Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 47


__ADS_3

Ferdian menatap lekat istrinya yang wajahnya agak terlihat pucat, terutama setelah ia muntah-muntah tadi. Ajeng mengajaknya bicara serius meskipun ia juga masih merasa ragu untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Aku tahu ini belum pasti terjadi, tetapi aku ingin tahu gimana pendapat kamu," ujar Ajeng, matanya berkilauan.


"Jelasin aja, Sayang!" ujar Ferdian yang tidak sabar apa maksud istrinya itu.


"Seandainya aku hamil saat ini, menurut kamu gimana?" tanya Ajeng menatap tajam mata Ferdian.


Ferdian tampak menelan air liurnya. Wajahnya menegang dan rahangnya mengeras. Kemudian ia terkekeh sebentar.


"Emang kamu hamil?" tanyanya mengalihkan pandangannya ke bawah meja.


"Kan aku bilang, seandainya! Akhir-akhir ini aku selalu merasa kecapean, pegal-pegal pinggang, juga mual. Makanya aku sering makan yang manis dan segar untuk mengurangi rasa mualku," terang Ajeng panik.


Ferdian tersenyum. Senyumannya terasa kaku bagi Ajeng. Ia membelai rambut Ajeng.


"Tapi bukannya kamu mengkonsumsi pil kb?" tanya Ferdian memastikan kalau istrinya benar-benar meminum pil KB setiap hari.


"Iya, tapi aku sempet lupa waktu itu, dan kita berhubungan malam itu setelah kamu pemotretan," terang Ajeng.


Ferdian mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Ia menghela nafas. Kemudian, ia kembali memegang wajah Ajeng dan menantapnya tajam.


"Kita harus mempersiapkan diri ya!" ucap Ferdian, membuat hati Ajeng merasa lega. Ia tahu, Ferdian pasti juga akan mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ayah, cepat atau lambat, meski ia juga masih belum lulus kuliah.


Ajeng memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang suami. Ferdian membalas pelukan itu lembut, tangannya membelai istrinya dari puncak kepala sampai punggungnya. Kenyamanan inilah yang akan selalu dicari Ajeng dimana pun ia berada. Berada dalam pelukan suami membuatnya jauh lebih tenang dan rileks. Ajeng merasa lebih siap dengan kemungkinan kehadiran buah hatinya kali ini.


\=\=\=\=\=


Ferdian menatap dirinya di cermin kamar mandi setelah aktivitas sikat giginya selesai malam itu. Hatinya cemas dan jantungnya berdebar kencang. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya setelah Ajeng berkata tadi siang. Ferdian menghembuskan nafasnya panjang, mencoba menenangkan dirinya. Matanya terpejam mengingat sesuatu yang selalu menghantuinya selama 10 tahun sejak usianya 5 tahun.


Ada hal yang tidak diketahui istrinya selama ini. Ferdian pikir dirinya telah siap dengan hal ini, namun mendengar Ajeng berkata seperti tadi ia kembali menjadi ragu. Apakah ia benar-benar siap? Mengingat perjuangan untuk lepas dari mimpi buruknya selama kurang lebih 10 tahun adalah perjuangan yang tidak sebentar dan tidak mudah.


Ferdian membasuh mukanya dengan air dingin.

__ADS_1


"Sayang?" panggil Ajeng dari luar.


"Iya?"


"Kamu lagi apa?"


"Baru selesai sikat gigi dan cuci muka," jawabnya jujur.


"Yuk tidur!" ajak Ajeng.


"Iya sebentar aku lap muka dulu," ujar Ferdian.


Ah kenapa ia jadi ragu begini. Padahal ketika ia menjawab pertanyaan Ajeng sebelum menikah, dengan mantap ia mengatakan akan siap menanggung semua peran dan segala sesuatu yang akan terjadi dalam sebuah pernikahan. Seharusnya, ia juga siap ketika akan memiliki buah hati. Bukankah hal itu adalah sesuatu yang didambakan setiap pasangan yang telah menikah.


Ferdian keluar dari kamar mandi dan menghampiri istrinya yang telah berada di atas kasur. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


"Kok muka kamu kaya yang lesu gitu sih?" tanya Ajeng memergoki wajah lesu suaminya.


"Aku cuma ngantuk, Sayang!" ucap Ferdian sedikit beralasan.


Ferdian menelentangkan tangan kanannya agar kepala Ajeng bisa bersandar di sana. Ia mengecup kening istrinya sebelum tidur, seperti yang selama ini ia lakukan. Matanya terpejam, namun hatinya masih merasakan kegelisahan. Meski ternyata rasa lelahnya mampu menaklukan kegelisahan yang ada di dalam pikirannya itu, pria itu pun tertidur lelap.


Tubuh Ferdian berpeluh keringat. Wajahnya tampak gelisah meski ia sedang tertidur. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri bergantian secara cepat. Tangannya mengepal dan menegang. Tiba-tiba tubuhnya terperanjat, ia terbangun dengan nafas terengah-engah.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ajeng yang ikut terbangun.


Ferdian tidak menjawab. Nafasnya masih menderu. Ia mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat. Ajeng memberinya sehelai tisu dan mengambilkan gelas yang telah berisi air putih di nakasnya.


"Minum dulu, Sayang!" ujar Ajeng memberikan gelas itu pada suaminya.


"Makasih, Sayang!" ucap Ferdian lemah.


"Kamu mimpi apa sampai terbangun gitu?" tanya Ajeng penasaran.

__ADS_1


"Enggak tau, aku enggak ingat!" ucap Ferdian menutupi.


"Udah tenang?"


Ferdian mengangguk dan kembali membaringkan tubuhnya kembali. Ajeng mengusap kepala suaminya agar ia merasa lebih tenang. Ferdian mencoba memejamkan matanya. Sementara Ajeng terus mengusap kepala suaminya sampai ia tertidur kembali.


\=\=\=\=\=


Minggu itu telah tiba. Perasaan Ajeng harap-harap cemas. Seminggu ini ia tidak mengalami mual-mual, hanya saja ia masih tetap doyan memakan makanan manis dan buah-buahan segar. Ia juga tidak selera dengan menu daging-dagingan apalagi daging sapi dan kambing.


Ajeng mengeluarkan sebuah testpack dari tasnya yang dibelinya dari apotek kemarin. Untuk berjaga-jaga, ia membeli dua buah testpack. Pagi itu, sengaja ia bangun lebih awal sebelum azan subuh berkumandang. Karena memang ia juga berencana untuk memasakan Ferdian bekal ke kampusnya. Ajeng berjalan menuju kamar mandi dan mengecek hasil kehamilannya. Dua garis merah samar terlihat pada testpack. Ia mengernyit, apa ini positif? Ia masih ragu-ragu, sepertinya ia harus segera memeriksakan dirinya pada Dokter Sita.


Ajeng berjalan keluar dari kamar mandi menuju kamarnya, ia masih menggenggam testpack yang dipakainya. Ia begitu terkejut ketika Ferdian berada di depannya, karena tadi ia tinggalkan suaminya itu masih lelap tertidur.


"Kamu mau kemana?" tanya Ajeng sedikit terkejut.


"Aku mules!" jawab Ferdian memegangi perutnya. Ia menatap tangan Ajeng yang memegangi sebuah benda asing.


"Udah cepetan sana!" seru Ajeng, ia tahu pasti suaminya itu hendak menanyakan benda yang dipegangnya.


Ajeng menaruh testpack di dalam laci nakasnya. Kemudian ia berjalan menuju dapur untuk mulai memasak. Sementara itu Ferdian telah selesai membuang hajatnya. Ia mengelus-elus perutnya yang terasa lega. Lalu mencari sosok istrinya itu. Namun ia tahu, istrinya itu kini tengah sibuk di dapur. Walhasil, ia coba mencari tahu dimana letak benda yang tadi dipegang istrinya itu.


Ketemu. Ia memperhatikan dua garis merah yang samar. Apakah ini positif? Tanya Ferdian dalam hati. Namun ia sudah memantapkan hatinya kalau pasti Ajeng positif hamil. Kecemasan dan kegelisahan kembali melanda dirinya. Apakah dia membutuhkan bantuan psikiater lagi untuk memulihkan kecemasannya?


\=\=\=\=\=


Kira-kira ada yang bisa nebak, ada apa dengan Ferdian?


Hmm...


Lanjut bacanya lagi besok yaa


Like, Comment dan Vote dulu dong biar semakin semangat

__ADS_1


Thank youuuuu ^^


__ADS_2