Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 116. Harapan


__ADS_3

Melihatmu dari jauh dengan senyuman yang terukir sudah bisa membahagiakan aku. Kamu tahu, aku sangat rindu. Tapi waktu kita yang berjarak memberikanku harapan untuk memulai dari awal seperti ketika aku mengejar kamu.


Aku akan kembali membuka toko. Aku akan bekerja sama dengan Daddy. Aku sadar saat aku memutuskan untuk menolak tawaran Daddy, di sana aku sangat egois. Aku merasa diriku kuat, padahal aku gak ada apa-apanya.


Aku juga akan kembali aktif di LDK. Ini bentuk komitmen aku untuk memperbaiki diri. Jadi kamu jangan protes kalau bakal sering lihat aku di masjid ya. Hubunganku dengan Allah harus aku perbaiki, agar Allah memperbaiki hubungan aku dengan kamu.


Kumohon tetap tunggu aku, tetap cintai aku…


Aku cinta kamu, Zaara


Arsene


Arsene menulis semua itu dengan seluruh perasaan di hatinya. Hari ini ia melihat Zaara tengah keluar dari perpustakaan bersama kawan-kawan dekatnya. Gadis itu tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum lebar. Arsene yang melihatnya dari jauh merasa lega. Semoga hati Zaara memang sudah lebih baik. Sudah satu minggu lebih sejak peristiwa itu, Zaara tampaknya sudah fit kembali. Begitu juga dengan Arsene yang sudah masuk kuliah seperti biasanya, setelah dirinya harus beristirahat penuh selama seminggu karena gejala tipes.


Sore itu Arsene berada di dalam rukonya, sengaja ia memilih tidur di sana. Ia akan membuat konsep baru dari toko kuenya kali ini. Dengan bantuan ayahnya lagi, ia berharap tokonya akan lebih maju kali ini. Konsep desain tokonya kali ini lebih mengusung tema modern rustic, memainkan perpaduan batu bata, tanaman hijau dan bunga-bunga cantik,  serta furnitur kayu juga mencampurkannya dengan cat putih klasik sebagai latar belakang dan tidak lupa perabotan kaca lebar yang bening.


Ia sendiri sudah berhenti dari pekerjaannya sebagai chef pastry tepat ketika dirinya diberi promosi untuk menjadi chef yang lebih atas tingkatannya. Akan tetapi dirinya menolak karena sudah memiliki konsep bisnis yang matang, lagipula ia tidak bisa memaksakan diri fisiknya yang rentan.


Selama satu minggu lebih berpisah dengan Zaara, Arsene yang tinggal bersama orangtuanya lagi, banyak berdiskusi dengan ayahnya untuk membangun kembali tokonya yang pernah redup. Ada beberapa divisi yang akan mengurusi tokonya nanti, seperti divisi produksi yaitu bagian dapur, divisi marketing yang mengurusi segala hal terkait pemasaran dan publikasi, juga divisi pelayanan konsumen yang akan mengurusi hal yang berkaitan dengan pelanggan dan pelayanan. Ia sadar tidak bisa berdiri sendiri di atas dua kakinya saja, ia membutuhkan tim yang solid dan pendanaan yang kuat untuk bisnisnya yang sekarang juga bagian dari perusahaan keluarganya.


Kini ia benar-benar optimis, tokonya sekarang akan sukses. Ia tidak akan menelantarkannya.


\=\=\=\=\=\=


Zaara sedang berada di selasar masjid siang itu selepas shalat dzuhur bersama dua sahabatnya. Jam kuliahnya masih harus menunggu dua jam lagi. Zaara terlihat terdiam. Gadis itu memang sering terdiam selepas kegugurannya. Hanya saja Terry dan Hana selalu berada di sampingnya untuk menghibur sehingga senyumnya terbit.


“Makan yuk, lapar!” seru Terry mengelus perutnya.


“Aku di sini aja ya, Ry!” ucap Zaara tersenyum kecil.


“Yah, kenapa?”


“Gak tau, rasanya adem banget kalau duduk di sini. Bawaannya tenang dan nyaman,” terang Zaara.


“Kamu masih sedih, Ra?” tanya Hana ingin tahu. Zaara memang jarang sekali mengungkapkan perasaannya pada sahabatnya.


Apalagi melihat Zaara yang jarang bersama Arsene, selalu membuat kedua temannya itu bertanya-tanya. Tetapi tidak pernah ada penjelasan keluar dari mulut Zaara. Hana ingin memancing perasaan gadis yang sekarang mengenakan hijab ungu muda itu. Hana berharap Zaara bisa mengeluarkan unek-uneknya.


“Kenapa?” Zaara menoleh.


“Perasaan kamu gimana sekarang?” tanya Hana lagi memberanikan dirinya.


Zaara tertegun.


“Aku baik, Na!” jawabnya singkat.


“Maaf aku lancang, tapi hubungan kamu sama Arsene gimana? Kami ini sahabat kamu, Ra! Jangan sembunyikan apapun dari kami termasuk perasaan kamu. Seenggaknya beban di pundakmu bisa dibagi sama kami setelah kehilangan anak kamu,” ucap Hana.


“Aku… aku lagi break dulu sama Arsene!” jawabnya membuat Hana dan Terry membelalak, terkejut.


“Apa maksud kamu, Ra?” tanya Terry.


“Aku lagi gak mau ketemu dia, seenggaknya untuk satu bulan ini.” Zaara tertunduk.


“Kalian bikin kesepakatan itu?!” tanya Hana.


Zaara mengangguk. “Itu permintaan aku sama dia!”


“Subhanallah, Zaara! Apa kamu benci sama Arsene?” tanya Terry.


“Enggak Ry. Aku cuma butuh waktu untuk berdamai dengan dia.”

__ADS_1


Hana dan Terry saling bertatapan. Apakah masalah Zaara dan Arsene sekompleks itu? Mereka tidak bisa menebaknya. Mereka hanya bisa merangkul tubuh sahabat, memberikan kekuatan dan semangat untuk tetap bisa menghadapi hari-harinya.


“Assalamu’alaikum…” seseorang mengucap dari arah sudut selasar ikhwan.


“Wa’alaikumsalam,” jawab mereka bersamaan menoleh.


Jantung Zaara bergetar mendapati suaminya berdiri di sana sambil membawa sebuah kotak yang cukup besar. Arsene tersenyum kecil, matanya terlihat teduh.


“Maaf cuma mau ngasih ini,” ucapnya sambil menaruh kotak itu di atas lantai.


“Buat siapa Sen?” tanya Terry.


“Buat kalian semua,” jawabnya tersenyum kecil.


“Syukron!” jawab Hana.


“Datang ya?!” pintanya.


Arsene mengangguk dan berpamitan dari sana. Matanya tertuju pada gadis yang duduk di tengah. Zaara membalas tatapan itu dengan hati bergetar. Entah mengapa melihat wajah suaminya yang tenang, ia merasa rindu.


Terry lekas mengambil kotak berwarna pink muda itu, lalu membuka isinya. Ada beberapa buah muffin di dalamnya dengan berbagai varian. Ada lembar brosur juga di sana dengan judul Re-Opening Sweet Recipes akhir pekan ini. Zaara baru tahu kalau suaminya berencana membuka tokonya lagi. Apakah pria itu sudah berhenti dari pekerjaannya di restoran? Tiba-tiba Zaara merasa picik dan egois karena telah meminta untuk tidak bertemu dengannya. Padahal Arsene juga pasti merasa sedih.


“Wah… mantap nih!” ucap Terry melihat kue yang tampak lezat itu.


“Banyak banget ih! Kita bagi-bagi aja yuk!” ucap Hana.


“Gimana Ra?” tanya Terry, karena ia yakin Arsene memberikan kue itu untuk Zaara.


“Iya boleh!” jawab Zaara tersenyum.


“Kamu ambil dulu nih!” seru Terry menyodorkan kotak itu.


Mata Zaara jadi berkaca-kaca. Betapa ia merindukan suaminya yang manis semanis kue-kue buatannya, perlakuannya yang bisa membuat hatinya terbang bagai kupu-kupu, meski ia selalu bekerja keras untuk menghidupi keluarga kecilnya. Air mata menetes mengalir di atas pipinya yang bulat.


“Ra, lu baik-baik aja?” tanya Terry menatap sahabatnya yang menangis.


“Aku kangen Arsene, Ry!” ucapnya lirih.


“Kalau gitu temuin dia, Ra!” timpal Hana.


“Aku… Aku belum yakin!” isaknya, berusaha menyeka air matanya.


“Kenapa?”


“Karena ketika lihat dia deket, rasa kehilangan aku untuk anak aku terus muncul. Aku belum kuat!” Zaara menenggelamkan wajahnya di atas lututnya.


Hana dan Terry memeluknya bersamaan.


“Ra, ikhlasin anak kamu, maafin Arsene, dengan cara ini kamu bisa lewatin semua!” ucap Hana menguatkan.


“Aku bakal coba tapi aku butuh waktu!” jawabnya.


“Kita selalu doakan yang terbaik buat lo, Ra! Lo mesti kuat!”


“Makasih!” ucap Zaara bergetar.


\=\=\=\=\=\=


Zaara pulang ke rumah orang tuanya sore itu setelah adiknya menjemput. Gadis itu berjalan gontai menuju kamarnya. Sekotak kecil kue berisi dua buah cupcake blueberry ditaruhnya di atas meja belajarnya. Itu adalah pemberian Arsene sore itu, yang mencegatnya sebelum dirinya pulang.


Ia hanya tersenyum kecil membalas pemberian suaminya.

__ADS_1


Kini ia terduduk di kursi memandangi kotak cantik di depannya. Sebuah kertas kecil terselip di sana. Zaara tersenyum, ia selalu suka cara Arsene memberi kejutan padanya.


“You are my dream, my present, and my future. And always have been…”


(Kamu adalah impianku, masa kini, dan masa depanku. Dan akan selalu begitu…)


Kata-kata kutipan itu tertulis di sana, membuat dirinya lagi-lagi tersenyum. Tiba-tiba saja, gadis itu ingin membuka buku catatannya dimana ia sudah menyimpan semua kenangan tentang dirinya, perasaannya, serta bagaimana Arsene selalu bisa membuatnya tersipu.


Kertas kutipan yang diberikan Arsene sejak zaman SMA masih disimpannya dengan baik. Ia menempelnya di buku catatannya. Satu per satu ia baca kembali dari awal. Kata-kata itu selalu memberinya motivasi, membuatnya berubah secara perlahan. Ia sadar Arsene begitu istimewa di dalam hidupnya bahkan sejak pertama mengenalnya. Kelalaian pria itu yang membuat dirinya kini kecewa.


Zaara beralih pada laptopnya, ia membuka email bersamanya dengan Arsene, dimana mereka menuliskan semua catatan rindunya selama berada di Sydney. Ia begitu terkejut karena banyak email baru masuk. Semuanya dari Arsene. Tercatat ada sekitar 14 email masuk yang belum terbaca. Berarti Arsene selalu menuliskan catatan rindunya selama mereka berpisah. Ia tidak menyangka hal itu. Pasalnya, mereka juga tidak pernah saling berhubungan. Komunikasi benar-benar putus. Itu yang benar-benar disesali gadis itu.


Arsene mungkin mengira Zaara tidak ingin berkomunikasi sama sekali. Padahal Zaara pun menantinya, hanya saja ia selalu tenggelam dalam kesedihannya berhari-hari, mengurung diri di kamar, serta merenungi semuanya. Ia hanya meminta agar hatinya bisa lekas sembuh dari segala kekecewaan yang melandanya dan berusaha menatap hari-hari ke depan dengan sinar yang lebih cerah.


Gadis itu membuka emailnya satu persatu.


Zaara membaca surat kiriman suaminya dengan deraian air mata yang mengaliri pipinya. Banyak ungkapan maaf, cinta, serta harapan. Hampir setiap surat Arsene berisi hal itu. Ia juga mendapati cerita-cerita Arsene selama ini. Pria itu telah berhenti dari pekerjaannya dan kini akan membuka tokonya kembali seperti cita-citanya saat itu.


Sebuah email baru saja masuk kembali.


Aku gak tau apa kamu masih suka kue-kue yang aku kasih atau enggak. Tapi semua kue yang aku kasih adalah buatanku sendiri. Aku harap kamu masih tetap menyukainya. Karena kamu selalu menjadi inspirasi dan resep rahasia dalam semua kue buatanku.


Besok Sabtu, toko Sweet Recipes akan buka lagi. Aku akan menebus kegagalan saat itu sekarang. Aku harap kamu bisa doakan kesuksesan aku. Jujur aku merasa ragu awalnya, khawatir kegagalan yang sama akan terulang. Tetapi Daddy terus mendorong, jadi aku pikir aku bisa mencobanya lagi saat ini. Lagipula aku gak bisa kerja capek, dokter terus menyarankan aku untuk kerja yang seenggaknya bisa bikin aku rehat sejenak. Makanya keputusan aku semakin kuat untuk kembali membangun Sweet Recipes.


Aku harap kita juga bisa memulai hidup baru lagi, Zaara Sayang. Mencoba dari awal, memaafkan apa yang sudah terjadi meskipun aku tau ini terlalu berat karena kita kehilangan anak kita. Taukah kamu? Aku mencoba menahan segala beban rindu yang ada di pundakku. Aku selalu mencari keberadaan kamu, hanya untuk melihat wajah kamu yang tersenyum atau tidak. Jangan cegah aku untuk jadi mata-mata ya!


Kalau kamu baca surat-surat ini, tolong balas surat ini. Kasih tau aku apa yang kamu rasakan sekarang, supaya beban rindu ini bisa berkurang, meskipun kenyataannya aku bakal tetap sulit hidup tanpa kamu.


Kumohon maafkan aku, tetap tunggu dan cintai aku!


Arsene


Zaara tersenyum dengan aliran air matanya yang tidak putus. Ia begitu merindukan pria itu di dalam hatinya, meski lukanya belum sembuh. Tetapi ia akan tetap membuka hati untuk pria yang selalu mencuri hatinya. Gadis itu terdiam, sudahkah saatnya tepat?


Zaara segera mengetikkan sesuatu di sana, meluapkan segalanya yang menjadi bebannya selama ini.


Maaf aku baru buka email. Aku benar-benar terkejut karena ternyata kamu kirim email setiap hari. Maaf juga karena selama ini aku tidak berkomunikasi sama sekali dengan kamu. Aku tau ini salah. Mulai sekarang kamu boleh menghubungi aku, aku akan membuka hati. Maafin aku.


Perasaanku sudah jauh lebih baik sekarang, meski aku gak tau apa yang terjadi ketika kamu ada di depanku. Aku kira aku masih butuh waktu. Apa kamu bisa bersabar sebentar lagi?


Aku juga kangen kamu, sangat sangat sangat kangen.


Tapi beri aku sedikit waktu lagi.


Aku harap kamu ngerti


I always love you


Zaara


\=\=\=\=\=\=


Bersambung dulu yaa


Ayo Vote poin/koinnya jangan pelit dong, hihi


Tetap dukung yaa


klik LIKE, dan tulis komentar kamu juga


Makasiiiih ^_^

__ADS_1


__ADS_2