
Suasana kampus sudah sangat sepi, begitu juga di jalan. Ferdian memang sangat tepat meminta Andre menjemput Nava, kalau tidak, keberadaan perempuan itu mungkin cukup berbahaya berjalan di sekitar kampus sendirian. Lampu-lampu jalan menerangi malam dengan cahaya redup. Udara berhembus dingin setelah hujan deras tadi.
Andre menyalakan musik di dalam mobilnya, untuk mengurangi rasa canggungnya. Nava sudah mengenakan jaket milik pria di sampingnya itu. Ia pun tidak kalah gugupnya.
“Kamu udah sholat?” tanya Andre sambil melirik wanita di sampingnya.
“Aku lagi gak sholat, Dre!” jawab Nava.
“Kita makan malam dulu ya?” tawar Andre.
Nava mengangguk saja. Mereka pun berhenti di sebuah rumah makan di dekat gerbang kampus.
“Maaf ya, kamu jadi repot-repot jemput aku!” ujar Nava merasa bersalah.
“Gak apa-apa, lagian kebetulan aku lagi gak ada kerja juga. Oh ya, maaf ya pesan kamu baru aku baca tadi sehabis Ferdian telepon.”
“Iya,” jawab Nava menunduk.
“Jadi kamu pulang sore karena nunggu aku?” tanya Andre mengkonfirmasi.
Hati Nava berdebaran, lidahnya terasa kaku. Ia malu untuk menjawabnya. Pelayan rumah makan datang membawakan pesanan mereka. Pertanyaan itu sementara teralihkan.
“Makan dulu ya, nanti kita bicara lagi!” ujar Andre. Keduanya pun menyantap makan malam yang sangat menggugah selera sampai perut kosong mereka terasa kenyang dan pikiran kembali segar.
“Jadi apa yang mau dibicarakan?” tanya Andre to the point, membuat Nava kembali diliputi rasa gugup. Padahal tadi sore keberaniannya itu datang, entah kenapa setelah bertemu dengan Andre ia malah menciut. Nava menunduk.
Andre berusaha sabar menunggu lawan bicaranya itu mengeluarkan suara.
“Sebenarnya….” Ucap Nava pelan.
Andre semakin menatapnya lekat, Nava tidak berani menatap matanya. Wanita itu memejamkan matanya sekejap.
“Aku terima lamaran kamu, Dre!” ucapnya kilat.
“Kenapa?” tanya Andre lagi. Ia memang mendengar, tapi ucapan wanita di depannya itu sungguh terlalu cepat, sehingga ia ingin mendengarnya lagi.
Nava menahan nafasnya.
“Aku mau nikah sama kamu, Dre!” jawab Nava sambil
menggenggam erat ujung jaket yang dikenakannya.
Mata Andre berbinar, hatinya berbunga-bunga mendengar jawaban Nava. Andre tersenyum lebar.
“Makasih ya Va! Nanti aku segera hubungi orang tua aku untuk datang ke rumah kamu. Maunya kapan?”
“Aku juga mau obrolin sama orang tua aku dulu. Gak apa-apa kan?”
Andre mengangguk tersenyum. Hatinya sudah lega.
“Yuk pulang, khawatir kemalaman!” ajak Andre, ia benar-benar bisa bernafas lega. Ia beranjak dari tempat duduknya dan membayar pesanannya. Nava mengikutinya. Andre pun mengantarkan Nava pulang ke pondok asramanya.
“Makasih banyak ya, Dre!” ucap Nava sebelum ia keluar dari mobil.
“Aku yang harusnya bilang makasih sama kamu, karena kamu mau terima lamaran aku,” ucap Andre tersenyum.
“Aku pulang ya,” pamit Nava. “Oh ya!” Nava melepas jaketnya.
“Gak usah, bawa aja! Balikinnya nanti aja, kalau kita udah satu rumah.”
DEG. Jantung Nava melompat. Wajahnya merona di balik lampu mobil yang redup.
__ADS_1
“Makasih Dre!” jawab Nava ia pun melangkah keluar dari mobil Andre dan menutup pintunya.
Nava tersenyum dan melambaikan tangannya pada Andre ketika mobil itu melaju keluar dari halaman asramanya. Nava mengenggam erat jaket Andre, ia menyesap aroma parfum Andre yang menempel di jaket itu. Ah, Andre! Akhirnya Nava menerima lamarannya.
\=\=\=\=\=
“Sayang….” Panggil Ferdian ketika ia sampai di apartemennya. Lelaki itu sudah mengucapkan salam, tetapi tidak terdengar suara kekasih hatinya. Di tangannya digenggam satu kantong berisi buah-buahan segar.
Ajeng keluar dari kamar yang rencananya akan dipakai untuk anaknya nanti.
“Lagi apa?” tanya Ferdian melihat istrinya yang menyambutnya terlambat.
“Baru bersihin kamar mandi,” jawab Ajeng mengecup punggung tangan suaminya.
“Malem-malem gini?!” tanya Ferdian tidak percaya. Ajeng mengangguk.
Ferdian memberikan kantong berisi buah-buahan itu pada istrinya.
“Kamu ngapain aja seharian ini? Gak bosen tinggal di rumah?” tanya Ferdian melepas tas dan jaketnya.
“Aku beres-beres rumah aja. Oh ya dan tadi juga ngobrol bareng Nava di café atas!” jawab Ajeng sambil menyimpan buah-buahan itu di atas wastafel untuk dicucinya nanti.
“Nava kesini?” tanya Ferdian terkejut.
“Iya, curhat tadi pagi!” jawab Ajeng mengambilkan air minum untuk suaminya.
“Wow, tadi juga pas aku belajar kelompok ketemu dia. Kasian pulang kemalaman gitu, ya udah aku….”
“Kamu anter pulang?!” Ajeng memotong cerita Ferdian.
“Ish, makanya kalau orang lagi jelasin tuh denger dulu sampai selesai,” protes Ferdian, ia mengambil gelas air putih yang diberikan istrinya lalu duduk di atas sofa. Ajeng mengikutinya.
“Terus kamu ngapain dia?” tanya Ajeng penasaran.
Ajeng hanya menyengir. “Terus Andre datang?”
“Iyalah, aku bilangin aja calonnya kehujanan, gak lama dia langsung datang! Haha!” ucap Ferdian bangga.
“Bisa aja nih, tapi Andre kayanya emang cinta banget sama Nava ya. Baguslah, kamu berhasil buat mereka ketemuan. Soalnya Nava emang mau jawab lamaran Andre, itu sih yang aku tangkap dari curhatan dia.”
“Hihi kita jadi perantara buat mereka gitu ya, Sayang?”
“Iya ternyata asik juga, Novi aja curhat sama aku. Gak lama dia jadi sama Ardi. Sekarang Nava sama Andre. Kayanya kita mesti buka biro jodoh aja ya jadi kerjaan sampingan kita, haha!”
“Ide brilian, Sayang! Hahaha….”
Sepasang suami istri itu malah tertawa-tawa di tengah dinginnya malam. Ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil mempersatukan dua insan merupakan kerabat mereka, mudah-mudahan saja semuanya berujung pada pelaminan nanti.
Ferdian merubuhkan tubuhnya setelah membersihkan badannya. Ia terasa sangat lelah malam itu, karena padatnya aktivitas di kampus. Ajeng baru saja berganti pakaian dan langsung bergabung bersama suaminya. Ia pun sama, badannya terasa pegal karena pekerjaan rumahnya.
"Sayang, tolong pijitin pundak aku dong!" pinta Ajeng pada suaminya.
"Mmh..." Ferdian bangkit dan langsung memijit pundak istrinya yang terasa pegal.
"Kamu kerja apa hari ini?" tanya Ferdian.
"Bersihin kamar mandi, kamar tidur, sama lap-lap perabot."
"Kenapa gak panggil cleaning service aja?"
"Enggak ah, aku kan emang pengen gerak!"
__ADS_1
Ferdian tersenyum. Ia senang istrinya itu berada di rumah seharian dan melakukan pekerjaan seperti ibu rumah tangga normal lainnya. Meskipun ia juga kadang merasa khawatir istrinya itu kelelahan.
"Makasih, Sayang! Kamu mau aku pijit?" tawar Ajeng.
"Gak usah, aku pengen tidur aja," jawab Ferdian kembali tiduran. Ajeng tidur di sebelahnya sambil mengelus-elus perutnya.
"Udah kerasa mules-mules?" tanya Ferdian.
"Emh...ada sih sedikit, tapi katanya itu cuma kontraksi palsu karena cuma sebentar."
"Emang kalau yang asli gimana?"
"Mulesnya kerasa lama, bisa hilang tapi bisa muncul lagi secara intens."
"Ooh..."
"Yuk tidur!" ajak Ajeng.
Ajeng terbangun lebih pagi sebelum adzan subuh berkumandang. Entah kenapa ia merasa gerah dan nafasnya terasa sesak. Semakin besar kehamilan semakin sulit mencari posisi tidur yang enak. Jadi ia memutuskan untuk bangun dan mandi saja, lalu melaksanakan sholat tahajud.
Ferdian terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Mencium parfum aroma milik istrinya, jiwa kelakian-lakiannya terpancing. Namun ia memutuskan untuk langsung mengambil air wudhu dan sholat subuh terlebih dahulu. Setelah itu ia bergegas mendatangi istrinya yang sudah sibuk di dapur. Ferdian merengkuh tubuh istrinya dari belakang yang sedang mencuci buah-buahan. Ia mengecup lembut bahu istrinya yang terbuka dan wangi itu.
"Eh..." Ajeng terkaget-kaget.
"I need you right now (Aku butuh kamu sekarang)!" ucap Ferdian lirih, tangannya mulai menggerayangi tubuh istrinya. Ajeng berbalik dan merangkul leher suaminya.
"Mau bayar berapa?" tanya Ajeng menggodanya.
"I'll pay every cost you want (Aku akan bayar semua biaya yang kamu mau)," ucap Ferdian meredupkan matanya.
Ajeng terkekeh geli. Ferdian yang sudah tidak bisa menahan hasratnya, menciumi bibir milik istrinya, lalu turun ke leher untuk memberi tanda cinta disana. Darah Ajeng berdesir, membuatnya merasa terbuai. Ferdian membawanya ke atas sofa. Ia mulai melucuti pakaiannya dan milik istrinya dan melakukannya di sana secara perlahan. Pria itu mulai memainkan aksinya dengan lembut, ia teringat perkataan dokter untuk memuaskan wanita miliknya. Jadi ia harus memainkan tempo yang pas agar wanitanya itu tidak bersikap datar. Memainkan bagian yang sensitif adalah keahliannya, Ajeng tak bisa lagi menahan suaranya karena getaran cinta berhasil membuatnya terlena. Mata wanita itu terlihat sayu dan berkaca-kaca. Wanita itu terbawa panas suasana permainan yang dipimpin oleh suaminya itu. Suara desahan dan erangan menghiasi pagi itu. Ajeng mencengkeram keras leher suaminya, ia tak dapat menahannya lagi sehingga terlepaslah segala sesuatu yang tertanam, begitu pula dengan Ferdian yang tubuh dan dahinya sudah berpeluh keringat.
"Do you enjoy it (Kamu menikmatinya)?" tanya Ferdian ketika mereka saling berpelukan setelah menyelesaikan hajat mereka.
"Mmh..." Ajeng mengangguk, wajahnya merona.
"Thank you, baby..." ucap Ferdian lembut, mengecup kening dan bibir istrinya.
Keduanya pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh bersama.
"Sayang, tolong bersihin sofa dong!" seru Ajeng ketika ia selesai berganti pakaian.
"Mmh...nanti ah!" ujar Ferdian bermalas-malasan di kasur. Tubuhnya terasa lelah sehabis bercinta.
"Sekarang ih!" protes Ajeng.
Mau tidak mau, Ferdian mengambil alat kebersihan dan berjalan menuju sofa membersihkan semua noda peninggalan aktivitas mereka tadi.
Belum sampai lima menit, Ferdian membersihkan sofa, sesuatu berhasil mengejutkannya.
"Ferdian......!" teriak Ajeng.
Ada apa lagi ini? batin Ferdian dalam hati.
\=\=\=\=\=
Nah lho, Ajeng kenapa?
Lanjut besok yaa
Like, comment, votenya ya
__ADS_1
Makasiiiih ^_^