
Lagu lawas tahun 2000-an milik Daniel Bedingfield berjudul If You’re Not The One berputar dari sebuah acara musik di televisi yang dinyalakan oleh Patricia di dalam kamarnya. Entah mengapa lagu itu seperti sedang mengutarakan isi hatinya beberapa hari terakhir ini.
I don't want to run away but I can't take it, I don't understand,
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
If I don't need you then why am I crying on my bed?
If I don't need you then why does your name resound in my head?
If you're not for me then why does this distance maim my life?
If you're not for me then why do I dream of you as my wife?
Jujur saja, Patricia memang menyukai Ridho yang sangat unik di matanya. Pria itu polos dan sangat konyol. Baru beberapa hari mengenalnya saja membuatnya selalu terbayang. Ia memang tidak banyak menghabiskan waktu bersama, karena Ridho selalu mencoba menghindarinya ketika ia akan mendekati di jam luang. Namun justru dengan sikap Ridho yang seperti itu, semakin membuatnya tertarik.
Namun, malam itu memang murni kebodohannya. Bibir tebal milik Ridho sangat membuatnya tergoda, apalagi dengan wajah polos Ridho membuatnya semakin menggila. Ia tidak menyangka Ridho akan memaki dan menjauhinya seminggu ini. Hatinya semakin merasa bersalah ketika ia mengetahui cerita dari Ferdian, ternyata Ridho menjaga dirinya dari pergaulan yang tidak-tidak.
Patricia menghela nafas, mengapa ia bisa jatuh cinta di saat yang tidak tepat. Apalagi ia tahu perasaannya sudah tertolak saat Ridho mengatakan bahwa pria itu hanya akan memprioritaskan wanita yang seagama untuk menjadi kekasih hatinya.
I never know what the future brings,
But I know you are here with me now,
We'll make it through,
And I hope you are the one I share my life with
Ah, lagu itu masih terus berputar dan mengapa harus diulang? Seolah mengolok-olok perasaan wanita berambut pirang itu. Patricia mematikan televisinya, ia mengambil cardigan miliknya. Berniat untuk mencari udara segar, ia memutuskan untuk pergi lagi ke pesisir Danau Michigan.
Patricia menekan tombol di samping pintu lift yang akan mengantarkannya ke lantai dasar. Beruntung, lift baru saja datang dari lantai atas jadi ia tidak perlu menunggu lama. Ting. Pintu lift pun terbuka.
Mata lebar milik wanita itu membulat ketika pintu lift terbuka. Ada sosok pria yang selalu terbayang-bayang di pikirannya saat ini. Itu Ridho, berdiri seorang diri di dalam lift. Matanya pun sama terbelalak melihatnya.
Kaki Patricia mendadak seperti tertimbun semen yang cepat mengering. Kakinya tertahan di tempat ia berpijak. Bukannya masuk ke dalam lift, ia hanya berdiri mematung sambil memperhatikan Ridho yang juga melihatnya. Pintu lift pun tertutup kembali. Patricia menunduk sedih.
Ting. Pintu lift kembali terbuka.
“Kau mau pergi ke bawah?” tanya Ridho menahan tombol pintu terbuka, membuat hatinya tersentak kaget karena pria itu mau menyapanya.
“Eh-ah, i-iya!” jawab Patricia kaku.
“Masuklah!”
Dengan langkah berat dan ragu, Patricia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kotak besi itu. Ia tertunduk berdiri di samping Ridho. Ada jarak di antara mereka, karena hanya ada mereka berdua di dalam sana, menuju 35 lantai lagi menuju lantai dasar. Hening.
Kedua hati mereka sama-sama salah tingkah, canggung, dan entah apa yang harus dilakukan. Masing-masing pikiran mereka juga berkecamuk, ada kata maaf yang ingin dilontarkan tetapi masih tertahan di lisan mereka.
Masih dua puluh lantai lagi menuju lantai dasar. Ridho memainkan jempol kaki di dalam sepatunya. Sementara Patricia menggoyang tubuhnya ke depan dan belakang sambil mendekap tubuhnya sendiri.
“Ridho!”
“Pat!”
Ucap mereka bersamaan ketika mereka menoleh.
“Lady’s first!” ucap Ridho tertunduk.
Patricia menghela nafas. “Aku mau minta maaf sama kamu, untuk semua hal yang pernah terjadi di antara kita. Aku tidak bermaksud melakukannya dan aku menyesal. Kumohon maafkan aku,” pinta Patricia menunduk lesu tanpa melihat Ridho. Ia sangat segan dan tidak berani menatapnya.
“Aku sudah maafkan. Maafkan aku juga kemarin sempat mendorongmu,” jawab Ridho singkat.
Patricia tersenyum lega, mendengar jawaban dari Ridho. Ia tidak berharap banyak pada pria itu selain maaf yang diberikan olehnya. Itu sudah cukup baginya. Mengenai perasaannya sekarang, biarlah waktu yang akan menentukannya.
“Tidak apa-apa.”
Ia melempar senyum pada Ridho yang menatapnya. Ridho membalas senyuman itu meski hanya beberapa derajat saja di sudut bibirnya.
Pintu lift pun terbuka, mengantarkan keduanya menuju lantai dasar yang langsung berada di ruang lobi luas gedung itu. Ridho mempersilakan Patricia untuk berjalan lebih dulu keluar dari lift, sedangkan ia akan berada di belakangnya.
Patricia berjalan di depan Ridho yang berada di belakangnya beberapa meter. Ia tersenyum kecil pada dirinya sendiri, lalu menatap langit luas ketika sudah berada di luar gedung. Ia tidak ingin menoleh ke belakang, meski hatinya menyuruh demikian. Lalu ia menyeberang jalan dan mulai menyusuri trotoar di sepanjang Madison Street.
Sementara Ridho menatap sendu punggung Patricia yang sudah berada jauh di depannya, rambutnya yang coklat terang berkilauan terkena sinar matahari, sesekali tertiup angin. Selama beberapa hari ini, wanita bule itu memenuhi pikirannya, membuat jantungnya berdegup ketika melihatnya. Teringat lagi olehnya bagaimana wanita itu mencuri ciuman pertama miliknya, membuat pikirannya itu berantakan dan hatinya meronta-ronta. Ia harus jujur, Patricia membuat tembok pertahanan dirinya menjadi hancur berkeping-keping bahkan sedikit terbuai. Ia harus mulai menyusun kembali tembok itu.
Ridho memutuskan untuk pergi ke Islamic Center. Ia harus segera menemui Ustadz Ahmed untuk memberi jawaban, meski tadi ia sudah bilang kepada Ferdian kalau ia tidak akan datang hari ini. Namun, ini sebagai upayanya untuk membangun kembali tembok yang sudah hancur tadi.
\=====
Kajian keislaman sudah usai siang itu. Ferdian diminta untuk diam di sana oleh Ustadz Ahmed untuk berbincang-bincang sebentar. Jamaah sudah bubar dan kondisi ruang sholat sudah kosong. Ustadz Ahmed mengajak Ferdian menuju ruang kantor kesekretariatan masjid dan duduk di sebuah sofa.
“Ridho tidak datang hari ini ya?” tanya Ustadz Ahmed yang menyimpan sebuah buku tebal di rak. Lalu pria berjanggut itu duduk di hadapan Ferdian.
__ADS_1
“Dia sedang tidak enak badan akhir-akhir ini,” jawab Ferdian.
“Syafahullahu. Semoga Allah memberikan kesembuhan padanya.”
“Aamiin.”
“Begini Fer, kamu ingat kan tawaran ta’aruf yang saya ajukan kepada kalian?” tanya Ustadz Ahmed menautkan jari-jari tangannya.
Alis mata Ferdian terangkat. “Ah, itu. Kenapa, Tadz?”
“Akhwat ini membutuhkan pendamping segera. Tadi saya dapat kabar dari istri kalau dia diserang tiba-tiba oleh penduduk setempat. Tangannya cedera, tetapi beruntung ada pria Muslim yang menolongnya. Dia butuh perlindungan selama tinggal di sini, makanya ia membutuhkan jawaban segera dari kalian, maksudku di antara kalian berdua.”
Hati Ferdian tersentak. Sepertinya wanita yang ditolongnya itulah yang mengajukan ta’aruf via Ustadz Ahmed.
“Bukankah kamu yang menolongnya? Betul itu, Ferdian?”
Lagi-lagi hati Ferdian tersentak. “I-iya sepertinya. Tadi saya menolong akhwat itu.”
“Namanya Namira. Dia wanita muslimah asal Palembang, berkuliah S1 di Jurusan Desain dan Seni di salah satu universitas di Chicago. Sudah hampir tiga tahun berada di sini. Kasus islamofobia makin marak akhir-akhir ini, jadi ia meminta saya untuk mencarikan calon suami. Sudah beberapa ikhwan yang coba saya pertemukan dengannya, tetapi sepertinya belum ada kecocokan. Oleh karena itu, saya menawarkan kepada kalian yang sesama WNI, siapa tahu ada yang cocok di antara kalian berdua. Hanya saja, sepertinya Namira ini lebih tertarik pada kamu. Dia memberitahu pada istri saya tadi siang. Menurutmu, bagaimana?” terang Ustadz Ahmed membuat hati Ferdian terkena bom nuklir.
“Maafkan saya Ustadz, tetapi saya tidak bisa….” kalimat Ferdian terpotong.
“Kenapa? Apakah kamu belum ada niatan untuk menikah dalam waktu dekat? Kalian hanya butuh saling mengenal di ta’aruf ini, jika cocok bisa langsung menuju pernikahan. Kalau memang belum cocok, mungkin belum berjodoh.”
“Maksud saya bukan begitu, Tadz! Saya merasa tersanjung, hanya saja saya sudah menikah dan memiliki anak,” jawab Ferdian membuat mata Ustadz Ahmed membulat dan dirinya terperanjat.
“Masya Allah!” ucapnya terkejut dan tidak menyangka.
“Betul Tadz, saya sudah menikah tiga tahun lalu,” jawab Ferdian lagi sambil tersenyum.
“Masya Allah, Ferdian ternyata sudah menikah?! Afwan saya tidak tahu. Kamu masih muda dan tidak terlihat jika sudah berumah tangga. Sudah punya anak berapa?”
“Masih satu, Tadz! Laki-laki.”
“Alhamdulillah, semoga anakmu menjadi anak yang sholeh ya!”
“Aamiin ya Rabb!”
“Oalah, begitu ya! Saya harus memberitahukan kepada istri saya nanti, agar disampaikan kepada Namira. Tapi apa kamu tahu jawaban Ridho seperti apa?”
“Maaf saya belum tahu, Tadz!”
“Baik, baik! Saya akan menghubungi istri saya dulu sebentar.”
Ferdian menggeleng-geleng saja ketika teringat penawaran Ustadz Ahmed padanya tadi. Entah apa yang akan istrinya lakukan jika saja mengetahui hal ini. Ia berjalan ke luar ruangan dan berdiri di lorong utama gedung ini sambil mengambil ponsel di saku celananya. Ia mencari nomor Ridho di sana. Namun sebelum ia menekan tombol ‘call’, sahabatnya itu sudah tiba di balik pintu masjid. Ferdian menatapnya heran pada sahabatnya yang mengenakan kaos hitam dengan jaket merahnya.
“Kamu udah baikan, Dho?” tanya Ferdian menghampiri sahabatnya.
“Insya Allah, aku mau ketemu Ustadz Ahmed,” ucapnya.
“Alhamdulillah kebetulan banget. Ustadz Ahmed nungguin jawaban kamu tuh!”
Ferdian mengajak Ridho ke ruang kesekretariatan dimana Ustadz Ahmed berada di dalamnya.
“Assalamu’alaikum,” salam Ridho ketika memasuki ruangan itu. Ustadz Ahmed keluar dari ruangannya.
“Wa’alaikumsalam, sehat Dho?” sapa Ustadz Ahmed mengulurkan tangannya ketika Ridho ingin mengecup punggung tangannya.
“Alhamdulillah Tadz, udah mendingan,” mereka duduk kembali di sofa.
“Alhamdulillah.”
“Tadi kami sudah membicarakan perihal ta’aruf yang saya ajukan kepada kalian. Ternyata saya baru tahu kalau Ferdian sudah menikah. Haha,” terang Ustadz Ahmed tertawa renyah.
Kedua pria muda di hadapannya ikut tertawa.
“Ya sudah, jadi saya menunggu jawaban dari kamu saja, Dho! Apakah kamu bersedia untuk ta’aruf dengan akhwat ini?” tanya Ustadz Ahmed tidak berbasa-basi lagi.
“Apakah saya boleh mengetahui ciri-ciri fisik akhwat ini sebelum memulai ta’aruf?” tanya Ridho ragu.
“Kamu akan mengetahuinya ketika nanti bertukar CV. Sudah mempersiapkan biodata ta’arufnya?”
“Sudah Tadz!” jawab Ridho mantap.
“Bagus. Jika kalian sudah bertukar CV, kalian boleh memutuskan apakah akan lanjut ke tahap selanjutnya atau tidak? Ini tergantung kalian masing-masing,” terang ustadz.
Ridho mengangguk-angguk. Ia memang sudah mempersiapkan biodata untuk ta’aruf sejak lama, bahkan ketika ia masih di kampus dahulu. Karena teman-temah rohis di kampusnya banyak, ia jadi mengetahui bagaimana membuat biodata untuk taaruf. Tentunya selalu ia perbarui seiring berjalannya waktu.
“Jadi apakah kamu bersedia?”
“Insya Allah saya siap, Tadz!” jawab Ridho tegas.
Ferdian menepuk pundak sahabatnya itu, memberi dukungan.
__ADS_1
“Alhamdulillah, semoga Allah memberikan kelancaran untuk kalian dan menunjukan semuanya kepada yang terbaik.”
“Aamiin,” jawab Ridho dan Ferdian.
“Saya akan kirim biodata akhwat itu ke email kamu ya, Dho!”
Ustadz Ahmed memberikan email miliknya, agar Ridho bisa mengirim biodatanya ke email ustadznya itu dan juga sebaliknya, Ustadz Ahmed akan mengirim biodata akhwat itu pada emailnya.
“Baiklah nanti akan saya kirim sore ini setelah pulang ke rumah ya? Sabar sebentar,” ucap Ustadz Ahmed.
“Baik, Tadz saya juga akan kirim sore ini.”
“Saya akan pulang sekarang, kalian ada agenda lain lagi?”
“Tidak Tadz, sepertinya kami juga akan pulang,” jawab Ridho melirik Ferdian yang mengangguk.
“Baiklah.”
\=====
Dedaunan hijau kecil bergoyang tertiup angin sore, bayangannya menempel di atas aspal jalan kecil menuju Danau Michigan. Ferdian dan Ridho memutuskan untuk kembali mengunjungi danau luas dan indah itu untuk menyegarkan pikiran. Segelas latte dingin dipegang oleh mereka. Lalu mereka mendudukan diri di sebuah kursi besi berpapan kayu di bawah pohon rindang di sisi danau.
“Dho, niat kamu lurus kan untuk ta’aruf ini?” tanya Ferdian membuka percakapan.
“Apa maksudnya?” alisnya mengernyit.
“Aku sangsi kamu suka sama Patricia juga. Apalagi setelah ciuman itu,” entah kenapa Ferdian mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Ia hanya ingin mengkonfirmasi apa yang dirasakan sahabatnya itu.
Ridho terkekeh.
“Kenapa kamu bisa mikir gitu Fer?”
“Kita udah sahabatan sejak kecil. Gak ada yang gak aku tau, termasuk gelagat kamu selama beberapa hari ini. Coba kasih tau, bener gak tuh?”
Ridho terdiam, ia mengalihkan pandangannya pada danau yang penuh dengan kapal-kapal kecil.
“Kalau kamu jadi aku, kamu bakal gimana Fer?” Ridho malah balik bertanya padanya.
“Mungkin, aku bakal jadi suka sama dia, apalagi dia meninggalkan kesan indah meski kita coba menolaknya.”
Ridho terkekeh lagi. “You got the answer!” jawabnya.
“Pertahanan diri aku udah hancur, Fer! Dan kenapa aku bersedia untuk ta’aruf, itu karena aku ingin bangun pertahanan yang selama ini aku pegang. Aku sadar satu hal, aku suka sama dia, tapi aku akan tetap sama prinsip aku, seperti jawaban aku sama dia waktu itu.”
“Oh God!”
“Jujur aja Fer, semakin aku menyangkal semua perasaan ini, semakin besar keinginanku untuk dia. Tapi aku gak bisa, Fer! Aku akan bunuh perasaan suka ini dengan ta’aruf ini, sebelum semakin besar perasaanku untuk Patricia.”
Ferdian tertegun menatap sahabatnya. Ridho tidak pernah bercerita masalah hatinya selama ini, karena memang ia tidak pernah merasakan atau mungkin tidak terlalu dipikirkannya. Namun sekalinya ia merasakan hal itu, ia malah harus membunuh perasaan itu.
Ferdian hanya bisa menghargai keputusan sahabatnya itu.
“Lurusin niat kamu, Dho! Kalau kamu pengen bahagia sama calon istri kamu, bersihkan hati kamu dulu sebelum memulai ta’aruf ini.”
“Iya, aku ngerti Fer. Hati aku sudah mantap, makanya aku mutusin langsung ngasih jawaban sama Ustadz Ahmed,” terang Ridho.
“Aku cuma bisa berdoa untuk kamu, biar kamu dapat yang terbaik!”
“Thanks Fer!”
Angin sepoi-sepoi meniup lembut, memberikan kesegaran saat ia lewat. Dedaunan berdesir riang saling bersentuhan.
“Balik yuk, aku mau kirim CV nih! Biar Ustadz juga cepet ngirimnya,” seru Ridho ketika Ferdian baru saja menyeruput habis minumannya.
“Yuk, ah! Eh aku tau lho, akhwat yang mau ta’arufan,” sahut Ferdian terkekeh.
“Eh beneran, siapa?”
“Gak ah, rahasia! Biar aja kamu tau sendiri nanti.”
“Eh gak asik nih ah. Naha kamu bisa nyaho (Kenapa kamu bisa tahu)?”
“Rahasia, takut salah. Mending cepet balik lah!” seru Ferdian berdiri dari tempat duduknya.
“Eh maneh mah!”
\=====
Penasaran sama kisah Ridho, tungguin cerita selanjutnya yaa
Like, comment, dan votenya dong biar lancar idenya
Hihihi, makasiiiih ^_^
__ADS_1