
"Kau punya pacar?" tanya sebuah suara dari belakang tubuh Ferdian.
Ferdian menoleh terkejut.
"Hey, Trey!" wajahnya menyeringai kaku.
Trey tertawa-tawa. "Pasti hubungan jarak jauh sangat menyiksamu ya?" ucapnya bersimpati.
"Ya, begitulah. Aku harus bersabar."
"Aku juga pernah seperti itu. Hanya saja, hubungan kami sudah berakhir."
"Oh, aku turut prihatin."
"Ayo masuk kelas!" ajak pria yang wajahnya mirip dengan Peter Parker dalam serial Spiderman versi terbaru. Setidaknya, itulah yang Ferdian pikirkan ketika melihat Trey.
\=====
Malam terasa dingin menusuk kulit. Padahal air conditioner tidak menyala, dan jendela pun sudah tertutup rapat. Ajeng membalut tubuhnya dengan selimut tebal miliknya dan mencoba untuk tertidur kembali setelah Ferdian menelepon. Namun ternyata rasa kantuknya sulit hadir kembali. Ia malah memikirkan malam pertamanya dengan mahasiswanya saat itu.
"Arghhhh....Ferdian!" ia berteriak kecil, ketika memori manisnya itu sempat membuatnya frustasi malam ini.
Arsene menggeliat di sampingnya. Ajeng menutup mulutnya. Ia lupa kalau Arsene tidur di sampingnya, bukan di ranjang kecil milik anaknya itu.
"Mimi," ucapnya lembut. Mata anak itu terbuka dan menoleh pada ibunya.
"Sini peluk Mommy, kamu pasti kedinginan ya?"
Ajeng menarik tubuh Arsene ke dalam pelukannya. Namun tangan anak itu memukul kecil dada ibunya dan menarik-narik bajunya.
"Mommy ambilkan air minum dulu ya?"
"Mimi...!" rengeknya.
Dengan langkah cepat, Ajeng mengambilkan air minum hangat ke gelas kecil milik Arsene.
"Mimi air putih aja ya? Acen udah besar, miminya air putih kaya Mommy," bujuk Ajeng.
Arsene memang sedang dalam tahap penyapihan. Ajeng berusaha menerapkan weaning with love dalam proses penyapihan Arsene. Banyak pakar mengatakan bahwa ini adalah teknik terbaik dalam penyapihan sehingga sang anak tidak akan mengalami ketakutan atau trauma. Jadi Ajeng berusaha mungkin untuk memberikan kenyamanan pada anaknya itu. Ia juga sudah mengurangi frekuensi menyusui anaknya dan lebih banyak memberikan anaknya makanan bergizi.
Arsene meneguk air minum yang diberikan oleh ibunya. Sudah lima hari ini, Arsene terbangun hanya sekali dan meminta minum, hanya saja Ajeng cukup memberikannya air putih saja, bukan ASI. Tidak lama, Arsene terlihat mengantuk lagi. Ajeng mendekap tubuh mungil anaknya dan menyelimutinya. Namun kaki Arsene mengelak ketika selimut menutupi tubuhnya. Padahal udara terasa sangat dingin bagi Ajeng. Anak itu pun membalikan badannnya dan memunggungi ibunya. Ajeng pun ikut tertidur setelah itu.
\=====
Ferdian telah membaca isi surat kesepakatan yang ditawarkan oleh Trey. Ia pun sudah menandatangani persetujuan untuk menjadi model dalam satu kali sesi foto untuk sepuluh setelan busana pria milik brand Curtis.Co. Tidak ada persyaratan aneh lainnya, jadi ia setuju saja. Tentu saja ia akan mendapatkan bayaran yang cukup besar dari pekerjaannya itu, apalagi dalam bentuk dollar.
"Ini Trey!" ucap Ferdian memberikan kertas persetujuan itu pada Trey.
"Terima kasih banyak. Aku akan mengukur badanmu terlebih dahulu." Trey mengambil penggaris ukur badan dari laci mejanya. Ia mengambil sebuah kursi kecil dan menaikinya.
"Kau tinggi sekali, berapa tinggi tubuhmu?" tanya Trey sambil mengukur lingkar lengan dari atas kursi.
"185 cm."
"Wow!"
__ADS_1
"Hey Ridho, daripada berdiam diri di sana, apakah kau bisa bantu aku?" seru Trey. Ridho memang berada di dalam kamar Trey juga, ia sedang memperhatikan majalah fashion milik Trey.
"Oke."
Ridho berjalan ke samping Ferdian. Ridho memang memiliki tubuh yang lebih tinggi daripada Trey. Meskipun ia juga agak lebih pendek dari Ferdian.
"Peganglah di sini. Aku akan mencatat setiap ukuran Ferdian," peritah Trey, agar Ridho memegang ujung pengukur baju di bahu Ferdian. Sementara ia mencatat sendiri, ukuran-ukuran itu untuk dikirim ke tim produksi agar segera membuat produk yang sesuai dengan ukuran Ferdian.
Hampir tiga puluh menit dihabiskan untuk mengukur tubuh Ferdian yang kini mulai sedikit padat karena otot-otot terbentuk di sekitar lengan dan dadanya.
"Oke selesai. Nanti aku akan menghubungi kau lagi setelah produk fashion kami selesai."
"Baiklah."
"Terima kasih banyak Ferdian dan Ridho. Kalian mau kemana siang ini?"
"Kami ada kajian agama," terang Ferdian.
"Ooh kalian Muslim ya?"
"Iya. Baiklah kalau begitu kami permisi dulu," pamit Ferdian.
\=====
Kajian keislaman telah selesai siang itu. Tetapi karena mereka berjanji bertemu Patricia adalah sore hari, jadi Ferdian dan Ridho memutuskan untuk berdiam saja di masjid sambil menunggu ashar tiba. Mereka berjalan menyusuri lorong masjid dari lantai satu ke lantai lima. Ada perpustakaan kecil di sudut lorong lantai empat, mereka masuk ke dalamnya. Perpustakaan itu tidak terlalu luas, dengan rak buku yang menempel di dinding. Tidak ada meja atau kursi, hanya ada karpet lebar di sana yang bisa menjadi alas duduk. Perpustakaan itu tampak kosong, tidak ada siapa-siapa di sana kecuali mereka berdua.
Ferdian memperhatikan judul koleksi buku yang berdiri rapi di dalam rak. Ternyata koleksinya cukup banyak, ada buku sejarah keislaman, fiqih islam, tauhid, ibadah, syariah, politik, dan buku-buku umum. Ferdian mengambil sebuah buku politik Islam. Ia baru tahu ternyata Islam juga membahas politik, jadi ia ingin membacanya meski sebentar. Ia duduk bersila di sudut ruangan, lalu membuka satu persatu halaman buku itu.
Ternyata buku itu membahas banyak ideologi yang lahir di dunia, termasuk Islam salah satunya. Ia juga mengenal bahwa Islam memiliki sistem pemerintahan sendiri yang pernah berdiri. Namun ia tidak mengerti mengapa politik Islam tidak ia temukan sekarang, apakah karena terlalu dianggap primitif? Ia ingin mengetahuinya lebih jelas, sepertinya ia akan bertanya pada Ustadz Ahmed di kajian selanjutnya.
Ridho bergerak menuju Ferdian.
"Cantik Fer!"
"Ah kamu mah, semua aja dikatain cantik."
"Ya emang perempuan mah cantik, masa ganteng?!" protes Ridho.
"Ya udah sana ajak kenalan!
"Malu, Fer!"
"Kalau gitu gak akan pernah kenal."
"Lain kali aja deh. Tuh udah adzan, masih ada wudhu gak?" tanya Ridho.
"Gak, udah kentut barusan!"
"Jiahhh, jorok!"
Ternyata ada sepasang telinga mendengar percakapan Bahasa Indonesia kedua pria itu, membuat ia tersenyum sambil menahan tawanya.
Ridho dan Ferdian keluar dari perpustakaan itu setelah mereka menaruh buku yang sudah mereka ambil. Mereka berpas-pasan dengan wanita berhijab tadi, membuat Ridho menundukan pandangannya seraya tersenyum tipis. Ternyata wanita itu membalas senyuman Ridho meski matanya pun menunduk. Sementara Ferdian melihat wanita itu tersenyum pada Ridho yang berjalan di depannya. Tidak sengaja, tatapan Ferdian dan wanita itu bertemu, lekas-lekas wanita itu menunduk. Bibir wanita itu juga tersenyum tipis.
Kedua pria itu kembali ke lantai satu untuk mengambil air wudhu.
__ADS_1
"Dho, perempuan tadi senyum lho sama kamu!" bisik Ferdian ketika melangkahkan kakinya di anak tangga.
"Oh ya? Masa?"
"Iya, aku lihat!"
"Terus sama kamu?"
"Senyum juga, tapi gak aku balas, hehe!"
"Ya udahlah, senyum kamu mah cuma punya Miss Ajeng satu-satunya."
"Iya dong!"
Kedua pria itu terkekeh ketika memasuki ruangan sholat. Para jama'ah lainnya berbondong-bondong merapatkan barisan dan memulai ibadah mereka di sore hari itu.
Jama'ah saling bersalam-salaman setelah sholat selesai. Dengan begitu, ikatan persaudaraan sesama Muslim bisa terjalin dengan kuat, meski mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Hanya ikatan akidah yang mempersatukan mereka di sini, di dalam rumah Allah.
"Yuk Fer, keburu Patricia nunggu di sana!" ujar Ridho berdiri dari alas karpet.
"Ciyee, yang mau ketemu gebetan," goda Ferdian.
"Ehhh, belum ya! Lagian dia kan non-Muslim. Jadi gak bisa jadi prioritas," terang Ridho mengusap wajahnya.
"Kan bisa dibimbing."
"Iya sih, ah aku mah gak mau bawa-bawa perasaan dulu. Fokus belajar dulu di sini."
"Tapi bawa jodoh pulang kan bonus. Pak Yusuf sama Bu Narti pasti seneng banget, anaknya pulang-pulang bawa jodoh."
"Ya mudah-mudahan dapat yang sholeha," harap Ridho.
"Aamiin."
Keduanya pun berdiri dan hendak melangkahkan kaki keluar dari ruangan sholat.
"Ferdian, Ridho!" panggil Ustadz Ahmed dari arah mimbar. Keduanya menoleh.
"Kenapa Tadz?" tanya Ridho.
"Apa salah satu dari kalian ada yang berniat untuk menikah?" tanya Ustadz Ahmed sebelum mereka beranjak pergi.
DEG.
\=====
Bersambung lagiiii
Yuk ah like, comment dan votenya biar author makin semangat
Jangan lupa juga gabung di grup chat author dan follow instagram @aeriichoi
Makasiiiih
__ADS_1