
Dua orang pria remaja sedang memasuki toko buku. Siang hari di luar, matahari begitu bersinar terik membakar kulit. Tidak ada pilihan lain kecuali tetap berdiam diri di toko itu sampai matahari mengalah pada waktu.
“Lu suka baca buku apa Yan?” tanya Rainer yang sedang membuka novel dark fantasy. Buku yang dipegangnya itu sudah terkelupas sampul plastiknya, sehingga ia bisa melihat bahkan membaca isinya selagi toko buka.
Pria kurus dengan rambut agak ikal yang berdiri di sampingnya itu menoleh.
“Abi sering kasih aku mah buku motivasi atau kisah heroik pahlawan Islam,” ucap Zayyan yang juga melihat deretan novel-novel best seller di rak.
“Hebat!” Rainer memberikan satu jempol untuk sahabatnya itu.
Keduanya berpisah di sana. Rainer terlarut mengikuti alur cerita dalam novel yang dibacanya. Sementara Zayyan tidak terlalu tertarik dengan cerita karangan. Pria remaja berusia 17 tahun itu memutuskan untuk berjalan ke sudut lain. Melihat-lihat saja apa yang membuat matanya tertarik.
Gambar sampul-sampul buku berwarna lembut atau terang membuat mata Zayyan mengernyit. Apalagi warna khas perempuan begitu mendominasi, seperti merah muda, biru langit lembut, hijau toska, ungu, atau krem. Novel roman terlalu mendominasi di sudut ini.
Cukup banyak orang di akhir pekan mengunjungi toko ini. Mungkin mereka ingin melepas rasa penat dari rumah, mencari hiburan singkat dengan memilih buku-buku. Zayyan turun ke lantai dua, dimana deretan komik manga dan buku anak-anak berjejer rapi di rak.
“Awaaas!” teriak sebuah suara cempreng dari belakangnya.
BRUK. BRUK. BRUK
Beberapa buku novel roman terjatuh menimpa anak tangga berkali-kali hingga buku itu mendarat sempurna di atas keramik tepat di depan kaki Zayyan. Pria kurus itu menatap buku yang jatuh berserakan di sekelilingnya. Jumlahnya tidak sedikit, mungkin ada sekitar 7-9 novel yang memiliki tebal sedang.
Kini pandangan Zayyan tertuju ke anak tangga, melihat aktor dibalik peristiwa hujan buku yang untung saja tidak mengenai kepalanya. Terlihat olehnya wajah yang sedang meringis, dengan kernyitan mata. Entah gadis itu melihat atau tidak, yang jelas, Zayyan sangat tahu wajah itu.
“Sorry!” ucap gadis bertubuh mungil dan berambut lurus.
Zayyan mematung dan terdiam dalam posisinya. Sampai gadis itu sendiri yang lekas menghampiri dan memungut buku-bukunya.
“Eh, kamu sobatnya Rainer kan?” tanya gadis itu setelah mengambil salah satu bukunya.
Zayyan melirik ke arah lain. “Iya, kamu sepupunya kan?” tanya Zayyan tanpa menatap gadis itu.
“Iya ih kok kamu tau sih?!” tanyanya girang.
“Kan pernah ketemu waktu nikahan Abang Acen sama teteh aku!”
“Iiiih, kamu itu adiknya Teh Zaara ya?”
“Iya!” jawab Zayyan singkat.
“Kenalan dong, aku Fea, sepupu Abang Acen paling cantik dan manis sejagat raya!” ucap Fea tersenyum lebar sambil mengulurkan tangan kanannya.
Zayyan melirik tangan itu. Ia hanya tersenyum kecil.
“Zayyan!” ucapnya tanpa membalas uluran itu.
“Ih tangan aku kok dianggurin sih?!”
“Maaf ya! Bukan mahram!” ucap Zayyan lembut.
“Huh, ya sudah!” Fea menepuk tangannya sendiri dan mengelapnya ke rok selututnya.
Kini Zayyan membantu Fea memungut buku-buku itu dan menumpuknya. Gadis itu hanya berdiri sambil menatap pria yang seumuran dengannya itu.
“Nih!” Zayyan menyodorkan tumpukan novel di tangannya.
Fea dengan riang menerimanya. Tangan mereka bersentuhan membuat sengatan listrik menyetrum hati Zayyan.
“Terima kasiiiih!” ucap Fea girang dengan senyuman manis dan kelopak mata menyembulnya. Gadis itu berlari lagi dan segera menuju meja kasir.
Zayyan hanya memandangnya. Grogi. Lekas ia mengerjapkan matanya untuk membuat suasana hatinya netral. Perasaan apa itu yang baru menghampirinya? Padahal ia sering melihatnya di sekolah dan beberapa kali bertemu di luar. Mengapa getaran aneh itu muncul sekarang? Apakah karena ia baru melihat wajah gadis itu sedekat ini? Zayyan menggaruk-garuk rambutnya yang mulai panjang.
“Yan!” panggil Rainer saat pria itu menuruni anak tangga.
Zayyan menoleh.
“Ngapain lu diem di situ?” tanya Rainer.
__ADS_1
“Enggak!” jawab Zayyan. Rainer menghampirinya, di tangannya ada novel dengan judul yang sejak tadi dibacanya. Hanya saja kini sampulnya berplastik.
“Balik yuk!” ajak Rainer.
“Yuk!”
Rainer dan Zayyan berjalan bersama menuju meja kasir. Zayyan baru sadar ternyata Fea masih ada di sana, baru saja menyelesaikan pembayarannya. Gadis itu berbalik saat keduanya tengah mengantri di belakangnya.
“Rain, kamu di sini juga?!” ucap Fea terkejut. Wajahnya berseri-seri melihat keberadaan sepupunya di sana.
“Ngapain lu?” tanya Rain datar.
“Belanja buku lah, buat stok hiburan nanti ke Amrik! Hihihi!” jawab Fea cekikikan.
Mendengar hal itu, Zayyan cukup terkejut sekaligus terkagum-kagum.
“Dah ah, gue bayar dulu. Ngobrol tuh sama Zayyan!” seru Rainer maju ke meja kasir.
“Temenin aku makan yuk, Rain! Kamu juga ikut aja!” ujar Fea pada Zayyan.
Zayyan menyengir kaku dan akan ikut saja kemana Rainer pergi, karena dirinya hanya menumpang.
Rainer selesai dengan transaksinya. Ia memasukkan dompet ke celana jeansnya dan menghampiri sepupunya itu.
“Traktir tapi ya?” seru Rain.
“Tenang aja! Aku calon CEO Winata Corp! Hohoho!” ucapnya bangga.
“Dih! Kepedean amat!” Rain berdecak.
“Ayoooo!” Fea memberikan kantong belanjaannya pada Zayyan dan menggandeng lengan Rainer untuk berjalan bersamanya. Zayyan hanya melongo saja, gadis itu tiba-tiba membuatnya seperti seorang pelayan.
Ketiganya memilih restoran pizza untuk menjadi tempat makan siang mereka dan duduk di salah satu meja pojok di sisi jendela.
“Kapan lu pergi ke Amrik, Fe?” tanya Rainer yang baru saja menelan pizza pesanannya yang masih hangat.
“Bulan depan. Kamu ke SG kapan?” tanya Fea.
Entah mengapa Zayyan merasa tidak ada apa-apanya berada di tengah keduanya. Ia sendiri hanya akan masuk Universitas Bumi Pertiwi, seperti kakaknya, setelah ia berhasil lolos ujian seleksi nasional.
“Kalau kamu, Zayyan?” tanya Fea.
“Aku udah lulus di UBP.”
“Wow, satu kampus sama Abang Acen dan Teh Zaara ya? Jurusan apa?”
Zayyan mengangguk. “Jurusan Ilmu Komunikasi.”
“Kereeen!” puji Fea.
Rainer, yang makan sangat cepat, kini tersedak. Ia meminum banyak air minuman dingin dan manis dari pesanannya. Ternyata minuman yang penuh dengan es balok itu membuat perutnya melilit kesakitan.
“Gue ke toilet dulu ya?!”
“Kenapa?” tanya Zayyan.
“Mules!”
Rainer berlari menuju toilet setelah menanyakan kepada salah satu petugas di sana.
Kini suasana canggung melanda Zayyan karena hanya ada dirinya dan Fea di meja itu, meskipun pengunjung lain cukup ramai. Pria itu berusaha fokus menghabiskan pizza di piringnya.
Fea bisa melihat kecanggungan pria di depannya itu.
“Yan, menurut kamu pacaran itu gimana sih? Aku liat teteh kamu dan Abang Acen gak pernah berduaan tapi tiba-tiba nikah aja! Kapan mereka deketannya?” tanya Fea sambil memotong pizza miliknya dengan pisau.
Mendengar pertanyaan itu dari mulut Fea, Zayyan meneguk minumannya.
__ADS_1
“Pacaran?”
Fea mengangguk.
“Mereka emang gak pernah pacaran, karena setau aku dalam Islam gak ada yang namanya pacaran, kecuali setelah nikah. Kalau untuk saling kenalan sebelum nikah, ada yang namanya ta’aruf. Jadi mereka bisa tau kelebihan dan kekurangan masing-masing,” terang Zayyan. Kini dirinya sudah lebih bisa beradaptasi.
“Ooh jadi pacaran itu gak boleh kalau belum nikah?” tanya Fea memastikan.
Zayyan mengangguk.
“Kok bisa ya? Apa mereka gak ada perasaan cinta sebelumnya?” tanya Fea.
“Aku gak bisa pastiin itu. Coba aja tanya sama Abang Acen. Perasaan itu wajar muncul kalau sering ketemu. Abang dan Teh Zaara dulu kan pernah sebangku, mungkin aja perasaan itu muncul di sana. Tapi gak tau lah ya!”
Fea mengangguk-angguk.
“Kamu gak takut pergi ke Amrik?” kini Zayyan memberanikan diri bertanya.
“Takut?! Haha, aku ini Fea, gak pernah takut sendirian!” jawabnya bangga.
Zayyan jadi menyesal menanyakan hal itu padanya. Sungguh, kepercayaan diri gadis di depannya itu tinggi sekali. Pantas saja, Rainer sering mengabaikannya.
“Kalau khawatir sih pasti ada. Namanya juga rantau ke negeri orang. Tapi aku udah kuatin tekad, aku ingin buktiin sama ortu aku kalau aku bisa sukses kayak mereka!” kali ini intonasi berbicara Fea terdengar serius.
“Emang cita-cita kamu apa, Fe?”
“Aku ingin jadi pebisnis sukses kaya papiku, untuk mimpin perusahaan punya Opa Gunawan. Hebat kan, ada cewek cantik, imut, dan gemesin gini mimpin perusahaan besar. Hahaha!”
Zayyan hanya tertawa-tawa saja melihat tingkah Fea yang memang sangat percaya diri. Gadis itu terlihat lucu di satu sisi, dan menyebalkan di sisi lain apalagi dengan over confident-nya.
“Yang penting di sana jaga diri. Apalagi Amrik itu negara bebas. Tetap pegang prinsip agama kita untuk diri sendiri, biar gak terjebak pergaulan di sana,” pesan Zayyan. Pria itu tidak menatap lawan bicaranya karena sibuk mengaduk minumannya dengan sendok kecil.
Mata Fea membesar dan berbinar berseri-seri mendengar nasihat Zayyan. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya.
“Iihh, kamu so sweet banget. Padahal kita baru ngobrol, udah kasih nasihat bijak aja buat aku. Uuuh, makasiiiiih!” ucap Fea senang.
Sontak Zayyan berubah air mukanya menjadi grogi seketika. Wajahnya kemerahan.
“Wajah kamu tuh jadi mirip Teh Zaara, blushing gitu ih!” ucap Fea.
Zayyan salah tingkah. Apalagi wajahnya semakin terasa panas saja. Ia beranjak dari kursi dan pergi dari hadapan gadis itu. Fea cekikikan saja.
“Kemana lu, Yan?” tanya Rainer yang baru kembali. Mereka bertemu di pintu masuk.
“Ke toilet!” ucap Zayyan.
Zayyan benar-benar salah tingkah dibuat Fea, padahal pujian Fea tidak berlebihan. Hanya saja wajah imut dan menggemaskan itu yang membuatnya menjadi blushing seketika.
Apakah dirinya sudah menaruh ketertarikan? Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Zayyan benar-benar kehabisan ide.
Tidak lama ia kembali lagi ke meja. Air mukanya sudah normal kembali, ia mengambil nafas untuk semakin membuat dirinya tenang.
Saat melihat meja, Fea sudah tidak berada di sana.
“Kemana sepupu kamu?” tanya Zayyan pada Rainer.
“Udah dijemput supir Opa! Jadi dia pulang duluan!” terang Rainer menghabiskan sisa pizzanya.
“Oooh ….”
Entah mengapa Zayyan jadi merasa kecewa karena Fea pergi begitu saja. Padahal mungkin ia tidak akan pernah melihatnya lagi karena kepergian gadis itu ke Amerika sebentar lagi.
\======
Ternyata Zayyan sempat naksir Fea, hmm
Dan perasaan Zayyan ter-pending, entah sampai kapan. Ckckck.
__ADS_1
Ada yang mau request spin off siapa yang mau diceritain di sini? Hahaha 😁