Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 74


__ADS_3

Pagi itu udara terasa cukup dingin. Aspal terlihat masih basah karena bekas hujan semalam. Dedaunan yang tertaklukan oleh hujan tampak berserakan di atas tanah. Para pekerja kebersihan kampus sibuk membersihkan yang terlihat kesulitan karena kondisi yang basah.


Ferdian menurunkan istrinya di depan gedung dekanat sebelum pukul 8.30, sementara ia sendiri tidak akan turun, karena akan langsung berangkat ke kampus sebelah yang berjarak kurang lebih 3 km dari kampusnya itu. Ajeng mengecup punggung tangan suaminya.


"Semoga lancar ya sambutannya," ucap Ferdian tersenyum.


"Kamu juga, Sayang! Hati-hati di jalan," ucap Ajeng, ia pun keluar dari mobil suaminya dan melambaikan tangan.


Hati Ajeng berdebar menyambut hari ini, tetapi kepercayaan Ferdian padanya memberinya kekuatan tersendiri. Ia sudah menyiapkan segalanya untuk sambutan. Ia memang terbiasa memberi sambutan untuk acara-acara kecil semacam ini, termasuk dari perpustakaannya sendiri yang juga sering menerima buku-buku sumbangan dari para penerbit yang bekerja sama dengan pihak kampusnya. Pagi ini ia akan mengajar dulu di kelas mahasiswa barunya. Pak Burhan berpesan juga kepadanya untuk mengajak mahasiswa-mahasiswanya mengunjungi perpustakaan jam 10 nanti, jika memang mereka tidak ada kelas.


Tak terasa waktu cepat sekali berjalan. Jam mengajar Ajeng telah berakhir, masih ada sekitar lima belas menit lagi menuju acara di perpustakaan. Ia meneguk jus lemon strawberry-nya, sebagai mood booster dan membangkitkan energinya. Ia merapikan riasan di wajahnya dan juga outfit casual formalnya yang membuatnya terlihat feminin dan elegan di saat yang bersama.


Ajeng berjalan dengan hati yang berdebar, ia berusaha mengatur ritme nafasnya. Beberapa kali ia melakukan nafas perut agar terasa lebih rileks. Tampaknya perpustakaan sudah dipenuhi banyak mahasiswa dan staff yang mengatur acara ini. Seseorang berlari menghampiri Ajeng.


"Ayo Miss, bentar lagi dimulai acaranya!" ujar seorang staff perempuan muda, pengurus perpustakaan.


"Oh iya, maaf ya saya baru selesai mengajar!"


Staff itu membawa Ajeng ke dalam ruangan para pegawai, semuanya telah berkumpul di sana. Banyak dus-dus bertumpuk di sana, ternyata buku-buku sumbangan juga telah datang.


"Miss Ajeng udah siap?" tanya staff yang lain.


"Iya silakan,"


"Yuk kita ke lobi!" ajaknya kemudian.


Ruangan lobi perpustakaan yang cukup luas, kini telah dipenuhi oleh banyak mahasiswa yang akrab dengan perpustakaan. Beberapa sofa diletakan di depan untuk para hadirin terutama dari pihak penerbit juga para petinggi fakultas yang mewakili.


Pria itu sudah duduk di sofa dengan kemeja berwarna steel blue. Ia memandang ke depan dimana seorang MC akan membuka acara itu. Ajeng duduk di sebelah wakil dekan bagian administrasi dan kepegawaian, dua kursi dari pria itu. Ajeng berusaha menenangkan dirinya. Wanita itu memang pandai sekali menaklukan rasa gugupnya, sikap profesionalitasnya sudah bisa diandalkan.


MC Acara pun membuka acara. Ia meminta petinggi fakultas memberikan sambutan pertama. Wakil dekan bagian administrasi dan kepegawaian pun maju dan memberikan sambutannya. Setelah lima menit memberikan sambutan, acara dikembalikan kepada pembawa acara.


"Terima kasih kepada Ibu Ratna Sulastri, yang sudah memberikan sambutan. Acara selanjutnya adalah sambutan dari Kepala Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya, namun karena Bapak Burhan Ginanjar berhalangan hadir, maka sambutan akan dibawakan oleh Duta Baca Fakultas Ilmu Budaya yaitu Ibu Ajeng Chandra Diningrat, kepadanya dipersilakan," ujar MC.


Ajeng beranjak dari kursinya, ia menghembuskan nafas panjang dan berjalan ke depan. MC memberikannya mikrofon, Ajeng tersenyum. Kevin, yang sedari duduk memperhatikan berlangsungnya acara, menatap lekat pada wanita yang berdiri di depan. Ia tak menyangka Ajeng akan memberikan sambutan di pagi ini. Tatapan keduanya bertemu sesaat, Kevin membetulkan posisi tubuhnya menjadi lebih tegak.


"Assalamu'alaikum wr. wb. Membaca adalah membuka jendela dunia. Tanpa kita harus pergi keluar, tanpa kita mengeluarkan banyak uang untuk traveling, tanpa kita mencurahkan tenaga, dengan membaca kita bisa mengetahui segala hal yang ada, bahkan yang kasat mata dan di luar logika manusia sekalipun. Membaca adalah jembatan bagi orang yang berada dalam kegelapan menuju cahaya. Era saat ini, membaca tidaklah harus melalui buku, ada banyak media untuk bisa dibaca. Namun, buku adalah bentuk harta yang harus dijaga dan disayangi. Kami selaku para pecinta buku, mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak Natabooks yang sudah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan kampus ini. Dengan buku-buku yang diterbitkan dan diberikan kepada kampus kami, diharapkan agar pengetahuan dan wawasan kami semakin bertambah, begitu juga kecintaan kami pada buku juga ilmu pengetahuan. Semoga Allah membalas kebaikan Anda berlipat-lipat lagi. Terima kasih!"


Para hadirin pun bertepuk tangan menyambut kata-kata dari Ajeng. Kevin tersenyum tipis padanya sekilas sebelum wanita itu kembali ke tempat duduknya.


Pembawa acara pun kembali memimpin dan mempersilakan kepada pihak Natabooks untuk juga memberikan sambutan khususnya. Kevin pun berdiri dan maju ke depan sambil mengambil mikrofon.


"Perpustakaan ini selalu menjadi favorit saya ketika berkuliah dulu. Perpustakaan ini juga yang mengantarkan saya menjadi saya yang sekarang ini. Buku-buku yang saya baca dahulu ternyata membuat motivasi yang kecil itu menjadi besar. Semakin besar motivasi, semakin besar juga impian saya. Saya berharap banyak mahasiswa di sini yang bisa menggapai impian yang lebih besar, lewat perpustakaan ini, lewat buku-buku yang ada di sini. Oleh karena itu, saya dengan bangga hati memberikan buku-buku yang sudah kami terbitkan untuk disimpan di sini, dengan harapan bisa menjadi jembatan menuju masa depan yang cerah. Tidak hanya buku saja, kami pun memberikan akses digital untuk para anggota perpustakaan di sini agar bisa mengakses buku-buku kami di mana pun berada. Semoga saja dengan ini kampus kita semakin maju, dan membawa kemajuan nyata bagi bangsa. Terima kasih!"


"Terima kasih banyak kepada Bapak Kevin Nataprawira. Semoga mahasiswa di sini semakin sering mengunjungi perpustakaan dan semakin bertambah wawasannya. Beralih ke acara selanjutnya, adalah serah terima secara simbolik dari pihak Natabooks yaitu Bapak Kevin Nataprawira kepada pihak kampus yang diwakili oleh Duta Baca kita, Miss Ajeng Chandra Diningrat. Kepada keduanya dipersilakan maju kembali ke depan."


Kevin dan Ajeng pun maju kembali ke depan. Sebuah ensiklopedia kebudayaan dipersiapkan untuk menjadi barang simbolik serah terima bantuan dari pihak Natabooks untuk Fakultas Ilmu Budaya. Kevin memegang ensiklopedia yang cukup tebal itu, kemudian ia menyerahkannya kepada Ajeng. Keduanya memegang berbarengan. Saat itulah banyak kamera mengabadikannya, baik dari fotografer kampus, tim jurnalistik, maupun kamera amatir mahasiswa pecinta buku. Ajeng dan Kevin tersenyum menghadap kamera. Setelah selesai sesi foto, Ajeng mengambil ensiklopedia itu yang ternyata cukup berat juga. Beberapa staff langsung membantu Ajeng yang terlihat kesulitan, dan mengambilnya dari tangan ibu hamil itu.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Kevin setelah melihat Ajeng yang kesulitan.


"Gak apa-apa kok!" jawab Ajeng.

__ADS_1


Keduanya pun kembali ke tempat duduknya masing-masing. Sebuah pertunjukan drama komedi dipentaskan sebagai hiburan di tengah acara itu. Tak terasa acara pun selesai sebelum adzan berkumandang.


Ajeng berjalan ke luar perpustakaan. Seketika itu sebuah suara memanggil namanya. Ajeng pun menoleh ke belakang, ternyata Kevin yang memanggilnya. Ia terkejut.


"Ajeng tunggu sebentar!" ujar pria dengan rambut pendek berponi acak itu.


Ajeng menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanyanya dengan nada datar.


"Bisa kita bicara? Atau makan siang bareng?" tanya Kevin.


Waktu masih menunjukan pukul 11. 12 WIB. Ajeng mengecek ponselnya, tidak ada pesan apa-apa dari suaminya. Ajeng bergumam, apakah tidak apa mengiyakan permintaan teman lamanya itu sebentar saja? Lagipula tidak ada masalah di antara mereka yang harus diselesaikan.


"Bagaimana?" tanya Kevin lagi.


"Baiklah, sebentar saja tapi. Aku masih ada jadwal mengajar siang ini!" jawab Ajeng dengan sorot mata tegas.


"Terima kasih, tunggu sebentar! Aku akan titip semua urusan pada asistenku!"


Kevin berlari lagi ke dalam perpustakaan, tak lama berselang ia kembali.


"Mau dimana?" tanya Ajeng.


"Kantin pasti penuh ya? Kita makan di luar apakah memungkinkan? Yang dekat saja," ucap pria itu.


"Baiklah!" ucap Ajeng.


"Kamu benar-benar jadi dosen di kampus kita?" tanya Kevin menyesap cappucino miliknya.


"Iya begitulah," jawab Ajeng singkat.


"Baguslah! Kamu memang benar-benar memegang komitmenmu."


"Sudah kubilang dulu kan?!"


"Iya, aku tidak pernah meragukan kamu, Jeng!"


"Kamu juga, tampaknya perusahaan ayahmu sudah jauh lebih baik, bukan begiu?" tanya Ajeng sambil menyuap cheese cakenya.


"Ya sebenarnya sejak aku di Amerika pun, kondisi perusahaan Papi sudah merangkak naik. Namun setelah aku kembali, aku bisa mengembangkannya," terang Kevin.


Ajeng tersenyum kaku. Sebenarnya hatinya tidak tenang, karena ia kemari tanpa sepengetahuan Ferdian. Ia jadi tidak enak hati.


"Apa kamu masih ingat janji kamu untuk aku?" tanya Kevin memicingkan matanya.


"Janji apa?" tanya Ajeng menaikan alisnya.


Kevin terkekeh.


"Janji untuk tunggu aku," ucapnya pelan.

__ADS_1


Jantung Ajeng berdegup. Namun hatinya bertanya, sejak kapan ia berjanji yang demikian pada Kevin.


"Apa aku pernah mengatakan hal seperti itu?"


"Ya, aku sangat mengingatnya. Dulu kamu bilang, carilah aku di kampus, karena aku akan mengajar disana!" ujar Kevin tersenyum.


Ajeng tertawa-tawa saja dengan terpaksa.


"Kamu anggap dulu aku berjanji untuk menunggu kamu, maksudnya apa?" tanya Ajeng.


"Aku anggap saat itu, kamu mau tunggu aku sampai pulang dari Amerika dan meneruskan hubungan kita yang tidak pernah kita ikrarkan," ucap Kevin.


Ajeng kembali tertawa singkat, ia berdecak.


"Ya ampun Kev, saat itu aku bahkan gak pernah berpikiran ke sana!"


"Sampai saat ini pun aku masih berharap sama kamu, Jeng!"


Ajeng menggeleng-gelengkan kepala, terdengar konyol perkataan Kevin itu.


"Apa kamu gak bisa lihat kalau aku sedang hamil? Aku sudah menikah Kev!" sergah Ajeng mencoba membuat pria itu sadar.


"Aku tahu kamu menikah karena perjodohan kan? Kamu terpaksa menikahi suami kamu itu kan?" ucap Kevin dengan intonasi tinggi.


"Memang benar, tapi aku mencintai suamiku! Sadarlah Kev, masih banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dari aku!"


"Aku tidak bisa, Jeng! Aku cuma cinta sama kamu seumur hidupku!"


"Astaga! Lebih baik aku pergi dari sini!"


Ajeng segera berjalan ke luar kafe. Ia tidak peduli lagi pada pria yang dianggapnya kawan lamanya itu. Kevin benar-benar sudah gila. Seharusnya ia tidak menyetujuinya ajakan makan siangnya. Ajeng melangkahkan kakinya ke luar. Ia hendak menyeberang jalan, seketika itu mobil Ferdian melintas di depannya, dan suaminya itu melihatnya. Kevin menarik lengan Ajeng yang baru saja mau menyeberang jalan.


"Kamu gila? Bahaya menyeberang tanpa aba-aba!" teriak Kevin.


"Kamu yang lebih gila, Kev!" teriak Ajeng berusaha melepaskan tangannya itu dari cengkraman Kevin.


"Lepasin, Kev! Aku mau pergi!"


Bukannya melepaskan cengkramannya, pria itu malah semakin mengeratkan tangannya.


Beberapa orang yang melintas melihat ke arah mereka dengan tatapan keheranan.


"Lepasin tangan istriku!"


\=\=\=\=\=


Bersambung dulu....


Like, Comment, vote, dan tipsnya ya buat semangatin Author lanjutin cerita ini


Thank Youuuu 😘😘

__ADS_1


__ADS_2