
Hampir semua tamu sudah menikmati makan siang. Piring-piring kotor bertumpuk di atas tempat cuci piring dapur kotor kediaman Ajeng. Para asisten rumah tangga bahu-membahu untuk menyelesaikan pekerjaan itu agar tidak terlalu menumpuk sehingga merusak pemandangan dapur.
Sementara para lelaki pergi ke masjid untuk menunaikan shalat dzuhur, para istri di sana bergantian sholat. Kebetulan sekali, Ajeng, Karin dan Sita sama-sama sedang berhalangan. Kebetulan yang mengejutkan. Sejak tadi ketiganya duduk di meja bar sambil menikmati sup buah segar yang manis. Sesekali pandangan mereka mencuri pandang keberadaan anak-anak mereka yang tengah bercakap-cakap di antara kerumunan orang dewasa lainnya. Sambil menebak-nebak, kira-kira kearah mana pembicaraan para anak muda itu. Sesekali mereka tertawa, memasang ekspresi terkejut, bahkan kesal. Seperti ada yang aneh di antara mereka. Hal itu terus direkam oleh salah satu ibu dari ketiga anak muda itu.
Sita dan Karin mengambil beberapa sendok sup buah yang dimasukannya ke dalam gelas yang mereka pegang. Meminum sup buah di tengah hari yang panas memang sungguh nikmat. Apalagi ketika minuman itu disajikan dingin dengan beberapa bongkah es balok. Buah-buahan segar berwarna-warni semakin membuat lidah tergoda. Sita dan Karin duduk di sana, sambil menghadap kaca luas yang berdesain seperti jendela yang ada di bangunan-bangunan Perancis. Anak-anak muda mereka sudah bubar sejak tadi adzan berkumandang. Akan tetapi, pandangan mereka tidak pernah lepas dari sana. Perbincangan terkait anak mereka yang kini mulai beranjak dewasa mungkin akan menjadi topik menarik. Apalagi Sita cukup jeli melihat gelagat para anak muda tersebut.
“Rin, anak kamu kayanya bakal jadi rebutan!” ucap Sita setelah menghabiskan sup buah miliknya.
“Ah masa sih!”
“Masa kamu gak perhatiin dari tadi? Arsene dan Raffa ngobrol sama dia. Itu apa diawasin sama abinya gak?” tanya Sita.
“Aku juga gak tau, aku titip Zaara sama dia. Eh abinya malah asyik ngobrol sama suami kamu!”
“Tapi gak apa-apa kali yah sekali ini mereka akrab kaya gitu, meski sebenarnya dalam hati bersaing. Hahaha!”
Ajeng menghampiri kedua sahabatnya setelah ia memastikan kalau Finn tidak terbangun di dalam kamarnya. Melihat Sita yang tertawa-tawa, ia jadi penasaran dan duduk di sebelahnya setelah mengambil segelas sup buah.
“Kalian ngobrolin apa sih?” tanya Ajeng mendudukan tubuhnya di atas kursi bar.
“Itu anak-anak kita, lucu deh!”
“Lucu kenapa?” tanya Ajeng terheran-heran.
“Iya ada cinta segitiga nih antara Zaara, Arsene, dan Raffa,” jawab Sita.
“Wah seriusan? Raffa juga naksir Zaara?” tanya Ajeng keceplosan membuat kedua wanita di hadapannya jadi terbelalak.
“Arsene suka sama Zaara?!” tanya Karin tidak percaya.
“Ah, eh, gimana ya?” Ajeng tampak grogi, tidak seharusnya kedua sahabatnya ini mengetahui hal itu dulu sebenarnya.
__ADS_1
“Udah jawab aja deh, Jeng! Karin juga gak akan protes kan ya?” ucap Sita. “Lagian, Raffa emang naksir Zaara juga kok!” ucap Bu Dokter itu santai sekali.
“Apa?!” teriak Ajeng dan Karin berbarengan.
Sita tertawa-tawa sendiri, ia memang paling santai menyikapi hal itu. Lagipula ia tidak peduli, apakah cinta anaknya akan berhasil atau tidak. Toh, ia yakin jodoh sudah ada yang mengatur, jadi buat apa diambil pusing ketika anak-anak mereka terlibat cinta segitiga.
"Raffa pernah bilang waktu pas kita ketemu Arsene pertama kali di rumah itu. Aku kan pernah bilang jodohin Zaara sama Arsene, nah dia marah. Inget gak Rin waktu aku tanya soal Raffa yang ingin nikah muda?"
Karin mengangguk.
“Dari sana dia bilang, kalau Zaara adalah perempuan yang disukainya selama ini,” terang Sita.
Karin dan Ajeng terdiam.
“Nah lho, Rin! Zaara jadi rebutan anak-anak kita, ya kan Jeng?” Sita menyenggol lengan Ajeng.
“Ya ampun, aku harus gimana ini?” Ajeng malah jadi risau.
“Apa aku harus bilang sama Abi Zaara?” tanya Karin khawatir.
Sita memandangi Ajeng, lalu kembali pada Karin.
“Jangan dulu deh, lihat perkembangan mereka aja dulu selama sebulan kedepan. Tapi ... Kalau di antara Raffa atau Arsene ada yang serius, kamu gimana Rin?” tanya Sita.
Karin memandangi dua sahabat di depannya. Ia bingung untuk menjawab apa, karena ia sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan Zaara. Mungkin ia harus menguliknya terlebih dahulu.
“Aku bakal ngobrol dulu sama Zaara," ucap Karin, karena jujur saja, Zaara bukan anak yang terbuka masalah perasaannya terutama pada lawan jenis. Gadis itu lebih sering menuliskannya dalam buku catatan pribadi miliknya.
“Kalian orangtuanya apa ngizinin Zaara buat nikah muda?” tanya Sita lagi. “Jujur Rin, Raffa tuh udah ada niat buat lamar Zaara setelah ini, maksudku pas Zaara udah masuk kuliah. Aku blak-blakan aja ya sama kalian, karena aku juga ingin tau seenggaknya Raffa masih ada harapan buat dapetin anak kamu, Rin!”
DEG.
__ADS_1
Jantung Ajeng berdebar kencang. Entah kenapa terasa ada silet menyayat di dalamnya. Apalagi mengetahui bahwa Arsene pun menaruh hati pada Zaara. Ia tidak ingin hati anaknya terluka. Meskipun ia tahu, Arsene dan Zaara sungguh masih sangat muda jika mereka harus disandingkan dalam sebuah ikatan pernikahan. Lain halnya dengan Raffa, yang usianya bisa dikatakan sudah cukup untuk melaju ke pelaminan. Jika ia menikahi Zaara yang berbeda di bawah usianya, tidak akan terlalu mempengaruhi karirnya karena ia seorang laki-laki yang sudah bisa fokus menggapai masa depannya untuk menjadi dokter gigi.
“Kamu jangan tegang gitu deh Jeng!” ucapan Sita membuyarkan lamunannya.
Ajeng menyengir kaku.
“Gimana kita fair aja ya? No hate between us, biar mereka aja yang jalani. Aku pun gak masalah kalau misalnya ternyata Zaara suka sama Arsene. Ya mungkin aku harus kasih Raffa tiket berlibur kali ya, kalau dia patah hati.”
Karin dan Ajeng sama-sama terdiam. Mereka tidak bisa sesantai itu menghadapi problema cinta di antara anak-anak mereka. Karin pun sama sekali tidak bisa membayangkan jika anaknya menikah muda. Meskipun ia tahu, hal itu bisa saja terjadi.
“Oke kita saling terbuka aja ya, aku bakal bicarain ini sama Zaara. Ya mungkin aku bakal tanya pandangan dia terkait nikah muda, juga sama abinya. Soal perasaan dan jodoh biar Zaara dan Allah yang tau. Kita gak bakal bisa maksain kan?” ucap Karin pada akhirnya.
“Sipp! Kamu sendiri gimana Jeng?”
“Aku juga gak akan maksa Arsene untuk gimana-gimana. Aku tau, Arsene itu tidak mudah ditebak dan dia keras sekalinya punya ambisi. Masalah perasaan dia, aku gak bisa atur. Biarlah dia yang kendalikan dirinya sendiri nanti. Dia memang menaruh perhatian sama anak kamu, Rin! Jadi siap-siap aja ya buat Zaara,” terang Ajeng.
Karin menghela nafas. Ternyata begini rasanya memiliki anak gadis.
“Sipp, Raffa punya saingan berat nih!”
Mereka bertiga tertawa-tawa bersama. Tidak menyangka kalau anak-anak mereka akan terlibat cinta segitiga seperti ini di masa kini. Biarlah Sang Pemilik Cinta yang akan menentukan takdir mereka nantinya, tanpa harus memutus silaturahim yang sudah terjalin kuat, karena cinta dan jodoh adalah misteri ilahi.
\=====
Buibu >.<
Bersambung dulu yaa, hihi
Ayo komennya mana nih?
Like dan vote juga yaa yang banyaaaaak
__ADS_1
makasih ^_^