
Semburat jingga berpadu violet telah terlukis di atas langit sore ini. Burung-burung berkejaran mengepakan sayapnya, terbang menuju sarang masing-masing. Bermacam-macam kendaraan padat memenuhi jalan yang semakin terasa sempit saja. Ajeng kembali ke rumah orang tuanya untuk menjemput Arsene.
Wanita itu beruntung telah bertemu sahabat-sahabatnya yang hebat, sehingga beban yang dirasakan selama ini sedikit berkurang. Apalagi dengan Sita yang jago sekali bercanda ketika mereka sedang bersama, sisi kepribadian yang tidak pernah dimunculkannya ketika ia berada di klinik. Mereka sampai dibuat tertawa, sampai-sampai Karin harus mengucap istighfar beberapa kali khawatir hatinya akan menjadi keras, ungkapnya.
Mobil sedan hitam milik Ferdian itu memasuki pelataran rumah bergaya klasik. Ajeng menenteng sebuah kantong plastik berwarna krem berisi sebuah kotak kue cokelat truffle untuk orang tuanya. Papa Ajeng memang sangat menyukai kue cokelat, beruntung tidak ada riwayat penyakit diabetes di usianya yang sudah senja.
“Mommy….” teriak Arsene yang mulutnya belepotan keunguan karena ia sedang meminum jus buah naga.
“Haiii….” Ajeng langsung menggendong anaknya, agar mulut Arsene tidak menempel di celana atau bajunya.
“Mwuaah….” Arsene malah usil mencium pipi mommy-nya, dan meninggalkan bekas noda keunguan di pipinya itu.
“Aah, Acen! Pipi mommy jadi warna ungu nih!” omel Ajeng mengelap pipi dengan tangannya.
Arsene tersenyum menyeringai, memperlihatkan giginya yang kecil dan rapi. Sementara mama dan papa yang berada di sana tertawa-tawa.
“Arsene jahil juga ya?” sahut papa.
“Iya mirip daddy-nya kalau itu,” balas Ajeng mencari sehelai tisu.
“Tapi Ferdian itu kalau diam gak kelihatan, malah kayak yang cuek dan dingin,” ungkap papa lagi.
“Dia kan gitu, Pa. Di kampus juga gitu, apalagi sama cewek asing, mana ada ramah-ramahnya!” tukas Ajeng mengelap pipinya setelah berhasil menemukan tisu di atas meja makan.
“Baguslah, itu namanya self defence alias pertahanan diri dari seorang laki-laki. Antisipasi biar para perempuan tidak mendekat.”
Ajeng duduk di samping papanya, sambil mengelap mulut anaknya.
“Tapi waktu pertama aku masuk di kelasnya, dia gak gitu sama aku.”
“Itu karena dia emang udah naksir kamu.”
“Iya sih!”
“Tapi baguslah, papa percaya sama dia. Jadi kamu gak perlu khawatir berlebihan selama dia di Amerika.”
“Iya.”
Papa mengintip pada kotak yang Ajeng taruh di atas meja. Wajah tampan papanya itu berbinar ketika melihat ada beberapa buah bulatan cokelat dengan berbagai topping di atasnya. Wangi cokelat yang tajam dan manis langsung menusuk hidungnya. Papa mengambil sebuah dengan topping kacang almond.
“Kamu gak kangen sama dia?” tanya papa dengan mulutnya yang sibuk mengunyah.
“Aku gak pernah bisa tidur, Pa!” jawab Ajeng jujur, setelah ia mencuci tangannya.
“Jadi gimana dong?”
“Ya aku harus sibuk sampai benar-benar capek baru deh bisa tidur.”
Papa tersenyum kepada putri bungsunya, ternyata sebesar itu cinta anaknya pada Ferdian. Padahal dulu, ia sampai pingsan ketika dijodohkan dengan pria itu.
“Misalnya nih, kalau ternyata Ferdian ditempatkan oleh ayahnya di luar negeri, gimana? Kamu mau ikut?” tanya papa menatap serius pada anaknya.
Ajeng tertegun dengan pertanyaan papanya. Ia tahu, mertuanya itu memiliki banyak anak perusahaan yang tidak hanya berada di Indonesia saja, melainkan luar negeri. Dengan Ferdian yang telah selesai melakukan training, bukan hal yang tidak mungkin ayah mertuanya itu menempatkan ia dimana saja.
Lalu bagaimana dengan karir yang dibangunnya selama ini, cita-cita dia untuk meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi demi profesionalitas karirnya? Ia sama sekali belum memikirkan sejauh itu. Setelah menikah dan memiliki Arsene, memang ada niatnya untuk melanjutkan studi S3-nya ke luar negeri. Hanya saja ia masih ragu-ragu, apakah ia masih bisa menjadi ibu dan istri yang baik?
“Jeng, are you okay?” tanya papa membuyarkan pikirannya.
“Yes!”
“Gak usah kamu jawab sekarang, Sayang! Papa ingin kamu memikirkan hal ini dan memikirkan masa depan kalian. Ferdian masih sangat muda dan karirnya bisa dibilang sudah bagus. Wajar, ayahnya akan sangat mengharapkan dirinya untuk membantu di perusahaannya yang banyak itu. Bukan tidak mungkin, ia malah bisa jadi memimpin perusahaan ayahnya.”
“Papa hanya ingin melihat kalian bahagia dengan semua yang kalian pilih sendiri. Karir dan cita-cita kamu selama ini, apakah bisa membahagiakan anak dan suami kamu juga? Pertimbangkan itu semua baik-baik. Hubungan jarak jauh yang terus menerus tentu tidak akan sehat bagi rumah tangga. Belajar dari apa yang pernah terjadi pada papa dulu, cukuplah kamu melihat ini sebagai contoh yang tidak baik.”
Ajeng melebarkan matanya. Ia tidak mengerti maksud papanya itu.
“Apa yang terjadi dengan Papa?” tanyanya.
Papa menghela nafas.
“Kamu tahu, yang namanya lelaki itu kebutuhan paling utama adalah kebutuhan biologis. Papa termasuk orang yang ambisius dan memiliki keinginan yang besar, berbeda dengan mamamu. Kepribadian kami bertentangan. Ketika dulu, papa bekerja merantau ke Kalimantan, saat itu kamu masih di sekolah dasar. Papa hanya bisa pulang setahun sekali untuk menemui kalian. Hasrat papa yang besar, kadang membuat papa mudah stress tetapi papa tidak bisa menyalurkan itu. Saat itulah papa mencari istri simpanan.”
__ADS_1
Hati Ajeng terkesiap.
“Papa pernah berkhianat pada mama. Tanpa memberitahunya, papa menikahi wanita di sana secara diam-diam. Entah bagaimana akhirnya, mama kamu bisa mengetahui hal ini. Namun papa sadar, papa salah. Papa tidak membawa kalian semua ikut merantau. Padahal mamamu sudah memohon untuk ikut. Beruntung mama masih mau menerima Papa. Setelah sebulan menikah siri, papa menceraikan wanita itu dan memutuskan untuk kembali ke Bandung dan akhirnya bertemu dengan mertua kamu yang sangat baik.”
Ajeng tertegun dengan kisah hidup orang tuanya yang tidak pernah diketahuinya.
“Papa ingin kisah dulu yang menimpa kami, jangan sampai kalian mengalaminya. Kesetiaan itu sangat mahal harganya. Kamu sebagai istri harus bisa menjadi jubah bagi suami dimana pun, kapan pun. Bisa menghangatkan, bisa juga memberi kesejukan. Kalian harus saling percaya, dan terbuka. Jangan sampai kalian menyembunyikan masalah sekecil apapun. Sampingkan ego kalian, dan jangan merasa salah satu lebih merasa tinggi.”
Mata Ajeng berkaca-kaca. Ia berusaha meresapi apa yang diucapkan oleh papanya. Memang untuk belajar dan memahami rumah tangga itu bukan setahun atau dua tahun, melainkan seumur hidup. Ia teringat ketika Ferdian dulu mengatakannya pada saat pembicaraan mereka yang pertama. Bahkan hal itu tidak pernah terpikirkannya. Semua orang bisa berbuat salah, lalu memaafkan kesalahan, dan memperbaiki apa yang telah terjadi.
Tangis yang sempat terbendung di matanya, akhirnya luruh membanjiri pipinya yang berkilauan. Papa memeluk erat putri bungsu yang disayanginya. Ia tahu anaknya itu sedang rapuh hatinya karena berjauhan dengan suaminya. Ia juga sangat tahu bahwa ego dan sikap keras anaknya itu masih begitu kuat mendominasi rumah tangga mereka. Selama ini Ferdian banyak mengalah pada semua keinginan istrinya, dan itu tidak pernah disadari oleh Ajeng, kecuali di hari ini.
“Aku kangen Ferdian, Pa!” ucapnya lirih sembari sesenggukan.
Papa mengusap punggungnya.
“Sabar, Nak! Ini ujian buat kamu, setelah kamu melewati ini, kesetiaanmu dan Ferdian akan teruji.”
“Tapi aku gak kuat buat bertahan lama tanpa dia.”
“Sabar, Sayang! Berdoa sama Allah, itu akan menguatkan kamu. Rindu yang tertahan akan tersampaikan.”
Ajeng melepas dirinya dari pelukan papanya. Ia mengusap air matanya. Arsene yang bermain di atas karpet. Melihat wajah kemerahan mommy-nya, ia pergi menghampirinya.
“Mommy crying?” tanyanya dengan wajah polosnya.
Kakeknya langsung memangkunya.
“Your mommy is missing your daddy so much (Mommy kamu kangen banget sama daddy kamu)!” jawab kakeknya itu.
Arsene langsung melompat ke lantai dan mencari sesuatu. Dilihat tas milik mommy-nya itu, lalu merogoh ke dalamnya.
Sebuah benda kotak pipih berwarna silver dipegangnya, lalu diberikannya kepada mommy.
“We call daddy!” ucapnya memegang lengan Ajeng.
Ajeng jadi tersenyum melihat tingkah spontan Arsene yang bersimpati kepadanya.
“Thank you, my sweetheart!” ucap Ajeng memeluk dan mencium Arsene.
“Bentar ya sayang, mommy mau hapus air mata dulu.”
“Ajeng, jangan pura-pura di depan dia. Tunjukan apa yang seharusnya dia lihat,” ujar papanya.
“Aku gak mau dia terbebani dengan kondisi aku, Pa!”
Papa hanya bisa menghargai apa yang menjadi pilihan putrinya itu. Lalu Ajeng membubuhkan concealer dan bedak di wajahnya. Ia juga mengoles lip cream-nya. Ia berjalan ke halaman belakang sambil menuntun Arsene.
\=\=\=\=\=
Langit gelap masih menyelimuti kota Chicago. Sahutan angin yang terasa kencang terdengar di ketinggian gedung, masuk melewati celah-celah kecil lalu bersiul. Chicago memang terkenal sebagai “The Windy City” alias Kota Berangin. Hembusan angin di kota itu cukup kuat bertiup setiap tahunnya.
Ferdian mengeratkan kain selimut ke seluruh tubuhnya. Namun rupanya mata yang dipejamkannya tidak bisa terlelap lagi. Ia melihat ke layar ponselnya, lalu beranjak bangkit dari tidurnya. Pria yang selalu mengenakan sweater tipis saat tidurnya itu berjalan ke kamar mandi.
Giginya bergemeletuk sesudah ia membasuh mukanya, ternyata ia sudah mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat tahajud sebelum subuh tiba. Ia mengenakan jaket tambahannya. Lalu dihamparkannya sajadah miliknya. Seluruh pikiran dan hatinya ia pusatkan pada Pemilik Alam Semesta. Hatinya bermunajat dalam setiap dzikir, berharap doa yang dipanjatkan bisa tersampaikan.
Jiwanya entah mengapa terasa kalut. Lagi-lagi rasa rindu itu menelisik ke relung hatinya yang terdalam di dini hari yang dingin ini. Tidak ada yang bisa menghangatkan kecuali untaian doanya kepada Sang Pemilik Hati agar menyampaikan pesan rindu pada istri yang dicintainya.
Tiba-tiba getaran ponselnya terdengar hebat di atas nakas. Segera pria itu mengambilnya. Matanya berbinar, doanya langsung dikabulkan. Ferdian menyalakan lampu kamarnya dan mengangkat panggilan video itu.
“Assalamu’alaikum,” sapa pria itu.
“Wa’alaikumsalam. Hai Sayang!” sapa Ajeng, suaranya terdengar bergetar, seperti menahan sesuatu di dalam lisannya.
Ferdian tersenyum berseri.
“Kamu dimana?” tanya Ferdian, melihat pemandangan di belakang tubuh istrinya yang berlatar belakang tanaman-tanaman hijau.
“Aku di rumah papa.”
“Ooh, tadi jadi ketemuan sama Karin dan Dokter Sita?”
__ADS_1
“Iya. Tapi Arsene aku titip sama papa, jadinya aku jemput lagi.”
“Ooh… Kamu nginep aja di sana, biar gak terlalu sepi. Bi Asih ikut juga kan?”
“Iya ikut!”
“Hai daddy!” ucap Arsene menginterupsi kedua orangtuanya.
“Hello handsome, kiss daddy dong!”
Arsene melakukan hal biasa yang dilakukannya. Ia mencium layar teleponnya itu.
“Mommy crying,” ungkapnya tanpa beban, membuat Ajeng tersentak karena anaknya malah memberitahu kejadian tadi.
Ferdian terkejut, “Ah, really?” tanyanya.
Arsene mengangguk-angguk imut.
“Okay, daddy mau bicara sama mommy dulu ya?”
“Okay!” Arsene berlari lagi ke ruangan tengah, dimana mainan yang telah disediakan oleh kakeknya berserakan di sana.
“Beneran tadi nangis? Aku gak meragukan Arsene sih?” tanya Ferdian.
Ajeng memutar bola matanya ke arah lain. Matanya kembali berkaca-kaca. Hatinya kembali bergetar menahan rindu yang tersimpan selama ini. Lalu ia memejamkan mata, tetesan air matanya jatuh dari sana.
Ferdian yang melihat hal itu ikut merasa bergetar.
“Kamu kenapa, Sayang? Ada masalah? Cerita sama aku!"
Ajeng berusaha menahan tangisnya, membuat bibirnya itu bergetar.
Ferdian masih menunggu jawaban istrinya, menatap dengan tatapan iba.
“Aku kangen kamu,” ucapnya lirih, ia merapatkan bibirnya.
Jawaban itu membuat netra milik Ferdian ikut berkilauan. Ia menelan salivanya.
“Maaf, aku gak bisa bohong sama kamu. Aku butuh kamu,” ucap Ajeng lagi yang wajahnya terlihat memerah.
Ferdian mendongakkan wajahnya ke langit-langit, berusaha menahan laju air matanya. Hidung mancungnya terlihat kembang kempis.
“Aku juga kangen kamu, Sayang!”
Ajeng menangis sesenggukan di depan layar ponselnya. Lalu sesekali kameranya itu mengarah pada hal lain yang tidak jelas, karena wanita itu tengah menghapus air matanya.
“Aku selalu menyebut nama kamu dalam setiap doa aku, agar Allah melindungi kalian,” ucap Ferdian lirih. Tentu saja hal itu membuat Ajeng semakin menangis.
“Aku ingin ketemu kamu, aku ingin peluk kamu,” ucap Ajeng bergetaran.
Lagi-lagi Ferdian hanya bisa menelan salivanya. Tenggorokan miliknya terasa ada yang mengganjal di sana. Dadanya terasa sesak karena rasa rindunya yang membuncah.
“Sabar ya Sayang, kita ketemu sekitar 4 bulan lagi. Mudah-mudahan bisa lebih cepat dari itu,” sengaja Ferdian membuat harapan itu agar istrinya tidak lagi bersedih, meskipun ia sendiri tidak tahu.
“Iya aku akan selalu tunggu kamu.”
“Sebut nama aku dalam doa kamu ya? Itu pintaku agar rindu kita bisa sembuh selama kita berjauhan. Kamu janji?”
“Insya Allah, aku janji!”
“Good, that’s my queen!” ucap Ferdian tersenyum.
Untung saja pertemuan virtual itu berakhir dengan senyuman, meski dengan harapan tinggi yang sama-sama ditaruh kepada Yang Maha Tinggi.
\=\=\=\=
Duh LDR menyiksaku >.<
Like, Comment, dan Votenya dong
Follow juga instagram @aeriichoi
__ADS_1
Join grup chat Author Aerii juga yuk
Thank you