Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 38


__ADS_3

Hari itu hari Minggu yang cukup cerah. Setelah seharian kemarin, Ferdian dan Ajeng menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga mereka, saatnya hari ini bersantai-santai di apartemen saja.


Ferdian mengajak Ajeng ke rooftop apartemen mereka. Di rooftop terdapat taman cantik yang cukup luas dan ada juga kolam renang di sana. Angin terasa berhembus cukup kencang. Keduanya duduk bersandar di kursi santai yang berpayung sambil menghadap ke kolam renang. Mereka memesan dua gelas jus buah tropis ke sebuah bar yang memang berada di rooftop.


"Fer, aku punya kartu nih!" ujar Ajeng mengeluarkan kumpulan kartu dari saku bajunya.


"Kartu apa? Domino?" tanya Ferdian polos sambil memandang tangan Ajeng.


"Bukan! Ini kartu berisi banyak pertanyaan biar kita saling mengenal lebih dekat lagi," terang Ajeng.


"Terus mainnya gimana?"


"Cara mainnya, kita harus jawab aja pertanyaan yang ada di kartu itu, harus jujur tapi ya?"


"Oke, deh!"


"Karena kartunya banyak, jadi kita pilih acak ya, dan yang sudah kita jawab, kita simpan," jelas Ajeng.


"Siap!"


"Oke aku acak dulu kartunya, nanti masing-masing kita pilih 3 kartu!"


Ajeng mengacak kartu berjumlah 30 buah itu. Lalu meletakan tumpukan kartu itu di atas meja.


"Mau aku ambil duluan, atau kamu?" tanya Ajeng.


"Lady's first! Go ahead! (Perempuan duluan, lanjutkan!)"


"Thank you!" jawab Ajeng tersenyum.


Ajeng mengambil satu kartu yang berada di tumpukan paling atas. Kemudian ia membaca pertanyaan di kartu itu.


"Pertanyaan pertama: Terkait masa depan, apa yang paling kamu khawatirkan?"


"Aku jawab duluan?" tanya Ferdian.


"Iya, karena aku yang tanya duluan,"


"Hmm...masa depan ya? Hmmm...," Ferdian menghela nafasnya.


Ajeng menatapnya, menanti jawaban yang akan dilontarkannya. Sambil juga ia mempersiapkan untuk jawabannya sendiri.


"Kehilangan kamu!" jawabnya singkat, membuat wanita itu terenyuh dan tersipu-sipu.


"Kenapa khawatir akan kehilangan aku di masa depan?" Ajeng mengajukan pertanyaan tambahan.


"Emang ada peraturan boleh tanya lagi?" protes Ferdian.


"Enggak sih, aku pengen tanya aja!" jawab Ajeng.


"Ya karena aku gak mau kehilangan kamu. Kamu itu masa kini dan masa depan aku pokoknya! No more additional question, okay? (Tidak ada pertanyaan tambahan lagi, oke?) Giliran kamu yang jawab!" ujar Ferdian menghindari pertanyaan Ajeng yang lain.


Wajah Ajeng merona mendengar jawaban suaminya itu, ia tersenyum.


"Kalau aku,... aku khawatir kita tidak bersama lagi!" jawab Ajeng.


"Sama ya? Gak seru ah," ujar Ferdian.


"Isssh, jadi aku harus bohong?"


"Hehe, gak juga sih, aku seneng kamu jawab gitu. Tapi apa ada kekhawatiran kamu yang lain selain jawaban kita itu?" Ferdian malah mengajukan pertanyaan tambahan.

__ADS_1


Ajeng sejenak berpikir, "Pengkhianatan!" ucapnya singkat tetapi berhasil membuat Ferdian terpaku.


“Oke, sekarang giliran aku kan?” tangan Ferdian mengambil sebuah kartu.


“Ayo baca!”


“Pertanyaan 2, jika kamu bisa menguasai 3 keahlian baru saat ini juga, keahlian apa yang akan kamu pilih?” ujar Ferdian membacakan pertanyaan.


Ajeng berpikir sebentar, lalu bergumam.


“Hmm, apa ya? 3 keahlian baru kayanya aku pilih masak, bertani, dan mendesain,” jawab Ajeng.


“Kenapa pilih itu?” tanya Ferdian.


“Kalau masak, biar kamu makin betah makan di rumah dan nanti bisa terus kasih bekal, apalagi kalau nanti sudah punya anak-anak. Aku mau kalian makan hasil masakan aku aja biar sehat. Terus kalau bertani, biar punya kebun sendiri yang lebih mudah diambil dan lebih sehat juga karena kita yang rawat. Dan kalau desain, aku pilih untuk desain interior, biar rumah makin cantik,” terang Ajeng membuat lawan bicara di depannya mengangguk-angguk.


“Hmm… very nice answer!”


“Coba kamu jawab!” seru Ajeng.


“Kalau aku, aku pengen ahli dalam mengasuh anak, manjain istri, sama serba ahli dalam urusan rumah tangga,” jawaban Ferdian lagi-lagi membuat istrinya itu tersenyum-senyum.


“Kamu mau jadi ahli bapak rumah tangga?”


“Ya gitu deh, yang namanya kepala rumah tangga kan harus


bisa semua. Kalau ada yang rusak di rumah, harus bisa perbaiki sendiri. Anak


rewel & nangis harus bisa tenangin kalau emaknya sibuk. Istri bete, ya


harus bisa bikin seneng, betul gak Sayang?”


Ajeng memberikan dua jempolnya, “Mantap Sayang!”


Ferdian tampak fokus untuk mendengarkan pertanyaan selanjutnya.


“Negara apa yang paling ingin kamu kunjungi? Apa yang membuatmu tertarik pada negara itu?” tanya Ajeng, ia menghabiskan minuman segarnya.


“Aku ingin banget pergi ke negara Swiss, untuk melihat indahnya pemandangan pegunungan Alpen di sana. Aku juga ingin melintasi berbagai negara di Eropa dengan naik kereta. Ya, itu salah satu keinginanku sejak kecil, tapi belum sempet sih. Mudah-mudahan setelah lulus kita bisa pergi ke sana ya?”


“Wow, really? I want to go there too (Wow, benarkah? Aku ingin pergi kesana juga!)!” ucap Ajeng.


“Eh, jawaban kamu gak boleh sama dong sama aku!” protes Ferdian.


“Huh, oke deh kasih jawaban alternatif lain. Aku ingin pergi ke Turki, karena aku ingin belajar sejarah peradaban Islam yang ada di sana. Kamu tahu gak? Aku ini suka sekali dengan sejarah Islam, dan Turki adalah salah


satu negara yang peninggalan Islamnya cukup banyak selain jazirah Arab,” jelas Ajeng tampak antusias.


“Kenapa enggak pilih pergi ke Mekah atau Palestina?” tanya Ferdian penasaran.


“Karena Turki mirip Eropa, tidak ada tanah gersang atau gurun di sana. Meskipun aku juga selalu punya impian untuk pergi ke tanah suci suatu hari nanti,” jawab Ajeng.


Ferdian tampak memikirkan sesuatu.


“Oke, kita bisa bikin tabungan untuk traveling dan juga haji atau umroh, gimana?” usulnya.


“Bener? Nanti aku atur-atur keuangannya!”


“Iya, serius! Jadi selain kita bikin tabungan untuk anak dan investasi, kita juga harus punya alokasi tabungan untuk traveling. Ya mungkin alokasinya gak sebesar tabungan yang lain, sih! Tapi setidaknya biar tabungan kita juga terencana. Meski keliatannya kita ini seperti orang kaya, tapi kan kita juga punya manajemen keuangan yang rapi, jadi memang bener-bener cermat perhitungannya,” terang Ferdian.


“Oke aku setuju! Mulai bulan depan kita sisihkan untuk tabungan traveling ya?”

__ADS_1


“Sipp, Ibu Manajer! Mudah-mudahan bisnis dan rezeki kita juga lancar.”


“Aamiiiin!”


“Masih lanjut nih?” tanya Ferdian.


“Iya! Cepet ambil kartunya!”


"Oke sekarang giliran aku lagi yang ambil," ujar Ferdian mengambil kartu lainnya.


Ajeng berusaha memperhatikan apa yang akan diucapkan suaminya.


"Kebiasaan buruk apa yang ingin sekali kamu ubah? Dukungan apa yang kamu butuhkan dariku?"


"Give me time! (Beri aku waktu!)" sergah Ajeng, kemudian berpikir.


"Obsesiku terlalu besar dan aku ingin orang menangkap pesonaku," jawab Ajeng menyadari dirinya kadang terlalu perfeksionis untuk pekerjaan dan penampilannya.


Ferdian berusaha mendengar dan memahaminya.


"Tetapi setelah menikahimu, aku menyadari sesuatu. Kalau semua itu harusnya aku kasih untuk kamu aja! Pekerjaanku bahkan tidak lebih penting daripada kamu," terang Ajeng menunduk.


"Jadi dukungan apa yang kamu butuhkan dariku?" tanya Ferdian.


"Cintai aku sepenuhnya, puji aku setulusnya, dan hargai aku sebagai istri kamu, bahkan ketika nanti cantik di wajahku memudar, tubuhku tak lagi ideal, bahkan keriput di kulit sudah muncul," pinta Ajeng.


Ferdian berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Ajeng. Ia merangkul tubuh istrinya, menyandarkan kepala istrinya itu pada dadanya.


"Aku akan berusaha," jawab Ferdian mengecup puncak kepala istrinya.


"Bantu aku juga menahan semua emosiku, tindakanku yang kadang kulakukan tanpa berpikir terlebih dulu, dan buat aku waras meski mencintai kamu," terang Ferdian masih memeluk Ajeng.


Ajeng memandangi wajah suaminya itu, tersenyum.


"Aku ambil kartu lagi ya?" tanya Ajeng.


Baru saja tangan Ajeng meraih sebuah kartu, Ferdian menahan tangannya.


"Nanti lagi ah, kenapa malah jadi mellow gini?"


"Kenapa? Kan masih banyak pertanyaannya," ucap Ajeng.


"Besok-besok lagi aja, yuk pulang! Kita ke kamar!" ajak Ferdian, ia menggendong istrinya ala bridal style.


"Eh, eh tunggu, itu kartunya ketinggalan!" protes Ajeng, terpaksa Ferdian menurunkan tubuh istrinya.


Ajeng merapikan kartunya, dan memasukannya kembali pada sebuah dus.


"Yuk pulang!" ajak Ajeng.


Baru saja Ferdian akan menggendong istrinya lagi, Ajeng berlari menghindarinya lalu membalikan tubuhnya.


"Inget Fer! Tetep waras!" seru Ajeng tertawa, telunjuknya menunjuk kepalanya. Maklum saja mereka berada di tempat umum, ada beberapa orang juga di sana yang menatap mereka heran.


Ferdian mengejar istrinya yang sudah berada di lift. Gemasnya.


\=\=\=\=\=\=


Gemes gak?


Jangan lupa VOTE, LIKE, & COMMENTnya ya kakak readers kece

__ADS_1


Makasih ^^


__ADS_2