Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 124. Curahan


__ADS_3

Zaara baru saja selesai memasak menu makan siang. Siang itu, Zaara membuat menu sup iga sapi dan tempe mendoan. Wangi rempah merica dan bawang tercium di seluruh ruangan apartemen yang tidak terlalu luas itu. Zaara membukakan jendela agar asap memasak bisa segera berganti dengan udara segar.


Adzan dzuhur sudah berkumandang, ia memutuskan untuk segera sholat sebelum suaminya datang untuk makan siang. Suara ketukan di pintu terdengar, setelah dirinya melipat mukena. Zaara berjalan menuju pintu utama.


“Assalamu’alaikum,” ucap Arsene ketika pintu itu terbuka untuknya.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Zaara tersenyum.


“Am I late?”


“Nope. Aku baru selesai sholat. Kamu udah sholat?” tanya Zaara membiarkan suaminya masuk.


“Udah di mesjid klinik. Ini buat kamu!” Arsene menyodorkan sebuah plastik berisi buah-buahan.


“Makasih Abang Sayang!” Zaara mengambil kantong itu dan menaruhnya langsung di dalam kulkas. Ia akan membersihkannya nanti.


Arsene pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya. Sementar Zaara menata menu makan siang di meja makan.


“Kamu masak apa, Sayang?” tanya Arsene mengelap tangannya dengan tisu.


“Sup iga sapi sama tempe mendoan.”


“Hmm…. It’s sound delicious!”


“Ya… coba sendiri ya Chef Arsene!”


“Oke Chef Zaara!”


Zaara tersenyum mendengar panggilan chef dari suaminya.


Asap putih mengepul lembut ke udara, ketika Zaara menuang sup panas itu ke dalam mangkuk putih. Ia menaruh nasi dan menabur bawang goreng di atasnya. Arsene menatapnya tidak sabar, salivanya terus diproduksi. Apalagi melihat tempe mendoan yang terlihat menggugah selera dengan sambal cocol kecap dan cabai rawit mentah. Ia semakin suka dengan hasil masakan buatan istrinya itu.


“Bismillah…” Arsene membetulkan posisi sendoknya. Ia merasakan dahulu kuah sup yang terlihat bening tetapi penuh dengan kaldu dan bumbu. Rasa asin dan gurihnya pas, kaldu sapinya pun sangat terasa. Tingkat kematangan sayur dan daging iga sudah pas. Lezat.


Kali ini ia mencicip tempe mendoan, mencocolnya dengan sambal, sangat terasa cocok. Zaara memandangnya penuh tanya.


“Gimana?” gadis itu pasti selalu minta pendapat dari suaminya.


“Jangan tanya, aku suka! Aku makan ya!” jawab Arsene mulai melahapnya dengan nasi putih.


Zaara tersenyum memperlihatkan giginya. Ia merasa bahagia ketika suaminya memuji hasil masakannya. Mereka menikmati makan siang bersama di apartemen.


Arsene duduk di atas sofa sambil menyalakan televisinya. Sementara Zaara sudah selesai mencuci piring bekas makan siang mereka.


“Kamu sore rapat divisi acara?” tanya Zaara.


“Harusnya, tapi itu kadiv akhwatnya ga bisa, jadinya tunda aja dulu!”


Zaara duduk di sebelah suaminya.


“Tadi aku belajar personal branding sama Bang Lunar. Kamu gak keberatan aku bakal eksis di medsos?” tanya Arsene.


“Enggak. Yang penting kamu jangan narsis aja. Narsis dan eksis beda ya! Kalau kamu eksis di medsos buat toko sih gak apa-apa, tapi kalau kamu caper dan narsis pajang foto kamu, aku gak suka!” jawab Zaara jujur.


Arsene terkekeh dengan jawaban istrinya.


“Iya Sayang, kalau pun aku mau narsis aku pasti bakal bawa kamu di foto aku!”


Zaara hanya mendelik. Ia memang tidak suka jika suaminya memajang foto, pengikut akun suaminya itu banyak karena memang memiliki teman banyak, dari Singapura sampai Sydney. Wajar kalau gadis itu berusaha mewanti-wanti agar suaminya itu tidak tenar.


Arsene pun mengerti akan kecemasan Zaara. Ia akan berusaha menjaga hatinya agar tidak mengulangi kesalahannya lagi.


“Mau jalan-jalan?” tanya Arsene menatap wajah Zaara.


“Kemana? Kamu gak balik lagi ke toko?”


“Enggak kayanya, aku mau kerja di sini aja. Mau evaluasi tengah bulan sambil nyusun rencana.”


“Ooh…”


“Kita liburan gitu. Kita kan kuliah masih lama. Second honeymoon, maybe!” Arsene berinisiatif, setelah apa yang terjadi ia ingin memperbaiki hubungan mereka lebih erat lagi.


“Kemana? Aku males kalau jauh-jauh.”


“Pantai? Gunung? Mana yang lebih kamu suka?”


“Aku suka yang sejuk. Kalau pantai panas dan kita udah pernah honeymoon di Bondi Beach, kalau gunung aku suka tapi aku bukan petualang, jadi gak mau yang mendaki gitu.”


“Hmm… boleh! Nanti aku cari referensi dulu ya? Atau kamu juga boleh cari referensi liburan,” ucap Arsene.


Zaara menyimpulkan bibirnya.


\=\=\=\=\=\=


Udara semilir terasa sejuk. Aroma lavender yang menguar dari sebuah lilin aromaterapi tercium lembut menenangkan suasana hati. Pagi yang indah. Sebuah villa kecil berlantai dua bernuansa tradisional dengan lantai semi kayu berdiri di kelilingi hutan pinus dan kebun bunga. Villa itu milik Opa Gunawan yang terletak di kawasan gunung di salah satu daerah di Jawa Barat. Villa kayu itu biasanya menjadi tempat singgah bagi Opa Gunawan dan Oma Bella dari sejenak hiruk pikuk urusan bisnis mereka.


Arsene dan Zaara menaruh tas dan barang bawaan milik mereka di sebuah kamar yang cukup luas dibanding dengan kamar lainnya di lantai satu. Villa ini memang sering dikunjungi oleh kakeknya dan terawat dengan baik oleh salah satu penunggunya. Bahkan kulkas dan pantry sudah terisi penuh dengan bahan makanan ketika Opa Gunawan menginstruksikan kepada penunggu villanya itu karena cucunya akan berkunjung untuk berlibur selama tiga hari atau lima hari.


Arsene merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran king yang lembut. Tubuhnya terasa lelah karena menyetir dan sempat terjebak macet di jalan raya. Sementara Zaara merapikan barang bawaannya ke dalam lemari, Arsene terpejam di pagi hari menjelang siang itu.

__ADS_1


“Abang, Abang…,” Zaara menepuk kecil pipi suaminya yang pulas tertidur siang, sementara adzan dzuhur sudah berkumandang. Arsene sudah tertidur selama dua jam.


“Mmh…”


“Mau tidur sampai jam berapa? Udah adzan lho, sholat bareng yuk!” ucap Zaara lembut.


Arsene malah memeluk istrinya ke dalam dekapannya, membuat gadis itu tidak bisa bergerak.


“Bentaaaar lagi ya,” ucapnya tanpa membuka mata masih terus memeluk istrinya.


“Hmm,” Zaara bergeming. Ia memainkan jarinya saja di wajah suaminya, lalu mengecup pelan bibirnya.


Mata Arsene seketika terbuka mendapati sebuah kecupan kecil. Zaara terkekeh.


“Kok tau kunci bangunin aku?”


“Gemes!” jawab Zaara.


“Gak sabar ya?” Arsene memicingkan matanya.


“Gak sabar apa sih?” tanya Zaara tidak mengerti.


“Ah pura-pura gak tau!”


“Ayo sholat dulu!”


“Terus?” tanya Arsene.


“Terus apa?” Zaara malah bertanya balik.


Arsene mendesah kesal. Sepertinya ia sudah tidak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi. Sudah sebulan lebih ia berusaha sabar dan menunggu, khawatir istrinya masih merasa takut. Suasana di sini tentu saja membuatnya tidak bisa bertahan.


Zaara cekikikan melihat wajah suaminya yang memendam rasa kesal. Ia hanya ingin menggodanya saja. Pria itu beranjak dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Zaara menyusulnya kemudian.


Sore hari terasa tenang. Desiran dedaunan bergoyang menemani. Arsene duduk di sebuah kursi panggung yang cukup luas  di teras yang menghadap ke halaman belakang. Kebun bunga menghiasi di sana. Ada juga sebuah kolam renang kecil yang sudah bersih dan jernih. Apakah mereka akan berenang di sana? Arsene belum tahu, meskipun ia sudah meminta penunggu villa untuk datang hanya jika dia memintanya. Arsene tidak mau ada orang lain yang datang tiba-tiba ketika istrinya sedang membuka auratnya. Jadi mengajak Zaara berenang belum menjadi keinginannya saat ini. Sebuah kotak panjang dipegangnya saat itu. Kotak itu milik ibunya, berisi kartu-kartu pertanyaan untuk pasangan suami istri. Sudah terlihat pudar, tetapi masih bisa terbaca.


Zaara menaruh sepiring pisang goreng hangat dengan segelas bandrek panas.


“Apa itu?” tanya Zaara setelah ia mendudukan dirinya di sebelah suaminya. Melihat sebuah kotak yang dipegang Arsene.


“Ini?” Arsene menunjukkan kotaknya.


Zaara mengangguk.


“Kotak Ajaib Mengenal Cinta!”


“Wow!”


“Kamu mau pilih yang mana? Kita main ini.”


“Punya siapa?” tanya Zaara.


“Punya mommy. Aku pinjem ini.”


Zaara memperhatikan isi dan judul kartu-kartu itu. Ada yang berjudul Jatuh Cinta (Lagi), 30 Pertanyaan Lebih Dekat, dan Kartu Peta Cinta. Zaara menunjuk sebuah kumpulan kartu berjudul Jatuh Cinta (Lagi). Arsene tersenyum, ia pun ingin memilih itu dari awal.


“Kenapa pilih ini?” tanya Arsene ingin tahu.


“Entahlah, aku ngerasa…”


“Udah gak cinta aku?” Arsene memotong.


“Bukan, gak seperti itu. Aku cuma ingin rasa cinta itu tumbuh makin tinggi setelah kita melewati masa-masa sulit kemarin.”


Arsene menghela nafas, lega. Jawabannya sama.


“Satu orang dulu selesaikan semua pertanyaannya!” ucap Arsene.


“Boleh tanya balik gak?” tanya Zaara.


“Hmm… boleh lah! Kamu duluan!” seru Arsene, sambil menunggu Zaara, ia mengambil sebuah pisang goreng dan melahapnya.


Zaara mengambil sebuah kartu berawarna magenta itu, dan mulai membacakannya. Ia berdeham.


“Dari semua orang yang ada di dunia ini, kamu ingin makan malam bersama siapa?” ucap Zaara.


“Kamu lah!” jawab Arsene cepat. “Gak usah ditanya, kamu pasti tau jawabannya.”


“Oke!” Zaara tersenyum.


“Apakah kamu ingin menjadi terkenal? Kalau ya, terkenal sebagai apa?”


Arsene berpikir sejenak sambil menyeruput bandreknya.


“Hmm… terkenal sebagai orang baik yang bisa membahagiakan keluarganya.”


“Very nice! Lanjut ya… Kalau kita harus pindah dari kota yang kita tinggali sekarang, kamu ingin kita tinggal dimana?”


“Entahlah. Aku suka Kota Bandung dan hiruk pikuknya. Rasanya sulit kalau harus pindah dari kota ini. Tapi kalau harus menjawab, aku mungkin akan pilih Yogyakarta,” jawab Arsene.

__ADS_1


“Emang pernah ke sana?”


“Belum. Haha! Tapi kayanya nyaman banget kalau tinggal di sana.”


Zaara ikut tertawa, karena ia pun tidak tahu.


“Next, apa yang membuat suatu hari menjadi terasa sempurna untukmu?”


“Bisa lihat wajah kamu tersenyum,” jawab Arsene membuat rona wajah Zaara merona. “Dan kalau ingat saat-saat kemarin, rasanya aku gak bisa memaafkan diriku. Maaf aku udah ngecewain kamu!”


Zaara segera memeluk suaminya yang sering mengatakan itu.


“Sst, abang gak boleh ngomong itu lagi! Janji ya?”


Arsene tertunduk, mengangguk.


“Lagi ya, masih banyak nih!” ucap Zaara. “Ceritakan hal paling lucu yang pernah kamu alami saat kamu masih kecil!”


Arsene memangku dagunya. “Apa ya?”


Mata Arsene membesar. “Waktu Kirei masih bayi tuh, apes banget aku!”


“Emang kenapa?” Zaara penasaran.


“Baru mandiin Kirei, aku gendong kan? Dan dia belum pake baju. Taunya, dia malah pup di baju aku! Kacau, sumpah itu jijik banget!” cerita Arsene antusias.


Zaara tertawa terbahak-bahak. Ia bisa membayangkan ekspresi suaminya.


“Emang kamu usia berapa?”


“9 tahun apa 10 tahun ya? Soalnya Kirei masih 2 tahun.”


“Itu bukan peristiwa lucu dong, itu peristiwa menjijikan, haha!” sahut Zaara.


“Tapi buktinya kamu ketawa, berarti lucu kan?”


“Ya terserah kamu aja deh!” ucap Zaara.


Zaara mengambil kartu lainnya.


“Sebutkan 3 hal yang kamu dan pasanganmu sama-sama miliki!”


“Menurut kamu apa?” tanya Arsene.


“Yee, kamu dulu yang jawab!”


“Aku mau minta pendapat kamu dulu!” sergah Arsene.


Zaara jadi memutar bola matanya, melirik ke atas.


“Aku dan kamu sama-sama punya impian yang sama. Visi misi yang sama. Prinsip hidup yang sama. Itu yang bikin kita cocok dan akhirnya memutuskan untuk menikah muda. Tapi kamu lebih ambisius dan visioner, sedangkan aku cenderung santai dan suka sama hal yang udah ada. Kamu suka tantangan dan aku lebih suka apa yang bisa bikin aku nyaman. Kamu itu cermat dan perhitungan sedangkan aku masih belajar untuk bisa jadi kaya gitu.”


Arsene tersenyum menggenggam tangan Zaara dan menariknya duduk di atas pangkuannya.


“Aku suka kalau kamu duduk di sini. Terasa dekat dan posisi kamu lebih tinggi, sehingga aku bisa menengadahkan wajah aku. Aku selalu merasa kamu lebih baik dari aku, jadi aku selalu membutuhkan kamu.”


Jantung Zaara tiba-tiba berdebar berkali-kali lipat. Aliran darahnya bergetar mengalir ke seluruh tubuhnya.


“Kita sama-sama punya cinta, harapan, dan keinginan yang sama untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi. Aku berterima kasih banyak karena kamu mau kasih aku kesempatan. Aku gak tau rasanya kalau saja kamu hilang dari hidup aku. Bahkan hingga detik ini, aku masih terus menyesali diri, berharap ada mesin waktu yang bisa mengantarkan aku ke sana. Tapi waktu gak pernah berjalan mundur, aku akan berusaha membahagiakan kamu dan keluarga kita.”


Arsene menatap Zaara dengan tatapan sayu dan teduh semakin dekat dan dekat.


Zaara dengan cepat mengambil satu kartu lagi saat suaminya hendak menciumnya.


“Hal apa yang ada dalam hidupmu yang membuatmu merasa paling bersyukur?” ucap Zaara cepat, hatinya berdebar.


“Having you as my wife is the greatest thing for me. And I always hope, that you’ll be mine forever (Memiliki kamu sebagai istri adalah hal terbaik untuk aku. Dan aku selalu berharap, kamu selalu menjadi milikku selamanya)!” Arsene menutup jawabannya itu dengan sebuah ciuman hangat di bibir istrinya. Ciuman itu bersambut lembut. Semakin lembut dan dalam, hingga menyalurkan rasa hangat yang membuat jantung semakin berdebar tidak karuan. Arsene semakin mengeratkan rangkulan di pinggang Zaara. Hawa panas menghampiri, ciuman itu semakin liar saja dan mereka hampir sama sekali tidak bisa mengendalikan diri.


Tangan Arsene sudah menggerayang, membuka kancing baju istrinya satu persatu. Ia mulai mendaratkan bibirnya di leher jenjang nan putih milik Zaara, meninggalkan beberapa tanda cinta kemerahan.


“Abang…,” Zaara berusaha menghentikan suaminya yang liar. Nafasnya terengah-engah. Tetapi Arsene masih sibuk melepas sesuatu dan entah mendengar panggilan istrinya atau tidak, ia tetap fokus.


“Abang…!” Zaara menangkup pipi suaminya dan terpaksa membuatnya berhenti.


“Kenapa?” tanya Arsene dengan matanya yang sayu. Lehernya terlihat sedang menenggak salivanya.


“Jangan di sini, aku malu!” ucap Zaara menutup tubuhnya dengan baju yang belum terlepas.


“Mmh….”


Arsene menggendong tubuh Zaara yang masih berada di depannya seperti ia sedang menggendong anak kecil saja. Pria itu masih melanjutkan aktivitasnya sambil berjalan menuju kamar utama, tanpa peduli langkahnya sudah benar atau tidak. Ia sama sekali tidak melepas pagutannya. Keduanya melanjutkan pergulatan itu di atas kasur luas. Merajut benang kasih dan cinta, berharap apa yang pernah terlepas kini bisa terikat lagi, lebih kuat dan lebih erat. Menaruh rasa saling percaya dan melepas semua beban, keduanya tenggelam dalam lautan asmara yang sudah lama tidak diarungi bersama. Berharap agar badai kehidupan yang akan hadir bisa ditaklukan sehingga kapal akan terus berlayar tanpa ada lagi rasa takut.


\=\=\=\=\=\=


Ehem...


Jangan lupa like, comment, dan vote


Makasiiih ^_^

__ADS_1


Ceritanya lanjut gak yaa?


__ADS_2