
Ep 6. Tentang Mereka
Pria bermata sipit dengan kulitnya yang cerah itu kembali ke dalam kelas, setelah ia menyelesaikan urusannya dengan geng Blackdot siang itu. Masih ada sepuluh menit waktu istirahat tersisa. Arsene masuk ke dalam kelasnya yang tampak sepi. Ia melihat bangku kawan lelakinya, Fahri dan Abdul, tidak ada mereka di sana. Kemudian melirik bangku miliknya, beruntung tidak ada Zaara juga di sana, jadi ia bisa leluasa duduk di sana sambil menunggu jam masuk.
Arsene membuka kotak bekalnya dan melahap isinya, menu yang sama dengan apa yang ia buat untuk Ricky dan kawan-kawan. Meskipun ia sibuk mengunyah, tetapi pikirannya tetap melayang sambil memikirkan kira-kira apa yang akan terjadi setelah ia diterima ke dalam kelompok Blackdot itu.
Soal masakannya, ia tidak berbohong. Arsene telah mengecap pendidikan formal sebagai koki cilik semasa ia tinggal di Singapura. Sejak usia empat tahun, minatnya di dunia kulinari membawanya untuk terjun langsung di dapur mommy-nya sendiri. Ia sangat sering menonton acara TV internasional berjudul Masterchef Junior US. Setelah cedera kakinya sembuh total, orangtuanya menyekolahkan ia di sekolah koki terbaik. Arsene belajar dengan cepat. Kemampuan memasak dan membuat kue tidak bisa dielakan lagi, sehingga Ferdian, daddy-nya, membuat dapur khusus untuk anak pertamanya itu. Apalagi bisnis orangtuanya juga berkaitan dengan dunia kulinari, membuat Arsene bisa berlatih menjadi chef profesional, meski hanya part-time.
Arsene tumbuh menjadi anak dengan minat dan bakat yang kuat. Karakter daddy-nya mendominasi pada dirinya, meski ia bisa dibilang lebih hangat dari Ferdian ketika berhadapan dengan orang lain. Sedangkan sifat idealis turun dari mommy-nya. Ia selalu ingin terlihat terampil dan berkarisma dalam setiap bidang yang ia geluti. Oleh karena itu, cita-citanya menjadi chef profesional sudah tertanam kuat pada dirinya. Kini hanya tinggal menunggu waktu saja. Setelah sekolah formalnya selesai, ia akan membangun bisnis baru bersama daddy-nya di sini.
Kepindahan bersama adiknya Rainer, memang sengaja dilakukan daddy-nya. Ferdian ingin anak lelakinya bisa hidup lebih mandiri, menghadapi dan memecahkan masalah hidup mereka sendiri di usia remaja. Meski mereka tinggal bersama kakek dan neneknya sekarang, hal itu tidak begitu berpengaruh seperti campur tangan orangtuanya. Ferdian sengaja melepas anaknya lebih dahulu pindah ke Indonesia demi kematangan berpikir dan kedewasaan sifat mereka.
\=\=\=\=\=
Tidak berapa lama setelah suapan kesekian milik Arsene, Zaara masuk ke dalam kelas diikuti oleh siswa-siswa lainnya. Melihat Arsene yang sudah duduk di bangkunya, gadis berhijab putih itu kembali keluar, lalu duduk di kursi koridor depan kelas. Ia tidak nyaman jika harus duduk berdua dengan Arsene di luar jam pelajaran. Jadinya, ia memutuskan untuk keluar lagi saja. Tiba-tiba, kelompok cewek heboh mendatangi Zaara yang sedang memperhatikan lapangan.
“Ra… Arsene orangnya emang cuek gitu ya?” tanya Cinta, gadis berambut panjang itu mendudukan tubuhnya di sebelah Zaara.
“Mana aku tau, coba aja tanya sendiri!” jawab Zaara sedatar mungkin.
“Emang kalian jarang ngobrol?” tanya Anin. “Kemarin kalian berdua keluar bareng ngapain hayo?” tanyanya lagi.
Zaara memandang kesal pada gadis-gadis yang ada di hadapannya. Ia tidak mau menjawab pertanyaan mereka, karena hanya membuang waktu. Lagipula pasti mereka akan menyangkal semua jawaban yang akan diberikannya.
“Ra… bisa bantu gue gak?” tanya Cinta dengan tatapan memelas.
Zaara menaikan sebelah alisnya.
“Apa tuh?”
“Bantuin gue pedekate sama Arsene, please!” jawab Cinta membuat mulut Zaara melongo, lalu beristighfar dalam hati.
“Maaf ya Cinta yang cantik, tapi dalam kamus hidup aku, yang namanya pedekate, pacaran sebelum nikah, teman tapi mesra, dan sejenisnya itu gak pernah ada. Jadi kamu tuh udah minta tolong sama orang yang salah,” terangnya blak-blakan.
“Dih, monoton banget sih hidup lo, Ra! Mentang-mentang bokap lo itu penceramah agama, ternyata anaknya pun jadi tukang ceramah! Gak asik ah!”
Zaara hanya menyengir saja.
__ADS_1
“Gak ada guna sama sekali nih, ngobrol sama Zaara. Kita masuk aja yuk!” ajak Cinta pada kawan-kawannya, sambil mendelik kesal pada Zaara yang masih tersenyum padanya.
Zaara hanya menghela nafas. Sabar ya!
Ah, ia jadi teringat masa lalunya. Saat SMP, gadis itu termasuk cewek populer di sekolahnya. Wajahnya yang cantik, kulit bersih, dan tubuh ramping pasti selalu menjadi dambaan setiap cewek. Belum lagi, ia selalu menjadi incaran cowok dari yang biasa saja, sampai yang populer. Kekurangan Zaara sampai saat ini adalah sifat galak dan ketusnya terhadap apa yang ia tidak sukai. Maka hal itu akan ia ungkapkan secara terbuka dan blak-blakan. Namun, Zaara yang sekarang berbeda jauh dengan Zaara versi SMP. Meskipun orangtuanya bisa dibilang taat agama, tetapi kelakuannya pada saat itu sangat tidak mencerminkan bagaimana orangtuanya.
Zaara adalah anak yang keras ketika dinasihati. Watak keras itu turun dari abinya, sehingga ketika mereka saling berpendapat, maka hanya ada argumen yang keluar dari mulutnya untuk membenarkan sikapnya selama ini. Nasihat orangtuanya sulit untuk dicerna otaknya. Semakin diberitahu dan dinasihati, semakin bandel juga dirinya. Reza dan Karin, orangtua Zaara, pernah mengajaknya untuk tinggal di sebuah pondok pesantren setelah SMP. Tetapi Zaara menolaknya keras. Alasannya, karena nilai ujian yang didapatnya sangat bagus dan hal itu membuat ia bangga sehingga bisa masuk ke sekolah negeri. Lagipula ia tidak ingin berada jauh dengan keluarganya. Hari-harinya terasa berwarna memang, tetapi terlalu banyak warna mencolok yang sakit jika dipandang, karena ia banyak membangkang orangtuanya.
Namun, semenjak orangtuanya memperlakukan dengan lebih lembut, tidak mengekang, dan tidak memaksa, lama-kelamaan sifat Zaara berubah seiring waktu. Gadis itu mulai berhijab ketika di kelas sepuluh SMA semester dua tepatnya. Sikap kerasnya meluntur dan menjadi penurut, meskipun sifat galak dan ketusnya itu sudah mendarahdaging. Hanya saja sifat itu kini seolah menjadi perisai bagi dirinya dan temannya yang lain. Zaara tidak memiliki banyak teman di sekolahnya sekarang, ia hanya dekat dengan sesama anggota rohis. Kebanyakan teman merasa segan ketika bersamanya. Hidupnya monoton? Ya mungkin, tetapi dia sudah berkomitmen untuk menjadi yang lebih baik dengan caranya sendiri, yang kadang dianggap aneh oleh orang lain. Mungkin ia hanya butuh waktu saja, agar orang lain bisa menerima dirinya yang masih terbilang baru ini.
\=\=\=\=\=
Rainer berjalan menyusuri tangga setelah sekolahnya usai. Beberapa siswa perempuan, entah itu dari kelasnya sendiri atau kelas lain, berjalan mengikuti di belakangnya sambil berbisik-bisik. Sesekali tawa muncul dari sana, dengan rona merah yang muncul di wajah siswi-siswi itu. Namun tampaknya, Rain, tidak terlalu mengacuhkannya.
Sudah menjadi kebiasaan barunya semenjak sekolah di sini, yaitu pulang bersama Arsene, abang satu-satunya. Ia belum memilih satu organisasi ekstrakurikuler untuk menjadi kegiatan di luar jam pelajarannya sehingga setelah sekolah selesai maka ia akan langsung menuju rumah kakeknya. Ia sendiri masih bingung memutuskan kegiatan apa yang cocok untuknya. Darah seni dan sastra mengalir deras dari garis mommy-nya, begitu juga watak keras yang ia sembunyikan dengan sifat dingin dan pendiamnya. Hanya saja, olahraga bisa menjadi alternatif terbaiknya jika ia harus memilih aktif di sebuah kegiatan. Dan remaja pria berwajah tampan itu mungkin akan memilih basket, seperti yang sering ia lakukan bersama daddy dan abangnya setiap akhir pekan di kediaman mereka dulu.
Rainer tampak memperhatikan siswa-siswa yang sedang bermain basket di lapangan sekolahnya. Ada beberapa anak laki-laki dan juga anak perempuan di sana. Mereka sepertinya sedang berlatih. Dengar-dengar akan ada kompetisi basket antar sekolah yang akan dihelat semester ini. Ia jadi tertarik untuk mengikutinya. Permainan basketnya bisa dibilang cukup bagus dan lihai, mungkin hanya butuh latihan rutin agar ia bisa tampil lebih baik lagi. Remaja pria yang tidak lagi diekori oleh siswi-siswi yang tadi, kini berjalan ke salah satu siswa tinggi yang sedang memperhatikan permainan basket.
“Sore Kak!” sapanya terlihat tenang.
Siswa tinggi dengan badan ideal yang berdiri di samping tiang ring basket itu menoleh.
“Kalau mau gabung sama tim basket gimana caranya?” tanya Rain sopan.
“Kelas berapa kamu?”
“Kelas sepuluh!”
“Ikut latihan aja hari Sabtu pagi ini. Biar ketemu sama Kak Bagas, pelatih kita!” jawab siswa itu.
“Baik Kak!” jawab Rainer mengangguk dan hendak pamit.
“Siapa nama kamu?” tanya siswa laki-laki itu.
“Rainer, Kak!”
“Oke, gue Evan kelas sebelas IPS. Kita tunggu hari Sabtu ya, Rain!” ucapnya ramah.
__ADS_1
Rain membalasnya dengan senyuman kecil, lalu berpamitan.
Seorang gadis berlari menuju arah Evan, tepat setelah Rain berlalu meninggalkan lapangan. Ia terlihat berpeluh keringat dengan nafas terengah-engah, dan langsung meraih botol air mineral yang tergeletak di atas podium di belakang tiang ring basket.
“Ngapain lo kesini, kan masih tanding?” ucap Evan memperhatikan gadis yang sedang meneguk air minumnya.
“Haus, Van!” jawabnya sambil cengar-cengir. Mata gadis itu terlihat sedang berpendar ke suatu tempat, entah apa yang ia cari.
“Izin dulu dong!”
“Sorry, udah haus banget!” jawabnya lagi.
“Buruan main lagi!”
“Iyeee, sabar dikit napa?! Btw, cowok yang tadi mau gabung ya?”
“Enggak, nanya jam doang,” jawab Evan berbohong.
“Eh buset, masa nanya jam doang harus nyamperin lo? Boong ah!”
“Ya iyalah, udah tau masih aja tanya! Udah sana main lagi, minggu depan anak putri tanding nih!” ujar Evan dengan nada sewot.
“Siap bos!”
Gadis berambut panjang yang diikat ekor kuda itu berlari ke tengah lapang. Matanya menangkap sosok yang sejak tadi menjadi magnet bagi maniknya. Ia tersenyum kecil.
“Sera!” panggil kawannya.
“Tangkap bolanya!”
\=\=\=\=\=
Bersambung dulu yaa...
LIKE, COMMENT, & VOTE
Jangan lupa mampir dan tengokin Ridho dan Patricia di "High Voltage Love" juga yaa
__ADS_1
Thank you