Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 125


__ADS_3

Malam dingin lainnya yang menembus kulit dan menusuk ke dalam hati. Langit terlihat bersih dengan bintang-bintang bersinar, bulan tersenyum dengan sudut terkecilnya. Angin malam terus berhembus kuat. Ridho bersimpuh di atas sajadahnya menghadap kiblat sambil menengadahkan tangannya. Sesekali keningnya bersujud dengan harapan tinggi menjulang menembus langit ke tujuh.


Pria yang tidak lagi sepolos dulu dan kini tengah menyimpan perasaan, meminta hatinya dibersihkan dari hasrat yang tidak-tidak. Ia mengemis cinta dari Sang Pemilik Cinta, agar hatinya diberikan petunjuk menuju jodoh yang dipilihkan oleh-Nya. Ia tidak ingin membawa perasaannya saat ini yang cenderung diinterupsi oleh setan. Jika Namira adalah jodohnya, maka ia berharap semua proses taaruf dan khitbahnya dipermudah.Jika memang wanita itu bukan jodohnya, ia berharap Allah menunjukkan jalannya segera.


Sekelebat bayangan Patricia muncul dalam benaknya. Pria itu lagi-lagi beristighfar. Ia sangat khawatir jika bayangan itu hanyalah halusinasi yang dikirim setan ke dalam pikirannya. Sebenarnya hati ia sendiri sudah mantap untuk melanjutkan ta’aruf ini ke tahap khitbah. Hanya saja ia butuh waktu untuk semakin memantapkan hatinya kembali.


“Ya Allah tolong kuatkan hati hamba, dan berikan kecenderungan serta ketenangan kepada jodoh yang terbaik, yang dipilihkan oleh-Mu,” pintanya penuh harap.


Sayup-sayup kicauan burung-burung kecil mulai terdengar, pertanda fajar akan segera muncul.


\=====


Bunyi grasak-grusuk terdengar dari selimut tebal berwarna abu. Tubuh yang terlilit itu tampak tidak tenang dalam tidurnya yang tinggal beberapa jam lagi. Sesekali ia menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut itu, lalu ia membukanya kembali sambil memeluk guling.


Patricia terlihat tidak tenang setelah hampir lima jam tertidur lelap. Entah apa yang membuatnya terbangun di pagi hari yang masih gelap dan dingin ini. Pikirannya terusik dengan brosur yang ia ambil beberapa hari yang lalu mengenai Islam. Sebelum tidur tadi malam, ia membacanya dengan perhatian penuh. Tidak pernah hatinya segelisah ini apalagi ketika memikirkan tentang Tuhan. Wanita berdarah Italia itu memang lahir di keluarga Katolik. Namun, ia tidak terlalu berpegang penuh pada agamanya, apalagi setelah ia bersama ayahnya pindah dari Italia ke Inggris. Suasana liberal di Inggris membuatnya tidak peduli lagi pada agama dan cenderung agnostik. Ia cukup merasa bebas dan tidak terbebani dengan ibadah. Itulah yang membuatnya tidak terlalu peduli.


Namun, setelah ia membaca artikel yang diambilnya dari Islamic Center membuat pikirannya berputar dan bekerja. Ada beberapa kalimat yang selalu terngiang-ngiang, berkaitan dengan Tuhan yang diyakini oleh Kaum Muslim.


Ibarat jejak kaki para pengelana yang berjalan di atas gurun, maka keberadaan Tuhan adalah seperti itu. Tidak terlihat, tetapi ada buktinya yaitu berupa alam semesta, manusia, dan kehidupan ini. Tuhan bersifat wajibul wujud (wajib adanya) dan azali (kekal). Ia tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Tuhan itu tunggal dan itulah yang membuatnya Maha Kuasa. Sementara Islam diturunkan kepada Muhammad sebagai penyempurna dari ajaran-ajaran sebelumnya, memberikan petunjuk kepada manusia agar tidak tersesat, berupa kalam Tuhan yaitu Al-Quran.  Konsep keesaan Tuhan dalam Islam membuat akalnya bergejolak dan bertentangan dengan apa yang dipahaminya selama ini. Kelemahan manusia yang membuatnya tidak bisa merefleksikan dan mendeskripsikan Tuhan dalam wujud yang lain. Itulah yang berbeda antara Islam dengan agama lain.


Patricia terpaksa bangun pada dini hari itu. Ia memilih untuk menonton televisi sambil menyeruput teh panas untuk menghangatkan tubuhnya.


Sebuah siaran ulang dari stasiun berita menginformasikan terkait kejadian islamofobia yang akhir-akhir ini marak terjadi di Amerika Serikat. Seorang perempuan berhijab hampir saja tertabrak sebuah kereta di sebuah subway di New York. Seorang pria tidak dikenal tertangkap kamera CCTV mendorong wanita berhijab itu sampai tersungkur di sisi peron. Beruntung wanita itu tidak mengalami luka-luka karena kereta telah melintas sebelumnya lebih cepat. Pria berjanggut dan berkulit putih itu kini dalam interogasi pihak kepolisian setempat.


Patricia mengernyitkan alis matanya. Apa yang salah dari mereka? Benaknya terus bertanya dan hatinya jadi tidak sabar, ia ingin mengunjungi Islamic Center lagi.


\=====


Siang itu Ridho tampak kebingungan, setelah mentoring terkait manajemen keuangan bisnis selesai di hari itu. Batang hidung Patricia tidak muncul hari itu di dalam kelas. Ia bertanya di dalam hatinya, kemana sebenarnya wanita itu? Namun, ia mengubur keinginannya itu dalam-dalam.


Sementara Patricia berjalan mondar-mandir sejak pagi di depan gedung berlantai lima itu. Setelah sebelumnya ia mengawasi dari sebuah kedai makan sambil menikmati sarapan paginya. Terpaksa ia membolos dari kelasnya, karena benaknya terus terpancing dengan segala sesuatu tentang Islam.


Baru saja Patricia hendak membuka pintu gedung itu, tetapi pintu itu lebih dulu terbuka.


“Ah maaf, aku tidak sengaja!” ucap seorang muslimah berhijab, ketika mengetahui Patricia tengah mundur beberapa langkah dengan ekspresi wajah terkejut.


“Tidak apa,” jawabnya singkat.


Wanita muslimah itu tersenyum padanya.


“Ada yang bisa saya bantu, Nona?”


“Namaku Patricia,” ujarnya mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Wanita itu memang tidak terlalu ambil pusing untuk mengenalkan dirinya pada orang asing.


“Aku, Namira!” ucap wanita muslimah itu membalas jabatan tangan Patricia.


“Apakah aku bisa mengetahui Islam di sini?” tanya wanita berambut panjang pirang itu.

__ADS_1


“Tentu saja. Aku bisa membantumu jika berkenan.”


“Baiklah. Apakah sekarang kau ada waktu?”


“Ya, kebetulan urusanku sudah selesai. Kau mau masuk ke dalam?” tawar Namira dengan matanya yang berkilauan dan bibir senyum merekah.


“Apakah tidak apa?” tanya Patricia ragu-ragu.


“Tentu saja, kita bisa berbicara di dalam atau dimanapun yang kau inginkan.”


“Aku masih merasa asing. Bagaimana jika di kafe saja?” ujar Patricia.


“Boleh saja. Aku yang akan membawamu.”


Kedua wanita yang memiliki tinggi tubuh yang sama itu pun melangkah menuju sebuah kafe. Namira memilih kafe dengan logo halal di pintunya yang terletak tidak jauh dari Islamic Center Chicago. Kafe itu menyediakan hidangan Timur Tengah yang sudah populer dan disesuaikan dengan lidah orang-orang Amerika.


“Apa kau seorang mahasiswa?” tanya Patricia, ketika Namira tengah sibuk memilih menu makan siangnya.


“Ya, kebetulan ini tahun terakhirku di sini,” jawab Namira menatap wanita asing di depannya.


“Ah begitu!”


“Kau sendiri berasal dari mana?”


“Aku berasal dari Italia, hanya saja beberapa bulan ini kami pindah ke Inggris dan aku mengikuti pelatihan bisnis di sini.”


“Oh… Silakan kau pilih menu makan siangmu!” ujar Namira tersenyum.


“Mengapa kau tertarik dengan Islam?” tanya Namira selepas ia memberikan catatan pesanannya pada pelayan kafe itu.


Patricia termenung sebentar sambil menyiapkan jawabannya. Awalnya ia hanya tertarik dengan Ridho yang kadang menyelipkan sesuatu tentang Islam dalam percakapan mereka. Dari sana, hatinya mulai tersentuh apalagi ketika Ridho mengatakan bahwa agama bukanlah permainan. Ketika memutuskan untuk berislam, maka mulailah dengan mencintai Tuhan orang-orang Muslim yaitu Allah swt. Lalu berlanjut, ketika ia membaca artikel yang diambilnya dari Islamic Center. Dari sanalah hatinya mulai gelisah dan bertanya-tanya.


“Jadi awalnya kau tertarik pada pria Muslim?” tanya Namira.


Patricia mengangguk kecil. Ia tidak menyebutkan nama pria itu.


“Pria ini begitu polos, sehingga aku tertarik padanya. Ia selalu menyelipkan ajaran agamanya ketika kami berbicara. Entah mengapa aku jadi semakin penasaran dengan Islam,” terangnya tidak ragu-ragu.


Namira tersenyum. Ada banyak cara bagi Allah untuk menyentuh hati orang-orang yang akan ditunjukinya. Ia pun menceritakan kisahnya yang juga awalnya beragama Nasrani. Berawal dari ketidaksukaan keluarganya pada ajaran Islam, membuatnya justru semakin penasaran. Diam-diam ia sering mencuri dengar kajian keputrian yang selalu diadakan oleh sekolahnya setiap hari Jumat. Entah mengapa hatinya selalu merasa tenang dan sejuk setelah mendengar kajian itu. Ia pun meminta diperkenalkan oleh alumni yang sering mengisi kajian di sekolahnya. Hingga akhirnya, hati dan imannya tertambat pada Islam secara menyeluruh.


“Ah, jadi dulu kau seorang Nasrani juga?” tanya Patricia mengaduk teh panasnya.


“Ya begitulah agama dari keluarga orang tuaku. Hanya saja sekarang kedua orangtuaku sudah memeluk Islam juga,” terang Namira.


“Wah, luar biasa!”


“Apakah kau mau belajar tentang Islam bersamaku?” tawar Namira dengan matanya yang bening.

__ADS_1


Patricia merasakan ketulusan wanita asing di hadapannya itu. Hatinya merasa takjub sekaligus tersentuh bisa bertemu dengannya. Entah mengapa ia merasa nyaman berbicara dengannya.


“Baiklah, aku akan coba!”


“Sebelum kau belajar, kau tanya hatimu yang terdalam. Bukakan dan bersihkan pikiranmu dari hal yang negatif. Berharaplah kau akan menemukan kebenaran!”


“Aku akan mencobanya,” ucap Patricia tersenyum kecil.


Bunyi denting sendok dan garpu beradu di tengah senyuman kecil para wanita cantik yang baru bertemu hari ini. Patricia cukup merasa asing dengan rasa kebab berbalut rempah yang baru dirasakannya. Namun, makanan itu cukup lezat baginya. Ia berhasil menghabiskannya dan membuat perutnya terasa kenyang.


Penjelasan Namira terkait Islam memang masih sebatas pengantar. Ia berjanji akan mempertemukannya dengan gurunya selama ini, yaitu Ustadzah Aisyah, yang akan menjelaskan lebih rinci tentang ajaran agama Islam. Hanya saja, Patricia memiliki waktu  di hari Minggu. Ia berkata jujur kalau hari ini ia membolos di kelas karena terlalu penasaran dengan Islam. Hal itu membuat Namira tertawa sekaligus takjub.


“Jadi kau orang Indonesia?” tanya Patricia ketika kedua wanita itu keluar beriringan dari kafe.


“Ya benar. Aku berkuliah di UIC, dan sepertinya tahun ini aku akan pulang setelah wisuda nanti,” jelas Namira.


“Ah, padahal kita baru saja bertemu. Aku ingin mengenalmu lebih dekat,” ujar Patricia jujur membuat wanita berhijab abu itu tersenyum lebar.


Angin siang bertiup lembut menggoyangkan pepohonan kecil di atas trotoar. Patricia mengikat rambutnya yang panjang.


“Kau sendiri berapa lama lagi berada di sini?” Namira bertanya balik.


“Pelatihanku sekitar 3 bulan lagi. Tetapi sepertinya aku akan tinggal lebih lama di sini,” jawabnya mengeratkan ikat rambutnya.


“Hmm... 3 bulan ya? Apakah kau tinggal di Winston Tower?” tanya Namira tiba-tiba, karena ia teringat Ridho yang juga memiliki pelatihan sekitar 3 bulan lagi.


Patricia mengangkat alisnya.


“Darimana kau tahu?” tanyanya ekspresif.


“Aku punya teman di sana,” jawab Namira tersenyum.


“Oh benarkah?”


Namira mengangguk. Entah mengapa hati Patricia jadi mengerut sedikit.


“Siapa namanya?” tanyanya ragu-ragu.


“Ridho.”


DEG.


\=====


Nah lho...


Bersambung dulu yaa 🙏

__ADS_1


VOTE dong biar ide authornya lancar


LIKE dan COMMENT ya, kamu tim mana nih jodoh buat Ridho? >.<


__ADS_2