Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Bonus Episode 2


__ADS_3

Zaara sedang menyiapkan suaminya sarapan pagi itu. Arsene mendudukkan dirinya di kursi meja makan.


“Emang Om Kevin mau nikah lagi?” tanya Arsene tiba-tiba, setelah mendengar ibu mertuanya yang berkata tadi. Mungkin saja Zaara tahu sesuatu.


Zaara menaruh piring makan untuk suaminya.


“Iya. Beliau juga ngundang kita,” jawab Zaara pelan. “Kemarin undangannya datang, kamu belum liat ya?” tanya Zaara. Arsene mengangguk.


“Emang kapan nikahnya?”


“Dua minggu lagi.”


“Mau datang?” tanya Arsene.


Zaara menggeleng pelan. “Mungkin aku udah lahiran. Kamu aja kalau mau datang. Aku kasihan sama Tante Jingga.” Wajah Zaara terlihat sedih.


Arsene meminum air putihnya sambil terus memperhatikan istrinya.


“Sedih ya? Di kala sakit, malah ditinggal. Terus malah dapat istri baru. Nyesek banget jadi Tante Jingga!” mata Zaara berkaca-kaca.


Arsene terdiam sebentar.


“Mungkin ini bagian dari ujiannya, Sayang! Tante Jingga orang shaleha, bisa jadi ujiannya lebih besar.”


“Iya betul. Aku cuma berdoa yang terbaik untuk Tante Jingga.”


“Tapi selama ini Om Kevin gimana orangnya?” Arsene memang sangat tidak mengenalnya.


“Om Kevin itu baik banget bahkan kalau bareng sama Tante Jingga tuh keliatan banget mesranya kaya gak ada masalah apa-apa. Gak nyangka aja makanya bisa secepat itu nikah sama orang lain. Meski emang sih udah beberapa bulan berlalu sejak perceraiannya. Tapi kok bisa sih sampai kaya gitu?” ucap Zaara terlihat gemas.


“Mungkin ada hal di antara mereka yang tidak bisa kita mengerti. Kadang kita gak boleh menyudutkan satu pihak saja. Kita harus tau dari dua sudut pandang. Jangan sampai kita akhirnya men-judge seseorang padahal kita belum tau apa-apa.”


Zaara terperanjat dengan ucapan suaminya. Arsene benar. Dirinya tidak tahu apa-apa karena hanya mendengar katanya dan katanya.


“Yuk makan!” ajak Arsene.


Zaara tersenyum.


Selepas makan pagi, Arsene keluar dari rumah mertuanya. Ia akan meminjam mobil milik ibunya agar ia selalu bersiaga untuk kelahiran anaknya nanti. Rumah orangtuanya yang tidak terlalu jauh, membuat Arsene meminta Zaara tetap di rumah.


“Zaara mana?” tanya Ajeng yang sedang menggendong Finn yang sedang demam.


“Zaara di rumah umi, Mom! Aku mau ambil mobil Mommy ya?”


“Kuncinya di laci lemari depan, ambil aja!” ucap Ajeng.


Finn sedang menangis karena tubuhnya sedang panas. Ajeng berusaha mungkin menenangkan dalam gendongannya.


“Finn kenapa Mom?” Arsene menghampiri ibunya.


“Demam dari semalam. Mau flu kayanya. Makannya lagi susah juga.”


Arsene mencoba menggendong adik bungsunya yang berusia 3 tahun itu,


“Finn, sehat ya?! Bentar lagi kamu jadi om kecil lho!” ucap Arsene menepuk-nepuk bahu balita itu pelan.


“Coba bantu mommy pegangin dia. Mommy kasih obat dulu.”


Ajeng mencari obat demam untuk anaknya. Mumpung ada Arsene di sini, ia akan meminumkan Finn obat.


“Tahan badannya, Cen!” seru Ajeng bersiap-siap menyuapkan satu sendok berisi obat sirup.


“Bismillah…”

__ADS_1


Finn menangis berteriak merasakan obat sirup yang tidak terasa enak di lidahnya. Meski sebagian sirupnya keluar lagi dari mulutnya, Ajeng berharap sebagiannya tertelan sehingga akan mengurangi demam anaknya itu.


Arsene segera membawa adiknya itu ke halaman belakang untuk meredakan tangisnya. Setidaknya sambil berlatih menjadi seorang ayah sebentar lagi. Ia selalu berhasil meredakan tangis seorang anak kecil, termasuk Finn. Sementara Ajeng membersihkan tangannya.


Tiba-tiba saja ponsel di dalam saku Arsene bergetar. Nama istrinya tertulis di sana.


“Kenapa Sayang?” tanya Arsene.


“Abaaaang, toloooong!”


“Astaghfirullah, kamu kenapa?” Arsene terkejut dengan teriakan Zaara di telepon.


“Perut aku sakit bangeeet! Cepet kesini!” Zaara setengah berteriak di seberang sana, membuat Arsene panik dan bergegas kembali ke ibunya.


“Mom! Aku pulang dulu, kayanya Zaara mau lahiran!” ucap Arsene memberikan adiknya pada pelukan ibunya.


“Ya Allah, mommy gimana ini?” tanya Ajeng panik.


“Udah mommy di sini aja, biar aku yang bawa Zaara ke klinik.” Arsene bergegas pergi ke garasi, Ajeng mengikutinya.


“Ada umi gak?”


“Umi lagi keluar, Mom! Udah gapapa, aku udah siap kok!”


“Aduh, mudah-mudahan lancar ya Cen! Maaf mommy gak bisa antar!”


“Iya gapapa, Mommy urus Finn aja!”


Arsene segera mengeluarkan mobil ibunya itu keluar dari rumahnya, dan langsung memacu gasnya menuju rumah mertuanya.


“Ra! Zaara Sayang!” Arsene berlari masuk ke dalam rumah mertuanya mencari istrinya.


“Aku di taman belakang!” seru Zaara.


“Tadi aku kontraksi. Tapi ini hilang lagi, kayanya udah mulai pembukaan. Kata dokter Aliyah aku disuruh jalan-jalan aja dulu nanti dua atau empat jam lagi boleh ke klinik. Aduuuuh…..” Zaara mengernyit merasakan rasa linu dan melilit di perutnya yang besar.


Arsene segera menahan tubuh istrinya.


“Jadi gimana?” tanya Arsene cemas.


“Gapapa, aku mau jalan lagi sampai kontraksinya makin sering!” jawab Zaara.


“Oke, aku siapin barang-barang kamu. Teriak aja kalau makin sakit ya?!” pinta Arsene.


“Iya!”


Arsene bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil barang-barang yang sudah dipersiapkan oleh Zaara untuk proses bersalinnya. Ada baju miliknya dan juga milik bayi yang diprediksi jenis kelaminnya adalah laki-laki. Pria itu membawa tas itu ke dalam mobil ibunya, lalu kembali lagi menemui istrinya yang berusaha menenangkan nafasnya. Ia tidak bisa apa-apa kecuali mendoakan istri dan anaknya bisa selamat.


“Abaaaaang, sakiiiit!” Zaara membungkukan badannya.


Gamis abu yang dipakainya tiba-tiba saja basah.


“Abaaaang, ini basah, ini basah!” teriak Zaara panik, perempuan itu merasa ingin mengejan.


Arsene segera membawa istrinya ke dalam mobil. Arsene tahu itu adalah air ketuban yang sudah pecah. Untung saja klinik tidak jauh, cukup sepuluh menit berkendara mereka tiba.


Para petugas medis segera membawa Zaara menuju kamar bersalin. Arsene pergi bersamanya dengan jantung berdebar.


Para perawat sudah memeriksa kondisi Zaara yang siap untuk melahirkan. Kondisinya sudah pembukaan 9.


“Tunggu sebentar lagi ya Teh! Jangan mengejan dulu, ditahan sampai pembukaan lengkap!” ucap perawat yang berjaga.


Zaara berusaha mengatur nafasnya agar tetap tenang.

__ADS_1


“Dzikir ya Sayang! Aku di sini, aku di samping kamu!” Arsene terus menggenggam tangan istrinya, berusaha mungkin membuatnya tenang, meski dirinya sendiri pun sangat cemas.


“Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Zaara terus mengatur nafas menggunakan teknik pernafasan perut.


Lagi-lagi keinginan mengejan itu datang tanpa diminta. Tidak lama Dokter Aliyah datang dan langsung memeriksa kondisi Zaara.


“Sudah pembukaan lengkap, Dek! Kamu boleh mengejan sekarang. Ikuti aba-aba aku ya?! Bismillah….”


Para perawat yang akan membantu dokter Aliyah berdatangan. Zaara sudah mengangkang, bersiap untuk mengeluarkan anaknya. Sambil terus memegang tangan istrinya, sesekali Arsene memperhatikan proses bagaimana istrinya mengeluarkan anaknya. Hatinya terus berdoa dan berdzikir.


“Ya Allah, itu kepalanya muncul!” seru Arsene antusias.


“Ayo Dek, dikit lagi!” seru dokter Aliyah.


Zaara mengambil nafas panjang, lalu mengejan sekuat tenaga. Seketika suara tangisan bayi pecah memekakan telinga. Arsene bertahmid dan bertakbir, tak percaya anaknya sudah lahir ke dunia.


“MasyaAllah, kamu hebat banget, Sayang! Anak kita udah lahir!” ucap Arsene berkaca-kaca. Ia segera mengecup kening istrinya.


“Allahu akbar, ya Allah, alhamdulillah!” ucap Zaara lirih berderai air mata.


“Mas Arsene silakan ikuti kami ya!” ucap perawat agar Arsene bisa memantau bayi laki-lakinya untuk dibersihkan, diukur, ditimbang, dan dicek kondisi seluruhnya. Arsene terharu melihat buah hatinya, matanya yang sipit, hidung yang mancung, bibirnya yang bulat, dan kulitnya yang masih merah. Bayi itu masih terus menangis ketika diperiksa oleh dokter spesialis anak yang menanganinya. Setelah selesai, perawat memberikan bayi itu padanya.


“Masya Allah! Aku udah jadi ayah sekarang!” ucap Arsene pada dirinya sendiri.


Di hadapan Zaara yang tersenyum, ia melantunkan adzan dan iqomat pada telinga anaknya. Lalu menyerahkan bayi yang memiliki berat 3,2 kg itu pada istrinya. Zaara menaruh bayi itu di atas dadanya, memberikan kehangatan sekaligus ikatan pertama kali seorang ibu pada anaknya. Arsene terus memandangi mereka berdua dengan hati bahagia. Air mata haru menetes.


\======


Zaara sudah dipindahkan ke ruang inap. Sementara anaknya diperiksa dan diberi vitamin juga vaksin pertama kali. Arsene mengupas sebuah apel untuk istrinya.


“Makan yang banyak ya, Sayang! Aku pengen kamu bisa kasih yang terbaik buat anak kita!” ucap Arsene menyemangati.


“Iya. Aku akan berusaha.”


Arsene sudah memberitahukan seluruh keluarganya kalau Zaara sudah melahirkan pagi ini. Hanya saja belum ada dari mereka yang hadir. Umi Karin, Abi Reza, dan Zayyan masih di perjalanan setelah menengok Jingga di rumah sakit. Sedangkan Ajeng belum bisa pergi kemana-mana tanpa Ferdian di sampingnya, karena Ferdian masih berada di Jakarta. Ah, Ferdian sudah menjadi seorang kakek tepat di usianya yang ke 43 tahun, seorang kakek muda.


Tidak lama kemudian perawat membawakan mereka bayinya. Zaara segera menyambutnya dan berusaha menyusuinya kemudian. Zaara terus berdoa agar air susunya bisa segera mengalir. Bayi itu menyedot dengan sangat kuat, membuat ia menahan rasa perih.


“Kuat banget!” ucap Zaara mengernyitkan wajahnya.


“Sabar Sayang! Kamu harus kuat! Dia kelaparan kayanya!”


“Uuh…uh!”


“Nama anak kita siapa, aku lupa?” tanya Arsene. Padahal Zaara sudah memberitahunya beberapa kali.


“Bismillah, semoga Allah menganugerahkan kamu kebaikan seperti namamu. Uma kasih nama kamu, Ryuzaki Azfar Winata. Seorang laki-laki yang kuat dan berjaya dari Keluarga Winata.”


“Welcome to the world Ryu!”


Arsene mencium kening anaknya lembut.


\======


Bonus Episode Bersambung...


Alhamdulillah anak Arsene Zaara udah lahir


Jangan lupa klik tombol like, tulis komentar kamu


Daaaan poin/koin sawernya yaa :D


Makasiiiiih

__ADS_1


__ADS_2