Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 21. A Box of Happiness


__ADS_3

“People are going to talk about you, no matter what you do. So you might as well do whatever brings you joy and live your best life. Never stop being a good person.”


(Orang-orang akan selalu membicarakanmu, tidak peduli apa yang kamu lakukan. Jadi, lakukan apa yang bisa membuatmu senang dan jalani hidup terbaikmu. Jangan berhenti menjadi orang baik.)


Keep cheer up, Zaara :) 


This is your box of happiness, hope you'll like it!


(Tetap semangat, Zaara. Ini kotak kebahagiaanmu, semoga suka!)


- Arsene


Zaara terkejut sekaligus merasa senang ketika ia mendapati tulisan penyemangat dari Arsene. Terlebih lagi, Arsene mengirimkannya dengan sebuah kotak blueberry cheesecake yang sangat menggugah selera. Sampai-sampai air liurnya terus diproduksi di dalam mulutnya karena sudah tidak sabar ingin mencicipinya.



Zaara tersenyum lebar. Entah kenapa ia ingin sekali bertemu dengan teman sebangkunya itu dan mengucapkan banyak terima kasih. Arsene mengirimkan kotak kue itu melalui jasa kurir, sehingga ia tidak ada untuk menjenguk Zaara di sana. Ia merasa terlalu banyak berhutang budi pada Arsene yang telah menolongnya malam itu. Kalau tidak, mungkin saja kondisi tubuhnya kini bisa jadi lebih parah.


Zaara masih beristirahat di rumah sakit, setelah apa yang menimpanya tiga hari yang lalu. Ia sempat mengalami shock berat selama tiga malam ini, Mimpi buruk atas perlakuan seorang laki-laki yang menyekapnya di gudang masih menghantui benaknya. Belum lagi umpatan kasar dari mulut Astria terngiang di telinganya.


Akan tetapi kutipan kata yang dikirim Arsene padanya telah membuatnya yakin, bahwa memang orang-orang di luar sana akan selalu berkomentar terhadap apa yang dilakukannya. Apa itu perlakuan baik atau buruk. Ia juga termenung memikirkan sikap dirinya yang kadang terlalu keras dan ketus terhadap orang lain, sehingga membuat dirinya beristigfar dalam hati. Memang, kadang meski kita meyakini telah melakukan hal yang benar, tetapi jika hal itu dilakukan dengan cara yang kurang baik pasti akan ada hati yang tersakiti. Makanya harus selalu ada adab di atas ilmu dan iman. Mungkin inilah pelajaran besar baginya.


Karin menghampiri anaknya yang bersandar di dipan matras rumah sakit. Wajah Zaara masih terlihat sayu dan lemas. Selang infus tertancap di lengan kirinya yang masih memegangi kotak kue itu.


“Apa itu?” tanya Karin sambil membetulkan posisi kerudung anaknya.


“A box of happiness,” jawab Zaara tersenyum.


Karin tersenyum melihat senyuman dari bibir anaknya. Lalu mencoba mengintip apa isi dari kotak itu. Karin memang sama sekali tidak tahu ketika kotak itu datang, karena seorang perawat yang mengantar itu langsung ke dalam kamar Zaara yang sedang seorang diri. Karin baru saja selesai mengurusi keperluannya di rumah sehingga meninggalkan anaknya di rumah sakit. Sedangkan Zaara tentu saja sudah menyembunyikan tulisan Arsene di balik bantal tidurnya.


“Coba umi lihat!” pinta wanita berkhimar lebar itu.


Zaara pun membukanya, dan memperlihatkan pada uminya. Wangi manis dari keju, blueberry, dan vanilla langsung tercium ketika kotak itu terbuka.


“Siapa yang kirim ini?” tanya Karin penasaran.


“Arsene,” jawab Zaara ragu.


Mata Karin membelalak terkejut.


“Arsene kesini?!”


“Enggak, Mi! Ini tadi perawat yang antar, katanya ada kurir yang titip ini, Arsene yang ngirim,” jelas Zaara.


“Masya Allah. Umi kira tadi Arsene kesini.”


Zaara tertawa kecil saja, melihat uminya yang cemas karena khawatir anak gadisnya dikunjungi pemuda tampan tanpa ada pendamping mahram.


“Rajin banget Arsene bikin ini khusus buat kamu?”


Zaara mengangkat bahunya.


“Jangan-jangan….”


“Ih, Umi jangan mikir yang aneh-aneh!” sergah Zaara.

__ADS_1


“Arsene teman sebangku kamu kan?”


“Hah, Umi tau dari mana?” tanya Zaara terkejut.


“Dari Arsene. Dia yang bilang sendiri. Tapi masuk akal jadinya karena dia yang akhirnya datang cariin kamu ke sekolah.”


Zaara tertegun. Seperhatian itu kah Arsene pada dirinya? Tetapi, Zaara tidak ingin berpikir yang aneh-aneh. Ia tahu, Arsene adalah teman yang baik, bahkan terlalu baik baginya. Baru kali ini ia mendapat teman sebaik ini, dan dia seorang laki-laki.


“Umi gak marah kan aku temenan sama Arsene?” tanya Zaara ragu-ragu.


“Enggak, Sayang! Umi kan udah bilang, temenan itu boleh sama siapa aja, karena kita ingin menebar kebaikan. Hanya saja, interaksi kita tidak boleh berlebihan, secukupnya aja dengan lawan jenis karena khawatir menjurus pada zina. Umi sadar, kamu ini bentar lagi dewasa. Menaruh perhatian pada lawan jenis itu fitrah, tetapi tetap kita harus jaga, karena kita gak tahu siasat apa yang dilakukan setan untuk menghasut kita,” ucap Karin mengelus kepala anaknya.


Karin sendiri tidak tahu sebenarnya sejauh apa kedekatan Zaara dengan Arsene, anak dari sahabatnya sendiri, Ajeng. Hanya saja, ia percaya bahwa Zaara bisa menjaga dirinya sendiri, dan ia juga percaya bahwa Arsene akan menghargai anaknya. Ia sendiri tidak masalah, jika saja memang pada kedua anak remaja beranjak dewasa itu saling menaruh perhatian. Ia hanya berharap Allah akan selalu menjaga anak-anak ini sehingga bisa tetap dalam koridor yang sudah ditetapkan-Nya, sebagai wanita dan laki-laki.


“Tuh dimakan kuenya,” ujar Karin mengambil sebuah piring, sendok dan pisau di lemari nakas rumah sakit.


“Yeeeaa…” sorak Zaara senang.


Karin tersenyum.


\=\=\=\=\=


Sore itu ketika jam besuk tiba, beberapa perwakilan siswa XII IPA 5, menjenguk Zaara. Empat orang teman yang datang adalah Lidya, Anisa, Angga sebagai ketua murid, dan Arsene, beserta Bu Alisa, wali kelas mereka.


“Zaara gimana kabarnya sekarang?” tanya Bu Alisa berdiri di samping matras.


“Alhamdulillah, sudah baikan Bu! Besok kata dokter sudah bisa pulang, meskipun masih harus istirahat dulu di rumah,” ucap Zaara.


“Alhamdulillah.”


“Apa sih Ga!” delik Arsene menyenggol temannya.


Celetukan itu hanya disahut tawa oleh teman-teman yang lain, meski Zaara dan Arsene terlihat salah tingkah dibuatnya, karena sebenarnya ada Abinya Zaara di sana. Jadi Arsene khawatir gelagatnya akan tertangkap.


“Hussh!” desis Arsene menyenggol Angga, ketika ia melirik ke arah pintu, Om Reza sedang menatapnya tajam.


“Om ini Om, Arsene!” celetuk Angga lagi, menggoda Arsene.


“Angga…!” panggil Bu Alisa memberi peringatan.


Angga hanya menyengir. Memang kelakuan ketua murid XII IPA 5 ini begitu iseng, ia juga yang kemarin memulai sorakan ‘ciye’ saat Zaara dan Arsene masuk berbarengan setelah dari UKS waktu iu.


“Maaf ya Zaara kita gak bisa lama-lama. Lagian kamu harus istirahat,” ucap Bu Alisa.


“Iya Bu, gak apa-apa. Zaara justru berterimakasih banyak karena Ibu dan teman-teman sempat menengok Zaara,” ucap Zaara.


“Sampai ketemu lagi di sekolah ya?” ucap Lidya.


Zaara tersenyum melihat teman-teman dan ibu gurunya berpamitan lalu keluar dari ruangannya. Mereka telah membawakan buah-buahan segar untuk Zaara konsumsi. Karin dan Reza mengantar mereka dan berterimakasih karena kedatangannya.


“Arsene!” panggil Om Reza, membuat Arsene dan Angga menoleh berbarengan.


Angga menatap Arsene dan lelaki dewasa berjenggot itu bergantian tidak percaya.


“Iya Om?” tanya Arsene.

__ADS_1


“Bisa kita bicara dulu sebentar?” pinta Reza sore itu.


“Oh, i-iya bisa Om!” jawab Arsene mengangguk.


Angga tersenyum menyeringai melihat pemandangan di depannya.


“Om bentar ya, saya ada perlu sama orang ini dulu!” ucapnya menarik lengan Angga ke sudut ruangan.


“Awas, jangan tebar gosip yang enggak-enggak! Inget Zaara itu kondisinya masih down, jangan sampai ada isu yang gak baik tentang dia, oke?!” ancam Arsene.


“Oke! Emang ada hubungan apa lo sama Zaara?” tanya Angga penasaran.


“Temen!"


“Terus kok ayahnya Zaara kaya udah kenal lama sama lo?”


“Ada deh!” ucap Arsene sambil melenggang pergi dari sana.


Angga mendengus, mendengar jawaban Arsene yang tidak memuaskan hatinya.


“Inget Ga! Lo itu KM, harus jaga temen-temen sekelas lo!” ucap Arsene lagi.


“Iyaa!” jawab Angga lalu melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah sakit.


Karin dan Reza sudah duduk di atas sofa ruang perawatan VIP. Sementara Zaara masih terduduk di atas matrasnya sambil melahap kue buatan Arsene. Kue manis itu benar-benar membuat moodnya kembali bagus, dan ia merasa bahagia ketika krim keju berbalut selai blueberry lumer di lidahnya.


Arsene masuk ke ruangan itu sambil membungkuk sopan. Reza memerintahkannya agar Arsene duduk di sebelahnya. Wajah remaja pria itu terlihat tegang.


“Ada apa Om?” tanyanya pelan dan gugup. Zaara memandangi mereka semua dari tempatnya.


Reza berdeham.


“Saya sebagai wali Zaara, ingin mengucapkan banyak terima kasih sama kamu, yang sudah menolong Zaara. Bahkan saya tidak tahu jika tidak ada kamu, akan bagaimana nasib Zaara.  Saya juga sudah menerima laporan dari Bu Siska, bahwa murid-murid yang terlibat sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Itu juga karena kamu ya?”


Arsene mengangguk.


“Selama ini, kami tidak tahu perihal berita dikeluarkannya seorang murid karena laporan Zaara. Mungkin Zaara juga salah karena kurang ahsan dalam memberi nasihat atau mengingatkan seseorang. Itu mungkin karena kami yang mendidiknya keras. Saya juga mau meminta maaf kalau Zaara pernah berbuat tidak enak sama kamu.”


Arsene jadi tidak enak, mengapa Om Reza juga harus meminta maaf padanya. Padahal menurutnya Zaara tidak pernah bermasalah dengannya.


“Om tidak perlu minta maaf. Saya teman Zaara, dan saya menghargai dia apa adanya. Jadi saya tidak masalah dengan itu semua,” ucap Arsene sopan.


Reza dan Karin tersenyum bersamaan, melihat kedewasaan Arsene membuat hati mereka lega. Ajeng dan Ferdian benar-benar berhasil mendidik Arsene menjadi pria muda cerdas dan memiliki pemikiran terbuka. Saat itu, ponsel Arsene berdering, membuat ia permisi untuk mengangkat teleponnya. Daddy yang meneleponnya saat itu. Arsene bergegas keluar ruangan.


“Halo, Dad?” sapanya.


“Mommy kamu masuk ruang operasi sekarang. Mommy mau lahiran!"


DEG.


\=\=\=\=\=


Lanjut lagi nanti yaa


Yuk komen dan likenya dipersilakan, haha

__ADS_1


jangan lupa vote ^_^


__ADS_2