Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 62


__ADS_3

Seorang wanita bertubuh ramping, tinggi, dengan kulit putih, keluar dari sebuah pondok. Ia hanya sendiri saja. Berniat melepas rasa penatnya di kota yang padat, ia berjalan mengelilingi area penginapan yang dipenuhi pepohonan.


Sepasang laki-laki dan wanita yang tengah berbadan dua cukup menarik perhatiannya. Pasalnya, ia seperti mengenal wajah laki-laki tersebut. Ia memberanikan diri untuk mendekati pasangan yang terlihat mesra itu.


"Kamu Ferdian ya?" tanya wanita dengan rambut potongan sebahu itu.


Ferdian menatap wanita itu terkejut. Ia berusaha mengenal wajah wanita itu. Sementara Ajeng menatap keduanya penuh curiga.


"Iya, saya Ferdian!" jawab Ferdian masih dengan tanda tanya.


"Saya Andrea Vellicia! Masih kenal?" tanya wanita itu ramah.


"Oohh...Velli! Ah iya, maaf saya lupa-lupa ingat, hehe!" ucap Ferdian menyengir.


"Ini istri kamu? Lagi hamil?" tanya Andrea atau Velli, Ferdian memanggilnya dengan nama belakangnya itu, karena namanya mirip dengan sepupu laki-lakinya itu.


"Iya, ini istri saya, Ajeng. Ajeng ini Velli, anaknya temen ayah!" ujar Ferdian ramah.


"Hai, salam kenal!" sapa Velli ramah.


"Salam kenal juga," balas Ajeng.


"Lagi liburan di sini?" tanya Velli menatap keduanya.


"Iya, lagi babymoon nih, cari ketenangan," jawab Ferdian.


"Wow, selamat ya buat kalian berdua!" ucap Velli antusias.


"Terima kasih! Kamu lagi liburan juga?"


"Iya kebetulan lagi ada urusan di Bandung, sekalian aja liburan ke sini," ucap Velli.


"Ooh..."


"Ya udah, kalian lanjutkan jalan-jalannya ya? Saya harus pergi lagi! Bye, Fer, Ajeng!" pamit Velli ramah, kemudian ia pergi meninggalkan pasangan itu.


"Bye!" balas Ferdian.


 


Ajeng yang masih menatap kepergian Velli, menarik lengan suaminya lebih erat. Wajahnya tanpa ekspresi, nyaris cemberut sebenarnya.


"Siapa itu?" tanyanya datar.


"Itu temennya anak ayah, Andrea Vellicia, namanya!"


"Iya aku tau! Maksud aku, apa ada hubungan kamu sama dia dulu?"


"Umm...kenalan aja!"


"Gak yakin deh!" ujar Ajeng kesal. Instingnya mengatakan tidak demikian, meskipun perempuan itu memang tidak agresif, justru malah bersikap ramah padanya.


Ferdian menghela nafas. Ia sadar istrinya itu sedang mencurigainya.


 


"Kenalan aja benaran deh! Cuma, itu dia, perempuan yang kemarin sempet mau dijodohin sama aku!"


"Tuh kan!"


"Kenapa emangnya?" tanya Ferdian.


"Cantik, body kaya model, terus pinter lagi dan dewasa, tipikal kamu banget kan ya?"


"Iya! Terus?"


"Kenapa gak pilih dia?" lagi-lagi Ajeng menanyakan hal yang sama, yang ditanyainya kemarin.


"Ya Allah, capek deh!" jawab Ferdian menepuk jidatnya.


Ferdian melengos pergi berlalu dari istrinya.


 

__ADS_1


 


"Ferdian!!!" teriak Ajeng.


Ferdian menghentikan langkahnya, kemudian berbalik.


"Cemburu boleh, bodoh jangan!" ucap Ferdian mengetuk lembut kepala istrinya itu.


Ajeng mendengus kesal dan manja.


 


"Ayo, jalan lagi! Gak boleh marah-marah, nanti dedeknya ikut marah!"


"Iya, maaf deh!" ucap Ajeng merangkul lagi suaminya.


Ferdian terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang aneh itu.


\=====


Tahun ajaran baru perkuliahan telah dimulai. Kampus kembali didatangi oleh mahasiswa-mahasiswa baru. Suasana benar-benar kembali ramai setelah hampir dua bulan lebih sepi. Ferdian kali ini telah memasuki semester tujuh. Meski sudah menikah, IPK miliknya masih stabil di atas angka 3,5 terhitung cumlaude. Semester ini dia akan mencoba mencicil karya ilmiah untuk tugas akhir mahasiswanya. Ia juga tidak akan terjun mengurusi mahasiswa baru lagi, tidak seperti tahun kemarin. Sementara istrinya, Ajeng, kandungannya sudah memasuki bulan ke-7. Ia masih akan mengajar meski hanya sampai setengah semester juga menjadi dosen pembimbing bagi mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir. Dengan begitu jadwalnya akan terasa longgar. Ia berencana akan mengambil cuti hamil dalam dua bulan ke depan. Ini akan menjadi waktu yang menegangkan dan mendebarkan bagi keduanya.


Mahasiswa baru berseragam putih dan hitam, berjejer rapi di lapangan. Mereka terdiri dari mahasiswa sarjana dan pasca sarjana yang mengikuti kegiatan ospek. Ospek kampus elit seperti Universitas Mentari cukup dengan pengenalan tiap fakultas, fasilitas kampus, juga para senior saja. Oleh karena itu, masa orientasi dan pengenalan kampus hanya berjalan 3 hari saja. Setelah itu mereka langsung bisa mengikuti perkuliahan normal.


Ferdian dan Ajeng mengunjungi perpustakaan siang itu di kampus. Ajeng berniat memberikan bimbingan skripsi untuk mahasiswanya, sedangkan Ferdian berniat mencari karya sastra dan buku teori sastra untuk menjadi bahan skripsinya.


Ferdian berjalan-jalan di koridor rak kumpulan karya sastra asing yang berjejer rapi. Tiba-tiba segerombolan mahasiswa baru berdatangan dengan pendampingan kakak senior mereka tentunya.


"Ini perpustakaan fakultas kita ya, kalian bisa cari buku-buku yang memang dibutuhkan untuk kuliah kalian!" ucap mahasiswa laki-laki dari semester 5.


Mahasiswa-mahasiswa baru yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya itu tampak antusias melihat rak-rak kokoh yang berjejer rapi memuat buku-buku. Ferdian memperhatikan mereka. Ia jadi teringat juga sewaktu pertama kali masuk ke dalam perpustakaan bergaya modern ini. Ia juga teringat dulu sering mencuri-curi pandang dosen cantiknya yang sering berada di perpustakaan ini. Ferdian tersenyum sendiri membayangkannya.


"Hai Bang Fer!" sapa mahasiswa pendamping maba itu.


"Hei, Ki! Lagi tugas nih?!" sapa Ferdian yang mengenal adik kelasnya itu, Rizki namanya.


"Iya, capek juga ya?" keluhnya.


"Sastra Inggris aja!"


"Ooh..."


 


Beberapa mahasiswa baru mendatangi Kak Rizki, sempat ingin menanyakan beberapa koleksi yang ada di perpustakaan. Seketika itu, Rizki malah memperkenalkan Ferdian pada maba-maba itu.


"Kenalin ini, Kak Ferdian dari jurusan Sastra Inggris juga!" ucap Rizki, membuat Ferdian terkejut.


Para maba, terutama maba perempuan berdecak kagum padanya.


"Gantengnya...." celetuk seorang mahasiswi.


"Cakep ya?" bisik yang lain.


"Semester berapa kak?" tanya seorang maba yang cukup berani.


"Semester 7!" jawab Ferdian tersenyum.


"Wah...." ucap yang terkesima.


"Udah punya pacar belum Kak?" lagi-lagi ada yang berani menanyakan hal seperti itu padanya.


"Ssstt! Jangan ribut di perpustakaan!" seru Rizki.


"Jawab dulu dong Kak!" sergah yang lain.


"Udah nikah, bentar lagi punya anak!" jawab Rizki mendesiskan suaranya.


 


"Seriusan Kak?! Jangan bohong dong!" celetuk beberapa orang mahasiswi.


"Kak Ferdian jawab dong!" seru yang lain.

__ADS_1


Ferdian terkekeh menahan tawanya.


"Udah bener kok jawaban senior kalian," jawab Ferdian membuat lesu para maba perempuan yang tadi antusias.


"Hush hush, kita pindah yuk!" seru Rizki mengajak mahasiswa-mahasiswa baru itu keluar dari perpustakaan.


"Yaaah....baru juga kenalan, udah ditolak mentah!" celetuk seorang mahasiswi.


Tiba-tiba datang Ajeng yang kebingungan melihat para mahasiswa baru yang terlihat mendongkol. Para mahasiswa baru itu kini menoleh pada Ajeng yang berwajah sangat cantik namun melihat badannya sedang hamil. Kemudian mereka berbisik-bisik.


"Hey kalian!" seru Rizki pada mahasiswa-mahasiswa baru itu, yang segera berbalik menghadap kakak kelasnya.


"Nah kenalin juga, ini dosen Sastra Inggris paling cantik sekampus. Namanya Miss Ajeng!"


Lagi-lagi para mahasiswa baru terkesima.


"Wah....cantiknya!"


"Sumpah cantik banget!"


"Yah tapi lagi hamil, berarti udah nikah dong yaa?" celetuk seorang mahasiswa laki-laki.


"Bakal ngajar kelas kita gak ya?" tanya yang lain.


"Kenapa sih?" tanya Ajeng pada Ferdian yang terbengong-bengong.


"Itu mahasiswa baru lagi ospek pada heboh," jawab Ferdian.


 


"Nah perhatiin baik-baik ya, mereka berdua itu suami istri!" ucap Rizki mengumumkan sepasang suami istri yang kini sedang berdiri berdampingan di sudut koridor.


Para mahasiswa baru pun otomatis tercengang-cengang, mulut mereka menganga, dan mata mereka membesar.


"Oh my God, serasi banget!"


"Dream couple banget sih, iri gueee!!


"Wajar sih sama-sama ganteng dan cantik!"


Dan kata-kata pujian lainnya dari maba-maba heboh untuk mereka berdua.


"Dah sana pindah Ki! Malu kita jadi berasa artis di kampus!" ujar Ferdian mendorong tubuh adik kelasnya itu.


"Makasih ya Rizki!" ucap Ajeng tersenyum.


"Sama-sama, Miss! Kita pamit dulu!" ucap Rizki kemudian berlalu bersama para mahasiswa baru di belakangnya.


 


"Tiap tahun aja selalu begini, jadi perhatian mahasiswa baru. Tapi untungnya tahun ini udah beristri deh, jadi aman!" ucap Ferdian.


"Iya apalagi bentar lagi mau punya anak. Makin aman aja ya?"


"Iya! Untung ada kamu!" ucap Ferdian mengecup kening istrinya.


"Hey, ini masih di kampus!" seru Ajeng mendorong tubuh suaminya.


"Biarin! Yuk ah pulang, udah selesai kan?" tanya Ferdian.


"Udah, kamu sendiri udah dapat bukunya?"


Ferdian menunjukkan dua buku yang didapatnya.


 


Keduanya berjalan keluar sambil membalas senyum orang-orang yang menyapa mereka. Selamat datang di tahun ajaran baru.


\=====


Thanks for reading


Like & votenya jangan lupa ^^

__ADS_1


__ADS_2