Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 46


__ADS_3

Sepanjang hari ini, Ajeng dan Ferdian hanya bersantai-santai saja di apartemen mereka. Apalagi Ajeng merasa badannya tidak enak, jadinya ia hanya membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang yang menghadap ke layar televisi. Hari itu juga entah kenapa ia sama sekali tidak ingin makan nasi atau makan-makanan yang berlemak. Ia hanya mengkonsumsi buah-buahan segar saja yang disimpannya di kulkas. Untuk makan Ferdian, Ajeng meminta suaminya itu untuk memesan secara delivery saja yang bisa diantarnya ke kamar.


“Kamu sakit, Sayang?” tanya Ferdian, ia menyentuh kening istrinya itu. Namun panas tubuhnya masih terasa normal.


“Enggak, Sayang! Aku lagi males aja pengen apa-apa,” jawab Ajeng menepis kekhawatiran suaminya.


“Nonton film yuk!” ajak Ferdian.


“Emang kamu punya film apa?”


“Aku ada film Parasite nih! Film yang menang Oscar kemarin, katanya seru!” terang Ferdian.


“Film thriller ya?” Ajeng memastikan.


“Iya, tapi ada unsur komedinya gitu. Mau coba?”


“Oke deh!”


Ferdian memasang flashdisk ke televisi kemudian menyetel film Korea itu. Ajeng mengambil beberapa potong buah dan juga es krim dari kulkas untuk menikmatinya selagi film itu diputar.


“Kamu mau apel?” tawar Ajeng pada Ferdian.


“Gak ah, aku mau es krim aja!” jawab Ferdian sambil mengambil sebuah mangkuk berisi es krim neapolitan atau es krim yang berisi tiga rasa basic, vanilla, cokelat dan strawberry. Ajeng mengambil dua sendok dan memberikannya satu untuk suaminya. Ia juga membetulkan posisi bantal duduknya agar semakin nyaman ketika menonton film.


Dengan durasi kurang lebih dua jam, keduanya tampak fokus dengan jalan cerita yang disampaikan dalam film tersebut. Bahkan mereka juga ikut terbawa perasaan antara tegang, menerka-nerka, gemas, emosional, dan kesal. Pantas memang film ini memenangkan beberapa kategori di Piala Oscar.


Ferdian menyandarkan tubuh istrinya di bahunya selama film berlangsung. Ajeng yang terbawa perasaan, tidak menghentikan gerak mulutnya untuk terus mengunyah buah-buahan yang dibawanya tadi. Eskrim yang dibawanya tadi pun sudah ludes, yang sebagian besar dihabiskan olehnya.


“Sayang! Beli lagi es krimnya ya?!” pinta Ajeng setelah film selesai, nadanya terdengar manja.


“Ya ampun, tadi aja kamu habisin, sekarang mau lagi?” tanya Ferdian tidak percaya.


“Ayolah! Enak banget soalnya,” ucap Ajeng memaksa.


“Iya, besok aku beliin!” jawab Ferdian santai, namun bukannya senang Ajeng malah cemberut.


“Kok kamu cemberut gitu?” tanya Ferdian memegang wajah istrinya.


“Aku kan pengennya sekarang!”


Ferdian mebelalakan matanya. “Sekarang? Nanti kamu sakit perut kalau kebanyakan makan es krim!”


“Ah…come on! Antar aku aja deh, biar aku yang belanja ke bawah!” ujar Ajeng.

__ADS_1


Ferdian menggeleng-gelengkan kepalanya. Aneh sekali istrinya itu hari ini. Terpaksa ia mengiyakan saja kemauan istrinya itu. Mereka akhirnya langsung menuju sebuah mini market yang masih berada di gedung apartemen mereka di lantai bawah.


Ajeng memilih beberapa box es krim kesukaannya. Ia juga mengambil banyak potongan cokelat kemasan untuk dibawanya ketika bekerja. Ferdian menatap heran istrinya itu.


“Kamu sejak kapan suka cokelat? Banyak banget lagi yang dibeli,” ujar Ferdian tatkala selesai belanja.


“Ga tau aku jadi suka yang manis-manis akhir ini,” ucap Ajeng. Tiba-tiba langkahnya terhenti, hatinya berdegup menyadari sesuatu.


“Kenapa?” tanya Ferdian keheranan melihat tingkah Ajeng yang menghentikan langkahnya tiba-tiba.


“Ah enggak, sepertinya aku kelupaan sesuatu! Yuk pulang!” ujar Ajeng menggandeng lengan suaminya.


Ajeng menyadari perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Seringkali ia merasa lemas atau pegal-pegal di sekitar pinggangnya. Lalu, ia juga sering mengkonsumsi makanan yang manis dan segar jika ada rasa mual menggelitiki perutnya. Ia harus segera mungkin memeriksakan diri pada Dokter Sita.


\=\=\=\=\=


Pagi itu Ajeng merasa cemas, sementara Ferdian ada kerja kelompok yang mengharuskan dirinya pergi ke kampus. Ajeng berjalan mondar-mandir sambil menghubungi nomor telepon dokternya. Namun lagi-lagi sambungan itu berujung pada kabar bahwa nomor yang dihubungi sedang sibuk. Ia memencet tombol panggilannya lagi untuk kesekian kalinya. Hasilnya tetap sama. Sepertinya Sita memang sedang sibuk mendapat panggilan konsultasi di akhir pekan.


Ajeng mengambil sebatang cokelat dari kulkasnya. Namun sebelum ia meraihnya, ada dorongan besar dari perutnya. Rasa mual yang tidak tertahankan memaksa dirinya untuk memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Ajeng langsung menuju basin dan mengeluarkan isi perutnya. Rasa mual itu muncul kembali padahal ia baru saja meneguk air putih. Ia kembali menyambangi basin di dapurnya.


“Ya Allah, apa aku emang hamil?” tanyanya pada diri sendiri. Ia memilih untuk meneguk air hangat agar rasa mualnya berkurang. Ia juga mengambil sebuah apel hijau untuk dikonsumsinya.


Ajeng membuka ponselnya lagi. Kali ini ia mendudukan tubuhnya di atas sofa karena pinggangnya terasa pegal. Ia kembali mencoba menghubungi nomor dokternya itu.


“Wa’alaikumsalam, Ta!”


“Kenapa Jeng?”


“Aku mual-mual nih. Akhir-akhir ini juga aku sering banget makan yang manis. Apa iya aku hamil?” tanya Ajeng, nadanya cemas.


“Ada keluhan lain?” tanya Sita.


“Badan aku sering pegel juga, terutama bagian pinggang,” jawab Ajeng sambil memijit-mijit keningnya yang kali ini terasa sedikit pusing.


“Hmm… kemungkinan iya sih! Tapi kita tunggu dulu sampai minggu depan ya, khawatir ini juga gejala premenstrual kamu. Minggu depan kamu boleh cek ke klinik, atau kalau gak sabar, kamu juga boleh beli testpack,”


jawab Sita tenang.


“Oh gitu ya, jadi minggu depan aja aku cek?”


“Iya! Santai aja ya, Ajeng Sayang! Gak usah panik! Everything will be okay (semua akan baik-baik saja)!”


“Well, thank you ya, Ta!”

__ADS_1


“You’re welcome darling!”


Ajeng menutup sambungan teleponnya, kemudian merenungkan kemungkinan akan kehamilannya. Bagaimana sikap Ferdian nanti jika ia memberitahukan gejala-gejala yang dialaminya itu?


Tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Ferdian pulang sambil membawa sebuah kotak pipih.


"Lho kok udah pulang?" tanya Ajeng terkejut melihat kepulangan Ferdian.


"Iya, bentar aja ternyata kerja kelompoknya," jawab Ferdian menaruh kotak itu di atas meja makan.


"Apa itu?" tanya Ajeng.


"Pizza!"


Ferdian langsung mendudukan tubuhnya di kursi makan setelah cuci tangan. Ia membuka kotak itu dan mengambil sepotong pizza dengan lelehan keju mozzarella yang masih lumer. Ajeng berjalan mendekatinya. Aroma daging sapi, paprika, dan oregano sangat jelas tercium kuat di hidungnya. Seketika itu rasa mual itu muncul kembali.


Ajeng berlari menuju basin dapurnya dan lagi-lagi memuntahkan isi perutnya. Ferdian tampak panik melihat kondisi istrinya yang muntah-muntah itu. Ia menyimpan potongan pizzanya dan menghampiri istrinya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ferdian memijit tengkuk leher istrinya. Ajeng mengambil tisu dan mengelapkan pada mulutnya yang basah.


"Gak tau, mungkin asam lambung aku lagi naik!" ujar Ajeng beralasan.


"Pasti ini gara-gara kebanyakan makan eskrim dan cokelat kemarin," tukas Ferdian mengambilkan segelas air hangat.


"Mungkin!"


Ferdian memegangi bahu istrinya itu untuk kemudian didudukan di atas sofa. Ajeng bergumam. Penciumannya sedang sensitif apalagi terhadap daging-dagingan. Ia pasrah saja jika memang ia harus hamil di waktu yang tidak direncanakannya. Ia hanya yakin kalau Allah mungkin punya rencana yang lebih baik.


"Fer!" panggil Ajeng.


"Kenapa Sayang?"


"Waktu kita bicara pertama kali di kafe sebelum kita menikah, kamu pernah bilang kan, kalau kamu akan berusaha siap untuk memerankan semua hal yang akan terjadi setelah kita menikah. Dan aku bersedia menikahi kamu karena jawaban itu. Aku anggap kamu sudah mengerti segala kemungkinan yang akan terjadi, baik yang direncanakan atau pun tidak," terang Ajeng, Ferdian menatapnya berusaha memahami perkataan Ajeng.


"Aku tahu mungkin ini belum pasti, jadi mungkin aku akan memberitahu minggu depan," kata Ajeng melanjutkan.


"Maksud kamu apa sih, Sayang?" tanya Ferdian, merapikan rambut istrinya.


"Kalau misalnya aku hamil, gimana?"


\=\=\=\=\=


Keep Like & Vote

__ADS_1


Makasiiih ^^


__ADS_2