
Pagi itu Ajeng baru saja bangun dari tidurnya. Di area matanya terdapat lingkaran hitam karena ia bergadang menghadapi Arsene yang rewel semalaman dan baru saja tertidur setelah adzan subuh. Untung saja hari ini tidak ada jadwal mengajar, jadi ia akan fokus merawat anaknya yang sakit. Suhu tubuh Arsene juga sudah agak lebih baik daripada tadi. Ternyata anaknya itu terserang flu, membuat hidungnya mampet sehingga ia tidak bisa tidur.
"Sarapan dulu, Sayang!" ucap Ferdian ketika melihat istrinya terbangun.
"Iya," jawabnya lemas.
Ajeng berjalan menuju meja makan. Ia membetulkan gaun tidurnya yang tampak berantakan. Ia juga mengusap rambut yang tidak sempat disisirnya. Wanita itu benar-benar kelaparan, makanya ia tidak sempat memikirkan penampilannya lagi. Ajeng mengambil piring makannya dan mengisinya dengan menu yang sudah disiapkan oleh Bi Asih. Ia pun menyantap sarapannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Ajeng melihat Ferdian sudah rapi. Aroma parfum menyeruak dari tubuhnya.
"Mau ke cafe, mau selesaikan urusan kemarin."
Ajeng mengangguk-angguk sambil menyuap makanannya.
"Mau titip apa, Sayang?" tanya Ferdian duduk di samping istrinya.
"Titip bawain cinta kamu aja!" ucapnya datar, membuat suaminya itu tertawa-tawa.
"Kurang tidur pun, masih bisa godain suami ya?"
Ajeng menyengir.
"Maaf ya, aku berantakan dan belum mandi!" ucap Ajeng.
"Gak apa-apa, yang penting Arsene bisa nyaman!" Ferdian mengacak-acak rambut istrinya.
"Aku berangkat dulu ya, Sayang?"
"Iya, hati-hati, dan jangan pulang malem. Aku butuh kamu!"
"Iya, Sayangku!" ucap Ferdian mengecup kening istrinya.
\=====
Sebelum tiba di cafe, Ferdian sudah menyuruh Ridwan untuk menghadapnya bersama Sandi. Jadi mereka sudah harus tiba di cafe sebelum ia datang. Ferdian memasang ekspresi wajah tegasnya saat datang ke cafe. Hal itu membuat para karyawannya menjadi tegang seketika.
"Ridwan sama Sandi udah datang belum, Luk?" tanya Ferdian saat tiba di sana. Luki yang sedang membereskan meja bar, langsung terkesiap.
"Udah, Bos! Ada di belakang!" ucap Luki gugup.
Ferdian langsung pergi ke ruangan tempat kemarin mereka sempat mengadakan rapat. Ia duduk di sofa yang terdapat di sana. Ridwan dan Sandi yang sedang berada di area lain, langsung beringsut pergi menghampiri bosnya dengan hati yang tegang. Keduanya pun duduk di hadapan Ferdian yang sedang tertunduk memandangi layar ponselnya. Ridwan berdeham, ia sudah berpikir kalau mungkin hari ini adalah hari terakhirnya di sini. Begitu juga dengan Sandi.
"Kalian udah pikirkan kesalahan kalian masing-masing?" tanya Ferdian menatap keduanya.
Ridwan menenggak salivanya. "Gue minta maaf Fer, karena selama ini belum becus ngurus karyawan," ucap Ridwan.
"Apa kesalahan fatal yang lo buat, Wan?" tanya Ferdian menatap tajam ke mata laki-laki berambut ikal pendek itu.
"G-gue...gue udah biarin karyawan gue ngelakuin kesalahannya," ucapnya bergetar.
__ADS_1
Ferdian mengalihkan tatapannya pada Sandi.
"Apa lo tau siapa karyawan itu, San?"
Sandi menahan nafasnya. Matanya terlihat berkilauan, beberapa detik kemudian ia berkaca-kaca. Tangannya bergetar hebat.
"Maafin atas kekhilafan saya, Bos! Saya ngelakuin itu semua karena terpaksa."
Ferdian menggaruk alisnya.
"Ibu saya sakit parah, saya kebingungan untuk cari biaya berobatnya. Sementara gaji saya selama ini tidak cukup untuk bayar biaya pengobatan ibu saya," terang Sandi.
"Kalau gitu, bawa gue ke rumah Lo!" ucap Ferdian untuk menguji kejujuran karyawannya itu.
Mata Sandi terbelalak, tidak menyangka ucapan dari bosnya itu. Tetapi apa yang diucapkannya itu bukanlah suatu kebohongan. Ia hanya tidak menyangka kalau Ferdian justru ingin mendatangi rumahnya.
"Serius, Bos?" tanya Sandi tidak percaya.
"Iya! Kalau perlu sekarang juga kita jenguk ibu lo! Wan, lo ikut juga!" ucap Ferdian. Ridwan mengangguk saja.
Mereka pun langsung bergegas ke daerah Sekeloa, tidak jauh dari cafe itu. Masuk ke dalam gang-gang sempit dan padat. Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah kecil bercat hijau. Ferdian merasa prihatin dengan kondisi rumah keluarga Sandi yang kumuh karena berada di bantaran sungai. Ada sebuah kursi reyot yang sudah terbuka kulitnya, Sandi mendudukan tubuhnya di atasnya. Bunyi decitan terdengar. Ia membuka sepatunya. Seketika pintu rumah itu terbuka, beberapa anak kecil keluar dari dalam.
"Naha Aa geus uwih deui (Kenapa kakak sudah pulang lagi)?" tanya anak laki-laki yang kemungkinan masih duduk di kelas 4 sekolah dasar. Kulitnya yang gelap terlihat berkilauan berminyak. Bau asam dari tubuhnya menyeruak, mungkin ia baru saja bermain dari luar.
"Aya babaturan rek ngalongok mamah (Ini ada temen mau jenguk mamah)!" jawab Sandi.
"Oooh..." anak itu mengangguk, lalu pergi keluar dari rumah.
"Santi kamana, Sep?" tanya Sandi setengah berteriak.
"Tadi mah nuju ka warung (Tadi sedang pergi ke warung), A!"
"Ibu lo sakit apa, San?" tanya Ferdian ketika ia memasuki rumah sempit itu. Tidak ada kursi di sana, hanya ada alas karpet tipis yang terbuat dari karet. Ridwan dan Ferdian pun duduk di atas karpet itu.
"Sakit kanker, Bos!"
Seketika hati Ferdian merasa teriris mendengar hal itu. Ia saling berpandangan dengan Ridwan.
"Lo tau ini, Wan?"
Ridwan menggeleng.
Sandi sedang mengondisikan ibunya yang terbaring lemah di kasur kamarnya. Sebenarnya ia tidak merasa nyaman karena rumahnya yang berantakan dan sempit. Hanya saja ia harus membuktikan hal itu di depan atasannya.
"Punten, ibu saya lagi tidur, tapi kalau mau lihat mah, silakan aja!"
Karena penasaran, Ferdian pun beranjak dan melihat kondisi ibunda Sandi. Wanita yang kemungkinan masih berusia 50 tahunan terlihat berbaring lemas, tubuhnya kurus, wajahnya pucat. Ada gundukan besar di dadanya yang terbungkus kain-kain.
"Ibu Lo, kanker apa?" tanya Ferdian lagi.
"Kanker payudara. Udah hampir 4 tahun sakitnya. Tapi sekarang makin parah!" jelas Sandi, wajahnya terlihat sendu.
"Ayah lo kemana?"
"Saya mah udah nganggap gak punya bapak. Gak tau, dari sejak lahirnya Asep, dia pergi tanpa kabar. Sekarang saya jadi tulang punggung satu-satunya buat adik-adik saya."
"Adik lo ada berapa?"
__ADS_1
"Tiga."
Ferdian tertunduk lesu. Kemudian mereka kembali ke ruang depan.
"Gue minta maaf ya, karena gak tahu kondisi karyawan gue sendiri. Cuma gue harap, lo jangan pernah ngelakuin hal itu lagi, apapun alasannya!" ucap Ferdian, suaranya ia kecilkan.
"Saya minta maaf, Bos! Saya janji gak akan pernah ngelakuin hal itu lagi dan saya juga udah janji bakal balikin uangnya dipotong dari gaji saya. Tapi tolong jangan pecat saya, Bos! Saya butuh pekerjaan ini dan untuk cari pekerjaan lain bakalan susah!" pinta Sandi penuh harap.
"Lo janji?"
"Iya, Bos! Saya janji demi Allah!"
"Gue kasih lo satu kesempatan lagi untuk kerja di cafe. Tapi inget, kalau lo berbuat ulah lagi, gue gak bakalan segan untuk keluarin lo saat itu juga!" ucap Ferdian tegas, meski volume suaranya masih kecil.
"Makasih Bos! Makasih banyak!" ucap Sandi haru, ia menangis.
"Dan lo Wan!"
Hati Ridwan tersentak. Ia menahan nafasnya.
"Gue juga kasih kesempatan buat lo untuk tetep kerja sama gue. Dengan catatan, lo harus perhatikan semua bawahan lo baik-baik. Laporin semua ke gue kalau ada masalah. Gue masih percaya sama lo!"
Hati Ridwan seketika lega mendengar ucapan itu dari Ferdian.
"Makasih banyak, Fer! Gue janji bakal kerja lebih baik lagi!"
Ferdian tersenyum lega. Ia pun puas dengan keputusan yang diambilnya saat ini. Mereka pun kembali ke cafe.
"San, gue mau ngomong sama lo sebentar!" ucap Ferdian setibanya ia di halaman parkir, ia mengajak Sandi mengobrol di ruangan rapat. Sementara Ridwan kembali bekerja.
"Ada apa Bos?"
"Ini gue mau titip sesuatu buat lo. Gue mau kasih sumbangan buat pengobatan ibu lo. Meskipun gak banyak seenggaknya bisa meringankan beban hidup lo. Dan lo ga usah ganti uang yang kemarin, anggap aja bonus. Tapi lo jangan sampai menyalahi janji lo lagi ya?"
Mata Sandi berbinar. Ia bahkan memeluk Ferdian saking bahagianya.
"Saya janji, Bos! Makasih banyak! Semoga Allah membalas kebaikan Bos selama ini! Dan semoga cafe ini makin sukses!" ucapnya berurai air mata.
"Aamiin!"
Ferdian mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompetnya. Ia langsung memberikannya pada Sandi hari itu.
"Gak usah bilang siapa-siapa!" titah Ferdian.
"Siap Bos, makasih banyak!"
Ah akhirnya, masalah cafe milik Ferdian pun selesai. Hanya perlu melihat komitmen yang sudah mereka pegang. Hal itu akan bisa menilai bagaimana integritas seorang pekerja di mata atasannya.
\=====
Ferdian udah cocok jadi CEO belum ya?
Komen dulu dong biar rame
Like dan votenya juga yaa
Thank youuu
__ADS_1