Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 93


__ADS_3

Ferdian sedang fokus mengerjakan tugas akhir skripsinya di kala Ajeng sedang sibuk meninabobokan Arsene yang sejak tadi tidak berhasil tertidur. Ajeng sudah berusaha menyusuinya, tetapi Arsene tidak juga tidur. Ajeng khawatir anaknya itu demam.


"Bi, kenapa ya Arsene gak mau tidur aja?" tanya Ajeng pada Bi Asih.


"Coba disusuinya sambil digendong aja," saran Bi Asih.


"Oh gitu ya?"


"Iya, biasanya kalau bayi udah sering dipindah-pindah ruangan, nanti dia jadi minta keluar kamarnya."


"Ya udah aku coba dulu deh!"


Ajeng pun mengambil kain gendongannya dan menaruh Baby Arsene yang sudah berusia satu bulan di dalamnya. Sambil menimang anaknya, ia juga menyusuinya. Namun Arsene menolak. Jadinya Ajeng hanya menimangnya saja. Sambil menimang, Ajeng memperhatikan Ferdian. Suaminya itu benar-benar serius sehingga tidak memperhatikan dirinya yang sejak tadi berjibaku untuk menidurkan anaknya. Kadang Ajeng merasa kesal ketika Ferdian lebih fokus pada kuliahnya itu, tetapi justru suaminya melakukan hal itu agar ia bisa segera menyelesaikan kuliahnya. Wanita itu terpaksa terdiam saja dan menikmati aktivitas barunya menjadi orang tua.


Baby Arsene telah lelap tertidur dalam buaian ibunya. Ajeng merasa lega, akhirnya anaknya itu bisa tertidur. Ia membawanya ke dalam kamar untuk ditidurkan di atas ranjang. Ajeng menaruhnya di ranjang, seketika bayi itu kembali terbangun dan menangis.


"Astaghfirullah, Arsene...mommy kamu ini udah ngantuk, kenapa kamu bangun lagi?" ocehnya. Terpaksa Ajeng menggendongnya lagi dan menimangnya. Namun bayi itu tetap tidak mau diam. Sehingga Ajeng kembali ke ruangan utama, barulah Arsene terdiam dan matanya mulai terpejam lagi.


 


Ajeng mencoba duduk di sofa dan tidur saja sambil terduduk. Ia benar-benar sudah tidak bisa menahan kantuknya. Wanita itu pun tertidur begitu saja di sofa bersama anaknya di gendongannya. Tidak lama, Arsene kembali bangun dan menangis. Mata Ajeng sudah merah. Namun dengan sabar ia mencoba menyusui anaknya agar tertidur. Namun Arsene masih menolaknya.


 


"Sayang..., Daddy Arsene bisa tolong mommy gak?"


"Hmm...."


"Bisa gantian dulu sebentar?" pinta Ajeng.


"Aku masih belum selesai, sebentar lagi ya?" ucap Ferdian.


Ajeng menghela nafas. Ia ingin meminta bantuan Bi Asih, tetapi malam ini juga ia masih sibuk menyetrika baju. Ah, Ajeng teringat sesuatu. Ia segera mendatangi kamarnya, lalu mengecek popok Arsene. Dugaannya benar. Ternyata Arsene buang air besar, bayi itu pasti tidak nyaman untuk tertidur sehingga terbangun lagi untuk kesekian kalinya. Dengan sigap Ajeng membersihkan kotoran dari tubuh anaknya.


 


"Maaf ya, mommy masih suka belum ngeh sama tangisan kamu!" ucap Ajeng pada Arsene yang kini lebih segar.


"Sekarang kamu bobo ya Nak! Kita bobo bareng!" ucap Ajeng.


Ajeng kembali menyusui anaknya dengan posisi tidur, sehingga keduanya pun sama-sama terlelap.


\=====


Ferdian telah selesai mengerjakan tulisan dan penelitiannya hari ini. Ia melirik ke arah sofa, sudah tidak ada istrinya di sana. Ia pun berjalan dan masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu. Melihat bayinya yang tertidur lelap ia merasa lega dan bahagia. Namun betapa terkejutnya ketika ia mendapati istrinya yang tertidur lelap dengan bagian baju atasnya yang terbuka sehingga memperlihatkan dadanya. Ferdian meneguk air liurnya. Entah sudah berapa lama ia menahan hasratnya selama istrinya itu sedang nifas, selama itu juga ia sering puasa Senin Kamis. Ferdian berusaha menepis pikirannya. Ia memperbaiki posisi tidur istrinya dan mengancingkan baju istrinya itu. Ia juga terenyuh melihat wajah kelelahan istrinya yang baru berperan sebagai seorang ibu. Sebaiknya ia juga harus segera tidur, sebelum Arsene kembali terbangun. Ferdian pun tertidur di sebelah tubuh istrinya.


Oaa...oaa...oaa...


Arsene kembali terbangun setelah hampir empat jam tertidur. Ajeng membuka matanya yang terasa berat. Ia segera mengganti popok Arsene dan kembali menyusuinya. Waktu sudah menunjukan pukul 4 subuh. Mata Arsene tidak terpejam lagi setelah menyusui. Ia benar-benar segar dan bermain-main dengan tangannya.


"Kamu udah segar ya?" Ajeng memainkan tangan bayinya. Lalu ia memberikan mainan berbunyi kerincing. Mata Arsene membesar, ia melihat benda berwarna merah terang itu dengan antusias, sehingga ia menggoyangkan kaki dan tangannya bersamaan.


Karena bunyi mainan kerincing itu pula akhirnya Ferdian terbangun. Matanya membuka sedikit melihat istri dan anaknya yang sudah terbangun. Ferdian menarik tubuh Ajeng dan mendekapnya.


"Aku kangen kamu!" ucap Ferdian lirih. Lalu menyesap aroma wangi dari rambut istrinya, aroma yang selalu disukainya.

__ADS_1


Ajeng tidak bergeming. Ia pun merindukan belaian dan sentuhan suaminya itu. Semenjak Arsene lahir, intensitas pelukannya berkurang.


 


"Kamu kapan selesai nifas?" tanya Ferdian yang matanya masih saja terpejam.


"Bentar lagi mungkin," jawab Ajeng ragu.


"Lama banget, aku udah gak tahan!" ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


Ajeng jadi tertawa-tawa. Ia mengecup pipi suaminya.


"Sabar ya, Sayang!"


"Mmhh..."


"Aku mau mandi dulu, kamu jaga Arsene ya?"


"Mmhh...aku mau ikut kamu mandi aja," ucap Ferdian manja.


"Ssst...tuh anak kamu lihat lagi olahraga tangan."


Ferdian langsung beranjak dari tidurnya, melihat anaknya itu sedang menggerak-gerakan tangan sendiri, ia jadi antusias.


"Eh anak Daddy udah bangun aja, mau main ya?" ucap Ferdian, ia langsung mengambil mainan kerincing dan memainkannya di depan Arsene. Bayi itu kembali girang dan bergerak dengan semangat dengan mata yang membesar.


Ajeng tersenyum melihat ayah dan anak itu sedang bermain bersama. Ia pun pergi berlalu menuju kamar mandi.


\=====


"Lihat Cen, ada banyak burung terbang di atas," ujar Ferdian sambil menunjuk-nunjuk ke langit.


"Kok Cen sih?" protes Ajeng, mendengar panggilan itu untuk anaknya.


"Terus apa dong panggilannya? Kan enak manggilnya, Acen! Ya, Cen ya?" ucap Ferdian memandangi anaknya yang tampak memandangi langit yang biru bersih tanpa awan.


Ajeng jadi terkekeh, "Ya udahlah terserah Daddy aja!"


 


Ferdian melangkahkan kakinya sambil menggendong anaknya yang kini beratnya sudah naik itu. Ajeng mengikutinya di samping.


"Gak nyangka ya, sekarang udah bertiga aja," ucap Ajeng menunduk.


"Iya, tahun depan mungkin bisa jadi udah berempat!" ujar Ferdian tertawa-tawa.


"Ah, satu dulu aja!" sergah Ajeng.


"Kenapa? Kan banyak anak jadi rame, aku suka malah!"


"Iya, tapi aku pusing kalau jaraknya deket gitu."


"Hehehe. Terus mau tambah lagi kapan?" tanya Ferdian masih sambil berjalan-jalan mengelilingi taman.


"Mungkin 3 atau 4 tahun lagi."

__ADS_1


"Awas nanti kamu kelupaan minum pil KB lagi, hihi! Nambah tiba-tiba deh!" ucap Ferdian tertawa.


"Ah, aku mau pasang KB IUD aja deh! Coba ya aku tanya ke Sita dulu!"


"Nanti sore jadi kontrol ke sana kan?"


"Iya!"


Ajeng duduk di salah satu kursi taman dan membuka ponselnya. Sementara Ferdian melanjutkan jalan-jalannya bersama si mungil Arsene sambil menikmati hangatnya sinar matahari pagi.


Ajeng membuka aplikasi whatsappnya. Lalu mengetikan sesuatu pada Sita, menanyakan perihal KB IUD. Ia juga membuka status whatsappnya. Matanya membesar ketika menemukan status temannya, Karin.


[Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami, Zaara Haniya Kusumawijaya, pada hari Jumat pukul 14.14. Semoga putri kami menjadi anak yang shalihah dan menjadi syafaat bagi kedua orangtuanya. Aamiin.]


Langsung saja, Ajeng mengirim pesan kepada sahabatnya itu.


[Alhamdulillah, Karin sekarang dimana?]


Tidak perlu menunggu waktu lama, ia mendapat balasan dari Karin.


[Aku masih di klinik, Jeng]


[Hari ini aku cek up kesana, sekalian jenguk kamu ya? Boleh?]


[Boleh banget! Makasih Ajeng, maaf ya aku belum sempet tengok kamu] balas Karin.


[Gak apa-apa :) Tunggu aku ya]


[Siap]


Segera setelah itu ia pun mendapat balasan dari Dokter Sita, mengenai pemasangan KB IUD, yang mengatakan kalau dirinya sudah bisa untuk dipasang alat kontrasepsi di dalam organ dalamnya itu. Ajeng langsung mengejar suaminya yang sudah berada jauh dari tempatnya duduk tadi.


"Sayang!" panggil Ajeng.


"Eh kamu jangan lari-lari gitu baru lahiran!" seru Ferdian menoleh dan melihat istrinya yang bernafas terengah-engah.


"Aku gak lari kok, cuma jalan cepet!" sergah wanita itu.


"Sama aja, emang kenapa sampai buru-buru gitu?"


"Karin udah lahiran, sekarang dia ada di klinik. Kita kesana sekarang yuk! Sekalian aku mau pasang KB IUD."


"Alhamdulillah, laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan!"


"Ya udah, kita siap-siap dulu!"


Ajeng mengangguk, wajahnya berseri. Ini pertama kalinya setelah melahirkan ia akan pergi keluar bersama anaknya.


\=====


Lanjut besok yaa


Yuk ah komen, like dan votenya dulu biar author makin semangat nulis

__ADS_1


Makasih yaa


__ADS_2