
Matahari pagi telah bersinar hangat. Sinarnya muncul di atas pucuk pohon tertinggi, menandakan sinar harapan di hari itu. Arsene termenung dalam pikirannya sendiri sambil duduk di sebuah kursi beranda teras atas rumahnya.
Di ponselnya memuat halaman situs resmi akademi memasak yang menjadi impiannya saat ini. Entah mengapa kini hatinya galau seolah pendaftaran itu buka di saat yang tidak tepat. Padahal rencana yang ditulisnya sudah matang, mengapa ia jadi ragu-ragu lagi. Jika pendaftaran itu dibuka minggu depan dan ia tidak mendaftar, maka ia harus kembali menunggu di tahun berikutnya. Ia memikirkan bagaimana hubungan ta’aruf dengan Zaara yang baru saja dimulai ini. Padahal hatinya tengah melayang.
Arsene kembali ke kamarnya, ia tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Tentu saja shalat istikharah, meminta Allah menetapkan hatinya atas yang terbaik yang harus diputuskannya sampai minggu depan.
\=\=\=\=\=\=
Pria yang mengenakan setelan kemeja navy dengan dalaman t-shirt putih itu berjalan pelan di sepanjang lorong gedung B fakultasnya. Ia terduduk di salah satu kursi di depan perpustakaan yang kosong. Masih 20 menit lagi perkuliahan di jam kedua akan dimulai. Arsene memandangi pemandangan di depannya. Mobil-mobil kecil berjejer rapi di samping trotoar fakultas. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi bergerombol berbincang ria sambil berjalan di atas trotoar yang dinaungi oleh pepohonan rindang.
Terdengar pecahan tawa dari beberapa mahasiswi yang baru saja keluar dari perpustakaan. Arsene menoleh ke arah suara. Betapa terkejutnya, ternyata yang keluar dari sana adalah Zaara dan teman-temannya. Arsene segera mengambil ponsel dan berpura-pura fokus melihat layar ponselnya yang menyala.
“Hei, Sen!” sebuah suara menyapanya, itu Terry. Gadis itu memang sangat sok dekat sok akrab. Terpaksa Arsene menoleh ke arahnya.
“Lagi ngapain lu di sini?” tanya Terry.
“Eh, hai! Lagi nunggu kelas masuk,” jawabnya jujur.
“Tumben sendiri, biasanya trio nih!” ucap Terry, maksudnya pada teman Arsene yang lain yaitu Adit dan Angga.
“Iya kayanya mereka belum datang!” jawab Arsene meskipun ia sendiri tidak tahu
“Lu gak mau ngobrol sama Zaara gitu?!” goda Terry.
Mata Arsene membesar. Begitu pula dengan Zaara yang mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Yeh malah pada jaim!”
Sepertinya Zaara belum memberitahukan hubungannya pada Terry. Zaara menarik lengan Terry untuk segera pergi dari sana. Arsene menyadari hal itu.
“Kapan-kapan aja,” jawabnya tersenyum lalu beranjak, “gue harus ke kelas sekarang!” ucapnya pamit dan berlalu dari sana.
“Kalian tuh ya, saling naruh rasa tapi masih jaim-jaim, gak gemes apa?!” sungut Terry pada Zaara.
“Ya gak gitu juga Ry! Meski kita ta’aruf juga tetep aja komunikasinya harus dijaga,” ucap Zaara yang ternyata secara tidak langsung membuat Terry dan Hana sumringah.
__ADS_1
“Kalian udah ta’arufan?!” tanya Hana tidak percaya.
Pipi Zaara terlihat kemerahan merona terasa panas.
“Hahaha, lu gak bisa bohong Ra. Pipi lu itu terlalu jujur!”
Zaara memasang ekspresi salah tingkahnya, padahal ia tidak bermaksud memberitahukan itu sekarang, karena masih terlalu dini. Untung saja hanya ada Terry dan Hana di sisinya, yang sudah dianggapnya menjadi teman baik.
“Tapi please, jangan bilang siapa-siapa ya?” pinta Zaara.
“Tenang aja sama kita-kita ini. Jadi kapan kalian mulai ta’aruf?” tanya Terry kepo.
“Baru banget!”
“Aaah… sip sip deh! Moga lancar ya Ra! Gue dukung selalu, apalagi sama Arsene, beuh! Awas aja ada yang salip, tapi gak akan lah ya. Zaara neneng sholehah mana bisa disalip-salip sama yang ganjen!” ujar Terry membuat Zaara tertawa-tawa kecil.
“Alhamdulillah.”
Arsene berjalan menuju kelasnya yang ternyata di sana sudah ramai. Meski kawan-kawan sekelasnya masih duduk-duduk di atas lantai sambil menunggu ruangan mereka yang masih dipakai oleh kelas lain.
“Gimana jadi gak mau datang ke seminar pra nikah tea?” tanya Adit. Arsene duduk di hadapan kedua sobatnya.
“Oh iya ya?” Arsene memang lupa dengan acara seminar pra nikah yang pernah ia temukan posternya di masjid waktu itu. Arsene melihat ponselnya dimana ia telah mengambil foto poster itu.
“Sabtu ini, Bro!” ucap Arsene.
“Gue ikut ah!” ucap Angga.
“Gue juga, Bro!” ucap Adit tak kalah heboh.
“Kenapa tiba-tiba pada pengen ikut?” tanya Arsene penasaran.
“Ya cari ilmu lah, meski kita gak tau kapan nikahnya mah, kan ilmunya wajib dicari!” jawab Angga percaya diri.
“Wesss, mantap Mas Bro!” puji Arsene, mereka bertiga mengadu telapak tangan mereka.
__ADS_1
“Buruan daftar tuh!” seru Adit.
Ketiganya mengetik di ponselnya masing-masing dan mengirim format pendaftaran pada nomor yang harus dituju.
“Done!” seru Angga bangga.
“Eh dimana sih tempatnya?” tanya Adit.
“Di Gedung Sapphire di Jalan Teratai, kalau dari sini deket paling 10 menit doang,” jelas Arsene.
“Sipp lah, tuh udah pada masuk, yuk!”
Mereka bertiga bergabung dengan teman-teman lainnya yang sudah masuk ke dalam ruangan kelas, untuk mengikuti perkuliahan Sejarah Sastra Inggris. Tak terasa matahari sudah di puncak, perkuliahan tadi segera berakhir dan menyisakan mahasiswa-mahasiswa yang masih berbincang di dalam kelas.
“Sen, lu mau ke masjid?” tanya Angga.
“Ya, mau ikut?” tanya Arsene menggandeng tas ranselnya.
“Kita ke mushola fakultas aja.”
“Oke deh!”
Arsene berpisah dengan kedua sobatnya yang pergi ke mushola fakultas. Sementara dirinya lebih senang mengambil jarak yang lebih jauh dengan pergi ke masjid kampus. Pemuda itu merasa hatinya sudah tertaut di masjid kampus.
Arsene melangkah ditemani angin siang yang berhembus. Ia berharap hari ini tidak hujan badai seperti kemarin. Pikirannya menyusuri kembali pilihan pada akademi memasak yang sempat menghantuinya tadi pagi.
Melihat Zaara dari jauh yang sedang berdiri di bawah pepohonan seraya tersenyum, tiba-tiba menggelitik hatinya. Penjelasan ibunya tadi pagi memberinya secercah petunjuk, dan kini tinggal memantapkan hatinya saja.
Arsene tersenyum kecil.
\=\=\=\=\=\=
Bersambung dulu
Jangan lupa like, komen dan vote
__ADS_1
makasiiiih