan!" jelas Malik.


\=\=\=\=\=


Tak terasa, acara malam puncak pun berakhir tepat pukul 20.12. Para mahasiswa baru berhamburan ke luar aula dan pulang menuju tempat tinggalnya masing-masing. Sementara kumpulan pria heboh, alias Ferdian cs. masih berkumpul di samping aula untuk memastikan para panitia sudah membereskan semuanya. Mereka menyuruh para panitia yang perempuan untuk pulang lebih dulu, karena malam sudah larut.


Ferdian mengambil motornya dan langsung pergi menuju asrama yang tidak berada jauh dari fakultasnya itu. Sementara teman-temannya akan menyusul sebentar lagi. Namun ia melihat ada pemandangan yang tidak mengenakan matanya. Seorang gadis, yang sepertinya masih mahasiswa baru yang ikut kegiatan malam puncak, sedang jongkok di bawah pohon. Gadis itu terlihat sedang sesenggukan, dihadapannya ada dua orang mahasiswa lain yang entah sedang mengatakan apa sehingga membuat gadis itu menangis. Ferdian memberhentikan motornya di samping mereka. Hal itu membuat kedua mahasiswa yang sedang berdiri membelalakan matanya, terkejut karena ada Ferdian seniornya.


"Ada apa ini? Kok kalian belum pulang?" tanya Ferdian sambil menyelidiki apa yang terjadi. Apalagi suasana jalan sudah sepi dan gelap.


"Eh...e..enggak apa-apa Bang!" ucap salah satu orang dari keduanya, yang berbadan lebih besar.


"Itu kenapa nangis ya?" tanya Ferdian melihat ke arah gadis yang masih menunduk dan sesenggukan.


"E, enggak tau!" ucap mahasiswa satunya lagi, kikuk.


Kedua mahasiswa itu saling bertatap dan mengangguk. Kemudian keduanya berlari bersamaan, kabur dari Ferdian.


"Woy!!" Ferdian berteriak memanggil keduanya, namun kedua mahasiswa itu terus berlari.


Gadis itu masih terus sesenggukan, membuat Ferdian penasaran dan menghampiri mendekatinya.


"Kamu kenapa?" tanya Ferdian masih dalam posisi berdiri, meski agak lebih dekat jaraknya.


Gadis itu mendongakan kepalanya. Ah ternyata gadis itu lagi, batin Ferdian. Gadis yang beberapa kali sempat ditabraknya.


Tiba-tiba saja, gadis itu berdiri dan langsung memeluk Ferdian masih dengan sesenggukannya, membuat Ferdian tidak nyaman dan gusar. Ferdian melepas pelukan dari gadis itu secara paksa.


"Maaf Kak, saya takut!" ucap gadis itu menutup wajahnya.


"Emang tadi kenapa?" tanya Ferdian, melangkah mundur dari hadapan gadis itu.


"Aku gak tau kak, tapi dua orang tadi mengganggu aku. Aku gak tau kalau tadi kakak gak datang, mungkin aku udah diapa-apain mereka!"


"Ya, udah aman kok! Sekarang kamu pulang ya?" ujar Ferdian datar.


"Tapi aku masih takut, Kak! Takutnya mereka bakal cegat aku di jalan," ujar gadis itu mengusap matanya.


Ferdian mengusap lehernya. Ia merasa bingung.


"Rumah kamu dimana?" tanya Ferdian.


"Kosan aku di Jalan Cempaka, Kak!" jawab gadis itu mengenakan kaca matanya.


Ferdian menghela nafas, Naluri kemanusiaannya mengatakan tidak tega untuk membiarkan gadis itu pulang sendirian setelah apa yang terjadi padanya tadi, meskipun ia sendiri tidak mengetahui apa-apa.


"Ya udah saya antar kamu pulang! Toh deket ini, kan?" tawarnya dengan nada datar.


"Beneran, Kak? Gak apa-apa saya merepotkan Kakak?" tanya gadis itu ragu.


"Iya, udah cepetan naik! Keburu larut malam!"


"Makasih banyak, Kak!" ucap gadis itu membungkuk sambil menangkupkan kedua tangannya.


Ferdian menaiki motornya, diikuti oleh gadis berkaca mata itu di belakangnya dan melaju ke arah Jalan Cempaka, sesuai yang ditunjukan oleh gadis itu.


Malam semakin pekat, udara semakin dingin. Keduanya tertangkap oleh dua pasang mata yang sedang berada di gerbang kampus, melihat sosok Ferdian dan seorang mahasiswi baru sedang naik motor berdua.


"Lah itu si Ferdian bonceng mahasiswa baru ya?"


"Iya betul, ngapain ya?"


"Jangan-jangan pacarnya!" simpulan dangkal seorang mahasiswa senior yang menangkap pemandangan perempuan di belakang Ferdian itu tengah memeluk pinggangnya mesra.


"Yakin?"


"Entahlah!"


Percakapan mereka pun berakhir seiring hilangnya Ferdian dan seorang gadis itu dari pandangan mereka secepat kilat.


\=\=\=\=\=\=


Ada yang masih inget, siapa nama gadis berambut ikal dan berkaca mata ini?


Keep like dan vote ya jangan lupa ^^


\=\=\=\=\=


[ Bonus ]


Kalau seniornya kaya gini wajar banget ya jadi perhatian adik kelas :


__ADS_1



__ADS_2