Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 29. Great Idea!


__ADS_3

Pertemuan lepas rindu itu telah berakhir sore ini, menyisakan bahagia dan kegembiraan bagi pemilik rumah baru yang menghelat acaranya. Rumah masih tampak berantakan terutama di taman belakang. Akan tetapi, para asisten rumah tangga bekerja dengan profesional, sehingga dengan cepat taman itu kembali seperti sedia kala.


Hari sudah gelap, para asisten rumah tangga sudah kembali pulang setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Ajeng telah menidurkan Finn di atas ranjang bayinya, lalu menyusul ke ruang bersantai dimana suami dan anak-anaknya sedang berkumpul sambil menonton film petualangan. Kebiasaan Keluarga Ferdian di akhir pekan memang seperti itu, menonton bersama setelah shalat isya, atau kadang bercengkrama asyik meski film belum selesai diputar.


Ajeng memperhatikan anggota keluarganya yang tengah berleha-leha di atas karpet dan sofa empuk sambil menonton film, meski beberapa di antaranya sudah ada yang terlelap tidur, seperti Kirei dan Rainer. Hanya Ferdian dan Arsene saja yang masih asyik menonton. Ajeng mendudukan tubuhnya di atas sofa dan mengambil sebuah bantal kecil di sana. Dipeluknya bantal berbentuk segi empat itu. Ia duduk di samping tubuh Ferdian yang berbaring sambil menghadap layar televisi lebar. Wanita itu masih terngiang-ngiang dalam pikirannya mengenai pembicaraan antara dirinya dan kedua sahabatnya itu. Sehingga, wanita itu memutuskan untuk membuyarkan fokus kedua pria yang tampak khusyuk menonton.


“Dad, Abang, Mommy mau bicara. Bisa dengarkan dulu?” pinta Ajeng.


Ferdian beranjak dan duduk menatap istrinya heran. Begitu pula dengan Arsene yang memegang remote televisi, lalu mengistirahatkan film itu untuk sementara.


“Kenapa Mom?” tanya Arsene penasaran.


“Mommy gak tau apa hal ini perlu dibicarakan serius atau enggak. Tapi sepertinya kamu juga harus pertimbangkan hal ini dengan baik,” ucap Ajeng, membuat kedua pria yang ada di sampingnya mengernyit keheranan.


“Maksud kamu apa, Sayang?” tanya Ferdian tidak mengerti.


“Mommy mau tanya Abang, seberapa besar perasaan kamu untuk Zaara?”


DEG. Jantung Arsene melompat tinggi, ditembak dengan pertanyaan seperti itu oleh ibunya tentu saja membuatnya sangat kaget.


“Kenapa Mommy tanya itu?” tanya Arsene.


“Mommy ingin tahu. Apakah kamu benar-benar menyukai Zaara? Kamu tahu kan, keluarga Zaara gak akan mungkin mengizinkan anaknya berpacaran atau berteman sangat dekat?”


Arsene mengangguk.


“Apa kamu yakin benar-benar suka sama Zaara?” tanya Ajeng lagi.


Arsene terdiam, ia merasa aneh karena tiba-tiba saja ibunya menanyakan hal itu. Bahkan raut wajah wanita yang telah melahirkannya itu begitu serius, tidak santai seperti waktu di rumah sakit saat itu, meskipun membicarakan hal yang sama terkait perasaannya.


“Kalau aku serius emang kenapa Mom?” ucapnya menatap wajah ibunya.


Ajeng menghela nafas.


“Ada apa sih ini? Kok kamu tiba-tiba gitu?” tanya Ferdian masih tidak mengerti.


“Suka sama seseorang kan gak salah. Apa kamu gak suka Arsene suka sama Zaara?” tanya Ferdian lagi.


Ajeng menatap tajam suaminya.


“Bukan gitu, Daddy Sayang! Mommy pengen tahu aja seberapa serius anak kita itu suka sama anaknya Karin. Karena, dia punya saingan berat yang ternyata sangat serius untuk bisa dapatin Zaara.”


Arsene dan Ferdian membelalakan matanya, terkejut.

__ADS_1


“Maksud Mommy apa sih? Cerita yang jelas coba!” seru Ferdian.


Ajeng menarik nafasnya.


“Raffa ada rencana buat lamar Zaara setelah Zaara kuliah nanti,” terang Ajeng berhasil membuat hati Arsene mengernyit. “Sita cerita sama Mommy, kalau Raffa memang serius untuk menjadikan Zaara sebagai istrinya, meskipun gadis itu masih kuliah semester satu," lanjut Ajeng.


“Mommy serius?!” tanya Arsene tidak percaya.


“Serius, Sita malah pengen kamu dan anaknya bersaing secara sehat untuk dapatin Zaara. Ya, meskipun kita juga belum tau, apa Zaara mau nikah muda atau enggak. Tapi Karin mau bicarain ini juga sama anak dan suaminya.”


“Jadi maksud kamu obrolin ini disini untuk nanya apa Arsene serius buat dapetin Zaara gitu?” tanya Ferdian.


Ajeng mengangguk dengan segenap ekspresi kecemasannya.


“Jujur aja, kalau Daddy gak pernah masalah ya, kalau kamu mau nikah muda. Karena daddy pun begitu dan atas dasar pilihan sendiri, meskipun opa yang jodohin kita. Jadi Daddy cuma bisa serahkan ini sama kamu langsung, Cen! Pikirkan ini secara bijak, matang, dan jangan gegabah. Zaara bukan bola yang bisa dibawa kesana kemari. Begitu juga dengan nikah muda. Kamu harus tau apa konsekuensi dan tanggung jawab ketika kamu pilih itu," terang Ferdian, seolah ia merefleksikan dirinya pada saat dulu ketika menikahi Ajeng.


Arsene tertegun. Tentu saja pembicaraan seperti ini bukan pembicaraan main-main. Ia harus bertanya pada dirinya sendiri, pada lubuk hatinya yang terdalam. Ia sadar, perasaannya pada Zaara cukup besar. Mendengar pernyataan tentang Raffa yang tidak main-main tentu saja membuat nyalinya justru terbangkitkan. Ia adalah Arsene, pria muda yang penuh ambisi, ia tidak takut menghadapi kehidupan yang ada di depannya. Ia sangat percaya diri jika harus bersaing sehat dengan Raffa. Umpan ini justru semakin membuatnya menjadi lebih serius.


“Aku serius, Mom! Kalau aku harus bersaing sama Raffa, aku kira dia lawan yang sepadan denganku!”


“Arsene! Are you sure?” tanya Ferdian, wajahnya sumringah.


“Aku gak pernah seserius ini dalam hidup aku, Dad!”


“Terus sekolah kamu ke Le Cordon Bleu gimana?” tanya Ajeng cemas.


“Wooow!” Ferdian antusias sekali menyambut keseriusan anak sulungnya itu. Ia memeluk Arsene dan menepuk-nepuk bahunya.


“Ya ampun ini bapak dan anak sama aja! Ya udah deh, mommy jadi tenang kalau gitu!”


“Jadi mommy cemas karena takut Abang main-main suka sama Zaara?” tanya Arsene memastikan.


“Iyalah! Zaara itu cinta pertama kamu, wajib dikejar makanya!”


“Bukan karena masalah gak setuju?” tanya Arsene lagi.


“Mommy setuju banget kalau kamu jadi sama Zaara. Dia gadis unik soalnya.”


Bibir Arsene merekah berseri. Belum pernah orangtuanya seantusias ini, meskipun perlakuan daddy dan mommy-nya terlihat berbeda. Ferdian lebih terbuka dan ekspresif, sedangkan Ajeng lebih tertutup dan cemas terlihat dari ekspresi wajahnya. Mungkin karena Sita yang menantangnya langsung.


“Jadi apa yang harus aku lakuin?” tanya Arsene bingung.


“Ya curi hati Zaara lebih dulu dong, tapi kayaknya kamu udah lebih depan daripada Raffa deh. Baguslah!” ucap Ajeng.

__ADS_1


"Ingat perkataan Daddy tadi. Pernikahan bukan sekedar untuk senang atau karena cinta, ini butuh komitmen antara kamu dengan dia. Cinta bisa datang sendirinya kalau kalian mengizinkannya datang. Karena yang paling berat adalah tanggung jawab kamu setelah itu," terang Ferdian lagi.


Arsene menghela nafasnya berat. Tetapi dalam hati, tekadnya sudah muncul tunas yang akan tumbuh berkembang dan menjadi besar seiring waktu jika ia rawat. Ia tidak akan main-main dengan tantangan ini.


Arsene semakin bersemangat saja. Pria muda itu berlari-lari menuju ke kamarnya, dan meninggalkan film yang masih belum selesai. Ia perlu merenungkan hal ini antara cinta dan masa depannya.


Ferdian dan Ajeng saling bertatapan, heran.


“Anak kamu, Fer!” ucap Ajeng.


“Anak kamu juga!” balas Ferdian.


Arsene masuk ke dalam kamarnya dan melempar tubuhnya sendiri ke atas kasur. Ia menatap atap langit-langit kamarnya seraya . Belum pernah ia sebahagia ini, karena kedua orang tuanya mendukung perasaannya. Sudah cukup bahagianya, ia harus memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan untuk mencuri hati Zaara.


Perasaan ini memang harus berakhir pada sebuah pernikahan, sesuatu yang tidak pernah dipikirkannya selama ini. Terlepas apakah ia akan menikah muda atau tidak, sepertinya ia butuh ilmu mengenai perkara serius ini mulai sekarang.


Ajeng menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, melihat anaknya yang tampak antusias seperti tadi membuatnya dilema. Ia memang senang karena Arsene tidak main-main dengan perasaannya pada Zaara, tetapi di sisi lain bagaimana dengan cita-cita anak itu?


“Kok aku jadi dilema ya lihat Arsene?”


“Kenapa?” tanya Ferdian merangkul tubuh istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahu miliknya.


“Iya, kalau dia mau nikah muda, cita-citanya gimana?” tanya Ajeng cemas.


“Banyak jalan untuk meraih cita-citanya. Tidak harus dengan dia sekolah di akademi itu pun, dia masih bisa gapai cita-citanya untuk menjadi chef profesional. Dia punya skill terasah, Sayang! Dia bisa belajar kapanpun dan dimanapun, meski nanti sudah berumahtangga, seperti aku.”


“Apa dia bisa seperti kamu?” tanya Ajeng menoleh ke arah suaminya.


“Kita sudah didik dia dengan kemandirian, kedewasaan, dan kebijaksanaan. Aku yakin dia bisa lebih baik dari aku,” ucap Ferdian sambil mengelus rambut istrinya.


“Tapi bekal agamanya apakah cukup untuk mengantarkan dia pada pernikahan yang ideal?”


Ferdian tampak merenung. Ia sadar bekal pendidikan agama yang diberikan pada Arsene masih kurang, ia khawatir pemuda itu akan mudah meluapkan emosinya atau bertindak gegabah dalam membuat keputusan.


“Gimana kalau kita minta Mas Reza ngisi pengajian lagi khusus untuk kita di sini?” tanya Ferdian.


“Aha, great idea!”


\=\=\=\=\=


Apakah memang ide yang bagus? :D


Bersambung dulu yaa

__ADS_1


LIKE & VOTE


Commentnya ramaikan yaa


__ADS_2