Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 17. Gotcha


__ADS_3

Arsene kembali ke dalam kelas setelah percakapannya dengan guru BK telah selesai. Ia tersenyum kecil pada Pak Aris ketika memasuki kelas. Semua tatapan teman sekelasnya datang ke arahnya. Entah apa yang mereka curigai kedepannya, ia tidak peduli. Ia hanya akan menjalankan misi yang sudah ditugaskan kepadanya.


Saat jam istirahat tiba, Abdul dan Fahri menghampirinya.


“Zaara kemana?” tanya Fahri.


“Sakit!” jawab Arsene tanpa menoleh.


“Tadi lu dipanggil ke BK ngapain Sen?” tanya Fahri kepo.


“Ditanya-tanya aja, apa ada masalah dengan yang lain gak? Gitu aja sih!” ucapnya menutupi yang sebenarnya.


“Hmm….”


“Eh kemaren kalian cerita tentang siswa yang dikeluarin sama sekolah. Kalian tau orangnya?” tanya Arsene mulai memancing para siswa tukang gosip ini.


“Itu Kang Bobby, anak IPS. Padahal udah mau lulus lho!” jawab Abdul.


“Terus pacarnya siapa?” tanya Arsene.


“Itu si Astria, anak XII IPS 2 sekarang,” jawab Abdul lagi.


“Apa Astria kenal sama Zaara?” selidik Arsene.


“Kenal gak?” tanya Abdul menyenggol Fahri.


“Kayaknya kenal gitu aja, gak temenan. Mana bisa temenan lagi, si Astria mah cewek populer dan bohay, macam si Cinta kalau di kelas kita mah!” jawab Fahri.


“Ooh…”


Arsene berpikir keras, bagaimana caranya bisa berkenalan bahkan mengajak ngobrol Astria ini. Apakah ia harus menggunakan pesonanya untuk memancing perempuan itu?


“Apa ada yang pernah sekelas sama Astria di kelas ini?” tanya Arsene lagi.


“Tumben lu kepo, Sen!” timpal Fahri curiga.


“Gak kenapa-napa, pengen tau aja,” jawabnya tersenyum.


“Siapa ya?” tanya Abdul berpikir, “eh gue aja sekelas deng waktu kelas sepuluh.”


“Eh lu, dudul!” ucap Fahri menoyor kepala sohibnya.


Arsene tertawa-tawa.


“Kalau gak salah Anin deh, dan dia cukup deket sama Astria bahkan sampai sekarang,” jawab Abdul akhirnya.


“Lu tau banget sih, Dul? Jangan-jangan naksir Anin!”


“Eh kagak, pernah maksudnya,” koreksinya.


“Masih naksir pastinya!”


“Kagak, kagak!”


Arsene menggelengkan kepalanya.


“Gue mau ke masjid dulu ya!” ucap Arsene tiba-tiba.


“Eh ngapain?”


“Sholat dhuha?”


“Ya gitu deh!” jawabnya singkat, lalu meninggalkan kedua temannya yang masih berada di sana.

__ADS_1


Arsene berjalan menuju masjid. Otaknya berputar sambil terus mengaitkan antara fakta dan informasi yang didapatnya. Jika memang ini berhubungan dengan kejadian beberapa bulan lalu, Arsene mungkin bisa menggali informasi dari Anin terkait Astria.


Tiba-tiba sebuah pelukan dari belakang mengejutkannya.


“Haloo Abang Aceeen!” sapa Fea mengejutkannya.


“Heh, kamu jangan peluk orang sembarangan!” bentak Arsene pelan pada Fea. Ia tahu gadis itu sangat sensitif, tetapi tengil dan susah diberitahu.


“Kenapa, kan abang keluarga aku!” ucapnya cemberut. “Ada yang cemburu yaaa? Atau abang udah punya cewek? Aku kasih tau Uncle Ferdi aaah!”


“Ih, berisik! Bukan urusan kamu juga!”


“Ngapain Abang ke masjid? Pasti mau nyari cewek berhijab kemarin ya?” tebak Fea menyeringai.


Arsene menggeleng-geleng saja melihat kelakuan kepo sepupunya ini. Fea mungkin menangkap raut wajahnya ketika ia melihat Zaara waktu itu. Hebat sekali bocah ini, pikirnya.


“Udah sana, Abang masih ada urusan!”


“Urusan cinta, ciyeee…!” goda Fea, ingin sekali rasanya Arsene menjitak kepala bocah centil di hadapannya itu. Banyak siswa-siswi memperhatikannya.


Arsene mendesah kesal saja, lalu meninggalkan Fea yang masih menggodanya dengan ekspresi wajah mengejeknya. Suara tawa bocah centil itu terdengar jelas lalu menghilang, Fea sudah pergi dari sana. Hatinya lega.


Arsene duduk di sebuah kursi dekat kolam ikan setelah ia selesai menunaikan sholat dhuha. Ia memperhatikan siswa-siswi yang mengunjungi masjid di pagi ini satu persatu. Wajah mereka terlihat berseri dan berbeda dari siswa kebanyakan. Bahkan beberapa siswa terlihat sedang membaca Al-Quran sambil menunggu bel istirahat masuk kembali. Dua orang akhwat yang berkerudung lebar terlihat bercengkrama satu sama lain sambil memakai sepatu mereka. Arsene ingat kedua akhwat itu adalah teman dekat Zaara. Arsene beranjak dari tempat duduknya kemudian menghampiri keduanya.


“Assalamu’alaikum, maaf ganggu!” sapanya.


“Wa’alaikumsalam…” jawab kedua akhwat itu kaku, sambil menatap heran pada Arsene. Lalu keduanya berdiri.


“Ada apa?” tanya salah satu akhwat yang memiliki tubuh lebih tinggi.


“Apa kalian teman dekat Zaara?” tanya Arsene.


“I-iya betul,” jawabnya lagi.


Kedua akhwat itu saling berpandangan lalu mereka mengangguk. Lalu ketiganya kembali duduk di sebuah kursi panjang, ada jarak di antara mereka.


“Kalian tau apa yang udah terjadi sama Zaara?” tanya Arsene.


“Semalam uminya telepon kami, katanya Zaara belum pulang, saya juga kurang tahu. Karena kemarin sore kita gak pulang bareng,” jawab akhwat bertubuh tinggi bernama Rahma.


“Tapi apa kalian sempat bareng sebelum pulang sekolah?” tanya Arsene lagi.


“Ya, kita ketemu di sini sore kemarin, bahkan keluar bareng. Saat itu, ada temennya yang manggil, setelah itu kita gak tau dia kemana.”


Arsene tertegun, petunjuknya semakin jelas.


“Siapa yang panggil Zaara?”


“Saya gak kenal, kamu kenal gak Tan?” tanya Rahma pada kawan di sampingnya.


“Setahu saya, itu temen sekelasnya Zaara juga,” jawab akhwat bernama Intan.


Hmm…


“Kamu tau namanya? Atau ciri-ciri fisiknya?”


“Rambutnya ikal, tubuhnya tinggi kurus.” jawab Intan.


“Pakai kacamata?”


“Iya!”


Arsene tersenyum kecil. Ia akan memburu gadis yang berciri-ciri seperti itu di kelasnya.

__ADS_1


"Terus mereka pergi kemana setelah itu?" tanya Arsene lagi.


"Umm... kalau gak salah ke lorong ini!" ucap Intan menunjuk lorong di samping masjid.


Arsene mengangguk-angguk.


“Emang Zaara kemana sekarang?” tanya Rahma.


“Kamu teman sebangkunya Zaara kan ya?” tanya Intan memastikan Arsene.


“Iya saya Arsene, teman sebangku Zaara. Tolong jangan beritahukan ini pada yang lain ya, soalnya saya masih berusaha menyelidiki. Semalam Zaara terkunci di gudang kesenian. Jadi guru BK minta saya cari keberadaan orang-orang yang kemungkinan terlibat.”


“Astaghfirullahaladzim.... kok bisa gitu?” tanya Intan dan Rahma berbarengan.


“Saya juga kurang tahu. Tapi mungkin kalian tahu ada kejadian yang bikin Zaara dibenci seseorang,” ucap Arsene memancing.


“Iya itu beberapa bulan lalu. Tapi saya gak mau suudzon dulu. Terus gimana kondisi Zaara sekarang?”


“Saya juga belum dapat kabar dari Tante Karin, eh maksudnya uminya Zaara. Cuma kata Bu Siska, Zaara sempat shock dan hipotermia,” terang Arsene.


Kedua teman dekat Zaara beristighfar lagi, sambil terus melafalkan doa terbaik untuk keselamatan Zaara.


“Ya udah kalau begitu, saya akan pergi. Terima kasih banyak atas informasinya. Assalamu’alaikum,” pamit Arsene meninggalkan kedua akhwat itu.


Sambil berjalan ke kelas, pikiran Arsene berusaha fokus mencari pemilik ciri-ciri fisik seperti yang sudah dijelaskan teman dekat Zaara tadi. Ia melihat kerumunan geng cewek heboh yang sedang mengobrol di depan kelas.


Arsene tersenyum ketika dilihatnya seorang gadis berwajah imut yang sedang tertawa lebar memperlihatkan giginya yang gingsul.


“Hei, Arsene!” ucap Cinta mengejutkannya ketika Arsene menatap tajam salah seorang cewek yang sedang bersamanya.


“Hai!” sapanya.


“Kamu ngapain ngeliatin Anin kaya gitu?” tanya Cinta, membuat dirinya menoleh kaget.


“Ah, enggak!”


“Jangan-jangan kamu naksir Anin ya?” ucap Cinta menyenggolnya.


“Naksir?!” tanyanya, tiba-tiba muncul sebuah ide di kepalanya.


“Ah, Anin, bisa kita bicara sebentar setelah pulang sekolah nanti?” tembak Arsene langsung pada orang yang bersangkutan.


Anin tentu saja terkejut, mimpi apa dia semalam sehingga Arsene mau mengajaknya bicara.


“Ciyeee, Anin!” sorak kawan-kawannya yang lain.


Wajah Anin jadi memerah karena tersipu-sipu.


“Bisa kan?” tanya Arsene lagi, seolah memaksa.


“Iya,” jawab Anin malu-malu.


Arsene pun tersenyum mendengar jawaban gadis berambut ikal itu.


Gotcha!


\=====


Bersambung dulu yaa...


Ayo like dan commentnya dong biar makin seru


Jangan lupa votenya, biar ide author makin mengalir

__ADS_1


Thank youuu


__ADS_2