
Ferdian berjalan menuju kantin. Isi kepalanya penuh dengan pikirannya tentang Ajeng. Ia sebenarnya ingin berbicara padanya. Apakah kondisi hatinya baik-baik saja? Apakah ia merasa khawatir dengan hubungan ini? Apakah ia marah pada dirinya? Semua itu membuat hatinya gusar.
Sepanjang jalan menuju kantin, wajah Ferdian terus tertunduk, tatapannya kosong. Ia merasa bersalah karena ucapan refleksnya tadi.
Bruk. Entah kapan tiba-tiba, lagi-lagi ia menabrak seseorang. Ah, gadis itu lagi, yang kemarin sempat ditubruknya di perpustakaan. Kenapa ia seceroboh itu, batinnya.
"Maaf gak sengaja, lagi!" ucap Ferdian datar.
"Kayanya udah takdir deh kita bertemu lagi," ucap gadis itu polos, membuat Ferdian terkekeh dalam hati.
"Kakak, senior aku kan?" tanyanya sok akrab.
"Saya gak kenal kamu!" jawab Ferdian dingin.
"Aku mahasiswa baru di jurusan Inggris. Kakak satu jurusan juga kan?"
Ferdian hanya tersenyum mengangkat sebelah ujung bibirnya.
"Sorry ya!" ucap Ferdian lagi, ia langsung menyelonong pergi dari hadapan gadis itu.
"Interesting!" ucap gadis itu menatap sosok Ferdian yang pergi.
Ferdian duduk di salah satu kursi, dimana para teman-teman dekat di kelasnya sudah berkumpul dan menyantap hidangan makan siang. Ferdian hanya memesan semangkuk mie instan super pedas dengan jus jambu.
"Gimana tadi Miss Ajeng, marah gak?" tanya Syaiful penasaran.
"Entah! Gue udah minta maaf, tapi dia nyuruh gue pergi!" ucap Ferdian kecewa.
"Kok lo cemberut gitu sih, Fer?!" tanya Malik melihat semburat wajah Ferdian yang murung.
"Gak kenapa-napa, gue khawatir aja! Sumpah malu banget gue!" ucap Ferdian curhat sambil mebelalakan matanya.
"Lagian elo, mimpi di siang bolong! Untung aja Miss Ajeng gak ngusir elo!" kali ini Ghani yang menimpali meski mulutnya masih penuh dengan kwetiau goreng yang dimakannya.
"Ngomong apa sih, Lo! Abisin dulu itu makanan!" timpal Danu.
"Kalau Miss Ajeng malah jadi naksir kamu gimana, Fer?!" tiba-tiba pertanyaan polos keluar dari mulut Ridho, seperti menciptakan suasana yang seharusnya terjadi.
Ferdian tertawa-tawa, entah memang pertanyaannya lucu karena keluar dari mulut Ridho yang mengetahui keadaan sejujurnya, atau karena ekspresi wajah polos Ridho yang ingin ikut berakting.
__ADS_1
"Si Ridho serius tuh, Fer! Gue tadi ngomong juga apa? Miss Ajeng sampai salah tingkah tuh setelah lo bilang, 'Sayang'!" ucap Syaiful mengiyakan.
"Iya gimana kalau beneran kaya gitu, Fer?!" Malik jadi ikut sepakat juga.
"Hmm...menurut kalian, gue mesti ngapain kalau Miss Ajeng naksir sama gue?" kali ini Ferdian yang bertanya.
Sohib-sohibnya itu termenung. Ada yang lesu, murung, dan ada yang datar-datar saja.
"Asyem itu mah, beruntung banget sih yang bisa ditaksir Miss Ajeng!" timpal Danu.
"Berharap gue yang bisa jadi lelaki itu, hiks hiks!" ujar Syaiful murung.
"Jadi gimana? Kalau kejadiannya kaya gitu! Malah pada curhat!" Ferdian seperti memanfaatkan momen ini agar teman-temannya itu mendukung hubungannya dengan Ajeng, agar suatu hari mereka tidak lagi kaget kalau-kalau ia memberitahukan semuanya.
"Gue mah sih oke aja, kalau Lo misalnya bareng Miss Ajeng! Tapi ingat saingannya pasti berat! Ya semacam Pak Ardi lah ya?!" ujar Malik sambil menyeruput mie instannya.
"Iya sih, gue dukung aja! Lagian Lo kalau diliat dari fisik emang setara lah sama Miss Ajeng!" ucap Ghani.
"Gue belum ikhlas!" teriak Syaiful lebay, membuat banyak mata menoleh pada meja kumpulan pria-pria heboh, Malik mentoyor kepalanya.
Sementara itu, Ridho hanya bisa menahan tawa karena akting Ferdian berhasil membuat kawannya mendukung Ferdian dan Miss Ajeng.
"Kalau ngutip omongan Ipul tadi pagi, cowok normal pasti naksir! Wkwk!" ucap Ferdian mendelik Syaiful.
"Ngutip omongan gue, bayar Men! Kasihlah sedikit kegantengan Lo buat gue!"
"Dih, ogah!"
"Sssst....!! Princess kita datang tuh!" ucap Danu, membuat pandangan mata keenam mahasiswa heboh itu tertuju pada satu titik, Miss Ajeng.
Ferdian menggeleng-geleng melihat kelakuan para sohibnya itu. Astaga istri gue jadi pusat perhatian! Ucapnya dalam hati. Memang tidak ada yang bisa mengelak dari pesona Miss Ajeng, bahkan ia sedang diam pun terlihat menawan. Ah, dirinya sungguh beruntung mendapatkan dosen cantik itu. Hanya ia yang tahu betapa bahagia dirinya.
\=====
Ajeng membawa piring makan siangnya ke salah satu meja kosong di dekat kolam. Keenam makhluk turunan Nabi Adam itu belum selesai juga memperhatikannya.
"Eh, gue lupa ngasih tau lo semua, besok kita ada pertandingan bola lawan jurusan Jepang, Men!" ucap Ghani memberi pengumuman dadakan, memecah perhatian dan konsentrasi sebelumnya.
"Yah! Kok dadakan banget sih, Gan?" tanya Danu.
__ADS_1
"Emang tadinya bukan kita yang main! Eh ternyata tadi pagi kelas sebelah minta tolong gantiin mereka, sebagian doang sih! Butuh 5 orang aja katanya!" jelas Ghani,
"Gue ikut ah! Lumayan bakar lemak!" timpal Syaiful.
"Lemak lo emang segede apa, Pul? Perasaan udah tulang semua tuh badan!" celetuk Danu.
"Biar berotot, Men! Siapa tau tiba-tiba numbuh habis main sepak bola! Wkwkwk!"
"Fer, lo maen ya?! Biar banyak cewek-cewek dateng nyemangatin!" ucap Ghani.
"Wajah gue udah kaya magnet aja. Ikut aja lah gue mah!" ujar Ferdian, ia tidak bisa menampik pesona dirinya sendiri yang selalu jadi magnet perhatian kaum hawa.
"Besok sore kosong kan kuliah kita? Fix ya, Danu, Ipul, Ferdi, Gue dan Malik main! Dho, elu kebagian sesi foto-foto aja ya?!" ucap Ghani.
"Iyaa, da saya mah apa atuh, cuma segepok daging gajah!" ucap Ridho menyadari tubuhnya yang gempal, bahkan ketika berjalan pun nafasnya sesak, apalagi ketika harus berlari.
Keempat kawannya ramai-ramai mentoyor kepalanya tidak sopan, kecuali Ferdi yang matanya tidak lepas menatap istrinya di ujung sana dengan tatapan tidak suka.
"Eh, Pak Ardi memanfaatkan momen tuh!" celetuk Syaiful.
"Tuh kan, saingan Lo itu berat Men, sekelas Pak Ardi yang maskulin dan berotot itu lagi pedekate sama Miss Ajeng!" ucap Malik memanasi.
"Tenang aja, nanti gue bikin rencana!" ucap Ferdian santai, masih tetap pandangannya tertuju pada meja itu.
"Wow, bakal serius nih, Ferdi gaet Miss Ajeng!" ucap Danu.
"Serius dong!!" ucap Ferdian semangat, menyentak meja.
"Gue yang bakalan nangis ini mah, kalau si Ferdi jadi sama Miss Ajeng!" ucap Syaiful termehek-mehek.
"Sabar, Pul! Masih ada kita disamping Lo, masih senasib sepenanggungan!" kata Danu polos.
"Mantap lah, Fer! Semangat!" ucap Malik men-tos tangannya, diikuti kawannya yang lain, kecuali Syaiful yang malah mengepalkan tinjunya ke pipinya sendiri.
\=====
Keep like dan vote yaa
Makasih ^^
__ADS_1