Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 86. Nasihat


__ADS_3

Warning 21++ (Sensitive Content)


Pagi itu, Arsene terdiam dengan tatapan kosong meski memandangi lautan lepas yang ada di seberang matanya. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam atas kejadian semalam. Ia merasa telah gagal menjadi lelaki seutuhnya. Pria itu menghela nafasnya.


Melihat keanehan di pagi itu, Ferdian yang sadar akan tingkah anak sulungnya itu menghampirinya. Lelaki tinggi itu duduk di kursi santai di sebelah anaknya. Arsene bergeming, tatapannya lurus ke arah laut. Entah sadar atau tidak bahwa ayahnya sudah ada di sampingnya.


“Kenapa kamu, Cen? Kok tumben jadi pendiam gitu?!” selidik Ferdian sambil membawa secangkir vanilla latte panas yang wangi.


Arsene melirik kecil ke arah ayahnya. Lalu kembali meluruskan pandangannya ke laut lepas.


“Gagal Dad!” ucapnya singkat, wajahnya benar-benar kusut meski dirinya sudah mandi dan berpakaian rapi pagi itu.


Ferdian mengernyitkan alisnya, tidak mengerti maksud anaknya.


“Apa yang gagal?” tanya Ferdian.


Arsene membuang nafasnya kasar. Ia tertunduk lemah.


“Malam pertama kamu?!” tebak Ferdian tidak percaya.


Arsene mengangguk kecewa.


Ferdian terkekeh-kekeh mengetahui nasib kurang beruntung anaknya untuk kesekian kalinya. Ia menyesap kopinya yang masih mengepulkan asap putih, lalu menaruhnya di atas meja. Ferdian menepuk pundak anaknya.


“Masih banyak waktu untuk kalian. Mungkin kalian sama-sama kelelahan, jadinya gagal!” terang Ferdian memangku kakinya yang panjang di atas lututnya.


“Emang ngaruh ya?” tanya Arsene ingin tahu.


“Pastinya, apalagi ini yang pertama untuk kalian. Zaara baru nyampe dari Indonesia, dan kemarin penerbangan pertamanya. Kamu sendiri, kemarin kerja di resto?”


“Iya, Dad! Pas aku jemput, aku baru pulang!” jawab Arsene menatap wajah ayahnya.


“Nah kan!” Ferdian mengacungkan jari telunjuknya.


“Daddy juga gitu kalau capek, atau tiba-tiba marah atau kecewa di tengah ‘jalan’!” ungkap Ferdian terang-terangan pada anaknya yang sudah dewasa.


Ferdian memijit tengkuk leher anaknya.


“Sabar aja, masih banyak waktu kok! Kamu harus pandai-pandai bikin istri rileks. Banyakin baca artikel terkait itu, dan cari tahu titik-titik sensitif punya dia yang bikin dia suka. Gak usah terburu-buru, karena kalian masih sama-sama baru.”


“Kalau gagal lagi?!” tanya Arsene cemas.


“Belum rezeki, harus makin sabar! Kalian hanya butuh waktu lebih sering,” ucap Ferdian tertawa kecil.


“Kalian harus sama-sama saling terbuka. Gak boleh saling menutupi biar sama-sama nyaman. Coba tanya Mommy kamu, siapa tau bawa aromaterapi yang bikin hati tenang. It works buat Daddy dan Mommy!” terang Ferdian memberikan salah satu resep rahasia keharmonisan dengan istrinya.


Arsene kembali menatap lautan lepas dimana angin pagi membelai wajah dan rambutnya lembut. Suara burung-burung yang terbang di udara terdengar seperti memberikan semangat padanya. Hari ini ia belum berbicara banyak pada istrinya. Zaara pasti juga merasa bersalah dan tertekan atas apa yang terjadi. Padahal ia tidak menyalahkan istrinya. Mungkin ini salah dirinya sendiri karena terlalu memaksakan diri untuk melakukan hal itu di waktu yang tidak tepat.

__ADS_1


Ferdian kembali menepuk bahunya.


“Semangat dong! Coba lagi hari ini!” kerling Ferdian.


Arsene terkekeh melihat ekspresi ayahnya yang terlihat selalu bersemangat. Pria itu memikirkan cara yang mungkin bisa membuat dirinya dan istrinya menjadi rileks. Ia teringat beberapa bulan lalu, ketika dirinya menyetel alunan musik jazz. Apa mungkin bisa dicobanya untuk hari ini?


Arsene mencari keberadaan ibunya.


“Mom, can we talk a minute?” tanyanya ketika melihat ibunya sedang sibuk di dapur besama istrinya. Zaara menatap cemas ke arahnya.


“Kenapa Abang Acen?” tanya Ajeng mengeluarkan beberapa sayuran yang baru dibelinya dari swalayan.


Arsene menarik lengan ibunya, membawa wanita itu menjauhi istrinya.


“Mommy bawa minyak esensial atau lilin aromaterapi?” tanya Arsene pelan, berusaha mungkin pertanyaannya itu tidak terdengar oleh Zaara


“Mommy selalu bawa, kenapa? Kamu butuh?”


Arsene menyengir, “Boleh minta satu?”


“Emang kamu suka wanginya?”


“Coba dulu lah!”


Ajeng berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Arsene. Ajeng mengambilnya dari koper miliknya.


“Wow!”


Arsene mengambil varian greentea, ia yakin Zaara akan menyukainya juga. Ia hafal betul wangi itu pun yang selalu menguar dari tubuh istrinya.


“Itu kesukaan Daddy kamu. Kamu suka?” tanya Ajeng ketika Arsene mencium wangi dari botol kaca kecil itu.


“Suka, Mom!” jawab Arsene berseri memegang dua benda itu.


“Ah kalian satu selera juga ternyata!”


“Aku minta ya Mom!”


“Pakai aja, dan rasakan efeknya, haha!” ucap Ajeng girang.


Arsene menatap heran pada ibunya yang tertawa riang.


“Emang apa efeknya?” tanya Arsene mengernyitkan sebelah alisnya.


“Kalau daddy sih bisa habis berapa ronde tuh kalau lilinnya dinyalain, haha!”


Mulut Arsene menganga. Ia belum bisa membayangkan hal itu terjadi pada dirinya dan Zaara. Jadi ia hanya akan mencobanya saja, berharap dengan dua benda aromaterapi itu bisa membantu permainannya nanti hingga menjadi lebih baik.

__ADS_1


“Kamu mau ikut kita jalan-jalan ke pantai?” tanya Ajeng sesaat Arsene akan melangkahkan kakinya keluar kamar.


“Mmh… kayanya aku sama Zaara di sini aja. Aku bisa jalan ke sana berdua nanti.” Arsene menjawab sambil tersenyum, sepertinya moodnya sudah membaik.


“Aah… i see! Kalian butuh banyak waktu berdua ya? Oke deh, selamat bersenang-senang!”


“Thanks Mom!”


Arsene berjalan keluar kamar sambil tersenyum lebar membawa sebuah botol esensial. Manik matanya berkontak langsung dengan milik istrinya. Ia tersenyum mengerlingkan sebelah matanya dari tempat dirinya berdiri, membuat Zaara terheran-heran. Hebat sekali moodnya bisa berubah dengan drastis.


Arsene menaruh lilin dan minyak esensial aromaterapi green tea itu di atas nakas. Pria itu membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memikirkan sebuah rencana untuk siang ini ketika keluarganya itu pergi keluar. Pria itu memainkan dagu polosnya sambil terus berpikir. Tiba-tiba ia terperanjat, dan membongkar tas miliknya. Mencari pakaian yang kira-kira membuatnya semakin tampan. Untung saja ia membawa jas hitam andalannya. Pria itu mengeluarkan pakaian yang menurutnya bagus dan menggantungnya di lemari.


Tinggal bagaimana caranya membuat Zaara bisa mengenakan dress cantik yang dibelinya saat berbelanja hantaran. Sebuah midi dress yang seharusnya diperuntukkan untuk pergi ke pesta, tetapi ia membeli itu untuk di rumah hanya untuk suaminya saja. Arsene mengintip koper merah milik istrinya. Ia tahu betul warna apa yang dibelinya saat itu. Sebuah dress off shoulder berwarna dusty pink. Di sana ada kain berwarna dusty pink, tetapi Arsene tidak yakin apakah itu dress yang waktu itu dipilihkan ibunya untuk Zaara atau hanya kain kerudung saja. Ia akan menanyakannya.


Arsene keluar dari kamarnya dan kembali menemui ibunya yang sudah selesai menyiapkan sarapan.


“Mommy pergi jam berapa dan kembali jam berapa?” tanya Arsene mendudukkan dirinya di atas kursi bar yang tinggi.


“Nanti agak siang dikit, kita mau keliling Sydney nih. Yakin kalian gak ikut?” jawab Ajeng sambil menata piring.


“Kira-kira pulang jam berapa?” tanya Arsene lagi tidak sabar.


“Entah, gimana daddy aja!”


“Pulang malem aja pleaaaase!” pinta Arsene.


“Ih, kok gitu?!” tanya Ajeng penasaran.


“Pleaaase Mom! Aku butuh waktu berdua aja sama Zaara di sini. Aku mau buat kejutan kecil untuk dia!” Arsene mengecilkan suaranya karena Zaara masih berada di dapur meski sedang mencuci wadah bekas masak ibu mertuanya.


Ajeng menyilangkan tangannya, sambil berpikir.


“Oke deh! Nanti Mommy coba bujukin daddy, mudah-mudahan aja Finn bisa kondusif!”


“Yes, thank you! I love you Mom!” Arsene memberi kecupan jarak jauh untuk ibunya itu.


Ajeng menggelengkan kepalanya seraya menghela nafas. Apa lagi yang akan dilakukan anak sulungnya itu? Ia hanya tersenyum setelahnya.


\=\=\=\=\=\=


Aheeeww...


Bersambung dulu yaa :D


Jangan lupa votenya yang rajin


klik LIKE dan tulis komentar kamu di episode kali ini, oke?

__ADS_1


Thank youuu ^_^


__ADS_2