
Beberapa minggu yang lalu, Arsene telah ditunjuk oleh Ketua LDK yang baru, yaitu Kang Ahmad, mahasiswa FISIP semester 7, untuk menjadi seorang moderator di acara kajian rutin sore mingguan. Ini adalah pengalaman pertamanya sebagai seorang moderator acara. Ia akan memandu pemateri untuk menyampaikan isi pembicaraan. Arsene menyanggupi saja, meskipun ia ragu-ragu. Ia hanya ingin mengasah potensi public speaking-nya di depan orang banyak.
Seorang ustadz pembimbing LDK DKM Asy-Syifa yang rencananya akan mengisi kajian sore nanti. Arsene sudah berlatih dengan melihat video-video bagaimana cara kerja seorang moderator acara. Yang jelas ia harus percaya diri dan tidak gugup di hadapan jamaah masjid.
Sore itu langit begitu bersih. Awan-awan tengah menyingkir, sehingga matahari bisa menebar rasa panas yang membakar bagi makhluk-makhluk di dunia. Kajian sore diadakan jam 4. 30, dimana biasanya para mahasiswa sudah selesai berkuliah. Arsene mengatur nafasnya selagi duduk bersila di selasar sambil menunggu dimulainya acara. Sekat masjid sudah dipindahkan sehingga jamaah akhwat bisa menyaksikan acara di dalam masjid, meski keberadaannya masih terpisah dengan jamaah ikhwan.
Para pengurus LDK juga sudah menaruh kursi sofa di atas karpet masjid yang diperuntukkan untuk para pengisi acara sore itu.
“Deg-degan Sen?” tanya Angga yang duduk di hadapannya.
“Ya gitu lah, pertama kali soalnya!” jawabnya.
“Santai aja, lu pasti bisa!” sahut Adit.
Meskipun kini Arsene tidak lagi sekelas dengan Adit dan Angga karena Arsene harus mengejar perkuliahannya di semester dua, ketiganya tetap solid dan kompak sebagai sahabat. Mereka sudah sama-sama aktif di LDK DKM. Bahkan Angga dan Adit sudah menjabat posisi di departemen pilihan mereka masing-masing.
“Sen, siap-siap ya. Ustadz Halim udah dateng!” ujar Galih, teman aktivis di LDK yang seangkatan juga dengannya.
“Siap!”
Arsene merapikan kemejanya, dan mengenakan jaket LDK yang bermodel seperti jas berwarna hitam dengan logo LDK DKM Asy-Syifa berwarna emas.
“Yuk ah masuk!” ajak Angga.
Mereka bertiga masuk ke dalam masjid dan duduk di atas karpet. Arsene akan menunggu instruksi MC yang akan memandu acara terlebih dahulu sebelum dirinya maju ke depan.
Tak lama seorang lelaki berpeci dengan kacamata, mungkin usianya tidak jauh dari Reza, datang dan menyalami jamaah yang duduk di depan, termasuk Arsene di sana. Kemudian Ustadz Halim duduk di sebelah Arsene yang memang kosong.
“Assalamu’alaikum Tadz!” sapa Arsene mengangguk.
“Wa’alaikumsalam. Ini Arsene ya? Yang nanti jadi moderator saya?” tanya Ustadz Halim ramah.
“Betul Tadz! Mohon bantuannya,” ucap Arsene.
“Insya Allah!”
Jamaah ikhwan dan akhwat sudah berdatangan dari berbagai fakultas. Ada juga dari masyarakat yang sengaja datang karena sudah hafal dengan jadwal kajian rutin sore berjamaah itu. Memang tidak banyak, tetapi mereka sudah duduk dengan barisan rapi dan rapat di depan.
Seorang MC ikhwan telah berdiri di depan menyapa para jamaah yang hadir. Tayangan dari aplikasi powerpoint juga sudah menyala di depan layar, sehingga akan memudahkan para jamaah memahami materi yang akan disampaikan. Ia telah membuka acara, kemudian mempersilakan seorang temannya untuk membacakan Al-Quran agar majelis ilmu ini semakin berkah.
“Terima kasih kepada Kang Angga yang sudah membawakan tilawah, semoga pahala mengalir pada yang membacanya dan juga pada yang mendengarnya. Aamiin. Sebelum lanjut ke acara berikutnya, kita kenalan dulu ya sama moderator yang akan memandu materi kajian sore ini. Silakan Kang, tampilkan CV-nya!” ujar sang MC.
__ADS_1
Operator menayangkan CV singkat sang moderator di layar.
“Ya ini dia, moderator yang akan membawakan acara sore hari ini. Namanya Arsene Rezka Winata. Lahir di Bandung, 20 tahun silam. Sekarang kuliah di jurusan Sastra Inggris angkatan 20xx. Status sudah menikah. Wow! Mari kita sambut saja Abang Arsene dengan takbir, Allahu Akbar!”
Arsene beranjak dari tempat duduknya kemudian berdiri di depan. Sang MC menyapanya ramah sebelum ia mengambil alih acara. Lalu memberikan mikrofon padanya.
Arsene menghela nafas, mengatur ritmenya. Ia memandang semua jamaah yang hadir dan hanya tertuju pada jamaah laki-laki saja untuk menjaga pandangannya. Meskipun ia tahu ada sosok yang ia rindukan duduk menatapnya bersama jamaah akhwat lainnya.
“Bismillahirrahmaanirrahim. Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu… Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Alhamdulillah di sore hari yang cerah ini, insyaAllah saya Arsene akan memandu teman-teman di sini dalam kajian rutin mingguan yang akan dibawakan oleh Ustadz Dr. Halim Asyari, M. Kom. Kita bacakan dulu CV Ustadz Halim ya. Beliau adalah alumnus S1 sampai S3 dari Fakultas Teknik Informatika Universitas Bumi Pertiwi. Saat ini aktif sebagai dosen di fakultas yang sama, juga sebagai aktivis bakti LDK DKM Asy-Syifa dan juga Ketua Yayasan Asyari. Status sudah menikah dan sudah dikaruniai 4 orang anak. Kita langsung sambut saja Ustadz Halim dengan takbir. Allahu akbar!”
Arsene mempersilakan Ustadz Halim untuk duduk di atas sofa yang sudah disediakan. Ia duduk juga di kursi lain yang berdampingan.
“Untuk kajian hari ini, ada sesi penyampaian materi dulu kemudian selanjutnya akan dibuka forum diskusi. Jadi untuk teman-teman yang menyimak, bisa mempersiapkan pertanyaan jika saja ada materi yang belum dimengerti. Baiklah, kepada Ustadz Halim dipersilakan untuk menyampaikan materi hari ini.”
Ustadz Halim membuka kajian hari itu dengan mengucap nama-Nya dan mengagungkan nama-Nya, serta memberi salam dan shalawat kepada Rasulullah saw. Ia mulai menyampaikan materi setelah menyapa terlebih dahulu para jamaah yang hadir.
“Qada secara bahasa yang berarti hukum, ketetapan, dan kehendak Allah. Semua yang terjadi berasal dari Allah SWT, sang pemilik kehidupan. Sebelum adanya proses kehidupan, Allah sudah menuliskan apa saja yang akan terjadi. Baik itu tentang kebaikan, keburukan dan juga tentang hidup atau mati.
“Qadar secara bahasa diartikan sebagai sebuah ketentuan atau kepastian dari Allah. Sedangkan secara istilah, qadar berarti sebuah penentuan yang pasti dan sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Baik yang sudah terjadi, sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.
“Diriwayatkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya seseorang diciptakan dari perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh di dalamnya dan menuliskan empat ketentuan yaitu tentang rezeki, ajal, amal, dan (jalan kehidupan) sengsara atau bahagia.’
“Hubungan Qada dan Qadar juga tidak bisa dipisahkan. Qada merupakan rencana dan Qadar adalah perwujudan atau kenyataan yang akan terjadi seperti yang sudah ditetapkan Allah SWT.
“Allah sudah menentukan segala sesuatu yang terjadi dan memang tidak bisa diubah oleh manusia, seperti kelahiran dan kematian seseorang, musibah dan bencana alam, rezeki dan juga hari kiamat.
“Tetapi ada juga hal-hal yang masih bisa diubah oleh tangan manusia. Allah memberikan ruang bagi manusia untuk mengubah keadaan sesuai dengan pilihannya sendiri, dan itu tetap tidak lepas dari qada dan qadar Allah. Inilah yang hanya diketahui Allah. Yang jelas kita tetap beriman bahwa segala yang ada di dunia dan alam semesta ini, Allah yang mengatur dan menetapkannya.”
Ustadz Halim masih menyampaikan materi sore yang berkaitan dengan takdir Allah. Para jamaah begitu serius dan fokus menyimaknya. Bahkan Arsene begitu tertegun dengan penjelasan ustadz berkacamata itu. Matanya berkilauan dengan otot rahang yang tertarik sehingga mengeras. Sesekali ia tertunduk sambil memejamkan matanya. Arsene menegakkan posisi tubuhnya, memandang seorang akhwat yang sedang menatapnya dengan kilauan mata yang sangat ia kenal. Tatapan mereka terkunci beberapa saat, sebelum akhwat itu akhirnya tertunduk. Terlihat beberapa bulir kristal air terjatuh dari matanya.
“Qada dan qadar Allah memang sudah digariskan dan tidak dapat diubah. Akan tetapi Allah pun masih memberi ruang, agar manusia bisa mengusahakan yang bisa mereka usahakan. Allah akan menilai segala prosesnya sedangkan hasilnya tetap Allah yang mengaturnya. Hal ini tetap bisa menjadi pelajaran dan hikmah bagi manusia lainnya, bahwa Allah masih memberi kesempatan untuk bisa memperbaiki keadaan yang ada. Setelah itu bersabar dan tawakal, dengan itulah hati menjadi tenang.”
Ustadz Halim menutup materinya sebelum forum diskusi.
“Jazakallahu khair untuk materinya Tadz, sungguh sangat menusuk. Bahwa ternyata Allah masih memberikan kesempatan, agar manusia bisa memperbaiki keadaan. Baiklah, saat ini kita buka forum diskusi. Bagi temen-temen yang mau bertanya silakan angkat tangannya dan perkenalkan diri kalian. Kita akan membatasi 3 pertanyaan terlebih dahulu.”
Seorang akhwat mengangkat tangannya. Arsene cukup terkejut karena Zaara berani untuk mengajukan pertanyaan lebih awal meski tadi gadis itu sempat menangis.
“Iya ada satu penanya dari akhwat dan dua penanya dari ikhwan. Dimulai dari akhwat dulu ya, karena tetehnya yang duluan angkat tangan! Silakan berdiri dan perkenalkan diri, Teh!” ucap Arsene pada Zaara.
Seorang panitia akhwat memberikan mikrofon padanya.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum Tadz, perkenalkan saya Zaara dari jurusan Sastra Indonesia.”
Ustadz Halim mempersilakannya, sedangkan Arsene berusaha menyimak apa yang akan Zaara tanyakan dengan jantung berdebaran.
Zaara tertunduk sebentar, lalu mengambil nafas.
“Baru-baru ini seseorang mengalami musibah besar, sampai akhirnya dia memutuskan sesuatu yang membuatnya merenung dan mengasingkan diri. Dia sedang kecewa pada orang lain yang ... dianggap penting, tetapi apakah hal itu wajar bagi seorang manusia? Apa yang harus dilakukan jika saja dia tetap merasa kecewa pada orang itu?”
Arsene tertunduk lemas mendengar pertanyaan Zaara yang tentu saja pasti mengarah padanya. Bagai tertusuk tombak tajam begitu perih. Ia pikir Zaara telah benar-benar membuka hatinya, tetapi sepertinya ia salah, karena mungkin Zaara masih kecewa padanya. Arsene berusaha fokus kembali.
“Makasih untuk pertanyaannya, kita tampung dulu ya? Lanjut ke penanya berikutnya!” ucap Arsene tampak gugup.
Dua orang penanya lainnya sudah mengajukan pertanyaan. Ustadz Halim memasang kembali mikrofonnya menyala dan siap memberikan jawaban.
“Pertanyaan pertama dari Teh Zaara ya. Musibah adalah hal yang telah dikehendaki Allah, ini bagian dari qada Allah yang tidak bisa berubah. Itu yang pertama. Jika memang ada seseorang dari hidup si A yang secara tidak langsung mengantarkan pada musibah itu, maka jangan salahkan dia sepenuhnya. Karena, Allah akan tetap pada qadanya, mungkin dengan cara yang lain. Wallahu’alam. Rasa kecewa memang wajar bagi setiap manusia, tetapi sampai kapan? Apalagi misalnya ini adalah orang yang sangat penting bagi hidup si A. Ada ruang bagi si A, apakah mau memaafkannya dan memperbaiki yang sudah ada atau terus memendam rasa kecewa yang lama kelamaan akan menjadi dendam? Yang pasti pilihan pertama akan mengantarkan pada ridho Allah dan pahala. Mungkin saja orang tadi akan berubah karena menyesali perbuatannya. Kita juga mesti berhati-hati, jangan-jangan kita justru kecewa dengan Allah dan menyalahkan takdir-Nya. Jangan sampai ya, Allah menghendaki yang terbaik untuk hambaNya yang beriman. Pasti selalu ada hikmah di sana. Begitu menurut saya.”
Zaara beristighfar meneteskan air mata, merasa tertohok atas jawaban ustadz. Ia menunduk merasa sangat berdosa. Hatinya bergetar.
Pilihan hatinya sudah tepat saat ini, ia akan membuka diri dan juga memaafkan kekhilafan Arsene atas sikapnya beberapa waktu lalu. Ia sadar dirinya juga salah karena egois, dan justru membuat dirinya telah lalai pada suaminya, karena meminta menghindar.
Matahari telah tenggelam, adzan sudah berkumandang. Acara kajian sudah selesai sebelum adzan. Zaara terdiam duduk di atas karpet masjid bersiap untuk shalat maghrib berjamaah. Ia tidak menghubungi adiknya sore itu untuk menjemputnya. Ia akan merenung sebentar di sini hingga malam tiba. Apakah ia akan kembali ke apartemen malam itu, gadis itu belum tahu. Ia hanya ingin meminta ampunan pada Allah karena mungkin ia kecewa pada apa yang sudah Allah takdirkan padanya. Janinnya milik Allah, Allah bisa mengambilnya kapan saja. Dan ia malah menyalahkan Arsene atas kejadian ini, meskipun memang Arsene sudah mengabaikannya.
Zaara bersujud lama sekali. Ia meminta ampunan atas sikapnya selama ini.
Arsene keluar dari masjid setelah shalat dan munajatnya selesai malam itu. Ia melirik ke arah selasar akhwat, apakah istrinya itu sudah pulang?
“Balik kapan Sen?” tanya Adit.
“Bentar lagi!”
“Gue duluan ya?!”
“Ya!”
Arsene sejenak merasakan semilir angin malam yang sejuk menembus jaketnya. Ia masih memikirkan pertanyaan Zaara tadi. Apakah benar gadis itu masih merasa kecewa padanya? Padahal ia sudah merasa bahagia ketika Zaara memintanya untuk menunggunya sebentar lagi. Mungkin memang, Zaara masih membutuhkan waktu untuk menata hati. Arsene tertunduk dan mendudukkan tubuhnya di teras selasar sisi barat.
Zaara keluar dari masjid. Gadis itu menelepon adiknya, memintanya untuk menjemput segera. Ia menyesal tidak menghubungi adiknya sebelum isya tadi. Kini dirinya harus menunggu lebih lama di masjid yang hening seorang diri di teras selasar sisi timur.
Tidak ada orang lain selain mereka, karena hampir semua jamaah telah pulang. Hanya saja, kedua insan yang bersatu dalam ikatan pernikahan itu tidak saling mengetahui kalau mereka tengah berada di tempat dan waktu yang sama dengan harapan besar yang sama juga untuk bisa kembali bersama.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Bersambung...