Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 122. Cerita


__ADS_3

Seorang wanita berkerudung lebar keluar dari kamarnya, setelah ia mendengar suara tambahan yang ada di kediaman ibunya itu. Sedikit ia menarik kerudung yang terasa longgar karena kepalanya sudah tidak memiliki rambut panjang yang selalu menjadi kebanggaannya dulu.


“Tante Jingga!” ucap Zaara ketika melihat wajah polos tanpa make up tantenya itu, terlihat pias tetapi masih cantik. Zaara segera beranjak dan menghampirinya, lalu mengecup punggung tangannya dan memeluknya.


“Sehat Tante?”


“Ya gini aja, Ra! Selalu disyukuri dan optimis bisa sembuh.” Jingga tersenyum kecil lalu duduk di atas kursi bersama Bunga dan Zaara.


“Kamu sehat, Ra?” Jingga balik bertanya.


“Alhamdulillah, Tante!”


“Ra kamu masih kerja di Natabooks?” tanya Jingga, meski menyebut nama perusahaan suaminya, tepatnya mantan suaminya, terasa kelu.


“Masih Tante!”


“Alhamdulillah.” Jingga tersenyum, hatinya terasa lega karena perusahaan mantan suaminya bisa bersikap profesional, sehingga pekerjaan keponakannya itu tidak terganggu.


Jingga menatap wajah Zaara yang berseri. Dirinya tahu kalau keponakan kecilnya ini mengalami keguguran beberapa waktu lalu dan kini ia sudah kembali ceria, meskipun mungkin wajah gadis itu menyiratkan kekhawatiran ketika melihat dirinya. Ia jadi merasa bersemangat, bahwa masa depan yang cerah masih menunggunya. Masih ada harapan di sana meski kini ia hanya bersama keluarganya.


“Apa kunci yang bisa membuat kamu tersenyum seperti ini, Ra?” tanya Jingga ingin belajar sesuatu dari keponakannya itu.


Alis mata Zaara terangkat, tak menyangka tantenya menanyakan hal itu padanya.


“Tante tahu, kamu juga melewati masa-masa sulit kemarin. Tapi kamu hebat, kamu udah bisa move on cepat. Tante ingin belajar dari kamu!” ucapnya mengelus kepala Zaara.


“Aku belajar untuk ikhlas dan memaafkan, Tante! Sadar bahwa ini semua adalah skenario Allah, Allah menghendaki peristiwa ini. Dan aku gak bisa terus dalam kondisi sedih. Aku belajar memaafkan Arsene dan memulai kembali dari awal. Aku sempat kecewa berat dan pisah sama Arsene sebentar, tapi dari sana aku sadar bahwa inilah kehendak Allah. Akhirnya aku malah merasa dosa sama Arsene karena egois menghindar dari dia.”


Mata gadis itu berkaca-kaca, diikuti juga oleh Bunga dan Jingga yang mendengarkannya. Mereka tak menyangka bahwa gadis itu bisa tegar di usianya yang masih muda.


Jingga meneteskan air matanya. Bahunya bergetar. Zaara memeluk tubuh tantenya yang sedang rapuh. Ia bisa merasakannya meskipun ia tidak tahu benar apa yang terjadi sebenarnya.


“Aku yakin, Tante juga pasti bisa melewati ini semua. Tante harus bersyukur, Allah gugurkan dosa-dosa Tante lewat penyakit ini. Tante juga masih punya harapan besar untuk sembuh.”


Zaara teringat salah satu hadist yang juga menguatkannya kemarin-kemarin, "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya," (HR. Bukhari & Muslim).


Jingga menyeka air matanya. Ia bersyukur telah dikelilingi keluarga yang mencintai dan mendukungnya selalu, meski ia harus kehilangan rahim juga suaminya bersamaan. Tetapi ia tak pernah menyesali keputusannya. Ia berusaha tersenyum.


“Makasih Ra, Tante juga akan berusaha sembuh!”


Memang penderita kanker atau yang memiliki penyakit parah harus selalu dikelilingi atmosfer kekuatan dan semangat yang bisa menumbuhkan optimisme hidupnya. Jiwa mereka yang rapuh harus selalu dipupuk dan disiram oleh motivasi hidup agar benih kehidupan baru itu terus tumbuh tinggi.


“Yuk kita makan rujak dulu!” ucap Nenek Yasmin yang baru saja datang dari dapur sambil membawa wadah berisi rujak jambu segar yang manis.


“Waaah…,” Zaara terlihat antusias dan langsung mengambil beberapa gelas dan sendok untuk menjadi wadah.


Keempat wanita berbeda generasi itu terlihat riang sambil menuangkan rujak ke dalam gelas dan menyantapnya bersama-sama.


\=\=\=\=\=\=


Sore itu di dalam masjid, Arsene dan kawan-kawan LDK-nya mengadakan rapat kepanitiaan acara motivasi training khusus untuk mahasiswa baru di tahun ajaran berikutnya. Sebelum menjemput Zaara, Arsene berusaha menyimak instruksi steering committee yang akan mengarahkan para panitia. Arsene menjadi kepala panitia divisi acara khusus ikhwan.


Sementara Zaara tidak diikutkan dulu untuk kepanitiaan ini, karena khawatir akan membebani. Jadi Arsene meminta kepada para pemegang kebijakan LDK untuk tidak melibatkan istrinya dalam acara kepanitiaan apapun, kecuali panitia lepas yang fleksibel.


Arsene sendiri akan berkoordinasi dengan seorang akhwat asal jurusan psikologi, Aretha, yang masih satu angkatan dengannya.


“Silakan dari divisi acara, apakah ada usulan untuk konsep acara training inspirasi mahasiswa baru tahun ini?” tanya Adit yang menjadi ketua pelaksana acara.


“Kalau saya mengusulkan untuk acara, satu sesi untuk training motivasi, satu sesi untuk training penguatan akidah dan dakwah. Jadi trainingnya seimbang. Apalagi maba ini kan masih berusaha mencoba mencari jati dirinya, jadi saya kira 2 acara itu akan bisa berpengaruh besar untuk keberlangsungannya di kampus.” Arsene memberi masukan.


“Iya betul, saya sepakat! Selama ini kita memang sering menyatukan training akidah dan motivasi dalam satu kemasan. Mungkin dibagi menjadi dua sesi akan bisa membuat peserta jadi lebih bisa mencerna materi,” ujar Kang Gugun, SC bagian acara.

__ADS_1


“Mungkin ada masukan dulu dari panitia akhwat?” tanya Adit.


“Saya juga sepakat sama ide dari Arsene. Masukan dari kami, biar peserta tidak cepat bosan dan suntuk, ada baiknya dikasih acara hiburan atau intermezzo dan ada gamenya juga. Karena kalau dua sesi, sudah pasti waktu akan panjang. Seenggaknya biar mereka tetap semangat ikutin materi seharian,” terang Aretha.


“Ide bagus. Tolong dicatat ya sekretaris!” seru Adit.


“Konsep ini nanti akan diramu lagi oleh tim acara dan SC. Tolong segera dibuat konsep yang matangnya!” ujar Adit lagi pada Arsene dan Aretha. Mereka mengangguk bersamaan.


Sesi penjelasan dari divisi acara selesai, dan berlanjut ke divisi lain.


“Dit, izin duluan ya?! Gue mesti jemput Zaara nih!” bisik Arsene ketika ada jeda sebentar sebelum divisi publikasi berbicara.


“Iya, hati-hati, Sen!”


Arsene berpamitan pada kawan LDK yang lain dan langsung melesat memacu motornya.


Sementara itu di kediaman Nenek Yasmin, Zaara sibuk menyelesaikan pekerjaan di laptopnya yang ia bawa. Segelas jus mangga segar dan manis menemaninya. Neneknya itu memang selalu memanjakannya ketika berkunjung. Apalagi Zaara adalah cucu yang paling dekat dengan Nenek Yasmin. Meski memiliki cucu 6 orang, dari anaknya yaitu Zaki dan Reza, hubungan Nenek Yasmin dengan anak-anak Reza bisa dikatakan paling akrab. Maklum saja, karena Reza dan Karin sering berkunjung. Berbeda dengan kakak sulung Reza, yaitu Zaki yang tinggal di Malang, ia hanya berkunjung setahun sekali saja ketika lebaran tiba.


“Neng, masih suka ngerasa sakit gak bekas keguguran kemaren?” tanya Nenek Yasmin yang duduk di dekatnya.


“Alhamdulillah, enggak, Nek! Emang kenapa?”


“Pendarahannya udah selesai?”


“Udah!”


“Udah coba ‘gituan’ lagi sama suami?” tanya neneknya tanpa basa-basi.


Zaara tersenyum kaku dengan matanya yang semakin membesar. Ia tahu, kadang dirinya masih merasa takut. Ini adalah hari ketujuhnya setelah pendarahan bekas kegugurannya berakhir. Ia sama sekali belum berhubungan badan dengan suaminya. Arsene pun tidak pernah memintanya, jadi gadis itu merasa baik-baik saja.


“Be-belum, Nek!” jawab Zaara ragu-ragu.


“Kenapa? Takut, Neng Geulis?” tanya Nenek Yasmin mengelus rambut cucunya yang tergerai.


Nenek Yasmin tersenyum dengan banyak kerutan di wajahnya yang tua.


“Kamu mah meni sama pisan sama umi! Dulu juga, umi kamu teh paling takut kalau udah bahas gituan. Abi kamu aja yang suka curhat sama Nenek. Ya udah nenek kasih tau, meski suaminya diam dan gak minta, tapi mereka tetap butuh. Laki-laki itu kebutuhan utamanya ya itu. Mereka cuma khawatir kalian bakal trauma atau sakit lagi. Makanya coba nahan diri. Tapi mau sampai kapan?”


Zaara tertegun dengan ucapan neneknya.


“Emang itu urusan kalian berdua. Kalau kalian sama-sama masih berjaga-jaga, gak apa-apa. Tapi, gak baik juga buat hubungan pernikahan kalau terlalu lama,” lanjut Nenek Yasmin.


“Iya Nek, nanti aku bicarain sama Arsene.” Zaara hanya menunduk.


Nenek Yasmin tersenyum kembali membelai rambut cucunya.


Deru mesin sebuah motor terdengar di luar. Zaara kenal betul suara itu. Ia bergegas mengambil kerudungnya dan melangkah keluar.


Arsene datang tepat setelah adzan isya berkumandang. Istrinya menghampiri.


“Maaf ya kemalaman, tadi macet. Aku juga sholat dulu di masjid yang ada di pinggir jalan.” Arsene menaruh helmnya di atas kaca spion.


“Iya gak apa-apa! Belum makan kan? Kita makan dulu yuk!” ajak Zaara, keduanya masuk ke dalam rumah nenek yang terasa sepi.


Suara lantunan ayat suci Al-Quran terdengar sayup-sayup dari kamar. Itu Tante Jingga dan Tante Bunga yang belum menyelesaikan tilawah setelah shalat isya.


“Kamu udah sholat isya?” tanya Arsene.


“Belum.”


Nenek Yasmin sudah berada di dapur, mempersiapkan makan malam untuk anak dan cucunya.

__ADS_1


“Yuk makan dulu, Sen!” ajak Nenek Yasmin setelah melihat kedatangan Arsene malam itu.


“Makasih Nek!” ucap Arsene mendudukan tubuhnya di kursi.


Dua wanita yang mengenakan hijab kaosnya muncul dari kamar. Jingga dan Bunga bergabung bersama Arsene dan Zaara yang sudah siap dengan piring makan malam mereka. Seluruhnya sudah berkumpul, dan menikmati hidangan makan malam sederhana yang hangat itu.


“Arsene, sejak kapan kamu belajar bikin kue?” tanya Jingga setelah mereka selesai dengan makan malam. Zaara membantu neneknya untuk mencuci piring.


“Dari usia lima tahun kayanya,” jawab Arsene mengira-ngira.


“Hebat ya! Jadi kangen Mommy kamu. Dulu kita ketemu pas kalian masih balita, sebelum keluarga kamu pindah ke Singapura.”


“Tante Jingga yang jadi pengisi materi kajian Mommy kan ya?” tanya Arsene.


“Iya betul! Ya kita sama-sama belajar aja!”


“Jadi Tante sekarang fokus untuk penyembuhan?”


“Iya, meskipun Tante sebenarnya udah kangen banget buat ngisi pengajian atau ikut kajian sama temen-temen lain. Tapi dokter belum izinin untuk banyak bergerak di luar.”


Arsene mengangguk. Tante Jingga memang sangat mirip ayah mertuanya yang senang mengisi berbagai pengajian, meskipun urusan pekerjaan tidak kalah sibuknya.


“Semoga Tante bisa segera sehat kembali.”


“Aamiin. Apa kalian berencana nunda momongan setelah peristiwa kemarin?” tanya Jingga suaranya pelan, mungkin sengaja agar Zaara tidak mendengar.


Arsene tertunduk dan tersenyum kecil.


“Saya belum tau, Tante! Saya ingin memastikan kalau mental Zaara benar-benar siap. Dia belum membicarakan itu lagi,” terang Arsene terlihat sendu.


“Ah, maaf ya! Tante hanya bisa mendoakan kalian, semoga pernikahan kalian langgeng sampai ke surga, diberkahi dengan anak-anak yang shaleh dan shaleha yang bisa menjadi syafaat di akhirat nanti!”


“Aamiin, makasih banyak Tante! Semoga Tante juga selalu diberi keberkahan dan kebahagiaan!”


“Aamiin.”


Malam semakin larut saja. Nenek Yasmin meminta cucunya itu untuk menginap, tetapi karena Arsene harus bekerja dan dia juga mendapat pesanan banyak untuk besok, Zaara jadi tidak bisa mengabulkan permintaan neneknya.


Akhirnya keduanya memutuskan pulang tepat di pukul 20.30. Bertemankan remangnya cahaya lampu di jalan dan angin malam yang berhembus pelan, keduanya melenggang di atas aspal jalan yang sudah tidak ramai lagi.


Zaara mengeratkan pelukan di pinggang suaminya. Untung saja, Arsene sudah membawakan jaket tambahan sebelum menjemput jadi Zaara tidak terlalu merasa kedinginan. Kondisi jalan yang sepi membuat Arsene bisa mengencangkan laju kemudinya, agar cepat tiba di apartemen. Walhasil, hanya 30 menit saja mereka telah tiba.


“Capek Sayang?” tanya Arsene ketika keduanya sudah merebahkan tubuh di atas kasur.


“Harusnya aku yang tanya kamu. Bolak-balik antar jemput aku. Kamu gak capek?” tanya Zaara mengusap kepala suaminya.


“Enggak kok!”


“Ada yang pengen aku obrolin sama kamu, Abang Sayang! Kamu udah ngantuk belum?” tanya Zaara ragu.


Arsene menatap wajah istrinya.


“Apa itu? Aku masih belum ngantuk kok!”


Zaara tertunduk.


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu


Jangan lupa klik LIKE untuk dukung terus Author Aerii

__ADS_1


tinggalkan komentar juga votenya yaa


makasiiih ^_^


__ADS_2