
(S2) Ep 7. Seraphine
Gadis dengan ikatan rambut bergaya ekor kuda itu sedang serius berlatih bermain basket. Ia adalah pemain andalan tim putri sekolah mereka karena sering mencetak angka ketika bertanding. Namun satu kelemahannya, jika fokusnya buyar, maka permainannya akan usai di waktu itu. Fokusnya tidak pernah bisa kembali lagi, kecuali di hari esok ketika akan bermain lagi.
Sama halnya seperti hari ini, gadis kelas sebelas IPS itu terpana dengan sebuah wajah asing yang baru dilihatnya, ketika ia tengah merebut bola dari kawan berlatihnya. Tanpa izin kawan yang sedang mengawasi, ia berlari begitu saja ke pinggir lapangan dengan alasan kehausan. Padahal ia ingin lebih jelas melihat wajah asing yang sempat mendatangi kawan sekelasnya, Evan.
Evan memberhentikan latihan hari itu setelah ia menangkap ketidakfokusan Seraphine, nama gadis itu, atau biasa dipanggil Sera. Gadis itu terjatuh beberapa kali. Karena khawatir akan cedera, lebih baik Evan menghentikan latihan saja karena gadis itu sangat penting bagi tim putri yang akan tanding minggu depan.
Sera mendengus kesal terhadap dirinya sendiri. Ia langsung meraih tas ranselnya dan berjalan menuju keluar sekolah.
“Ser, inget jaga fokus lo! Konsentrasi! Kita butuh lo di tim!” ujar Evan ketika gadis itu melangkah pergi.
“Iya bos!” jawabnya melenggang pergi sambil menoleh sedikit.
Sera berjalan menuju halaman depan sekolah, masih dengan pakaian basket khusus latihannya. Ikatan rambutnya ia perbaiki dengan mencepol tinggi rambutnya itu. Pikirannya melayang pada sosok anak cowok yang dilihatnya tadi, tipikal idealnya. Jarang sekali ia menemukan wajah cowok seperti itu di kota ini, pikirnya. Gadis itu menepuk-nepuk jidatnya untuk menghilangkan pikirannya.
Namun bukannya hilang, wajah cowok yang sebenarnya masih samar di bayangannya kini terpampang jelas di hadapannya. Cowok itu terlihat sedang duduk di kursi taman depan, sambil menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari seseorang. Jantung gadis itu jadi berdebaran, meskipun tatapannya tetap tertuju pada wajah cowok itu. Benar-benar tipikal cowok idamannya selama ini.
Ia berdehem sebentar, lalu mulai berjalan tenang dan santai melewati cowok berwajah putih dan mulus itu. PIkirannya sudah bermain untuk melaksanakan taktiknya. Kakinya tetap melangkah sesuai perintah otaknya, ketika tiba di depan cowok itu, kakinya tersandung, tubuhnya jatuh berlutut. Ia mengaduh kesakitan sambil memegangi lututnya.
Rainer yang berada di sana, tampak melihat gadis itu tengah meringis kesakitan. Tatapannya polos dan dingin, hanya saja ia berdiri lalu menghampiri gadis itu.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Rain mengulurkan tangannya.
Sera langsung meraih tangan Rain dan berdiri, kemudian memegangi lututnya lagi sambil berjalan ke kursi taman terseok-seok.
“Aku gak apa-apa, cuma perih sedikit,” ucapnya menutupi lututnya, karena tidak ada luka sedikit pun di sana kecuali kerikil-kerikil kecil yang menempel dan bisa ia jatuhkan lagi.
Rainer memandanginya tanpa kembali duduk di kursi itu. Lalu ia mengambil sesuatu di dalam tasnya, selembar plester luka kecil yang langsung ia berikan kepada gadis itu.
“Makasih banyak!” ucapnya sambil mengerjapkan matanya seraya tersenyum.
__ADS_1
Namun, bukannya membalas ucapan Sera, Rain malah membuang muka dan menoleh ke arah lain. Orang yang dicarinya sudah datang. Ia tersenyum kecil.
Sementara itu, Sera berharap lebih di hatinya, kalau cowok itu akan kembali duduk di kursi ini bersamanya. Ternyata harapannya itu palsu, cowok itu justru berjalan ke arah lain menghampiri cowok lain yang sama tampannya. Sera menatap keduanya terpana, bahkan mulutnya itu sampai terbuka saking terpananya.
“Ganteng banget!” ucapnya refleks.
Gadis itu terus memperhatikan kedua cowok tampan itu yang saling melempar senyum, kemudian berlalu dari sana. Matanya tidak pernah lepas sampai akhirnya kedua cowok itu menaiki motor bersama dan pergi dari sekolah.
Dua-duanya ganteng, tapi aku lebih suka yang pertama. Ucapnya dalam hati.
Sera mengerjapkan kedua matanya, berusaha sadar dari lamunannya. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan kembali berjalan dengan normal, karena dirinya tengah berakting saja. Gadis itu tersenyum riang sambil memandangi plester polos yang didapatnya dari cowok tadi. Sepertinya ia akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Ia pun bersiul senang sambil menunggu angkutan umum yang lewat.
Seraphine Anastasia, siswi kelas sebelas IPS 1, terkenal tomboy, periang, dan konyol di dalam kelasnya. Bahkan ia adalah ketua murid di kelasnya yang super berisik. Ia masuk ke sekolah negeri itu lewat jalur prestasi karena kehandalannya dalam bermain basket. Sejak SMP, cewek bermata kecil itu sudah banyak menjuarai kompetisi basket antar sekolah, bahkan antar wilayah. Prestasi yang membanggakan. Karena sikap tomboynya, ia banyak berteman dengan laki-laki, tidak aneh jadinya.
Sera menaiki sebuah angkutan umum menuju rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Pikirannya mengawang lagi, memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa berkenalan dan berteman dengan cowok tadi. Tiba-tiba bibirnya merekah menyimpulkan senyuman lebar.
Ia baru teringat kalau Evan mengatakan kalau cowok tadi akan bergabung dengan tim basket. Jadi sepertinya, peluang untuk bisa dekat dengannya akan menjadi lebih mudah. Hanya seperti apa ya taktiknya? Hmm… gadis itu berpikir terlalu lama sampai-sampai angkutan kota yang ia naiki sudah lebih melewati gerbang komplek perumahannya.
“Kiri, Mang!” teriaknya panik, lalu turun dan menyerahkan sejumlah uang dari sakunya.
"Sial banget sih gue!" rutuknya.
\=====
Sore itu ponsel Arsene berbunyi dengan nyaring, tepat setelah dirinya masuk ke dalam kamar setelah membersihkan tubuh. Itu panggilan dari mommy Ajeng.
“Arsene sweetheart….” panggil mommy.
“Kenapa, Mom?” tanya Arsene sambil mengeringkan rambutnya.
“Kamu bisa tolong mommy gak?” tanyanya terdengar manja. Mommy-nya itu memang sering berlaku manja terhadap anak-anak lelakinya.
“Tolong apa, Mom?”
__ADS_1
“Hmm… Mommy punya temen lama di Bandung. Mommy pengen kamu kirim kue buat mereka, kira-kira bisa gak?” pinta mommy dengan nada memelas.
“Kue apa?”
“Kue apa aja. Buatanmu itu enak semua.”
“Bikin berapa?”
“Satu box aja dulu isi 12 pcs, terus kamu kirim ke rumah Tante Karin,” ujar Ajeng.
“Ooh… temen kajian online Mommy itu ya?”
“Iya, tapi dia juga temen SMA Mommy dulu. Udah lama banget gak ketemu, Mommy pengen kirim hadiah buat keluarganya.”
“Boleh, buat kapan?” tanya Arsene, mendudukan tubuhnya di sisi kasur.
“Sabtu ini, kamu libur kan?”
“Iya, Mom!”
“Yeaah… thank you sweetheart! Nanti mommy kirimkan alamat rumah Tante Karin ya….” ucap Ajeng girang.
“Okay!”
“Ya udah, makasih sayang. Mommy mau telepon Rain dulu, mwuaach!”
“Bye, Mom!”
\=====
Bersambung...
LIKE, COMMENT, & VOTENYA YAA
__ADS_1
MAKASIIIH