
Haloo sebelum mulai baca, saya kasih visual bonus dulu yaa :D
[Visual Ridho yang sudah langsing, dan Patricia si bule Italia cantik]
\=\=\=\=\=
Langit gelap tanpa awan menyelimuti negara bagian Illinois, Amerika Serikat. Bunyi hembusan angin terdengar menyelisik melalui celah-celah jendela yang terbuka. Udara dingin di musim semi terasa di malam itu. Ridho yang mengenakan kacamatanya, tengah mempelajari materi-materi yang didapatkan hari itu di laptop miliknya. Sinar laptop yang terang terpantul di kacamatanya. Apalagi materi tadi siang berkaitan dengan ilmu marketing digital, pekerjaan yang digelutinya setahun belakangan ini.
Sebuah ketukan pelan terdengar datang dari pintu kamarnya. Ia mengernyitkan matanya sambil memperbaiki kacamatanya. Malam memang belum terlalu larut, tetapi siapa yang datang? Pria yang sudah mengenakan baju tidurnya itu menghampiri pintu kamarnya, mengintip di sebuah lubang kecil untuk mengetahui siapa tamunya malam itu.
Patricia?!
Hatinya cukup terkejut. Mengapa wanita itu mendatanginya malam seperti ini. Ia tahu hubungan pertemanan dengannya sedikit aneh mengingat percakapan terakhir mereka di pesisir Danau Michigan hari Minggu. Setelah itu, ia bersikap seperti biasa, Patricia yang akrab dan ceria.
Ridho membuka kunci dan pintu kamarnya. Wanita di hadapannya itu tersenyum lebar, sambil mengucapkan ‘Hai’. Ia membawa dua gelas hot chocolate yang asapnya masih mengepul. Ridho mengernyitkan alisnya, apalagi ketika melihat pakaian tidur Patricia yang mini dengan atasan yang memperlihatkan lengan ramping wanita itu. Begitu pula dengan celana kaosnya yang pendek menunjukkan pahanya yang putih dan mulus.
“Mau apa kau datang kemari?” tanya Ridho tanpa melihat wanita itu. Berusaha mungkin ia tidak akan memperhatikan wanita itu. Ia masih berdiri menghalangi pintu kamarnya.
“Aku hanya ingin memberimu ini saja!” ucapnya sambil menyodorkan minuman cokelat panas di tangan kanannya.
Ridho mengambilnya, aroma cokelat yang manis membuatnya nyaman. Ia menghirupnya sedikit. "Terima kasih," ucapnya.
Patricia sedikit menubruk lengan pria di hadapannya itu, ketika ia menerobos masuk ke dalam kamar Ridho tanpa seizin pria itu. “Hei!” sergah Ridho.
“Aku hanya ingin melihat kamar pria saja,” ucapnya santai sambil memperhatikan ke sekeliling kamar pria yang masih terpaku berdiri di pintunya.
“Kau rajin sekali ya, kamarmu juga rapi!” komentarnya ketika melihat laptop yang menyala dan sprei kasurnya yang rapi. Wanita itu duduk di atas kasurnya, sambil sesekali menyesap minuman cokelatnya.
Ridho menghela nafas, sambil terus merapalkan nama Tuhannya karena ada penggoda bernama Patricia masuk ke dalam kamarnya. Bagaimana tidak, wanita yang berpakaian mini itu, sesekali memainkan kakinya yang jenjang dan ramping, lalu membungkukkan tubuhnya, belahan dadanya terlihat meski sedikit. Ridho mengalihkan pandangannya ke arah lain, ke lorong lantai di luar. Jantungnya berdegup kencang sekali. Baru kali ini ia merasakan perasaan ini, antara cemas, khawatir, dan gugup. Terlalu banyak setan berkeliaran di sini, pikirnya.
“Kalau tidak ada hal penting, silakan keluar. Aku mau belajar lagi!” ucapnya tanpa sekalipun melirik wanita itu, ia berusaha tidak menyinggung perasaan wanita itu meski mungkin ia tetap saja mengusirnya.
“Pelit sekali kamu. Aku hanya ingin belajar bersamamu,” jawab Patricia, kini ia beranjak dari kasur. Lalu mulai menghampiri pria yang sudah sedikit berada di luar.
“Lebih baik kamu belajar dengan teman perempuanmu yang lain.”
“Aku hanya ingin belajar denganmu, Ridho!” ucap Patricia yang kini sudah berdiri di belakang Ridho. Ia menarik lengan pria itu dan masuk ke dalam kamarnya.
Jantung Ridho meledak. Patricia menahannya di sisi pintu yang menempel di tembok. Pintu kamar itu masih terbuka lebar, tetapi karena kamar Ridho terletak di ujung, jadi siapapun pasti tidak tahu kalau kamar itu sedang terbuka.
Pria itu menahan nafasnya ketika ia sadar wajah Patricia begitu berdekatan dengan wajahnya. Ia menarik wajahnya sampai benar-benar menempel pada daun pintu. Wangi tubuh Patricia beraroma strawberry tercium jelas oleh hidungnya.
“Mau apa kau?” tanya Ridho, suaranya bergetar. Jantungnya meledak-ledak, ia tak peduli jika wanita itu bisa mendengarnya. Ia hanya ingin mendorong wanita itu keluar dari kamarnya.
“Kau itu lucu sekali. Mengapa menghindar dariku? Laki-laki lain selalu ingin mencicip bibirku yang manis ini. Dan kau malah mengernyitkan matamu ini!” ucap Patricia dengan suaranya yang sedikit mendesah, ia melepas kaca mata Ridho, lalu ia pasangkan di matanya.
“Hanya minus sedikit, kau pasti baru saja menggunakan kaca mata ya?” tanyanya.
Ridho tidak menjawab, ia hanya terus berusaha menahan nafasnya. Patricia memperhatikan wajah pria yang terlihat gugup setengah mati di depannya. Satu persatu bagian ia pandangi. Sementara Ridho terus menatap ke arah lain.
“Kamu tampan dan menarik. Kulitmu bersih, meski ada bekas noda jerawat di sini dan di sini,” jarinya menunjuk sekaligus menyentuh hidung dan dagu Ridho. Darah pria itu berdesir seketika.
Kaca mata milik Ridho itu lalu dilepasnya dan dipasangkan kembali di mata pria itu.
“Aku akan kembali ke kamarku,” ucap Patricia. Perkataan itu membuat hati Ridho lega meski sesaat. Karena selanjutnya, jantungnya itu kembali meledak bagai kejatuhan bom nuklir, ketika Patricia berhasil mencuri kecupan lembut di bibir tebalnya.
BRUK.
“Apa kau gila?!” dengan refleks Ridho mendorong tubuh wanita itu dan terjerembab ke atas karpet kamarnya.
“Cepat keluar dari kamarku sekarang!” teriak Ridho, ia dikuasai amarah. Tak menyangka wanita itu akan melakukan hal gila untuknya.
Patricia berdiri. Ia tersenyum menyeringai pada pria yang kini nafasnya tengah memburu tidak teratur. Lalu berjalan keluar kamar Ridho dengan santai.
Ferdian mendengar teriakan Ridho tadi, membuatnya keluar dari kamarnya. Ia berpapasan dengan Patricia yang tersenyum meringis ke arahnya. Lalu tatapannya beralih kepada sahabatnya yang bernafas terengah-engah.
“Kamu kenapa Dho?” tanya Ferdian kebingungan setelah ia mengikuti Ridho masuk ke dalam kamarnya.
Ridho berusaha menjambak rambutnya yang pendek itu, tetapi tidak bisa, karena potongan rambutnya tidak bisa digenggamnya. Ia membungkuk di kursi belajarnya sambil beristighfar terus dan terus, lalu mengusap wajahnya beberapa kali.
Ferdian menatapnya bingung. Apa yang sebenarnya terjadi antara Ridho dan Patricia tadi, sampai sahabatnya itu terlihat menahan amarahnya.
“Dho kamu gak apa-apa?” tanya Ferdian lagi.
Ridho menghembuskan nafas kasarnya.
“Perempuan tadi gila, Fer!”
“Maksud kamu?” tanya Ferdian mengernyitkan alisnya.
“Pokoknya gila! Aku gak mau ketemu sama dia lagi!”
“Jelasin apa yang terjadi, Dho! Aku bakal simpan rahasia kamu, kita udah janji kan bakal saling bantu?”
Ridho menghela nafasnya.
“Dia cium aku tadi!”
“Patricia?”
“Siapa lagi? Gila kan?! Di bibir lagi!”
Ferdian terkejut dan menggeleng-geleng tidak percaya. Bagaimana bisa hal itu terjadi pada sahabatnya yang selalu dipandang cukup alim olehnya.
“Kok bisa kejadian gitu?”
“Aku gak mau bahas itu, Fer! Ini salah aku udah bukain pintu buat dia.”
Ferdian hanya bisa berempati pada sahabatnya itu, ia sendiri pun kebingungan akan memberi nasihat apa. Toh selama ini dia tidak pernah mengalaminya, kecuali dulu oleh calon istrinya sendiri. Tetapi beda situasi karena ia sudah sangat menyukainya. Sedangkan Ridho dan Patricia, bahkan baru sebulan ini mereka kenal itu pun masih asing. Meski Ridho sepertinya sudah sadar dengan ketertarikan Patricia padanya, tetapi ia adalah pria yang cukup bisa menjaga diri. Namun malam ini, sahabatnya itu kecolongan.
“Aku mau sholat taubat Fer! Gak tau gimana lagi biar Allah maafin kebodohan aku.”
“Ya udah, aku balik lagi ke kamar. Kalau butuh apa-apa, aku siap dengarkan.”
Ferdian berjalan keluar dari kamar Ridho ketika sahabatnya itu terus berusaha menarik rambutnya. Ia hanya berharap Ridho baik-baik saja.
\=\=\=\=\=
Ferdian memperhatikan sahabatnya, Ridho, yang terlihat pucat wajahnya. Ridho mengaku kalau kepalanya sedang sakit, karena tidak bisa tidur semalaman. Namun begitu, pria itu tetap saja ngotot untuk masuk ke dalam kelas. Padahal Ferdian sudah memintanya untuk mengunjungi klinik kecil yang berada di bawah gedung.
Sementara Patricia merasa cemas dan bersalah, apalagi ketika dilihatnya Ridho tampak pucat dan lemas. Ia merasa bodoh karena melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya pada Ridho. Entah mengapa, ketertarikan dirinya pada Ridho membuat dia tidak bisa berpikir waras. Meski sebenarnya dalam kebudayaan bangsanya, hal tersebut adalah hal biasa. Tetapi bagi Ridho, tentu saja ciuman itu sesuatu yang mahal dan berharga yang dicurinya tadi malam.
__ADS_1
“Mr. Effendi apakah kau baik-baik saja?” tanya sang mentor yang memberi materi hari itu.
“Ya, Sir!”
“Mukamu pucat sekali, sebaiknya kau pergi ke klinik sekarang!” serunya. “Apakah diantara kalian ada yang bisa mengantarnya?” tanyanya lagi.
“Saya, Sir!”
Baru saja Ferdian hendak mengangkat tangannya, ternyata Patricia lebih dahulu menawarkan diri.
Ridho bersungut kesal ketika melihat wanita itu.
“Lebih baik saya pergi sendiri saja, Sir! Terima kasih atas perhatiannya,” ucap Ridho sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan pelan menuju keluar kelas.
“Saya akan mengantarnya, Sir! Izinkan saya!” pamit Ferdian
Sang mentor pun mengangguk, dengan cepat Ferdian menyusul sahabatnya itu sambil melirik pada Patricia yang terlihat kecewa.
Sementara Patricia menghela nafas, ia sungguh merasa kecewa dengan dirinya sendiri yang telah berbuat bodoh, yang malah semakin menjauhkan dirinya dari pria itu.
Ridho melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift. Ia menahan rasa sakit di kepalanya yang terus saja berdenyut. Ferdian berlari menyusulnya, untung saja pintu lift yang akan tertutup itu masih bisa dihalaunya, ketika Ridho tidak sadar kalau sahabatnya itu datang.
“Kenapa ikut segala, Fer?” tanya Ridho heran.
“Aku cuma khawatir.”
“Rasanya aku gak sanggup lagi ikut pelatihan ini kalau cewek itu masih ada di sana.”
“Kamu gak boleh ngomong gitu, Dho! Aku butuh kamu di sini. Aku akan bantu apapun untuk bisa menyelesaikan masalah kalian berdua.”
“Gak ada masalah antara aku dan dia. Cuma cewek gila itu yang bermasalah.”
“Ya udah, kamu berobat dulu aja, nanti kita obrolin lagi.”
Keduanya pun pergi menuju klinik kecil yang terletak di bawah gedung di samping jalan raya. Setelah mendapatkan obat dan meminumnya, Ridho diizinkan untuk tidak mengikuti kelas.Sementara Ferdian kembali ke dalam kelasnya yang tertinggal kurang lebih tiga puluh menit.
Sore itu, setelah materi usai, Patricia tampak ragu menghampiri Ferdian yang tengah merapikan meja belajarnya di kelas. Wanita itu tertunduk, sambil merapikan anak rambutnya. Wajahnya lesu dan cemas.
Ferdian yang menyadari bahwa di depannya ada wanita itu, menatapnya heran.
“Ada apa?” tanya Ferdian datar.
“Apa dia baik-baik saja?” nadanya terdengar ragu dan lemah.
“Tekanan darahnya rendah, dan kurang tidur. Jadi dia harus benar-benar beristirahat.”
“Oh begitu.”
“Apa kau benar-benar menyukainya?” tanya Ferdian ketika wanita itu hendak berbalik.
Patricia terdiam, lalu mulai berbicara.
“Ah, entah kenapa sejak pertama kali melihatnya di meja makan waktu itu, aku selalu memikirkannya. Dia lucu.”
Ferdian terkekeh kecil, cinta pandangan pertama ternyata benar-benar ada. Ia tidak menampik hal itu, toh dirinya saja mengalaminya ketika melihat Ajeng saat ospek dulu. Hal gila memang bisa terjadi kapan saja.
“Apa kita bisa bicara sebentar?” pinta Patricia ragu-ragu.
“Baiklah.”
Keduanya berjalan melangkahkan kaki bersamaan menuju ruang makan di lantai tiga puluh tujuh. Karena hanya berbeda satu lantai, mereka memutuskan untuk menuruni anak tangga saja, dibanding harus menunggu lift.
“Apa yang terjadi semalam sebenarnya? Aku tidak sengaja mendengar Ridho berteriak,” tanya Ferdian yang baru saja mengambil sepiring french fries dan beberapa potong ayam goreng krispi.
“Tadinya aku hanya ingin membawakannya cokelat panas, tetapi setelah melihat dia yang mengenakan kacamata, aku benar-benar merasa tertarik dan menggodanya sedikit,” jawab Patricia memainkan sendok di gelas minuman sirupnya.
“Dan ciuman itu, apa kau melakukannya begitu saja?”
“Ada sesuatu yang mendorongku untuk melakukannya. Argh, rasanya aku sangat merasa bersalah ketika melakukannya, padahal dengan pria lain aku tidak merasa begini," akunya jujur.
“Itu ciuman pertamanya, kalau kau mau tahu.”
“Apa?!”
“Ya, dia sangat menjaga dirinya. Dia tidak pernah dekat dengan wanita manapun sepanjang aku mengenalnya. Dia hanya ingin mendapat wanita terbaik, jadi dia sangat menjaga dirinya dari hal-hal semacam pacaran atau bermesraan dengan wanita. Karena dalam agama kami, bersentuhan dengan lawan jenis, hal itu dilarang. Apalagi sampai bermesraan dan melakukan aktivitas seperti suami istri.”
“Ya ampun, aku tidak menyangka. Aku merasa menjadi perempuan bodoh yang menodai dia!” ucap Patricia, ia menarik rambut panjangnya ke atas.
“Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku padanya?” tanya Patricia, matanya berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu, apakah kata maaf cukup membuat hatinya melunak. Tapi yang jelas, kau harus benar-benar minta maaf padanya, dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya.”
Patricia tertegun dan merenung. Gurat kekecewaan tergambar jelas dalam wajahnya yang cantik itu. Ferdian benar, ia harus meminta maaf pada pria itu, terlepas apakah Ridho akan memaafkannya atau tidak. Ia harus melakukan ini.
“Aku akan meminta maaf padanya!” ujar wanita itu.
“Jangan sekarang, ini hanya akan membuatnya semakin buruk. Aku tahu benar sifatnya. Dia perlu menenangkan diri dulu.”
“Lalu kapan aku harus meminta maaf?”
“Tunggu sampai dia benar-benar sembuh!”
“Ah, baiklah!”
Sambil mengunyah kentang goreng miliknya, sesekali ia melirik pada wajah bule Patricia di sampingnya. Firasatnya selama ini benar, kalau Patricia memang menyukai Ridho. Bahkan ekspresi merasa bersalahnya itu sangat jelas membayangi aura wanita itu.
Ponsel dalam saku celana Ferdian bergetar. Ia menatapnya, wajahnya langsung sumringah ketika mengetahui siapa yang menelepon dirinya dengan mode video call.
“Hai Sayang!” sapanya berseri-seri, apalagi ketika melihat wajah istri dan anaknya terpampang di layar ponsel. Patricia mencuri-curi untuk melihat siapa yang menghubungi Ferdian.
“Dadddyyy….!” teriak Arsene dari sana.
“Halo Acennya Daddy, apa kabar?” Ferdian menjauhkan ponselnya agar wajahnya bisa masuk dengan pas dengan kamera ponselnya.
“I miss you,” ucapnya lembut.
“Ah I miss you more, lagi apa Acennya Daddy?”
“Baca buku,” jawabnya singkat, lidahnya cukup jelas melafalkan kata-kata singkat.
“Hebat, Daddy udah beliin kamu buku. Nanti kita baca bareng-bareng ya,”
Arsene mengangguk, matanya kini mulai menoleh ke arah lain. Lalu menghilang dari sana.
__ADS_1
“Kamu lagi apa, Sayang?” tanya Ajeng, yang mengikat rambutnya.
“Aku lagi makan nih, baru keluar kelas langsung aja kesini,” jawab Ferdian menunjukan potongan kentang gorengnya.
“Lapar ya?”
“Ya gitu deh.”
Ajeng dan Ferdian saling melempar senyum berseri. Hal itu dilihat oleh Patricia. Baru kali ini ia melihat Ferdian tersenyum lebar seperti itu. Ada satu yang disadarinya, pernikahan mereka benar-benar bahagia.
“Duh itu kamu pakai baju apa sih Sayang? Aku gak tahan kalau lihat leher kamu yang putih itu,” seru Ferdian memangku dagu di tangannya.
“Ih, kamu ngomong gitu ada banyak orang di sana gak?” tanya Ajeng. Ia memang sedang mengenakan dress rumah, dengan bukaan dada yang cukup rendah. Apalagi dengan rambutnya yang kini sedang diikat, semakin terlihat saja leher dan tulang selangkanya yang mulus dan putih, tempat dimana biasanya Ferdian meninggalkan banyak tanda cinta di sana.
“Lumayan sih, tapi kan mereka gak ngerti Bahasa Indonesia, iya kan Pat?” liriknya ke sebelah kanan. Namun Patricia hanya mengernyitkan keningnya tidak mengerti.
“Kamu lagi sama siapa?” tanya Ajeng penasaran.
DEG. Ferdian jadi merasa bodoh. Istrinya pasti akan merasa kesal ketika tahu ia sedang bersama seorang teman wanita sekarang ini. Air mukanya berubah menjadi gugup.
“Sama temen,” jawabnya singkat.
“Cewek apa cowok?”
Jantung Ferdian semakin kencang degupnya. Ia salah tingkah.
“Coba kasih lihat mukanya, kan aku pengen kenalan juga,” pinta Ajeng ramah.
Dalam hati Ferdian berharap mood istrinya itu sedang bagus, jadi tidak akan muncul pikiran-pikiran aneh di dalam benak wanita itu.
“Bentar ya Sayang! Aku coba bilang dulu sama dia,” ujar Ferdian ragu-ragu.
“Oke.”
Ferdian menoleh pada Patricia yang sedang menghabiskan minumannya.
“Pat, ini istriku ingin berkenalan, kau tidak keberatan kan?”
“Benarkah? Ah aku senang sekali.”
“Oke, sip!”
Ferdian kembali menatap layar ponselnya dan menatap pada wajah istrinya yang sedang menunggu.
“Sayang, ini temanku. Hanya teman sekelas, karena dia punya masalah sama Ridho, jadi kita mengobrol di sini. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya?” terang Ferdian.
“Oh cewek ya?” tebak Ajeng, ekspresi wajahnya tidak berubah.
“I-iya,” jawab Ferdian.
“Ya udah, mana orangnya? Aku mau kenalan!”
“Oke.”
Ferdian mengarahkan ponselnya ke arah Patricia, yang sudah merapikan rambutnya. Ia memberikan ponselnya itu padanya.
“Hai!” sapa Patricia tersenyum ramah.
“Hai!” balas Ajeng tak kalah ramahnya.
“Namaku Patricia, aku teman sekelasnya Ferdian, jadi kau istrinya ya? Cantik sekali.”
“Aku Ajeng, ya aku istrinya Ferdian.”
“Ah kalian benar-benar pasangan yang serasi sekali,” puji Patricia sambil sesekali menoleh pada Ferdian.
“Terima kasih banyak!”
“Aku jadi ingin bertemu denganmu, Nyonya Ajeng.”
“Mainlah ke Indonesia sesekali, kami akan mengajakmu jalan-jalan nanti.”
“Mudah-mudahan.”
“Apa Ferdian melakukan hal aneh selama di sana?” tanya Ajeng iseng.
“Ah tidak. Dia sangat serius belajar.”
“Baguslah.”
“Baiklah, aku akan berikan lagi pada Ferdian, sepertinya kalian masih saling merindukan. Senang bertemu denganmu, Nyonya Ferdian.”
“Senang bertemu denganmu juga.”
Patricia memberikan ponsel itu kepada pemiliknya. Ferdian cukup lega ketika kedua wanita itu saling menyapa ramah.
“Kamu gak mikir aneh-aneh kan?”
“Kamu aja yang suudzon, Fer! Cantik ya temennya.”
“Nah kan!”
“Aku cuma muji dia kok, yee!” Ajeng mencebik.
“Inget, aku cuma cinta kamu seorang, Sayang!”
“Aku percaya kamu. Ya udah sejam lagi aku telepon lagi ya, masih ada yang mau aku tanyain. Cuma Arsene udah rewel pengen tidur.”
“Oke, bye!”
“Bye, Sayang!”
\=\=\=\=\=
Kira-kira Ajeng bakal nanyain apa ya sama Ferdian?
Apa dia cemburu? Hmm…
Lanjut lagi besok ^_^
Like yes, comment ramein ya, jangan lupa vote
Thank you
__ADS_1