
Nada ponsel milik Ajeng berdering ketika wanita itu tengah berada di kamar mandi apartemennya. Ajeng sedang pulang dulu dari rumah sakit dan bersiap untuk mengajar hari itu. Sementara Ferdian akan dijaga oleh bundanya di rumah sakit.
Ajeng memeriksa ponselnya ketika deringnya itu berhenti. Siapa? tanyanya dalam hati.
Ponselnya kembali berdering dan ia langsung mengangkat panggilan dari nomor yang tak dikenalnya itu.
"Halo?" sapa Ajeng.
"Halo Jeng," suara berat pria yang ia kenal, itu Ardi.
"Kenapa Di?" tanya Ajeng.
"Sore ini kamu ada waktu sebentar?" tanya Ardi, nadanya terdengar ragu-ragu.
"Emang ada apa?"
"Ada hal yang ingin aku sampaikan," jawabnya tegas.
Ajeng mengernyitkan dahinya.
"Seberapa penting?" tanyanya memastikan.
"Sangat penting," jawab Ardi.
"Boleh deh, tapi aku gak bisa lama-lama ya," jawab Ajeng.
"Thanks, nanti janjian di Kafe Roxie aja ya jam 4," ujar Ardi.
"Oke, see you!"
\=\=\=\=\=
Pagi itu entah kenapa hari terasa ramai. Entah hanya perasaan Ajeng saja, ketika ia berjalan banyak orang berbisik-bisik sambil meliriknya. Padahal biasanya mahasiswa-mahasiswa akan menyapanya dengan ramah. Namun hal itu tidak ia pedulikan.
Ia masuk ke dalam kelas mahasiswa semester 5 kelas B untuk mengajar.
Tiba-tiba, pintu kelas diketuk setelah semua mahasiswa berkumpul di dalam.
"Sorry, Jeng! Boleh minta izin sebentar? Saya perlu ketemu sama kordinator kelas ini," ujar Ardi yang berdiri di pintu.
"Oh, sure!"
"Just a minute, kok!" ujar Ardi lagi, kemudian seorang mahasiswa laki-laki berlari menghampiri Pak Ardi dan berbicara dengannya di luar.
Sementara itu, mahasiswa-mahasiswi di dalam kelas terdengar ribut meski mereka hanya berbisik-bisik, sebagian lagi tertawa kecil, dan sebagiannya berdehem.
Ajeng yang melihat keributan itu tampak kesal.
"Would you silent, please!" (Bisa tolong diam?!)
Semuanya kompak terdiam.
"Okay, Jeng, thank you so much!" ucap Ardi tersenyum. Ajeng hanya membalasnya dengan anggukan saja.
Tiba-tiba Ajeng menatap dingin para mahasiswanya, membuat kelas terasa lebih tegang dari biasanya. Ia tidak banyak bicara dalam kelas, dan menyuruh mahasiswanya untuk langsung mengerjakan kuis di hari itu.
Sekelompok mahasiswi dari kelas B berkumpul di taman. Mereka tampak asyik berbincang sambil menunggu perkuliahan berikutnya.
"Sumpah tegang banget hari ini, Miss Ajeng kenapa ya?" ucap seorang mahasiswa cantik setelah perkuliahan Ajeng selesai.
"Gara-gara tadi kita ribut mungkin," ucap temannya yang lain, yang berambut ikal.
"Iya, sebenernya kita kan cuma mau menggoda Miss Ajeng soalnya ada Pak Ardi di luar," ujar mahasiswi lain yang berambut merah.
"Lagian itu Miss Novi yang bikin heboh, posting foto Pak Ardi dan Miss Ajeng berduaan, kan jadi bahan ghibah mahasiswa se-fakultas," timpal si mahasiswi cantik.
"Iya, wajar dong, doi-doi ini dosen favoritnya mahasiswa, jadi kita seneng-seneng aja ya kalau jodohin mereka berdua. Atau jangan-jangan, Miss Ajeng sebenarnya udah punya pacar, makanya moodnya jadi jelek pas kita ribut tadi," ucap mahasiswi berambut ikal.
"Eh tau ga, kemaren di kelas A juga heboh tuh!" Sekarang mahasiswi tinggi berambut panjang mencoba menceritakan gosip baru.
"Apaan tuh?" tanya teman-teman cewek yang lainnya.
"Ferdian kan habis kecelakaan tuh, pas mata kuliah Bu Resti, Miss Ajeng minta izin masuk terus ngasih surat. Pas Bu Resti buka ternyata isinya surat izin dokter untuk Ferdian dong," cerita si mahasiswi tinggi.
"Wah masa?"
"Iya bener, gue dapet cerita dari Sally! Terus Bu Resti tanya, 'kok Miss Ajeng ya yang nitip surat Ferdian, emang ada hubungan apa Ajeng sama Ferdian?' gitu katanya," jelasnya lagi.
__ADS_1
"Wah keren banget gosipnya. Tapi emang gue juga penasaran kok bisa Ferdian titip surat sakit sama Miss Ajeng? Miss Ajeng gitu lho, pesonanya tiada tandingannya, kelihatan banget high level woman gitu, mungkin gak sih kalau Miss Ajeng pacaran sama Ferdian?" tanya si mahasiswi cantik.
"Bisa aja kali! Ferdian ganteng, keren, tajir, siapa yang mau nolak coba?!" cetus mahasiswi berambut ikal.
"Iya juga sih! Tapi kasian Pak Ardi dong, pedekatenya gagal! Mending sama gue aja, Pak!" seru si mahasiswi berambut merah.
"Oh iya gue baru inget, si Ferdian juga keceletot tuh ngomong Sayang sama Miss Ajeng di dalem kelas! Gila gak sih?! Gue mah denger aja ceritanya dari Sally sama Lisa yang sekelas sama mereka," ternyata gosip pun masih berlanjut.
"Masaaaa?!! Ketiga mahasiswi lainnya sontak membelalakkan mata.
"Iya bener tau, si Ferdi sampai disorakin sekelas coba!" ujar si mahasiswi tinggi.
"Wuih cinta segitiga ini mah dong," celetuk mahasiswa berambut merah.
"Kita lihat aja nanti perkembangan hubungan mereka, lebih asyik gosipin orang-orang kampus ya daripada lihat artis di TV," seru mahasiswi berambut panjang.
"Bangeeet! Yuk ah cari makan, mumpung kelas masih lama nih," ajak mahasiswi berambut ikal.
Keempat mahasiswi tukang gossip pun melenggang maju menuju kantin fakultas, sambil tertawa-tawa geli.
\=\=\=\=\=\=
Sore itu, Ajeng mengunjungi kafe Roxie untuk bertemu Ardi sesuai dengan janjinya. Pikirannya sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan dibicarakan Ardi padanya. Apakah karena surat Ferdian? Ataukah hal lain? Ia hanya duduk termenung di kursi dekat meja bar kasir.
"Udah lama Jeng?" tanya Ardi yang baru saja tiba.
"Enggak kok, baru aja nyampe!" jawab Ajeng sambil melihat buku menu.
"Kamu mau pesen apa?" tanya Ardi mencoba menenangkan hatinya sendiri.
"Aku pesen minuman aja deh," jawab Ajeng sambil menunjuk sebuah gambar minuman matcha latte.
"Oke!"
Pelayan datang dan mencatat menu yang dipesan mereka.
"Kamu mau ngobrol apa sama aku?" tembak Ajeng tidak berbasa-basi.
Hal itu tentu saja membuat Ardi semakin gugup dan salah tingkah. Ia berdehem.
"Kamu lagi sibuk banget, ya Jeng?"
Ardi hanya meng-oh-kan saja. Ia menghela nafasnya. Ardi merogoh tas ranselnya, kemudian menggenggam sebuah kotak kecil. Ia menyodorkan kotak kecil berwarna navy berbahan beludru itu di depan Ajeng.
Ajeng menatapnya penuh keheranan. Alisnya mengernyit tidak mengerti.
"Seseorang bilang, tidak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang kita yakini. Dan aku kira, aku akan coba ini sekarang di depan kamu," terang Ardi sambil membuka kotak kecil yang berisi sebuah cincin emas dengan kilau permata di tengahnya. Sangat simpel tetapi cantik.
"Maksudnya?" tanya Ajeng tidak mengerti.
Hati Ardi berdebar tidak karuan melihat wanita di depannya itu menatapnya keheranan.
"Aku ingin mencoba menjalani hubungan serius sama kamu, Jeng!" ujar Ardi, sambil menatap lembut wanita yang ada di depannya itu.
Ajeng terkekeh geli. Ia mencoba menghargai pria yang ada di depannya itu tanpa menyakiti hatinya lebih lama. Ajeng menghela nafas, sebelum akhirnya pelayan mengantar pesanan keduanya.
Ajeng menyeruput kecil segelas matcha latte yang dingin. Pikirannya melayang, apakah ia harus mengatakannya yang sebenarnya atau biar saja pria di depannya ini mengetahuinya nanti? Ia sama sekali tidak ingin menyakiti hati pria itu, meskipun pasti tetap bakal menyakiti hati Ardi.
"Ajeng! Apa aku punya kesempatan sekarang?" Tanyanya lagi, memang pria itu sempat mengutarakan perasaannya dulu, hanya saja tidak cukup serius sehingga Ajeng tidak menggubrisnya.
"Aku ingin datang ke rumah kamu, dan melamar kamu di depan Papa kamu," ujarnya lagi, kali ini intonasinya benar-benar tegas.
Lagi-lagi Ajeng hanya menghela nafasnya dan menghembuskannya kasar.
"Ardi, you're a good man. And a good man deserves a good woman. But honestly I'm not that woman, you deserve better," (Ardi, kamu itu pria baik, dan pria baik layak mendapatkan perempuan yang baik. Tapi sayangnya bukan aku perempuan itu, kamu berhak dapatkan yang lebih baik!).
"Tapi aku kira kita benar-benar cocok satu sama lain," ucap Ardi, nadanya terdengar kaku.
"Sebagai teman iya, tetapi sebagai pasangan kamu berhak dapatkan yang jauh lebih baik dari aku, dan...." Kalimat Ajeng terputus.
"Dan....?"
Ajeng membuka cincin di jari manisnya. Ia menunjukan pada pria itu.
"Dan aku sudah menikah, Di!"
JLEB.
__ADS_1
Bagai tertusuk sebuah tombak, hati Ardi terasa sakit sekali, membuat matanya berkaca-kaca dan tak sanggup berkata apapun.
"Maafkan aku, Di! Aku menyembunyikan pernikahanku sendiri, aku tahu ini salah dan banyak membuat orang juga salah paham. Aku harap kamu mengerti," terang Ajeng menundukkan pandangannya dan memakai kembali cincin nikahnya.
"Sejak kapan kamu nikah?"
"Belum lama ini, sekitar dua bulan usia pernikahan kami," jelas Ajeng.
Ardi memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Selamat ya, Jeng! Aku benar-benar terlambat," katanya menertawai dirinya sendiri.
"Kamu masih bisa cari perempuan yang lebih baik dari aku, Di!"
"Ya, sepertinya! Hanya saja mungkin butuh waktu lama untuk move on dari kamu," ucap Ardi terkekeh.
"You can do it! Oh come on, we're still friends, right? (Kita masih berteman bukan?)" ucap Ajeng menyemangati.
"Of course!" Ucap Ardi menguatkan hatinya.
Ardi menghembuskan nafasnya kasar. Ia menarik lagi kotak itu dari hadapannya dan kembali menyimpannya di ranselnya.
"Jadi siapa nama suami kamu? Mungkin lain waktu kamu bisa kenalin sama aku," tanya Ardi yang tentu saja sangat penasaran dengan lelaki yang bisa menaklukan perempuan cantik di depannya itu.
Ajeng tertawa kecil. Rasanya ia tidak akan sanggup membuka identitas suaminya di depan Ardi.
"Hey, jawab! Malah ketawa-ketawa gitu," seru Ardi tidak sabar.
Ajeng memejamkan matanya. Ia menatap Ardi.
"Aku udah kasih tau kamu," jawabnya membuat Ardi kebingungan.
"Kapan?" tanya Ardi karena merasa Ajeng tidak pernah memberi info apapun.
"Kemarin! Aku kasih surat itu sama kamu! Ada namanya kan?" ujar Ajeng tersenyum.
JLEB.
Tombak kedua menusuk lagi hati Ardi, membuat pria itu semakin parau lidahnya. Darahnya tidak bersimbah, namun kenapa lukanya begitu sakit.
Ferdian?! Mahasiswa itu? Benar-benar suami Ajeng?! tanyanya dalam hati yang diselimuti keraguan. Mengapa bisa? Seroang mahasiswa menaklukan hati seorang Ajeng?! Pikirannya terus menerus dilanda ketidakyakinan.
"Ferdian? Suami kamu?!" tanya Ardi memastikan bahwa yang ada di dalam benaknya itu hanyalah sebuah ilusi.
Tapi anggukkan Ajeng dan senyuman berserinya menegaskan kalau jawaban itu memang benar.
Ardi benar-benar tidak menyangka. Selama ini ia pikir Ferdian hanya sebatas mengagumi Ajeng, seperti mahasiswa lainnya, sehingga ia melakukan hal bodoh seperti kemarin ia lihat. Ternyata mahasiswanya itu memang sedang cemburu ketika dirinya sedang kedapatan mendekati Ajeng.
"Congrats for both of you (Selamat untuk kalian berdua)!" hanya itu yang bisa disampaikan Ardi dengan lidahnya yang sedang kelu.
Ajeng tersenyum tipis dan menghabiskan minumannya.
"Ardi, sepertinya aku harus cepat pulang, karena suamiku sedang menunggu di rumah sakit," pamit Ajeng.
"Oh iya, iya, dia pasti sangat membutuhkan kamu!" seru Ardi menanggapi.
"Maafin aku ya, kita tetap berteman seperti biasa kan? Soalnya aku juga masih butuh bantuan teman seperti kamu," tanya Ajeng sebelum pergi.
"Tentu saja!"
"Thanks Di! Aku pulang dulu ya, bye!"
"Bye!"
Wanita itu melenggang keluar cafe setelah membayar pesanan miliknya dan juga Ardi. Hatinya terasa lega karena ia tidak menutupi informasi apapun pada Ardi. Mungkin memang sebaiknya ia beritahukan saja kepada orang-orang di kampus kalau dirinya dan Ferdian adalah sepasang suami istri, sehingga gosip yang beredar di kampus mungkin akan hilang dengan sendirinya.
Sedangkan Ardi masih terdiam di tempat duduknya, menertawai dirinya sendiri yang sedang terluka. Pikirannya melayang, ia sadar ia begitu bodoh mengapa baru kali ini ia bisa berbicara serius dengan Ajeng. Sudahlah, semuanya sudah terlambat, pikirnya dalam hati. *You should move on, Ardi! *ujarnya dalam hati.
\=\=\=\=\=\=
Gimana, lega?
Yuk Vote, Like dan Comment ya
Thank you 🤗
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Yang baru nolak temen dan langsung cuss ke rumah sakit buat ketemu suami tercinta ❤️