
Siang hari itu, setelah Keluarga Reza dan Ferdian kembali ke kediaman masing-masing. Arsene menjemput istrinya dengan motornya. Zaara sudah meminta izin untuk menginap di rumah keluarga suaminya itu sampai Arsene benar-benar pergi ke Sydney. Meski rumah mereka cukup berdekatan, Zaara membawa banyak perlengkapannya. Zaara membawa tas ransel yang berisi baju dan semua perlengkapannya.
“Udah siap?” tanya Arsene yang menunggu gadis itu di ruang tamu saja.
“Udah, yuk!” ucapnya riang. Zaara sudah rapi sore itu, wajahnya sudah bersih kembali karena sudah membersihkan diri.
“Kita jalan-jalan sebentar ya? Gak apa-apa kan?” ajak Arsene.
“Oh iya, aku ikut kamu aja!”
Sebelum pulang, Arsene membawa gadis itu ke sebuah cafe milik ayahnya yang dekat dengan kampus mereka. Zaara terlihat canggung untuk berpegangan pada tubuh suaminya itu. Akan tetapi ia memberanikan dirinya dan berpegangan pada jaket hoodie suaminya itu. Arsene tersenyum saja.
Matahari telah condong ke barat. Angin sore bertiup lembut menerpa wajah kedua anak muda yang baru saja mengikatkan dirinya pada sebuah ikatan halal. Mungkin orang yang melihat mereka akan menyangkanya seperti pasangan yang sedang berpacaran pada umumnya. Mereka turun di sebuah cafe dengan konsep taman yang mendominasi. Itu adalah cafe milik Ferdian yang sejak kuliah dulu dirintisnya.
“Sini, tasnya aku yang bawain!” ucap Arsene yang baru menggantungkan helmnya di atas spionnya.
“Gak apa-apa, gak berat kok!”
“Udah siniin aja!” Arsene melepas paksa tas ransel yang digendong Zaara itu dan membawanya di punggungnya.
Arsene menuntun tangan istrinya dan masuk ke sana. Jantung Zaara berdebar ketika pria itu menggenggam erat tangan kanannya.
“Wah pengantin baru ini!” ucap seorang pelayan cafe yang memang sudah kenal dengan Arsene.
“Masih anget banget dong!” sahut yang lain.
“Minta buku menu, Kang!” ujar Arsene yang tersipu-sipu setelah mendapat sambutan itu, membuat para pelanggan lain terkejut dan tidak percaya.
Arsene membawa istrinya itu duduk di bawah pohon rindang yang berada di dalam kafe. Suara riak-riak air dari kolam kecil di sana terdengar menenangkan hati. Arsene menaruh tas ransel istrinya di atas sebuah kursi di sampingnya.
“Mau pesen apa, Zaara Sayang!” ucapnya pelan sambil menatap wajah istrinya yang terlihat berseri-seri.
“Eh?!” Zaara terkejut dengan panggilan itu.
“Mulai sekarang kita harus ganti nama panggilan. Kamu mau dipanggil apa?” tanya Arsene memangku dagunya dengan salah satu tangannya.
“Kamu mau dipanggil apa?” Zaara malah bertanya balik.
Arsene melirikan matanya ke atas, lalu ke pinggir.
“Umm.... Panggil Abang Sayang aja!” ucapnya percaya diri dan tersenyum lebar.
Zaara terkekeh geli.
“Terus kamu gimana, Sayaaaaang?” Arsene sengaja menekankan panggilan ‘sayangnya’ itu dengan nada yang panjang. Zaara semakin salah tingkah dibuatnya.
“Aku suka itu,” ucapnya tersipu-sipu.
__ADS_1
“Zaara Sayaaaaaang?” tanya Arsene memastikan. Zaara menutup wajahnya yang kemerahan seperti tomat. Ia benar-benar tidak tahan dengan perlakuan Arsene yang manis, membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum. Zaara mengangguk.
“Jadi mau pesen apa, Zaara Sayaaang?”
“Aku mau pesen ini aja!” tunjuk Zaara pada sebuah gambar spaghetti aglio olio.
“Minumnya?”
“Mojito strawberry!”
“Oke!”
Arsene memanggilkan seorang pelayan cafe dan menuliskan pesanan mereka sore itu. Arsene kembali menatap Zaara, seolah-olah tidak percaya kalau mereka kini sudah menjadi suami istri.
“Kamu gak capek, Abang Sayang?” tanya Zaara yang mulai memberanikan dirinya dengan panggilan baru untuk Arsene itu.
“Capek tapi gak kerasa, kenapa ya?” ucapnya melirikan matanya ke kanan dan ke kiri.
“Gak tau tuh!”
“Mungkin karena ada mood & energy booster di depan aku,” ucap Arsene membual.
Zaara tertawa-tawa, tampaknya bualan Arsene akan menjadi santapannya mulai hari ini.
Pelayan membawa pesanan mereka dan menaruhnya di meja. Angin menyapa lembut terasa segar di sore hari yang cerah. Mereka menikmati hidangan yang tersaji bersamaan dan saling mencicipi.
“Umm… gimana ya? Campur-campur lah!” jawab Zaara yang memang tidak bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya.
“Are you happy?”
“Yes, of course!” jawab Zaara mengambil sebuah potato chip pesanan Arsene.
“Alhamdulillah. Mau tanya aku?” tanyanya berharap agar Zaara menanyakan hal yang sama padanya.
“Kamu sendiri?”
“I’m very happy and feels like a dream. But I believe it’s not a dream, that you’re mine now! (Aku sangat bahagia dan merasa ini seperti mimpi. Tapi aku percaya ini bukan mimpi bahwa kamu sekarang milikku)!”
Zaara kembali tersipu-sipu. Entah bualan apalagi yang berhasil membuatnya tersenyum lebar.
“Kamu jago banget bikin aku blushing!” seru Zaara.
“Because I’m your brush and your paint (Karena aku kuas dan cat kamu). I will make the color of your life (Aku akan membuat warna untuk hidup kamu)!”
“Arseeeene!” Zaara menutup wajahnya dengan kedua tangannya lagi, ia benar-benar tidak tahan dengan perlakuan suaminya padahal ini masih di tempat umum. Wajahnya terasa panas. Sementara itu Arsene tertawa puas menggoda istrinya itu. Jika saja itu di dalam kamar, mungkin ia akan merangkul tubuh gadis itu erat-erat.
Arsene membawa istrinya pulang ke kediamannya di sore hari menjelang maghrib itu. Setibanya di sana, mereka langsung menuju kamar Arsene. Rumah modern itu terlihat tampak sepi, mungkin para penghuni berada di dalam kamarnya masing-masing karena kelelahan. Arsene mengunci pintu kamarnya setelah Zaara masuk.
__ADS_1
Zaara memperhatikan kamar suaminya yang cukup luas itu, berbeda dengan kamarnya yang memiliki ukuran pas-pasan. Bahkan ada kamar mandi di dalam kamar ini. Kamar itu terlihat rapi, seperti bukan kamar pria saja. Apa mungkin karena Arsene sudah merapikan dan menyiapkan kamar ini untuk mereka berdua. Wangi aroma jeruk yang menguar dari sebuah pewangi ruangan membuat hati tenang ketika menghirupnya.
“Istirahat aja dulu sambil nunggu adzan maghrib!” ujar Arsene setelah ia mencuci tangan dan kakinya.
Zaara mendudukan tubuhnya di tepi ranjang berukuran King itu.
“Rumah kamu sepi, apa tiap hari kaya gini?” tanya Zaara.
“Enggak. Biasanya mereka kumpul di ruang tengah, mungkin lagi pada kecapean.”
“Oooh iya.”
Arsene mengambil kursi belajarnya dan menariknya sehingga ia bisa duduk berhadapan dengan Zaara. Ia menatap gadis itu yang masih memendarkan matanya ke seluruh ruangan kamar tidurnya. Mata keduanya bertemu, Arsene menatap tajam, membuat Zaara terlihat tegang di suasana yang hening yang hanya ada mereka berdua saja.
“Kenapa?” tanya Zaara tidak mengedipkan matanya.
“Boleh buka kerudungnya?” tanya Arsene.
Zaara menenggak air liurnya. Jantungnya kembali berpacu kencang, bahkan sangat kencang yang ia pikir Arsene pun akan bisa mendengarnya. Gadis yang mengenakan kerudung square motif abstrak itu mulai membuka jarum di bagian bawah dagunya. Arsene menegakkan tubuhnya sambil terus memperhatikan istrinya.
Zaara menaruh jarum-jarum yang menempel di kerudungnya di atas meja belajar Arsene. Ia masih merapatkan kerudungnya dengan kedua jarinya.
“Let me do this!” ucap Arsene memegang tepi kain kerudung istrinya, membuat Zaara melepaskan jari yang sejak tadi mengatupkan kerudung itu.
Perlahan Arsene membuka kain berwarna merah muda itu dari kepala Zaara. Semakin lama, semakin terlihatlah salah satu bagian aurat yang selama ini tertutupi. Rambut hitam bergelombang milik Zaara yang masih terikat itu terlihat indah di mata Arsene. Pria itu juga melepas sebuah bandana dari kepala Zaara. Zaara melepas ikatan rambutnya, yang mungkin saja ingin dilihat oleh suaminya itu.
Rambut Zaara dengan sedikit gelombang itu terlihat lebih indah jika tergerai seperti itu. Mulut Arsene menganga melihat keindahan di depan matanya. Itu baru sebagian. Leher istrinya yang putih dan jenjang ketika Zaara mengambil seluruh rambutnya mampu membuat jantung Arsene berdetak kencang.
“Masya Allah!” hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Zaara tersenyum kaku.
Adzan maghrib berkumandang dan membuyarkan tatapan takjub Arsene pada istrinya.
“Sholat berjamaah bareng ya?” pinta Arsene.
Zaara mengangguk.
\=\=\=\=\=\=
Eheeemm....
Ayo sawerannya lagi buat Abang Acen dan Neng Zaara ya poin dan koin boleh, hihi
Like dan komentar jangan sampai lupa
Makasiiih ^_^
__ADS_1