Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 42


__ADS_3

Rutinitas yang terlalu padat seringkali membuat orang lupa. Namun dengan begitu tentunya manusia pasti lebih merasa bermanfaat, entah itu untuk dirinya sendiri atau pun orang lain. Begitu dengan Ajeng yang melupakan sesuatu yang sangat penting baginya. Ajeng lupa untuk mengkonsumsi pil kb miliknya dua hari kemarin secara


berturut-turut. Ia ingat betul jika pil itu terlambat bahkan sampai terlupa dikonsumsi, hal itu akan menurunkan tingkat efektivitasnya. Apalagi tadi malam ia menghabiskan waktu dengan suaminya itu sampai tertidur. Pagi itu, ia


langsung menuju klinik dokter kandungan tempat ia berkonsultasi selama ini mengenai program kehamilannya.


Ferdian yang belum tahu perkara itu, tidak terlalu banyak bertanya kepadanya. Ajeng hanya bilang padanya ingin berkonsultasi ke dokternya. Memang Ajeng biasanya berkonsultasi dengan dokter, yang juga salah satu temannya itu, sebulan sekali. Ferdian tidak bisa mengantarnya karena ia ada jadwal kuliah pagi. Ajeng merasa lega, jadinya ia sendiri saja yang pergi menemui teman dokternya itu.


“Hai, Ta! Sehat?” sapa Ajeng setelah ia mendapat giliran masuk ke dalam klinik Dr. Sita, SpOG.


“Alhamdulillah, Jeng! Gimana kabar kamu dan suami?” tanya dokter Sita, ia adalah teman dekat Ajeng pada saat SMA, hubungan keduanya bisa dibilang sangat akrab pada saat itu, mengingat keduanya adalah teman sebangku selama 2 tahun berturut-turut.


“Alhamdulillah baik, Ta!” jawab Ajeng duduk di hadapan meja dokter.


“Suami kamu gak ikut? Tumben!”


“Iya, dia ada kuliah pagi,” terang Ajeng. Sita mengangguk saja, karena ia tahu suami sahabatnya ini masih seorang mahasiswa S1.


“Jadi, apa ada masalah diantara kalian?” tanya Sita.


“Gini Ta, akhir-akhir ini jadwal kerja dan jam ngajarku padat banget. Sialnya, aku benar-benar lupa untuk minum pil kb punyaku. Padahal kamu tahu kan, kita sedang coba tunda dulu kehamilan, setidaknya sampai suami aku wisuda. Menurut kamu resiko kehamilan aku cukup besar gak ya?” tanya Ajeng, nadanya terdengar cemas. Ia menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.


“Berapa hari kamu gak minum pil kb-nya?” tanya Sita.


“Seingatku sih, 2 hari ini, kemarin dan kemarin lusanya,” jawab Ajeng.


“Hmm…cukup beresiko sih! Kecuali kamu gak melakukan hubungan sama suami kamu selama gak minum pil itu. Did you (Apakah kamu melakukannya)?” tanya Sita penasaran.


“Oh my God, I did it last night passionately! Damn, he was so hot! (Ya Tuhan! Aku melakukannya


tadi malam dengan semangat! Dia sangat seksi!)” jawab Ajeng terlalu jujur. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Sita tertawa-tawa mendengar jawaban jujur sahabatnya itu.


“Kita tunggu aja dua minggu kedepan, oke?”


“Apa aku gak bisa konsumsi pil ini lagi, Ta?”


“Lebih baik jangan dulu! Kapan tanggal pertama menstruasi terakhir kamu?”


“Sekitar tanggal 13 kayanya, 10 harian yang lalu,” jawab Ajeng.


“Hmm….interesting! We’ll see ya (Hmm...menarik! Kita lihat nanti ya!). Persiapkan hati kamu dan suami kamu. Ingat, just be positive thinking. Semuanya akan baik-baik saja!” ucap Sita menenangkan sahabatnya.


“Tapi gimana kalau aku hamil, Ta? Aku belum siap sama sekali, begitu juga dengan suami aku!”


“Kalian itu udah nikah. Setiap pasangan yang sudah menikah selalu mendambakan kehamilan. Besarkan hati kalian. Semuanya Allah yang atur!”


Ajeng menunduk pasrah. Sita benar, ia harus mempersiapkan hatinya dan juga Ferdian untuk segala kemungkinan yang akan terjadi. Jadi dengan berpikir positif segalanya mungkin akan membuat dirinya lebih baik. Tetapi mungkin sementara saja, ia akan menyembunyikan hal ini dari Ferdian, menganggapnya seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Ajeng berjalan dengan lesu di sepanjang koridor gedung C, menuju kelas yang akan diajarnya. Wajahnya sayu, pandangannya kosong. Mahasiswa-mahasiswa yang bertemu dengannya di jalan tampak ragu-ragu untuk menyapa dosen mereka yang cantik itu. Meskipun begitu, masih tetap ada saja yang berani menyapanya, meski mendapat jawaban yang tidak seperti biasanya.


Ah, mood Ajeng benar-benar buruk siang ini. Ia hanya memberi kuis pada mahasiswa yang diajarnya hari ini. Bahkan ia tak ingin bertemu dulu dengan Ferdian di kampus.


“Hey! Kok murung gitu kayanya?” sapa Andre yang bertemu dengannya di lantai satu gedung C.


“Ah, enggak juga! Cuma sedikit kecapean aja,” jawab Ajeng berbohong.


“Udah selesai ngajar?”


“Iya!”


Keduanya lalu berjalan beriringan menuju gedung dekanat, menuju ruangan dosen. Siang itu Ajeng membawa bekal makan siangnya, jadi ia tidak pergi ke kantin. Ia juga tak memiliki nafsu makan, sehingga ia hanya menghabiskan smoothies pisang yang dibekalnya.


“Jeng kok kamu kayanya lemes banget deh, kenapa?” tanya Novi yang menghampiri meja kerja Ajeng.


“Enggak apa-apa, Nov! Cuma kepikiran sesuatu aja,” jawab Ajeng menaruh kepalanya di atas meja.


“Butuh bantuan? Atau butuh suami?” tawar Novi ramah.


“Makasih Nov, aku cuma butuh waktu sendiri dulu!” ujar Ajeng memejamkan matanya.


“Oh, oke deh! Aku keluar dulu ya?”


Ajeng mengangguk.


“Katanya, makan cokelat itu bisa bikin rasa cemas berkurang lho!” ucap Andre, membuat Ajeng menatap pria di depannya itu.


“Iya kah?”


“I agree, soalnya aku sering gitu makanya aku selalu membawa cokelat kemana pun pergi. Tapi harus rajin sikat gigi ya, biar gigi kamu gak rusak!”


Ajeng terkekeh saja. Ia seperti mendengar nasihat dari seorang dokter gigi.


“Jadi kamu sering merasa cemas?” Ajeng malah jadi bertanya.


“Ya gitu deh! Maklum masih jomblo!” jawab Andre santai.


Ajeng tertawa-tawa mendengar jawaban konyol Andre.


“Makanya cari jodoh, bukannya makan cokelat terus!” ucap Ajeng.


“Haha iya sih, masih cari ini juga, tapi susah!”


“Emang kamu gak dijodohin kaya kita gitu?”


“Enggak sih, mamaku gak suka. Lagipula papaku yang mimpin di salah satu perusahaan kakek

__ADS_1


juga bukan papa kandungku, jadi dia gak berani jodoh-jodohin aku sama orang lain. Mungkin karena merasa gak enak,” terang Andre membuka cokelat miliknya.


“Ohh…jadi Om Sakti itu bukan papa kandung kamu?”


Andre mengangguk dan menggigit cokelatnya.


“Papa kandungku sudah bercerai dengan mamaku sejak aku SMP, dan sekarang tinggal di London untuk merawat granny (nenek),” cerita Andre setelah cokelat di mulutnya lumer.


“Ooh I see! Aku masih penasaran deh, kenapa kamu milih kerja di sini, dan bukannya di London aja? Heran deh! Padahal kan di sana pasti lebih bergengsi. Atau karena homesick (kangen rumah)?” tanya Ajeng.


“Enggak juga sih, itu karena…” Andre agak ragu menjawab pertanyaan Ajeng.


“Because?”


“Karena aku lagi cari seseorang di sini,” jawab Andre ragu.


“Cari siapa?”


“Siapa ya? Hahaha, dasar aku aja yang masih berharap,” terang Andre membuat kening Ajeng mengernyit.


“Your first love (Cinta pertama kamu)?” tebak Ajeng.


Andre terkekeh geli mendengar jawaban tepat dari Ajeng. Ia menganggukkan kepalanya.


“Wow!” Ajeng menatap Andre takjub, “Tell me!” ucap Ajeng.


“Temen SMA aku! Udah lama kami gak berkomunikasi, padahal kami saling menaruh perasaan satu sama lain, hanya saja tanpa status tanpa ikatan, jadi ya gitu deh akhirnya aku hilang kontak sama dia,” cerita Andre jujur.


“Wow, sejak SMA ya? Kok kamu bisa sih setia gitu? Apa kamu gak pernah pacaran gitu, atau tertarik sama orang lain setelah hilang kontak sama perempuan ini?” Ajeng terus saja bertanya, sepertinya topik ini membuatnya sedikit melupakan apa yang ia cemaskan sejak tadi.


“Nope (Tidak)!” jawab Andre tegas. “Aku terlalu fokus sama studi dan karir aku di London, jadinya sama sekali gak ada pikiran ke sana,” lanjutnya lagi.


“Apa kamu gak coba hubungin teman-teman kamu yang lain untuk bisa dapat kabar tentang perempuan ini?”


“Belum sempet sih, aku juga belum bilang pada teman-teman SMA-ku yang lain kalau aku sudah pulang lagi ke Indonesia,” ujar Andre.


“Wah, itu harus banget dicoba! Setidaknya luangkan waktu sedikit aja sih Dre! Kamu juga perlu lho memperhatikan perasaan kamu sendiri!” ucap Ajeng menasihati.


“Iya kamu betul! Aku harus coba, setidaknya sampai aku bisa dapat kabar dari my first love!”


“Cieee nah gitu dong, semangat! Jangan terus makan cokelat aja, awas diabetes lho!” ucap Ajeng sambil tertawa-tawa diikuti juga oleh gelak tawa Andre lepas.


“Akrab banget kayanya kalian?” sindir seseorang yang melihat kedekatan antara Ajeng dan Andre.


Hmm. Kira-kira siapa ya?


\=\=\=\=\=


 Tunggu update cerita selanjutnya.

__ADS_1


Jangan lupa like & vote yaa


Makasiiiiiih ^^


__ADS_2