Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 82. Celengan Rindu (2)


__ADS_3

Pria berambut hitam kecokelatan itu tengah sibuk memotong-motong sayuran seperti yang diinstruksikan oleh seorang chef yang memimpin. Ia mengumpulkan semua sayuran itu dalam satu wadah sesuai dengan jenis sayuran tersebut, lalu ia memberikannya pada chef lain yang bertugas memasak menu hari itu.


Sebuah list order baru datang lagi terpampang di sebuah layar LCD di depan meja kerja mereka. Baru saja selesai, kerjaan baru lainnya sudah kembali berdatangan. Tangannya yang gesit kini mengupas dan mencacah bawang-bawangan serta rempah-rempah untuk menu resto ala Asia.


“Perhatikan bahan-bahan yang kalian kerjakan!” teriak seorang head chef.


“Jangan sampai ada kesalahan sekecil pun!” ucapnya lagi pada timnya.


Ini bukan pertama kalinya, Arsene bertindak sebagai kitchen hand di sebuah resto Asian Cuisine Halal di Sydney. Ini adalah bulan ke empatnya ia bekerja di restoran milik seorang Muslim Chinese yang juga adalah instrukturnya sendiri di akademi memasak yang sudah diikutinya.


Terpaksa Arsene bekerja menjadi seorang kitchen hand untuk menambah penghasilannya di negeri kangguru itu. Meskipun ia tetap fokus belajar menjadi seorang chef pastry, kemampuannya di bidang cuisine pun ingin ia kembangkan. Awal semester di akademi tersebut memang masih luas cakupannya. Ia belajar teknik memasak di bidang cuisine juga pastry sekaligus. Beruntungnya, Tuan Stephen Fang, menempatkan Arsene langsung di restoran miliknya, meski hanya menjadi kitchen hand, atau profesi yang sering dianggap level bawah di resto untuk membantu para chef menyiapkan menu hidangan yang akan disajikan kepada para konsumen.


Arsene tidak pernah peduli atas apa profesinya, ia bekerja dengan nyaman, apalagi banyak juga dari teman-teman seakademinya pun bekerja di tempat ini. Bekerja di sebuah resto yang ramai adalah tantangan. Waktu di akhir pekan seakan tidak pernah berhenti kecuali resto telah tutup. Hari kerjanya memang di setiap akhir pekan, ketika akademinya libur.


Arsene menaruh semua cacahan bawang-bawangan di sebuah wadah. Matanya berair karena perih. Ia mengusapnya dengan kain baju di lengannya. Akan tetapi pekerjaannya belum selesai. Ia masih harus mengiris-iris paprika untuk dibuat menu teriyaki, menu yang paling banyak dipesan oleh pelanggan.


“Paprika cepat!” teriak seorang chef.


Arsene mempercepat pekerjaannya dan memberikan bahan itu setelah selesai. Sekitar 15 menit lagi resto tutup, tetapi pesanan masih terus masuk. Arsene membersihkan meja dapur dan membuangnya ke tong sampah. Kini pekerjaan mempersiapkan menu sudah selesai, saatnya bertugas untuk membersihkan dapur. Mengumpulkan peralatan kotor dan memberikannya kepada para dishwasher. Lantai yang berserakan karena kupasan kulit sayur atau rempah yang tercecer disapunya dan dibersihkannya secara ulet.


Resto sudah benar-benar tutup kali ini. Kepala chef berterima kasih atas kinerja tim di dapurnya karena para pelanggan sudah mendapatkan pesanan mereka semua tepat pada waktunya. Arsene masih sibuk menyapu lantai ketika Tuan Fang menghampirinya.


“Hei, anak muda!”


Arsene menoleh dan menghadapkan dirinya di depan laki-laki paruh baya yang seusia dengan pakdenya itu.


“Yes Chef?!”


“Sejauh ini kerjamu bagus. Aku selalu puas melihat kerjamu yang cepat dan gesit. Nona Wang sudah mentransfer gajimu selama sebulan ini. Ada bonus juga untukmu.”


Mata Arsene berbinar sambil tersenyum berseri.


“Terima kasih banyak, Chef Fang!” ucapnya sambil membungkukan badannya.


“Sama-sama. Kamu memiliki skill untuk cuisine, apakah kamu tidak mau mengambil jurusan itu semester depan?”


“Saya masih pertimbangkan dengan baik, Chef!”


“Ya kamu benar, kamu masih banyak memiliki waktu untuk pertimbangkan hal ini. Lanjutkan kerjamu!” ucap Chef Fang.


“Yes, Chef!”


Arsene melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan lantai dapur. Sambil tersenyum berseri, hatinya merasa bahagia karena uang tiket untuk istrinya itu sudah terkumpul.


Kamar berukuran sempit dengan luas 3x3 meter itu terlihat gelap. Arsene menyalakan lampu kamar asramanya. Ia baru saja pulang setelah menyelesaikan pekerjaan paruh waktunya di resto Asian Cuisine. Wajahnya terlihat kelelahan, tubuhnya terasa remuk karena hari ini pengunjung resto terlalu ramai bahkan ia hanya bisa beristirahat sejenak ketika makan siang dan sholat saja. Pria yang kini rambutnya sudah lebih panjang dari terakhir kali ia meninggalkan Indonesia, merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran single.


Namun ia segera kembali beranjak, ia harus segera membersihkan tubuhnya yang tercium berbagai macam bau tidak sedap. Pria itu bergegas ke kamar mandi.


Bunyi ponsel berdering singkat, sebuah notifikasi datang ketika Arsene baru saja keluar dari kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu. Sambil mengeringkan rambutnya, ia membuka ponsel miliknya itu. Sebuah email baru saja datang di akun bersama milik ia dan istrinya. Pria itu tersenyum. Arsene bergegas mengenakan pakaian lengkapnya lalu membuka laptop miliknya dan mulai mengetikkan surat di emailnya.


Assalamu’alaikum Tuan Putriku


Hari ini kerjaan aku bener-bener sibuk. Pelanggan terus dateng kayak kereta api yang punya gerbong ratusan. Mereka gak ada henti-hentinya pesen makanan. Mata aku tiap hari nangis gara-gara bawang dan tangan aku panas gara-gara cabe. Tapi aku seneng karena hari ini aku udah gajian. Apalagi tadi Chef Fang sempet puji aku plus kasih bonus. Alhamdulillah seneng banget karena uang tiket buat kamu kesini udah terkumpul. Tapi aku mau hitung ulang semoga gak salah.

__ADS_1


Apa kamu mau langsung datang kesini? Jadi kita bisa lebih hemat pengeluaran kalau aku gak pulang ke Indonesia. Dua minggu lagi aku udah libur lho! Ujian akhir kamu kapan nih? Aku gak sabar pengen cepet cubit-cubit pipi kamu yang makin chubby itu. Haha.


Kangeeeen banget kamu, Zaara Sayaaaang!


Love you always :*


Wassalamu’alaikum,


Your only prince, Arsene


Arsene lekas membaca surat kiriman dari istrinya. Lalu melakukan panggilan video setelah selesai membaca surat itu seperti kebiasaannya selama ini, meski sebenarnya keletihan tengah melanda tubuhnya.


“Assalamu’alaikum," sapanya tersenyum di depan layar.


“Wa’alaikumsalam,” Zaara tersenyum berseri menatap wajah lelah suaminya.


“Suratku udah dibaca?” tanya Arsene di depan layar ponselnya sambil memandangi wajah istrinya yang segar.


“Udah, Sayang!” balas Zaara tersenyum.


“Gimana menurut kamu, pertanyaan aku tadi?” tanya Arsene.


“Kamu yakin gak pulang ke sini? Mommy Daddy udah kangen berat lho!” ucap Zaara.


“Sayang duitnya, mending kamu aja langsung ke sini. Aku gak mau minta uang tambahan sama Daddy." Arsene memang sangat perhitungan terkait pengeluaran.


“Abang sayang, dengerin dulu! Mommy dan Daddy udah beliin aku tiket ke Sydney, barusan aku dapat kabar!” Zaara memberitahu.


“Beneran?!” tanya Arsene tidak percaya.


“Kapan itu?”


“Awal Januari!”


“Emang kamu udah libur?”


“Udah!”


Arsene terlihat berbinar tidak percaya kalau orangtuanya telah membelikan tiket pulang-pergi untuk istrinya. Meskipun ia tetap saja menyayangkan uang hasil kerja kerasnya selama ini jika dipakai untuk pulang ke Indonesia. Ia berpikir akan lebih baik tetap ditabung untuk sesuatu yang lain.


“Jadi gimana, mau pulang?” tanya Zaara berharap agar ia bisa lebih cepat untuk bertemu dengan suaminya.


“Aku pikirin lagi nanti ya, Zaara Sayang!”


Zaara terlihat memendam rasa kecewanya.


“Kita tetap akan ketemu, Sayang! Tapi aku harus pikirkan ulang untuk ke Indonesia. Aku merasa uang yang aku dapat dari kerja keras aku bisa lebih efektif untuk hal lain di masa depan.”


Ekspresi Zaara belum berubah, tetap terlihat gurat kecewanya yang berbalut rindu. Gadis itu ingin sekali cepat bertemu.


“Zaara Sayaaaang?! Hello, are you okay?!” sapa Arsene ramah mencoba merayu gadis itu.


“Iya, terserah kamu!” jawabnya singkat dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


“Yang penting kamu dan aku ketemu. Aku akan berterima kasih pada Mommy & Daddy, tapi aku pikir mereka bisa ngerti kalau aku gak jadi pulang ke Indonesia.”


“Zaara Sayaaang, sabar sebentar lagi ya? Kamu bisa kan?!” bujuk Arsene.


Zaara terlihat memejamkan matanya, lalu mengangguk.


“That’s my only princess. Nanti aku transfer uang untuk kamu biar kamu bisa beli gamis dan baju cantik buat ketemu aku.”


“Gak usah Sayang, uang bulan kemarin aja masih awet. Lagian baju dan gamis hantaran aja masih belum dipake,” sergah Zaara.


“Ya udah, nanti dibawa aja! Kita ketemu satu bulan lagi, oke?!”


Zaara mengangguk seraya tersenyum lebar.


"Wajah kamu kecapean banget, cepet istirahat ya Sayang!" ucap Zaara kali ini kekhawatiran melandanya.


"Kalau liat wajah kamu, capeku ilang kok! Apalagi liat pipi kamu yang makin mbul itu rasanya pengen cubit pake gigi!"


"Abaaaaang!" Zaara berteriak, lalu sontak menutup mulutnya karena ia khawatir akan membuat rumahnya ribut.


Arsene cekikikan saja di seberang sana.


"Ya udah aku istirahat dulu ya? Kita ketemu dalam mimpi ya!" ucap Arsene lalu terlihat menguap dan menutup mulutnya.


Zaara hanya tersenyum berseri.


"I love you!" ucap Zaara.


"I love you more, more, and more!" balas Arsene dengan mata sayu yang sudah mengantuk.


Zaara sangat menyukainya, ketika Arsene membalas ungkapan cintanya itu. Mereka berpamitan dan saling mengucap salam, menutup perjumpaan di malam yang hangat dengan harapan tinggi untuk lekas bertemu kembali. Kini waktu terasa semakin dekat saja.


\======


Bersambung....


Like dan Vote jangan lupa


Tinggalkan komentar kamu juga yaa ^_^



Abang Acen lagi semangat nih ngumpulin duit buat masa depan


Kamu semangat juga yaa ngumpulin poin dan koin buat masa depan author #eh


A&Q


Reader: Thor kenapa cepet banget mereka bakal ketemuan lagi?


Thor: Bukannya itu yang kalian harapkan? haha :D


Tungguin aja terus ceritanya yaa

__ADS_1


Support terus Author Aerii yaa


Thanks


__ADS_2