
Perkuliahan reguler telah dimulai hari itu. Masa orientasi dan pengenalan kampus pun telah usai. Para mahasiswa kini tengah fokus kembali belajar demi masa depan yang lebih baik. Suasana kampus kembali normal. Mahasiswa yang berjalan di koridor gedung, atau mereka yang berkumpul di kursi-kursi taman sambil menyapa kawan-kawan mereka. Dosen-dosen berjalan menuju kelas yang diajarnya masing-masing. Sementara para staf dan pegawai sibuk mengurusi administrasi.
Andre, yang mengenakan setelan kemeja dan jas berwarna navy, terlihat santai berjalan melewati koridor gedung D, dimana para mahasiswa pasca sarjana tengah menunggu untuk mengikuti perkuliahan perdana mereka. Ia masuk ke dalam kelas dan tersenyum, memperhatikan mahasiswa S2 yang jumlahnya kurang lebih ada dua puluh orang.
"Good Morning, Class! (Selamat pagi!)," sapanya sambil menaruh tas laptopnya di atas meja. Kemudian ia mengambil kacamatanya dan memakainya.
"Good Morning!" sapa mahasiswa.
"Hello, I'm Andre. In this semester, I'll help you to explore more in The Introduction of English Literature," (Halo, Saya Andre. Pada semester ini, saya akan membantu kalian untuk menjelajahi lebih banyak tentang mata kuliah Pengantar Kesusastraan Inggris)" ucap Andre pada mata kuliah yang akan ia ajarkan hari itu.
Mahasiswa pasca sarjana yang terdiri dari mahasiswa muda dan beberapa lagi tampak berumur lebih dari 35 tahun, tampak serius mengikuti perkuliahan dosen mereka.
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar dari pintu kelas yang sudah tertutup. Andre menghela nafas. Bahkan perkuliahan baru saja dimulai, sudah ada saja mahasiswa yang datang terlambat. Suara ketukan terdengar lagi di pintu, kali ini lebih keras. Terpaksa Andre berjalan menuju pintu kelas dan membukakannya. Karena hari ini hari pertama, ia berniat akan memberikan dispensasi atau keringanan pada mahasiswa yang terlambat itu.
JEKLEK. Seketika angin pagi dari luar berhembus kencang, menerbangkan rambut mahasiswa yang terlambat itu.
Andre menatap wajah mahasiswa itu, terkesima dan terpaku di saat yang bersamaan. Hatinya menerima satu bom atom yang meledak saat itu juga.
"I'm sorry, Sir! I'm sorry I'm late this morning, because of the traffic jam! (Maafkan saya, Pak! Saya terlambat pagi ini, karena jalanan macet)" ucap mahasiswa itu panik sambil menundukan wajahnya.
Andre masih terpaku memandangi mahasiswa cantik itu. Namun ia segera menyadari dirinya, ia melangkah mundur dan mempersilakan mahasiswa itu untuk masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Thank you, Sir! Thank you so much! I promise I won't do the same mistake! (Terima kasih Pak! Terima kasih banyak! Saya berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama!)" ucap mahasiswa itu girang dan langsung berlalu untuk duduk di kursi belajar.
Andre menutup pintu kembali, ia berjalan menuju mejanya dan membuka laptopnya. Hatinya masih berdebaran sehabis melihat mahasiswanya itu. Ia tak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Ada satu pertanyaan besar menggelayuti pikirannya. Mengapa wanita itu tidak mengenali wajahnya? Apa ia bukan wanita yang dikenalinya dulu?
Ah, Andre menjadi salah tingkah di mata kuliahnya kali ini. Ia sempat mencuri-curi pandang pada mahasiswa cantik itu yang kini sibuk mengeluarkan buku catatannya serta tisu untuk mengelap keringatnya yang panik karena terlambat. Ia benar-benar tidak berubah sama sekali. Itulah yang dipikirkan Andre pada saat melihatnya.
"Ehm... okay, we start the lesson (Oke, kita mulai pelajarannya)!" ujarnya kemudian, berusaha bersikap normal dan profesional seperti biasanya.
Detik, menit, dan jam berlalu dengan cepat. Andre berhasil menaklukan dirinya, mengajar mahasiswanya seperti biasanya dengan ciri khasnya yang santai tetapi dengan mudah bisa dimengerti oleh mahasiswanya. Sebelum pulang, ia meminta para mahasiswa untuk mengabsen secara digital dengan men-scan barcode mata kuliahnya. Dengan begitu tidak ada mahasiswa yang curang bisa memanipulasi absen. Satu persatu mahasiswa berjalan ke depan dengan tertib untuk mengisi absensi.
Mahasiswa cantik itu masih sibuk menatap layar ponselnya, sementara mahasiswa lain sudah keluar terlebih dahulu. Andre berdehem keras agar ia bisa mendengarnya.
"Oh iya!" dengan cepat ia mengambil tasnya, dan berjalan ke depan, menuju dosen mejanya.
"Scannya yang ini ya?" tanya wanita itu memastikan sebuah barcode di dalam map.
"Iya," jawab Andre singkat, tegang lebih tepatnya.
Wanita itu pun men-scan barcode, seketika itu muncul namanya di layar laptop milik Andre.
Navarina Aurella present 07-05-2020
__ADS_1
DEG.
Nama itu muncul. Nama yang sama dengan orang yang dicari Andre dan ditunggunya selama ini. Hatinya semakin kencang berdebar. Keringat dingin mulai keluar. Entah kenapa ia baru merasakan gugup sebesar itu. Bahkan untuk berkata pun ia tidak bisa, seolah lidahnya beku karena rasa gugupnya yang hebat.
"Done, Sir! Thank you! (Selesai, Pak! Terima kasih!)" ucapnya senang, kemudian ia melenggang pergi meninggalkan kelas dan dosennya yang masih terdiam dalam kegugupannya.
Andre menghembuskan nafas panjang, seolah-olah sejak tadi ia menahan nafasnya pada saat berhadapan dengan wanita itu. Beberapa kali ia menepuk-nepuk jidatnya, kemudian bersuara keras.
"Finally, I meet you! (Akhirnya, aku menemukanmu)!" ucapnya membuang rasa lega.
Sebenarnya ia ingin sekali memanggil nama wanita itu. Namun kegugupan itulah yang menahannya. Akan tetapi ia bersyukur akhirnya bisa bertemu dengannya meski tidak disangka-sangka. Nava ternyata menjadi mahasiswanya sekarang. Ia hanya penasaran kenapa sampai wanita itu tidak mengenalinya sama sekali? Apa karena memang sudah lama tidak bertemu atau karena hari ini Andre mengenakan kaca matanya. Ia memang mengenakan kaca mata ketika menggunakan laptopnya. Namun seharusnya tidak ada masalah, toh wajahnya tetap terlihat. Bahkan seharusnya Nava mengetahui nama lengkap dosennya itu. Ah, wanita itu memang ceroboh seperti dulu.
Andre tersenyum sendiri, ia senang sudah menemukan kembali cinta pertamanya.
\=====
Apakah kisah Andre semenarik kisah Ferdian dan Ajeng?
Tunggu cerita selanjutnya ^^
Like, comment, & vote
__ADS_1
Thank youuuu