Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
Episode 115


__ADS_3

Episode Spesial [Damian & Tania]



Deru mesin mobil terdengar bising memekakan telinga di kala Damian memacu sendiri mobilnya itu di ruas jalan tol. Ia langsung terburu-buru mengambil mobil Pajero Sport hitamnya, ketika adiknya, Ferdian, memberitahukan bahwa istrinya itu sedang ada di Bandung.


Tania bukan asli orang Bandung, meski wanita itu pernah tinggal di sana ketika kuliah dan bertemu dengan Damian di kampus mereka. Wanita yang memiliki rambut panjang hitam kecokelatan itu biasanya mengunjungi Bandung ketika ia ingin saja. Tidak ada keluarganya di sana, karena memang semua keluarganya tinggal di Jakarta. Hanya keluarga mertuanya saja yang berada di Bandung. Oleh karena itu, Damian berpikir keras memperkirakan dimana istri yang dinikahi selama sepuluh tahun itu tinggal. Ia tahu ada sebuah hotel yang biasanya ia kunjungi bersama, tetapi dia sangsi kalau istrinya itu ada di sana.


Kecepatan mobil Damian berpacu di atas rata-rata. Jarum speedometernya menunjukan angka 120 km/jam bahkan hampir menyentuh 140 km/jam. Ia memang sudah gila, lebih tepatnya tidak memperhatikan keselamatannya sendiri demi menemui istrinya yang selama lima bulan ini terpisah darinya hanya gara-gara isu jebakan yang entah dari mana awalnya. Ia menyadari kesalahannya selama ini, bahwa ia memang lelaki egois yang dingin dan tidak peduli, bahkan pada wanitanya sendiri. Ini saatnya ia membuktikan kalau dirinya akan berjuang kembali mendapatkan hati wanitanya.


Berangkat setelah subuh, kini waktu menunjukkan pukul 7.10 ia sudah berada di gerbang tol Pasteur, berjejer di dalam antrian pintu keluar otomatis. Ia sendiri sudah mengantongi izin dari ayahnya untuk tidak masuk bekerja hari ini untuk menyelesaikan urusan pribadi. Damian bergerak ke arah Jalan Dr. Setiabudi, di mana biasanya kawasan itu menjadi pusat perbelanjaan bagi orang-orang yang ingin membeli produk fashion dengan kualitas ekspor, atau sekedar hang out di cafe-cafe teduh yang memiliki atmosfer nyaman.


Intuisi seorang Damian berjalan. Ia hanya mengikuti kata hatinya saja ketika mengunjungi kawasan itu. Ia ingat, setahun yang lalu Tania pernah menyatakan keinginannya untuk mengunjungi sebuah villa sederhana yang nyaman di daerah itu. Tania memang bukan penyuka ketenangan, wanita itu tipe ekstovert yang berlawanan dengan dirinya. Memilih villa di kawasan Setiabudi, Bandung adalah pilihan cocok baginya. Mobilnya melaju tersendat-sendat ketika melaju di kawasan padat itu. Lalu ia memasuki sebuah jalan yang lebih kecil, ia pernah mengunjungi tempat ini sewaktu meeting perusahaan, jadi ia masih hafal.


Semoga saja feeling-nya tidak salah.


Mobil berukuran besar itu terparkir di sebuah halaman rumah villa yang berdempetan. Tidak ada kendaraan apapun di sana, termasuk mobil MPV putih milik istrinya. Rumah itu terletak di ujung jalan buntu, jadi terasa sunyi, meski suara bising kendaraan masih bisa terdengar. Damian yang mengenakan setelan kemeja silver dan celana katunnya turun dari mobil. Ia memperhatikan rumah villa berdesain minimalis itu. Haruskah ia mengetuk pintu untuk memastikan?


Sementara itu, genderang jantung Tania bertabuh kencang, ketika dilihatnya pria itu ada di depan halaman tempat tinggalnya. Sungguh ia tak menyangka kalau Damian benar-benar ada di depan villa yang selama satu minggu ini ditinggalinya. Bagaimana suaminya itu mengetahui kalau ia tinggal di sini? Padahal ia tidak pernah memberitahukannya pada siapa pun, termasuk Ferdian. Ia memang pernah ingin berlibur di sini dan memberitahukan suaminya, tetapi itu sudah satu tahun yang lalu. Tania bersembunyi di balik gorden tebal di samping jendela rumah yang tidak tembus keluar. Nafasnya terasa berat, tangannya bergemetaran. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Damian terlihat berjalan mendekati pintu rumah villa sebelah kiri, ia mengetuk pintu itu dengan perlahan. Tidak terdengar apa-apa di sana. Ia mencoba lagi sampai tiga kali, hasilnya tetap sama. Hatinya terasa was-was, ia harus mencoba di rumah sebelahnya. Tiga ketukan dilakukannya kembali, tetapi hasilnya pun sama saja. Mata Damian terpejam dan menghela nafas beratnya. Pria tegap itu pun kembali ke mobilnya. Ia termenung sambil memikirkan sesuatu.


Mesin mobil itu menyala, lalu Damian memutuskan pergi dari sana. Mungkin memang Tania tidak ada di sana. Mungkin saja wanita itu ada di tempat lain yang tidak ia ketahui.


Hati Tania merasa lega seketika, saat mobil milik suaminya itu berlalu dari sana. Ia bisa bernafas lega sekarang.


Tania mendudukan dirinya di sebelah kolam renang yang berada di dalam rumah. Kakinya bermain-main dengan air kolam yang terasa dingin dan sejuk. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, nyaris murung sebenarnya. Pikirannya menyelam ke dasar sanubarinya.


Damian adalah pria yang membuatnya jatuh cinta untuk yang ketiga kalinya. Setelah mendapat pengkhianatan sebanyak dua kali dari pacar-pacar sebelumnya, Tania yang dulu berusia 23 tahun, sempat tidak ingin merasakan jatuh cinta lagi. Namun kedatangan Damian mengubah segalanya. Banyak drama memang ketika mereka akan merajut kasih. Damian yang adalah senior di kampusnya tiba-tiba saja dikenalkan ayahnya sebagai calon suaminya. Pria yang terkenal berdarah dingin di kampusnya itu justru harus menjadi suaminya. Pengalaman menyakitkannya, membuat ia sulit untuk jatuh cinta kepadanya. Namun, hati Damian tidak sedingin perangainya. Justru perlakuan hangat suaminya selama awal pernikahan membuatnya jatuh cinta, yang tidak pernah disadarinya.


Hingga tiba suatu saat ketika Damian mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma selama beberapa minggu. Dari sana, ia menyadari kalau dirinya sangat mencintai suaminya itu.


Waktu terus berputar. Kisah kasih asmara Damian dan Tania mengalami pasang surut. Kadang kapal mereka berlayar di lautan yang tenang, sering juga terhempas oleh badai dan ombak yang tiba-tiba datang. Apalagi ketika dokter memvonis dirinya memiliki sindrom polikistik ovarium, yaitu sindrom yang terjadi karena terganggunya fungsi ovarium, membuat dirinya memiliki peluang kehamilan yang sangat kecil. Dari sanalah, Damian berubah. Sifat dinginnya kembali muncul, bahkan ia menjadi lebih sibuk daripada biasanya. Tania sempat merasa rendah diri, tetapi ia tidak menyerah agar program kehamilannya berjalan lancar dan berhasil. Ia juga tetap bersikap agresif kepada suaminya agar senantiasa terus bergairah pada dirinya. Tetapi ternyata suaminya itu tetap bersikap cuek dan tak acuh pada dirinya. Padahal ia berusaha bertahan selama 10 tahun pernikahannya.


Hingga lima bulan yang lalu, sebuah isu tentang suaminya muncul. Damian dikabarkan tengah berada di sebuah klub elit di Jakarta bersama rekan bisnisnya, Angella Gotardo. Isu itu muncul ketika perusahaan Keluarga Winata tengah naik daun karena ayah mertuanya, Gunawan, telah sembuh. Isu itu akhirnya membuat saham perusahaan keluarga mereka goyah kembali. Isu ini ia manfaatkan untuk meninggalkan suaminya, meski sebenarnya ia tidak ingin berpisah. Namun inilah satu-satunya jalan terbaik menurut wanita berusia 33 tahun itu. Meski ia percaya suaminya itu tidak akan pernah melakukan hal itu.


Sebuah ketukan pintu mengagetkan pikirannya. Perempuan itu langsung melangkahkan kaki ke pintu depan untuk mengintip siapa yang datang, apakah Damian datang kembali? Tetapi setelah dilihat-lihat tidak ada mobilnya. Seorang pengemudi ojek online terlihat berdiri di depan pintu sambil membawakan sebuah kotak pipih berukuran sedang. Tania mengernyitkan alisnya, ia merasa tidak memesan apa-apa. Tanpa rasa ragu, Tania membukakan pintu.


"Selamat siang, Bu!" sapa pengemudi ojek online itu.


"Siang, ada apa ya?"


"Ini ada paket untuk Ibu," ucapnya sambil menyerahkan kotak itu.


"Tapi saya tidak pernah memesan apa-apa saat ini," ujar Tania heran.


"Ada yang menitipkannya pada Ibu, silakan diterima ya dan tolong tanda tangan di sini."


Tania menerima paket yang ternyata sebuah kotak pizza itu. Dusnya terasa panas, berarti isinya pun baru matang dari oven. Akan tetapi siapa yang mengirim? Tania hendak menutup pintu, namun dengan cepat tangannya itu ada yang menarik. Hatinya terkejut.


"Maafin aku, Sayang!" tiba-tiba sebuah suara berat datang dari belakangnya.


Tania menatap Damian terkejut dengan mata berkilauan. Tubuhnya bergetar hebat, ia menjatuhkan kotak itu dari tangannya. Damian menarik tubuh Tania dalam dekapannya.


"Kasih aku kesempatan, please!" ucap Damian lirih, sambil mengelus lembut kepala istrinya.


Tubuh Tania tidak bergeming. Ia sadar, kalau pelukan itu sangat dirindukannya selama ini, begitu hangat. Damian terus mengelus kepala istrinya yang dirindukannya. Namun ada sesuatu yang berbeda. Ia merasakan sesuatu yang aneh di depan perutnya. Ada sebuah tonjolan besar yang mengganjal di sana. Dengan sigap, Damian melepaskan pelukannya, ia memegang bahu istrinya sambil memperhatikan ke arah perut istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu hamil?" tanya Damian menggoyang bahu istrinya, matanya terlihat berkaca-kaca.


Tania tetap memandang suaminya tanpa ekspresi. Mulutnya membisu.


"Kamu hamil, Sayang?! Alhamdulillah, aku benar-benar gak nyangka!" ujar Damian ekspresif, menarik kembali Tania ke dalam pelukannya.


Tania masih tidak bergeming, meskipun hatinya berkecamuk, antara perasaan senang, sedih, dan bingung. Damian menangkup pipinya, lalu mencium bibirnya. Wanita itu mendorong suaminya. Damian menatapnya sendu.


"Aku akan jelaskan apapun yang terjadi. Tapi kumohon, berikan aku kesempatan sekali lagi!"


"Gak perlu. Aku udah muak sama sifat kamu, Bang!"


"Aku janji akan berubah. Aku cinta kamu, Sayang!"


Nafas Tania terdengar menderu kasar. Sebenarnya ia tidak ingin menambah masalah, kepalanya terasa pusing saat ini, dan entah kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


"Tania, please! Kamu percaya kan kalau aku tidak melakukan apa-apa dengan wanita itu? Itu hanya jebakan, Sayang! Aku memang pergi ke klub, tetapi tidak sampai melakukan hal aneh, karena aku hanya menemui klien di sana," terang Damian.


Kepala Tania masih pusing, bahkan kali ini terasa lebih hebat. Nafasnya terasa sesak. Ia tidak boleh seperti ini demi anak yang dikandungnya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa yang membahayakan nyawa anaknya.


"Abang!" ucap Tania tiba-tiba memegang kepalanya, langkahnya berjalan mundur tak seimbang.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya?"


Damian langsung membopong tubuh istrinya ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari rumah itu.


\=====


"Ini gejala vertigo yang disebabkan oleh migrain. Tekanan darah Ibu rendah jadi lebih baik banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran," terang dokter di sebuah klinik ibu kehamilan yang tidak jauh dari villa.


"Bayinya tidak apa-apa, Dok?" tanya Damian khawatir.


Damian bernafas lega. Dokter pun memberikan resep obat dan mempersilakan mereka pulang. Tania belum berkata apa-apa sejak tadi, meskipun begitu Damian tidak peduli, ia akan tetap bersama istrinya itu. Damian memberhentikan mobilnya di sebuah restoran Padang, ia tahu Tania sangat menyukai masakan Padang, berharap istrinya itu akan bernafsu untuk makan siang.


"Kita makan dulu ya?" ajak Damian mematikan mesin mobilnya.


Tania diam saja meski matanya menatap suaminya. Ia pun turun dari sana.


Setelah makan siang, mereka kembali ke villa. Damian menuntun lengan istrinya masuk ke dalam villa dan menyuruhnya agar merebahkan tubuhnya di kasur.


"Aku akan tetap di sini, meski kamu gak izinkan. Aku ingin merawat kamu dan anak kita. Sekarang beristirahatlah," ujar Damian, lalu pria itu meninggalkan istrinya yang masih terdiam di dalam kamar.


Tania termenung dalam pikirannya sendiri. Hati terdalamnya memohon agar ia menerima kembali suaminya, agar anaknya itu bisa merasakan kasih sayang dari keluarganya yang utuh, terlepas dari apakah Damian bisa merubah sikapnya atau tidak. Namun hati kecilnya itu yakin kalau suaminya itu akan berubah, apalagi akan ada anak mereka yang lahir setelah ini. Ia pun mengambil ponselnya. Sakit kepala migrainnya masih terasa. membuatnya mengernyitkan matanya ketika cahaya dari layar ponsel menyilaukan matanya. Segera dicarinya nomor pengacaranya itu.


[Batalkan gugatan cerai di pengadilan sekarang juga!] ketiknya dalam whatsapp. Ia tidak mau menelepon pengacaranya itu, khawatir suaranya akan terdengar oleh suaminya.


[Anda ingin membatalkannya?] tanya pengacara tak lama kemudian.


[Iya, saya tidak jadi bercerai.]


[Baiklah, akan saya urus!]


Entah kenapa ada perasaan lega di hatinya setelah itu. Kini ia tengah memejamkan matanya dengan sudut bibir yang sedikit melebar.


Sementara itu, Damian tengah berbaring di atas sofa. Hatinya berbunga-bunga mengetahui jika sang istri sedang mengandung buah hati yang selama ini ditunggunya. Tak menyangka, anaknya itu hadir di waktu yang tepat. Tetapi di sisi lain ia pun merasa begitu menyesal, mengapa baru kali ini mengejar Tania. Bahkan intuisinya turut serta membantunya. Istrinya itu pasti merasa kesedihan yang teramat mendalam selagi mereka berpisah. Ia jadi ingin menghubungi Ferdian karena berkat adiknya itulah kekuatan itu bermula.


"Halooo..." suara di seberang telepon terdengar parau dan berat. Damian lupa kalau adiknya itu berada di Amerika, pasti hari di sana masih tengah malam.

__ADS_1


"Maaf Abang ganggu kamu, Fer!" ucap Damian sembari ia menjauhkan diri dari kamar dimana istrinya sedang tertidur.


"Kenapa Bang?"


"Abang udah ketemu sama Tania," ucapnya bahagia.


"Serius?!" tanya Ferdian tidak percaya, sepertinya rasa kantuknya itu hilang tiba-tiba.


"Ya, dan ia sedang hamil, Fer! Hamil!"


"Hamil? Alhamdulillah...."


"Hari ini luar biasa, Fer! Abang sama sekali gak nyangka dengan semua yang terjadi hari ini."


"Baguslah, terus gimana apa Kak Tania masih bisa diajak rujuk?"


"Entahlah, Fer! Abang belum ngobrol banyak sama dia, tadi kita baru dari klinik karena migrain dan vertigonya kambuh. Jadi sepertinya akan kita bicarakan nanti, setelah dia pulih."


"Ooh, ya mudah-mudahan rumah tangga Abang baik-baik aja."


"Aamiin. Makasih ya Fer!


Damian kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa. Matanya terpejam dan kesadarannya hilang, ia merasa lelah dan tertidur di sana kemudian.


Tania terbangun dari tidur siangnya. Rasa sakit di kepalanya sudah berkurang jauh lebih baik. Ia berjalan menuju ruang tengah, dan melihat ternyata suaminya berbaring di sana tengah tertidur. Tania berjalan menghampirinya, lalu duduk di sofa sebelahnya. Ia memandang wajah suaminya yang tampan. Wajah pria itu terlihat sedikit lebih kurus dari lima bulan terakhir ia melihatnya. Ada gurat kesedihan dan kecemasan tergambar di wajahnya itu. Namun, ia sungguh sangat merindukannya, ia mengelus-elus perutnya yang sudah membesar. Kandungannya sudah berusia lima bulan lebih.


Tania beranjak dari kursi, namun tangannya tertahan ketika ia melangkah di samping tubuh suaminya.


"Jangan pergi, kumohon!" ucap Damian lirih.


Tania menatapnya terkejut, pria itu masih terpejam. Namun beberapa detik kemudian, ia terbangun dan menarik lengan istrinya agar ia bisa duduk di kursi bersamanya.


Dalam mata sayunya, Damian berlutut di hadapan istrinya yang sudah terduduk. Ia menggenggam tangan istrinya.


"Apa kamu mau beri aku kesempatan? Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakannya."


Tania memandangnya dengan tatapan rindu. Tak lama, wanita itu mengangguk.


"Kamu serius, Sayang?"


"Aku hargai usaha kamu, Bang! Aku ingin anak kita merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya secara utuh."


"Terima kasih banyak, Sayangku!"


Damian memeluk tubuh istrinya itu erat-erat, dengan komitmen di dalam hatinya kalau ia tidak akan menyia-nyiakan hubungan mereka lagi.


\=====


Yeaa yang penasaran sama hubungan Abang Damian dan Kak Tania ceritanya selesai di sini ya


Lanjut lagi besok


Jangan lupa like, komen dan votenya


Author kasih bonus visual Damian dan Tania lagi ya


__ADS_1



__ADS_2