
Mobil milik Ferdian berhenti di halaman parkirnya. Ia akan sekalian mengambil kunci motor barunya ke huniannya sambil sekalian mengantar istrinya. Jadi ia akan kembali ke kampus dengan menggunakan motornya.
"Jaketnya jangan lupa, Sayang!" seru Ajeng dari balik walk-in wardrobe-nya.
"Iya sebentar!" jawab Ferdian di kamar mandi.
"Ingat ucapanku tadi ya. Kalau kerja kelompoknya selesai lewat jam 10 malam, kamu pulang aja ke asrama," Ajeng mewanti-wanti kembali.
"Iya, Sayang!" ucap Ferdian mengecup kening istrinya. Lalu mengambil jaket navy yang tergantung di hanger lemari.
"Aku pergi dulu ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku aja!" ujar Ferdian melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen.
"Fer!" panggil Ajeng, membuat pria itu menoleh.
"Kenapa Sayang?" tanyanya heran.
"Kamu lupa sesuatu," ucap Ajeng sambil membuat isyarat agar Ferdian menghampirinya.
Ferdian mengernyit sambil menghampiri istrinya.
"Lupa apa?" tanyanya kemudian.
Ajeng menarik tangan Ferdian untuk diusapkan tangan itu pada perutnya. Lagi-lagi Ferdian selalu merasa tegang ketika ia melakukan itu, jantungnya berdebar lebih cepat.
"Kiss my belly (cium perutku)!" ucap Ajeng.
DEG. DEG. DEG.
Ferdian mendekati perut Ajeng, ia memejamkan matanya, dan menaruh kedua tangan juga bibirnya di atas perut istrinya.
"Please, come home safely, Daddy (Pulang dengan selamat ya Ayah)!" ucap Ajeng melembutkan suaranya seperti seorang anak kecil.
"Thank you!" ucap Ajeng mengecup punggung tangan suaminya.
Ferdian tersenyum padanya dan pergi kembali menuju kampusnya, dimana semua teman kelompoknya sudah menunggu.
Ridho, Malik, Syaiful, Danu dan Ghani tengah berada di sebuah panggung teater di fakultas mereka. Mereka bukannya berkumpul untuk mengadakan teater, melainkan hanya untuk menyelesaikan tugas kelompok untuk mata kuliah Pengenalan Drama. Dosen mereka, Pak Julian, menyuruh seluruh mahasiswanya untuk membuat percakapan pendek untuk drama dengan memasukan unsur sastra dalam periode tertentu yang sudah dipelajari selama ini. Kelimanya sedang menunggu kedatangan Ferdian, otak encer dibalik ide percakapan yang akan mereka buat nanti.
Tak perlu waktu lama, Ferdian akhirnya datang dengan mengenakan sebuah jaket hoodie berwarna navy.
"Gue mah heran, si Ferdi udah sore gini masih aja keliatan keren. Beda banget ama gue, udah mandi pagi, eh jam 10 udah kucel banget wajah gue!" keluh Danu pada dirinya sendiri.
"Curhat?" sindir Syaiful.
"Iya gue curhat!
"Udah takdir dari sononya itu mah, jangan nyalahin bapak sama emak lo ya, Dan?!" ucap Ghani.
"Iya ya, apalagi nyalahin Tuhan!" ucap Danu lesu.
__ADS_1
"Jangan, kualat lo ntar! Istighfar aja deh!" lanjut Ghani.
"Iya dah, astaghfirullahaladziim! Dikasih muka aja gue bersyukur ya Allah!" Danu menengadahkan tangannya ke atas, lalu mengusap wajahnya.
"Si Danu kenapa?" tanya Ferdian setibanya disana menatap heran pada temannya berkacamata.
"Berdoa biar bisa oplas wajah," celetuk Syaiful.
Ferdian mengernyit dan menggeleng-geleng. Sementara nama yang disebutnya tadi mendorong tubuh Syaiful dari belakang sehingga ia terjerembab di atas lantai.
"Woy, ngajak gelut lo?!" ketus Syaiful berdiri.
"Eh udah-udah fokus, besok harus dikumpulin nih!" ujar Malik yang kesal melihat tingkah kawan-kawannya yang ribut itu.
"Jadi gimana ini, periode mana yang mau diambil?" tanya Ghani membuka diskusi untuk tugas mereka.
"Dark Ages (Masa kegelapan) aja lah!" ucap Ferdian membuka diktat perkuliahan dari dalam tasnya yang sedari tadi dititipkan pada Ridho.
"Terus nanti yang mau diangkat apa?" tanya Ridho.
"Kan periode itu Eropa lagi terpuruk tuh, coba bikin percakapan antara para filsuf dan gerejawan aja yang saling bertentangan. Jangan lupa sisipin teori demokrasi yang diambil para filsuf untuk menentang para pastor dan raja!" terang Ferdian sambil menunjuk penjelasan pada masa Dark Ages di diktat miliknya.
Kelima kawan Ferdian merenung dan berpikir terkait ide Ferdian untuk membuat percakapan antara para filsuf atau pemikir Barat yang menghendaki hancurnya dominasi kekuatan monarki absolut di Eropa. Penguasa pada saat itu hanya bisa membuat rakyat menderita. Mereka tahu pada zaman itu, rakyat Eropa benar-benar menderita akibat kesewenang-wenangan raja yang menjalin kekuatan dengan para pemuka agama dengan dalih atas perintah Tuhan. Penyakit menyebar di seluruh Eropa, kemiskinan melanda, ilmu pengetahuan dibatasi, dan rakyat benar-benar terpuruk pada masa Dark Ages. Ini memungkinkan mereka untuk membuat percakapan drama semakin variatif dan berkembang, jadi tidak akan kaku.
"Oke lah! Kita coba bikin!" ujar Malik, yang juga disetujui oleh kawan-kawannya yang lain.
Malik baru saja hendak membuka laptopnya. Namun Ferdian menyela.
"Lha emang lo gak akan balik Fer?" tanya Ghani.
"Kata Ajeng, kalau tugasnya selesai kemaleman, gue gak boleh balik. Gue disuruh nginep di asrama aja!" jelas Ferdian memasukan diktat perkuliahannya kembali ke dalam tasnya
"Duh, bener-bener istri perhatian!" puji Syaiful menyangga kepalanya di tangannya yang sedang duduk bersila di atas lantai.
"Iyalah, pasti Miss Ajeng khawatir lo kenapa-napa lagi," seru Malik.
"Dan pastinya, karena sekarang istri gue lagi hamil!" seru Ferdian.
Sontak semua kawan Ferdian membelalakan mata dan mulut mereka menganga tidak percaya.
"Alhamdulillah," ucap Ridho penuh syukur.
"Serius?!!!" seru Ghani wajahnya penuh ekspresi antara tidak percaya dan gembira.
"Iya gue gak bohong! Kemarin gue udah cek langsung ke dokter kandungan temennya Ajeng. Awalnya Ajeng cek pakai testpack tapi hasilnya samar-samar gitu. Makanya pas ke dokter bisa lihat ternyata udah ada kantung janinnya gitu," terang Ferdian.
"Katanya lo sama miss Ajeng mau nunda dulu punya momongan?" timpal Danu memastikan.
"Ajeng kelupaan minum pil, makanya jebol deh!" ucap Ferdian.
__ADS_1
"Hahaha....apalagi suaminya minta jatah terus yee?! Bobol juga tuh gawang!" timpal Syaiful cekikan, membuat Ferdian menoyor kepala Syaiful.
"Horeeee!! Kita bakal dapat keponakan, yeaaa!!" seru Danu bersemangat.
"Alhamdulillah, rezeki lo sama Miss Ajeng nih!" ucap Malik menepuk pundak Ferdian.
"Tapi gue agak ragu!" ucap Ferdian gugup.
"Kenapa emangnya?" Malik bertanya.
"Gue ada trauma sama kehamilan," ucap Ferdian lemas.
"Emangnya lo pernah hamil, Men?!" celetuk Syaiful menepuk keras bahu Ferdian.
Ferdian menggeleng, raut mukanya berubah murung, lalu ia menunduk.
Malik memelototi Syaiful dan menyuruhnya untuk serius menanggapi Ferdian.
"Lo kalau mau cerita, cerita aja! Gak usah ada yang ditutupi, siapa tau kita bisa bantu!" ujar Malik.
Ferdian memejamkan matanya, mengambil nafas panjang dan menghembuskannya kembali.
Langit di atas sudah gelap, hanya ada sedikit cahaya keoranyean yang muncul di balik awan. Burung-burung berterbangan kembali ke sarangnya. Tak lama, adzan maghrib pun berkumandang memanggil seluruh hati yang taat untuk tunduk pada pencipta-Nya. Angin berhembus membuat syahdu suasana petang kala itu.
"Nanti aja deh kapan-kapan gue cerita, waktunya belum memungkinkan!" ucap Ferdian tersenyum.
Kawan-kawannya mengangguk saja. Sementara itu Danu yang penasaran tingkat tinggi, berbisik pada Ridho, yang kemungkinan tahu akan masa lalu Ferdian.
Namun, nihil! Ridho tidak tahu apa-apa atau mungkin ia memang tidak ingat dengan apa yang terjadi pada Ferdian sewaktu dulu.
"By the way, selamat ya Men, mudah-mudahan kamu bisa kuat!" ucap Ridho menyemangati.
"Iya Men! Terlepas apapun yang terjadi sama Lo di masa lalu, Lo harus bisa melewati ini semua. Miss Ajeng pasti sangat-sangat butuh Lo di sampingnya!" ucap Ghani merangkul bahu Ferdian yang duduk di sampingnya.
"Semangat Fer! Lo harus bangga, lo harus happy! Akhirnya sohib kita yang populer ini bakal jadi ayah, uhuy!" Syaiful ikut juga menyemangati.
"Thanks, Men! Gak nyangka gue juga bakal secepat ini. Tapi kalian bener, Ajeng butuh gue dan gue harus kuat!"
"Sip mantaplah!" seru Malik.
Ferdian tersenyum memandangi kawan-kawannya. Ia tak menyangka setelah menikahi Ajeng, ia merasa keberadaan kawan-kawannya itu begitu memberikannya semangat dan kekuatan. Mereka juga terasa lebih akrab dan dekat satu sama lain. Keenam mahasiswa itu akhirnya berjalan menuju masjid kampus untuk menyambut panggilan-Nya dalam ketundukan hati, melepas segala beban dan harapan untuk ditaruh di tempat yang tertinggi.
\=\=\=\=\=
Yuk ah like, comment dan votenya, biar bisa ketauan nih salah satu rahasia punya Ferdian di masa lalu
Votenya 10 poin juga gak apa-apa kok :D
Tapi mau 10.000 juga alhamdulillah, thor akan senang menerimanya
__ADS_1
Hihihi ^^