Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Spin Off 3 - Rainer Seraphine


__ADS_3

Langkah kaki menapaki trotoar sepi di pinggir jalan besar. Hari sudah senja, semakin gelap tatkala matahari memutuskan untuk menjauh sejenak. Pria muda itu tampak santai dengan earphone wireless terpasang di telinganya. Sambil mendengarkan musik santai, ia terus melangkah menuju sebuah bengkel motor dari sekolahnya.


Rainer menarik resleting jaketnya dan membetulkan posisi ranselnya. Kepalanya mengangguk-angguk tatkala ada hentakan-hentakan musik yang mengalun di telinganya. Ia akan mengambil motor matic-nya yang sempat mogok tadi pagi. Entah apa yang rusak, yang jelas ia tidak memiliki waktu untuk memperbaikinya karena ujian akhir semester sedang diadakan.


Pria muda itu melepas earphone-nya ketika adzan maghrib berkumandang dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Kini fokusnya ke depan, bengkel terdekat dari sekolah memang cukup memakan waktu dengan jalan kaki. Hanya saja Rainer tidak ingin menaiki angkutan umum, ia lebih menikmati waktunya dengan jalan kaki seperti ini meskipun suasana jalan cukup sepi setelah maghrib ini.


BRAK.


“Tolooong!” sebuah suara perempuan lirih berteriak, terdengar dari salah satu sudut gedung yang sudah lama terabaikan.


Rainer menghentikan langkahnya. Telinganya awas dan berusaha mendengarkan suara itu lagi.


“Ampuuun kak!” terdengar suara itu lagi.


Rainer membawa kakinya mendekati sumber suara yang ia kira datang dari belakang gedung lusuh itu. Meski hatinya was-was karena hari sudah gelap, ia tidak ingin bersikap abai. Siapa tahu ia bisa menolong seseorang di sana.


Rainer mengintip dari balik tembok ketika suara itu muncul lagi.


DEG.


Jantungnya melompat tatkala melihat perempuan di sana dikerubungi oleh tiga orang pria. Ia mengenali semua wajah di sana. Semuanya adalah senior sekolahnya. Termasuk gadis itu, yang selalu menjadi rivalnya di tim basket, Seraphine.


Rainer menunggu dan mencari tahu apa yang terjadi di sana. Tetapi melihat wajah Sera yang meringis ketakutan dan terpojok seperti itu membuat dirinya tidak bisa menahan diri. Dengan berani, dirinya melangkah cepat. Apalagi salah satu orang pria di sana mencengkram baju Sera dan membenturkan kepalanya ke tembok, membuat gadis itu berteriak kesakitan.


“HEY KALIAN!” Rainer berteriak, membuat semua laki-laki di sana menoleh. Sera menatapnya dengan ringisan, tangannya mengusap kepala belakang.


“Lu ngapain di sini Rain?!” tanya salah seorang pria, Jamal. Rainer mengenalnya karena dia salah satu pemain di tim basketnya.


“Kalian ngapain?!” Rainer malah bertanya balik.


“Gak usah ikut campur deh, lu! Ini urusan kita sama Sera!” ucap Jamal, pria berambut ikal dengan tubuh cukup besar itu.


“Balik sono, Rain! Ntar nyokap lo cariin!” ucap Brian, seniornya juga.


Rainer tidak mengerti apa yang terjadi di depannya. Karena semua seniornya itu sudah lulus, tetapi mengapa mereka masih berada di lingkungan sekitar sekolah? Ia bertanya dalam hati.


“Lo anak mami kan?” sahut Willy, disusul dengan gelak tawa lainnya.


Rainer hanya menatap tiga pria di sana dengan tatapan dingin dan mengejek.


“Oke gue balik. Tapi gue mau jemput Sera!” ucap Rain santai.


“Sorry, Sera masih ada urusan dengan kita!” seru Jamal.


“Kenapa gak kalian selesein dulu, gue tunggu!”


“Emang lu siapanya Sera?!” tanya Willy.


“Bukan urusan lu lah! Gue udah janji mau jemput dia,” ucap Rain asal saja.


Mendengar ucapan Rain, Sera lekas berlari menghampirinya dan berlindung di balik tubuhnya. Sera menggenggam erat tas ransel Rainer karena ketakutan.


“Eh lu belum boleh balik, Ser!” seru Bryan.


“Gue mau balik! Kalian jahat mainnya keroyokan sama cewek!” teriak Sera.


“Utang lu sama kita belum lunas, lu harus bayar sebelum lu pergi dari sini!” ucap Jamal.


Rainer melirik Sera di belakangnya.


“Gue kan bilang, gue bakal lunasin. Tapi gak sekarang!” sahut Sera lagi.


“Emang utang apaan sih?” tanya Rainer ingin tahu.


“Dia kalah taruhan sama kita waktu nonton pertandingan IBL kemarin. Gantinya dia mesti bayar 1 juta sama kita!” terang Willy.


Sontak mata Rainer membesar, ia menoleh pada Sera untuk mengkonfirmasi.


“Betul gak?!” tanyanya.


Sera menunduk malu, merasa bodoh. Kepalanya mengangguk pelan.


Rainer menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa ada perempuan bodoh sekali mau bertaruh untuk hal yang tidak jelas.

__ADS_1


“Kalian mau apa dari cewek ini kalau gak bisa bayar?” tanya Rainer.


“Apapun yang dia punya, kita bakal ambil lah! Termasuk kehormatannya!” ucap Jamal terkekeh-kekeh.


Tubuh Sera bergetar mendengar hal itu. Ia terus berlindung di balik tubuh Rain.


“Tolong gue, Rain! Please!”


“Lu b*go! Males gue nolongnya!” ucap Rain menoleh pada gadis yang ketakutan itu.


Sera semakin meringis. “Pleaaseee!”


“Nih, kalian selesein aja urusan kalian sendiri!” ucap Rainer menarik lengan Sera dan membawa gadis itu untuk diserahkan kepada tiga pria yang ada di depannya.


“Rain, lo jahat! Gue bilangin ke bokap lo!” teriak Sera meronta-ronta untuk melepaskan diri dari tangan Rain.


Tatapan Rain tetap dingin melihat Sera yang menjerit-jerit di sampingnya dan ia belum sama sekali melepaskan genggamannya.


Tiga pria itu tertawa-tawa dan datang menghampiri untuk mengambil Sera dari Rainer. Jamal yang lebih dahulu mendekati. Pria besar itu baru saja akan menarik lengan Sera yang lain. Tiba-tiba….


BUG.


Tendangan keras mendarat sempurna di dada pria itu, ketika Rain menarik tubuh Sera ke belakangnya. Sera melongo terkejut.


“SIAL! Lo mau pake cara kekerasan, Rain?!” teriak Jamal yang terjatuh dengan posisi terduduk. “Serang dia!” seru Jamal pada dua kawannya.


Dua teman Jamal, Bryan dan Willy, datang mendekat berusaha menyerang Rain secara bersamaan.


“Lari, Ser!” seru Rainer. Bukannya berlari, Sera malah terdiam di sana dengan kebingungan. Ia melangkah mundur tatkala Rainer diserang oleh kedua laki-laki seangkatannya.


Ternyata Rainer punya ilmu bela diri. Lawannya tidak terlalu handal melakukan serangan, sehingga ia hanya menghindar saja. Yang terjadi justru Willy dan Bryan malah saling bertubrukan.


Rainer tersenyum kecil melihat kelimpungan yang terjadi di depannya. Mereka berusaha menyerang lagi, tetapi dengan satu pukulan untuk masing-masing mereka sudah membuat mereka ketar-ketir. Melihat lawan-lawannya sibuk mengurus luka kecil masing-masing, Rainer menarik lengan Sera dan berlari menjauh dari gedung itu.


“Jangan kabur lu, Ser!” ucap Jamal berdiri dengan susah payah. “Kejar mereka cepet!” serunya lagi.


Rainer terus menarik lengan Sera dan berlari secepat mungkin bersamanya. Jantung mereka berpacu cepat seiring dengan langkah mereka. Sementara itu Willy dan Bryan mengejar mereka yang berlari di samping trotoar sepi.


Rainer membawa Sera berbelok menuju sebuah jalan kecil yang hening. Lalu bersembunyi di salah satu rumah kosong yang bangunannya sudah tidak sempurna lagi. Mereka berdiam di sana dalam kegelapan, bersembunyi di salah satu sudut tembok.


“Gue kira cuma bercanda aja, taunya gue ditagih beneran!” jawab Sera berusaha mengatur nafasnya.


“B*go sih!” seru Rainer.


“Ih elo mah malah ngatain gue!” Sera memukul-mukul lengan Rainer.


“Ssst!”


Rainer menutup mulut Seraphine dengan telapak tangannya dan menariknya lebih dekat dengan tujuan agar tidak bergerak.


Terdengar suara derap langkah orang yang berlari lalu berhenti.


“Lu kesana, gue kesini!” ucap sebuah suara, itu suara Bryan.


Terdengar suara langkah mendekat ke rumah itu. Jantung Sera berdegup kencang, ia berusaha menahan nafasnya. Matanya melirik ke arah wajah Rainer yang sedang mengawasi pergerakan di luar sana. Tangan pria itu masih mendekap mulutnya.


Jantungnya makin berdegup kencang melihat wajah tampan yang terasa sangat dekat itu. Sepertinya ia akan pingsan saja. Ia bisa mendengar dengan jelas jantung Rainer yang berdetak kencang sama sepertinya.


“Gak ada!” teriak Willy. “Gue gak mau masuk rumah itu ah, angker katanya!” ucapnya pada Bryan.


“Udahlah balik aja! Males gue ngejar mereka. Suruh si Jamal aja yang kejar sendiri,” ucap Bryan.


“Yuk ah, capek gue!”


Sepertinya kedua pria itu sudah pergi dari jalan kecil itu.


“Mmmpsss!” Sera berusaha mengeluarkan suara dari mulutnya yang masih terus didekap Rainer.


Rainer menengok ke arahnya.


DEG. Ia baru sadar karena ternyata jarak mereka sangat dekat. Pria tinggi itu melepaskan dekapannya dari Sera.


Sera berusaha mengambil nafas.

__ADS_1


“Sorry!” ucap Rainer melangkah mundur.


“Thanks udah … nolong … gue …,” ucap Sera yang kehabisan nafas.


“Oke,” jawab Rain singkat dan canggung.


“Gue balik langsung!” ucap Sera melangkah pergi keluar dari rumah menyeramkan itu.


“Oke!” Rain mematung di sana. Entah karena canggung atau bingung.


Sera sudah berada di luar.


“Rain! Awas di belakang lo ada …, iiih!” Sera berlari.


“Apaan eh?! Tungguin gueeee!” teriak Rain ikut berlari menyusul Sera.


Sera tertawa-tawa sambil berlari, berhasil mengerjai pria yang sudah menolongnya.


“Sialan, ngerjain gue ya lu?!” seru Rainer yang sudah berhasil menyusul Sera ke trotoar jalan raya.


“Hahaha, ternyata takut setan juga ya lu?!”


“Bukan takut! Kagak mau aja ketemu.”


“Ah sama aja itu sih!” ucap Sera masih tertawa.


“Balik sama siapa lu?” tanya Rainer.


“Sama lu lah! Kalau mau nolongin tuh gak usah nanggung! Sekalian anter gue pulang ke rumah,” ucap Sera tidak sungkan-sungkan.


Rainer mendengus. “Ambil motor dulu di bengkel,” jawab Rainer.


Tidak lama mereka tiba di sebuah bengkel. Rainer mengambil motornya yang sudah selesai diservis, dan langsung berjalan menuju rumah Sera untuk mengantarnya.


“Thanks banget ya Rain, gue berhutang banyak sama lu!” ucap Sera saat mereka tiba di depan pagar rumahnya.


“Bayar kapan-kapan ya?! Nanti gue tagih kalau inget lu!”


“Huh! Ya deh! Moga aja gue gak ketemu mereka lagi.”


“Mereka tau rumah lu?” tanya Rain.


“Enggak sih!”


“Syukur deh! Ya udah gue balik!”


Rainer kembali menyalakan mesin motornya.


“Rain, lu masuk kuliah dimana?” tanya Sera.


“Gue balik ke SG!”


“Singapura?”


“Yap! Bye!” ucap Rainer meninggalkan gadis yang masih menyimpan banyak pertanyaan untuk adik kelasnya itu.


Sera melambaikan tangannya pada punggung pria itu.


“Yaaah, kapan kita ketemu lagi dong Rain?!” tanyanya pada diri sendiri.


Gadis itu berjalan masuk ke rumahnya dengan hati mengganjal.


\=\=\=\=\=\=\=


Huff… perasaan Sera pun ter-pending entah sampai kapan


Kisah mereka masih aku matangkan dulu ya, haha


Minta likenya boleh lah ya, hihihi



For your information, kisah Rainer sudah ada lhoo, bisa follow Instagramku @aeriichoi yaa buat info lebih jelasnya 🤗🥰

__ADS_1



__ADS_2