
Ferdian dan Ridho menaiki pesawat All Nippon Airways malam itu. Bunyi deru mesin pesawat sangat terdengar jelas ketika dua pria itu melangkahkan kakinya di dalam pesawat. Mereka duduk bersebelahan di pesawat itu. Menaiki pesawat itu, pikiran Ferdian melayang ke dua tahun silam ketika ia berbulan madu bersama istrinya ke Jepang dengan menggunakan pesawat jenis dan maskapai yang sama. Ferdian menghela nafasnya berat.
"Kamu baik-baik aja kan, Fer?" tanya Ridho ketika ia sudah menyimpan ransel miliknya di kabin bagasi pesawat.
"Ya!" jawab Ferdian singkat, melihat ke balik jendela di sampingnya.
Ferdian masih memikirkan Ajeng dan Arsene dalam benaknya. Sebenarnya ia berat untuk meninggalkan mereka, meski hanya enam bulan saja. Namun ia juga ingin membantu ayahnya itu, sebagai bentuk bakti dari anak kepada orangtuanya.
Perjalanan menuju Chicago, Illinois, Amerika Serikat memang memakan waktu yang tidak sebentar. Butuh setidaknya waktu 21 jam atau lebih untuk tiba di sana. Pesawat ini juga akan transit terlebih dahulu di Bandara Narita, Jepang, lalu mereka akan berganti pesawat ke Chicago dengan maskapai yang sama. Perhentian di Narita, tentu akan menyita pikiran Ferdian. Bagaimana tidak, ia juga mengunjungi bandara itu ketika bulan madu. Ajeng memenuhi pikiran Ferdian saat ini. Ia teringat di dalam pesawat ketika itu, ia terus saja menggenggam tangan istrinya, kadang ia bertingkah manja di depannya, atau mereka saling menyuap makanan. Lalu ketika turun dari pesawat, ia menggendong tubuh istrinya yang terlihat berseri-seri, sungguh sangat cantik di matanya itu.
Pesawat itu pun lepas landas di malam yang dingin. Semoga saja cuaca sepanjang perjalanan sangat bagus, sehingga tidak mengganggu penerbangan mereka.
\=====
Ajeng turun dari mobil mertuanya malam itu ketika ia telah tiba di gedung apartemennya. Sebelum turun, bunda sempat menawarkannya untuk tinggal di rumahnya. Namun, Ajeng beralasan bahwa besok ada jadwal mengajar sehingga ia harus bersiap-siap.
Ajeng menggendong tubuh Arsene yang terlelap. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju lift, suasana apartemen begitu dingin dan sunyi, apalagi memang malam pun sudah larut. Entah kenapa memang terasa dingin dari biasanya, mungkin karena hatinya hampa. Ia pun membuka pintu huniannya. Bi Asih menyambut kepulangannya, ia membantu menaruh Arsene di atas kasurnya. Sementara Ajeng memilih untuk berendam diri dengan air hangat dengan minyak esensial aromaterapi yang akan membantunya menenangkan pikirannya.
Wangi aroma greentea benar-benar membantu menenangkan perasaannya, namun wangi itu juga mengingatkannya pada suaminya. Ferdian sangat menyukai wangi itu ketika mereka berendam bersama. Baru beberapa jam saja ditinggal pergi, hatinya sudah merindukannya. Ajeng memilih merebahkan tubuhnya di samping tubuh anaknya yang sudah tertidur. Ia mengelus lembut rambut Arsene, lalu memperhatikan wajah mungilnya. Ia tersenyum bersyukur karena memiliki teman tidur malam ini dan malam-malam berikutnya. Ajeng akhirnya tertidur ketika rasa lelahnya lebih menguasai tubuhnya malam itu.
Hari-hari baru siap menyambut esok.
\=====
Ferdian dan Ridho telah tiba di Bandara Internasional O'Hare Chicago sore hari di hari Senin. Angin musim semi bertiup dengan lembut terasa dingin, karena tampaknya sisa musim dingin panjang kemarin masih terasa. Ferdian telah mengenakan hoodie hitamnya. Ia menggendong ranselnya dan berjalan untuk mengambil koper mereka.
Seorang pria menggunakan jaket kulit abu dan topi baseball memegang sebuah kertas poster kecil bertuliskan nama Ferdian dan Ridho di sana. Kedua pria Indonesia itu pun menghampirinya.
"Good afternoon, Sir!" ucap Ferdian pada lelaki bule berambut pirang, yang mungkin usianya kisaran 30 tahunan.
"Are you Ferdian and Ridho?" tanyanya.
"Yes, we are! Are you Mr. Andrews?" tanya Ferdian.
"Yes, I am. Come and follow me, please!" ucapnya sopan dan ramah.
Ferdian dan Ridho pun mengikuti pria itu ke halaman parkir bandara. Pria bernama Sean Andrews itu membuka kunci sebuah mobil sedan hitam. Lalu menyuruh Ferdian dan Ridho untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Welcome to Chicago, Illinois," ucap pria berjambang pirang itu tersenyum.
Ferdian duduk di sebelah Sean, sementara Ridho duduk di kursi belakang.
"Tuan Winata sudah menghubungi saya sejak bulan lalu. Kalian akan tinggal di Winston Tower, di sana juga kalian akan mendapatkan training setiap harinya," terang Sean dalam bahasa Inggris dengan aksen Britishnya.
"Apa kau orang Amerika?" tanya Ferdian, aksennya terdengar berbeda.
"Tidak, aku orang Inggris. Aksenku mungkin bisa diketahui."
"Ya, kau benar! Makanya aku bertanya padamu, sekedar memastikan."
"Tetapi aku sudah tinggal di sini selama lima tahun. Tampaknya, aksenku sulit berubah ya?"
"Ya begitulah!"
"Kalian sendiri orang Indonesia kan?"
"Ya betul."
"Aku jadi teringat seseorang," ucap Sean sambil mengemudikan mobilnya.
"Apa kau punya teman orang Indonesia?" tanya Ferdian penasaran.
"Lebih dari sekedar teman sejujurnya," jelas Sean tersenyum.
"Pacar?"
"Kurang lebih seperti itu. Tetapi itu terjadi tiga tahun yang lalu. Kami tidak berhubungan lagi."
"Ooh..."
__ADS_1
Sean membelokan mobilnya di sebuah gedung tinggi bergaya semi modern. Ia memasukan mobilnya ke dalam basemen. Lalu memberhentikannya di sana. Ferdian dan Ridho melihat tinggi gedung yang mereka tidak bisa jangkau.
"Kita sudah sampai!" ucap Sean.
Ketiga pria itu pun turun dari mobil itu. Lalu Sean membuka bagasi dan mengambil barang-barang milik Ferdian dan Ridho dari sana.
"Aku akan mengantar ke kamar kalian masing-masing."
"Apa selalu banyak orang yang melakukan pelatihan ini?"
"Setiap musim semi hingga musim panas, biasanya ada 30 orang yang ikut. Berbagai perusahaan dari seluruh dunia biasanya menempatkan orang-orang terbaik mereka di sini."
Ferdian dan Ridho mengangguk. Sean mengantarkan mereka memasuki sebuah lift. Lalu pria itu menekan tombol angka tiga dan angka enam. Artinya mereka semua akan naik menuju lantai 36. Total lantai dari gedung itu adalah 50 lantai.
"Apa semua orang sudah berdatangan?" tanya Ridho pada Sean.
"Hampir semua sudah datang. Peserta kali ini benar-benar beragam, ada peserta dari India, Cina, Italia, Brazil, Malaysia, dan tentu saja Indonesia. Kelas pelatihan akan dimulai pada hari Rabu. Kalian harus siap-siap pada setiap jam 10 pagi. Sarapan dan makan siang, selalu disiapkan untuk kalian di lantai 37. Sementara kalian akan melakukan pelatihan di lantai 38-40."
Mereka pun tiba di lantai 36. Banyak pintu-pintu di sepanjang lorong yang sangat sepi itu. Lampu-lampu redup tetap menyala.
"Ferdian, kamarmu nomor 3619, sedangkan Ridho nomor 3620."
"Oke!"
Sean memberikan kunci kamar mereka. Lalu mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing, Sean masih menemani mereka, sambil menjelaskan segala hal yang akan Ferdian dan Ridho lakukan selama pelatihan berlangsung. Ia juga sudah membelikan nomor baru khusus untuk selama mereka tinggal di Amerika.
"Kalian hanya boleh keluar di hari Minggu saja, selebihnya kalian harus tinggal dan melakukan aktivitas di gedung ini saja."
Jika kalian membutuhkan bantuanku, tinggal hubungi aku, karena aku memang diberi tugas untuk menemani dan membimbing kalian saja.
"Jadi apakah kau akan menemani kami selama pelatihan?" tanya Ferdian.
"Ya betul. Peserta pelatihan dari Indonesia diberikan tugasnya padaku."
"Apakah ada peserta Indonesia yang lainnya selain kami?" tanya Ridho.
"Sepertinya tidak."
Ferdian dan Ridho saling berpandangan, kemudian menggeleng. "Sepertinya tidak!" jawab Ferdian.
"Baiklah, aku akan membiarkan kalian beristirahat penuh sampai esok pagi. Lalu aku akan mengantarkan kalian mengenal gedung ini besok."
"Terima kasih Sean!"
"Sama-sama! Aku juga tinggal disini kalau kalian butuh apa-apa, aku tinggal di lantai 32."
"Baiklah!"
"Aku permisi dulu, selamat malam!" ucap Sean pamit dari kedua pria itu.
Begitu juga dengan Ridho yang kembali ke kamarnya malam itu untuk beristirahat.
Ferdian menutup pintu kamarnya. Ia menaruh kopernya di depan lemari dan menaruh ransel lainnya di atas meja belajarnya. Kamar itu mirip sekali dengan asrama kampusnya. Hanya saja ukurannya lebih besar, dan interiornya lebih rapi dan modern, tentu saja. Kaca besar kamarnya menghadap ke arah Danau Michigan. Ia bisa memandangi Kota Chicago yang berada di pesisir danau, meski sebenarnya gedung itu tidak terlalu dekat dengan danau. Namun dengan ketinggian letaknya saat ini, dengan mudah ia bisa memandangi danau dan langit bersamaan, seperti apartemennya. Lampu-lampu mobil dan gedung terlihat ramai memenuhi hari yang sudah gelap. Sementara kilau bintang di langit terkalahkan oleh lampu-lampu. Ferdian lebih memilih menatap langit. Jika di tempatnya hari masih malam, pasti di Indonesia hari sudah pagi, karena perbedaan waktu antara Chicago dan Indonesia adalah sekitar 24 jam.
Di ponselnya sudah tertera pukul 9 malam. Malam yang masih awal jika merujuk pada langit di sini. Ia ingin sekali mengubungi istrinya, tetapi ia khawatir akan mengganggunya karena ia tahu jam segini Ajeng ada jadwal mengajar. Namun, ia akan tetap menghubunginya.
"Halo assalamu'alaikum..." suara lembut yang selalu dirindukannya.
"Wa'alaikumsalam..."
"Sayang?"
"Hai, aku udah nyampe di Chicago, Sayang!"
"Alhamdulillah..."
"Kamu lagi dimana?"
"Aku lagi di kampus, aku keluar dulu lagi ngajar soalnya."
__ADS_1
"Maaf aku jadi ganggu kamu."
"Gak apa-apa, Sayang!"
"Aku cuma mau ngabarin aja, biar kamu gak kepikiran."
"Makasih sayang. Kamu istirahat aja, pasti capek banget kan?"
"Iya gitu deh!"
"Oh iya, ada kejutan di koper kamu. Nanti cek aja sendiri ya?" ucap Ajeng.
"Wah, makasih banyak sayang! Ya udah aku istirahat dulu ya?"
"Iya, Sayang! Have a nice day! Jangan lupa janji kamu, tiap hari telponin aku ya?"
"Siap, Sayang! I miss you. Assalamu'alaikum."
"Miss you too, wa'alaikumsalam."
Ferdian menutup ponsel dan menaruhnya di atas kasur. Lekas-lekas ia membuka kopernya. Sekalian mencari kejutan yang dititipkan oleh istrinya, ia juga memasukan pakaian-pakaiannya ke dalam lemari sembarangan saja. Ia menemukan sebuah kantong kertas berwarna coklat yang wangi. Wanginya seperti wangi tubuh istrinya.. Ia jadi merindukannya. Lalu ia membuka isinya, yang ternyata gaun tidur milik Ajeng yang menjadi favoritnya itu. Ia mencium gaun itu, sangat wangi. Ada kertas tertulis di sana.
Kalau kangen aku, peluk ini yaa
Ferdian tersenyum lalu menciumi gaun itu lagi. Ia juga menemukan kejutan lainnya, sebuah kantong kertas lainnya. Bedanya, kali ini berisi pakaian milik Arsene, dan wangi parfum bayi. Ferdian menciumi pakaian itu.
Ternyata masih ada kejutan lainnya. Ada sebuah kotak berwarna maroon yang terletak di dasar koper, tertumpuk pakaiannya. Ia segera membukanya. Ada sebuah jam tangan silver bermerk terkenal di sana. Mata Ferdian terbelalak. Hatinya senang bukan main. Ia juga membuka catatan kecil yang sudah ditulis Ajeng di sana.
"Makasih banyak, Sayang!" ucapnya riang. Ia langsung saja memakai jam itu yang ukurannya pas di pergelangan tangannya. Mungkin Ajeng sudah mengukurnya terlebih dahulu. Ferdian tersenyum sambil membereskan isi kopernya. Lalu melakukan aktivitasnya sebelum benar-benar istirahat total malam ini.
\=====
Hari itu adalah hari pertama pelatihan dimulai. Setiap peserta sudah diberikan seragam masing-masing, untuk laki-laki adalah berupa setelan jas dan celana hitam dengan kemeja putih, serta dasi merah. Begitu juga dengan peserta perempuan, yang berbeda mereka mengenakan rok span hitam.
Ferdian dan Ridho keluar bersamaan dari kamar mereka. Kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju lantai 37, dimana mereka akan menikmati sarapan pagi. Mereka juga bertemu dengan para peserta lainnya, yang mengenakan seragam yang sama. Ferdian dan Ridho tersenyum kepada yang lainnya ketika mereka berangkat bersama di dalam lift.
Sebuah ruangan luas tanpa sekat dengan banyak meja dan kursi makan terdapat di lantai 37. Ada beberapa meja prasmanan yang di atasnya sudah tersaji berbagai hidangan mengguggah selera. Sepertinya menu sarapan pagi ini tersaji menu American Breakfast. Sean mengatakan kalau hidangan di sini sudah moslem friendly, artinya halal, karena memang banyak peserta Muslim yang mengikuti pelatihan ini.
"Gak ada nasi, euy!" ucap Ridho ketika ia mengambil sebuah piring porselen putih.
Ferdian tertawa saja, apalagi logat Sunda Ridho keluar dari mulutnya.
"Kalau orang Indonesia, tanpa nasi serasa belum makan ya? Tapi kamu udah langsing gitu gak usah makan nasi juga cukup kali!" ucap Ferdian dengan bahasa Indonesia.
"Aneh, nanti perut aku pasti minta lagi. Bisa nambah kan ya?"
"Boleh kayanya!"
Ridho terkekeh-kekeh. Tubuh Ridho kali ini memang sudah ideal. Setelah lulus ia benar-benar menerapkan pola makan sehat dan olahraga rutin. Pipi gembulnya kini berganti menjadi kekar. Ridho lebih terlihat bugar dan segar dengan tubuhnya yang sekarang.
"Aku mah mau ambil sosis sama pancake aja deh!" ujar Ridho mengambil beberapa buah sosis sapi dan ayam, serta beberapa tumpuk pancake yang disiramnya dengan saus caramel.
Sementara Ferdian lebih memilih roti gandum yang ditemani dengan crumbled egg atau bahasa Indonesianya telur orak-arik juga sosis sapi. Ia juga mengambil secangkir kopi hitam panas dengan sedikit krimer nabati.
Keduanya memilih sebuah meja panjang di sisi jendela yang lebar dan menghadap ke arah kota. Tidak ada yang mengisi meja itu saat ini. Jadi mereka hanya duduk bersebelahan saja, padahal ada delapan kursi di sana.
Tiba-tiba seorang perempuan bule berambut panjang lurus dengan warna cokelat terang, duduk di hadapan Ferdian. Ia membawa piring sarapannya.
"Hai Oppa, aku duduk di sini ya?!" ucapnya dengan logat Inggris yang cukup aneh.
Tanpa menunggu jawaban dari Ferdian, ia duduk di hadapannya seraya tersenyum manis.
\=====
Bersambung dulu yaa
Like, comment, dan votenya yaa
__ADS_1
Makasiiih ^_^