Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 97. Sakit


__ADS_3

Omset Toko Sweet Recipes semakin menurun saja setelah kepergian Ardan. Tidak ada yang bisa menyaingi resep-resep buatan Arsene selain Ardan. Satrio pun yang sudah bekerja dari awal, tidak bisa mengimbangi resep buatan Arsene. Ardan bisa seperti itu karena Arsene yang langsung memberikan teknik cara membuatnya sehingga pria berusia 23 tahun itu bisa menirunya. Jarak Arsene yang jauh agak menyulitkan para koki pembuat kue untuk bisa membuat kue-kue yang serupa.


Ferdian bahkan sudah menambah seorang koki baru lagi untuk menggantikan posisi Ardan, sehingga Satrio bisa kembali ke posisinya semula. Hanya saja ternyata tidak mudah, malah rasa-rasa kue semakin jauh dari harapan para pelanggan yang sudah merindukan citarasa kue Toko Sweet Recipes sebelumnya.


Sudah beberapa bulan berlalu semenjak kepergian Ardan. Kabarnya pria itu sudah bekerja di bakery ternama dengan penghasilan yang lebih baik. Jadi alasan penolakan Alice hanya alasan kesekian untuk memutuskan keluar dari toko milik Arsene.


Arsene terlihat tengah mengevaluasi pendapatan dari tokonya setelah mendapat laporan pencatatan harian dari Alice. Omset menurun drastis bahkan hingga 50%. Banyak kue terbuang sia-sia, karena koki utama pengganti Ardan terlalu banyak membuat stok. Padahal Arsene sudah menginstruksikan agar menurunkan stok pembuatan, seperti saat toko awal berdiri. Koki bernama Tian ini terlalu keras kepala untuk diberitahu, padahal ia baru bekerja selama dua bulan. Dalam curriculum vitaenya, Tian menuliskan kalau dia sudah berpengalaman cukup lama di dunia patisserie, tetapi Alice mengatakan bahwa kue-kue buatan pria berusia 25 tahun itu jauh lebih buruk daripada buatan Rio.


Arsene memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Badannya terasa nyeri, ini pasti karena asam lambungnya yang tidak beres. Jika Arsene sedang mengalami tekanan yang tidak membuatnya nyaman begitulah efeknya. Asam lambungnya yang naik menyebabkan tubuhnya terasa pegal-pegal. Belum lagi kepalanya sering berdenyut linu akhir-akhir ini, karena ia terus memikirkan nasib tokonya. Pria muda itu meminum obat penurun asam lambungnya sebelum menghabiskan makan malamnya satu jam mendatang.


Ia menghela nafas. Entah mengapa tubuhnya terasa menggigil kali ini. Ia mengecek suhu tubuhnya sendiri yang terasa hangat. Padahal besok ada ujian untuk membuat menu souffle, hidangan Prancis berbahan dasar tepung dan telur yang membutuhkan teknik mumpuni agar hidangan itu bisa tersaji dengan sempurna. Pria itu memutuskan untuk menjauhkan dirinya dari laptop miliknya lalu berbaring di atas matrasnya. Ia tidak memiliki obat paracetamol untuk meredakan rasa pusing di kepalanya, sehingga lebih baik ia harus memejamkan matanya saja.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering keras di sampingnya. Zaara melakukan panggilan video malam itu. Arsene bangkit dan merapikan penampilannya agar tidak terlihat sedang tidak baik-baik saja.


“Assalamu’alaikum…” sapa Zaara tersenyum.


Senyuman istrinya selalu membuat Arsene bersemangat di kala gadis itu meneleponnya.


“Wa’alaikumsalam…” jawabnya tersenyum kaku menahan denyutan linu di kepalanya. Ia tidak akan memberitahukan istrinya kalau dirinya sedang sakit.


“Abang Sayang sehat? Kok wajahnya agak pucat gitu, atau layar hp aku yang jelek ya?” tanya Zaara menatap wajah suaminya yang terpampang di layar ponsel.


“Ah, enggak… kecapean aja!” kilah Arsene.


“Nggak bisa kerjanya dikurangi sehari aja gitu? Biar ada waktu untuk istirahat," Zaara selalu meminta itu pada suaminya, tetapi Arsene selalu berdalih.


“Aku udah kontrak, Sayang! Lagian aku gak enak kalau gak gerak, apalagi gak ada kamu di sini. Kalau ada kamu kan enak bisa gerak-gerak, hehe!”


“Abaaang!”


Arsene berusaha menahan tawanya, tapi hasilnya kepalanya malah berdenyut lebih hebat. Membuatnya refleks mengernyitkan mata dan keningnya bersamaan.


“Abang sakit ya? Kepalanya pusing?!” tebak Zaara.


“Sedikit aja, Sayang!” jawab Arsene menutupi.


“Ada obat paracetamol gak?”


“Gak punya. Aku cuma punya obat untuk asam lambung.”


“Minta sama temen kalau gak bisa ke klinik. Jangan sampai sakit, Abang Sayang!”  Wajah Zaara terlihat cemas. Arsene sudah tidak bisa lagi menyembunyikan sakitnya.


“Iya nanti aku coba tanya temen di asrama.”


“Kenapa? Kepikiran toko ya?”

__ADS_1


Gadis itu memang hebat sekali menebaknya yang tidak mungkin disangkal oleh Arsene lagi.


“Ya gitu lah. Gimana gak kepikiran, kita punya cita-cita. Sedangkan sumber pendapatan terbesar kita selama ini dari sana. Jadi mau gak mau aku harus tetap bikin bisnis ini hidup.”


"Jangan terlalu dipikirin, mungkin rezekinya lagi kecil. Abang bisa fokus sekolah dulu. Minta tolong Daddy urusin toko Abang." Zaara mencoba memberi masukan.


"Iya, Sayang!"


Zaara terlihat murung. Di saat suaminya sakit, ia tidak bisa mendampingi dan merawatnya.


“Jangan sedih, Sayang! Besok pasti udah baikan kok!”


“Besok kamu sekolah kan? Cari obat sekarang ya? Terus istirahat. Aku gak mau kamu kenapa-napa,” ucap Zaara.


“Iya Sayang, habis ini aku bakal cari obat.”


“Ya udah aku tutup aja. Biar kamu bisa lebih cepet istirahat.”


“Jangan!”


“Kenapa?”


“Aku masih kangen lihat wajah kamu!”


Zaara tersenyum.


“Ya udah deh. Kamu duluan tutup.”


“Cepet sembuh Abang Sayang! I love you!” Zaara memberi kecupan jarak jauh dari ponselnya.


“Love you too!”


Arsene menutup ponsel dan menaruhnya kembali di atas meja. Ia harus mencari obat dulu sebelum tidur.


\=====


Zaara tampak tidak fokus mengikuti perkuliahan siang itu. Pikirannya terus tertuju pada suaminya di seberang benua. Apakah Arsene sudah benar baik-baik saja? Ia tidak yakin, meskipun pria itu berkata sudah lebih baik saat dirinya mengirim pesan singkat padanya tadi.


“Ra!” Terry menyenggol tubuh sahabatnya itu. Tetapi gadis berhijab dusty pink itu tetap bergeming sambil memangku dagunya di atas meja.


“Ra, kuliah udah selesai woy! Mau sampai kapan disini?” kali ini Terry menaruh wajahnya di depan Zaara, membuat gadis itu terentak.


“Ih ngagetin aja!”


“Lagian kamu ngelamun aja dari tadi! Dosen udah keluar, anak-anak juga udah cabut. Ini masih asyik ngayal aja!” protes Terry. Hana yang berada di sebelahnya tertawa-tawa.

__ADS_1


“Siapa juga yang ngayal? Aku cuma kepikiran Arsene.”


“Ciyeee, yang mikirin soulmate. Emang kenapa, cerita dong!” Terry memancing.


“Kemarin dia sakit. Aku cuma cemas,” jawab Zaara sambil membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas.


“Arsene sakit apa?” tanya Hana.


“Kemarin bilangnya pusing. Mungkin asam lambungnya juga kambuh! Tadi sih bilangnya udah baikan, tapi aku ragu.”


“Duh, prasangka istri tuh kadang kuat lho. Mama aku juga gitu soalnya, sering nebak-nebak tentang Papa taunya beneran,” ucap Terry.


Zaara semakin murung saja.


“Terus aku mesti gimana?” tanya Zaara menatap pada kedua sahabatnya.


“Coba telepon lagi aja. Tes lewat suaranya, atau video call lebih bagus biar kamu lebih bisa memastikan!” saran Hana.


“Iya sih. Tapi dia udah masuk sekolah.” Zaara melihat jam di layar ponsel.


Tiba-tiba saja panggilan masuk untuk Zaara. Nama Arsene terpampang di sana.


“Panjang umur tuh!” ucap Hana yang melihat nama Arsene di ponsel sahabatnya.


Zaara segera mengangkat.


“Assalamu’alaikum…”


“Zaara, ini aku, Fiona!”


DEG,


Jantung Zaara dengan cepat melompat terkejut. Ada apa?


\=====


Nah lho?!


Bersambung dulu yaa


Vote yang banyak biar kasih up 1 episode lagi nih


Jangan lupa klik tombol LIKE


Tulis kolom komentar kamu juga yaa

__ADS_1


Makasiiiih ^_^


__ADS_2