
Sore itu selepas mengajar, Ajeng tampak membereskan barang-barang yang ada di meja kerjanya. Kertas-kertas tugas mahasiswa miliknya berserakan di atas. Dengan santai ia menyusunnya dan memasukannya ke dalam map miliknya.
Seorang lelaki berambut putih dengan perut yang tak kalah besar dengan perut Ajeng, mendatangi dosen muda.
"Ajeng..." panggil Pak Burhan, yang merupakan dosen senior Sastra Inggris.
"Iya, ada apa Pak Burhan?" tanya Ajeng sambil beranjak dari kursinya.
"Besok kamu bisa gantikan saya untuk serah terima buku-buku baru di perpustakaan kita?" tanya lelaki yang kurang lebih usianya sudah hampir menginjak 70 tahun. Pak Burhan adalah kepala perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya.
"Oh memangnya ada acara di perpustakaan ya?"
"Iya rencananya pihak Natabooks akan menyumbangkan beberapa buku sastra dan novel terbitannya. Kebetulan saya ada rapat dadakan di gedung rektorat, jadi tidak bisa memberikan sambutan juga serah terima dari pihak Natabooks. Nah, kamu kan duta baca di fakultas kita, jadi gak ada salahnya kan kamu gantikan saya besok?" terangnya.
Mata Ajeng membelalak mendengar kata Natabooks. Ia berpikir sejenak, selama menjadi dosen memang ia selalu menjadi duta baca di fakultasnya itu. Ia sering mengkampanyekan kepada mahasiswa untuk lebih sering membaca dan mengunjungi perpustakaan. Namun setelah menikah, kegiatannya itu agak sedikit terbengkalai.
"Acaranya pukul berapa, Pak?" tanya Ajeng, jika saja acara itu bertubrukan dengan jadwal mengajarnya.
"Jam 10 pagi, bisa kan? Saya lihat jadwal kamu kosong besok," ungkap Pak Burhan, membuat Ajeng mau tak mau jadi tidak bisa menolaknya, karena pada jam tersebut memang dia tidak ada jadwal mengajar.
"Baiklah kalau begitu, saya akan mempersiapkan diri. Jadi apa saja yang harus saya lakukan untuk mengganti tugas Bapak?" tanya Ajeng khawatir.
"Kamu hanya perlu memberikan sambutan kepada pihak Natabooks, serta menerima buku secara simbolik yang akan diliput oleh Tim Jurnalistik fakultas. Gimana bisa kan? Nanti saya kirim surat serta rincian buku yang akan diberikan pihak Natabooks untuk fakultas kita."
"Oh, baik, Pak! Semoga tidak ada kendala," ucap Ajeng.
"Sipp! Mudah-mudahan lancar ya, terima kasih banyak, ya Jeng!" ucap Pak Burhan yang kemudian meninggalkan wanita itu yang tubuhnya masih mematung.
Ajeng mengerjapkan matanya. Ini berarti dia akan kembali bertemu dengan Kevin. Apa yang harus dikatakannya kepada Ferdian? Ia menghembuskan nafasnya panjang, sebelum akhirnya ponsel miliknya berbunyi.
"Kamu dimana? Aku udah di parkiran!" ucap Ferdian dalam ponsel.
"Oh iya, sebentar lagi aku turun."
"Ya udah aku tunggu di lobby dekanat, ya?"
"Iya, Sayang, makasih!"
Ajeng segera merapikan semua barangnya kembali dan mengambil tas dan mapnya setelah selesai. Beberapa dosen dari jurusan lain yang juga akan pulang tersenyum padanya. Ajeng membalasnya dengan senyumannya, meski ia agak sedikit panik dan terburu-buru. Namun ia segera menyadarkan dirinya ketika akan menuruni tangga, ia melangkah dengan hati-hati.
Sebuah senyuman lebar nan manis menyambut wanita berambut panjang itu dari ruang lobby. Ferdian sudah menunggunya di sana, setelan outfit kemeja salem dengan kaos putih dan celana jeansnya membuat dirinya tampak keren sekali. Wanita itu seketika menjadi semangat dan berbinar-binar.
Ferdian langsung menyambut tangan istrinya ketika wanita itu menginjakan kakinya di lantai lobby. Ferdian membawakan tas wanitanya. Keduanya bergenggaman tangan satu sama lain sambil tersenyum.
"Kamu mau makan apa malam ini?" tanya Ferdian riang.
"Tumben tanya, emang kenapa?"
__ADS_1
"Mau makan di luar atau aku yang masak?" tawar pria berkulit cerah itu.
Ajeng tampak bergumam sebentar.
"Aku pengen dimasakin sesuatu sama kamu, boleh?" pinta Ajeng dengan mata berseri-seri.
"Boleh, mau makan apa?"
"Pasta!" jawab Ajeng.
"Oke deh siap!"
Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan melaju menuju apartemennya.
Ferdian tampak asyik mencacah bawang putih di dapurnya, selagi ia merebus pasta jenis fettucine di panci panasnya. Kemudian ia melelehkan butter di atas wajannya, dan memasukan bawang putih juga heavy cream. Ia meniriskan pasta yang sudah matang, serta merebus sebentar brokoli. Di wajan yang lain, ia menumis udang-udang segar dan mencampurkannya dengan saus creamy garlic yang sudah dibikinnya tadi setelah udangnya matang sempurna. Pria itu membubuhkan garam serta italian seasoning ke dalam sausnya. Dicicipinya saus buatannya itu, dan sudah terasa pas. Ia menambahkan sedikit perasan jeruk lemon agar terasa lebih segar. Brokoli yang sudah matang dimasukannya dan dicampurkannya ke dalam saus.
Ajeng memberikannya dua piring ceper kepada suaminya itu. Ia membantu untuk menyajikan pasta yang sudah tiris ke atas piring itu. Ferdian mengambil wajan berisi saus creamy garlic udang brokoli dan menuangkannya di atas piring yang sudah terdapat pasta. Asap mengepul ke udara, aroma bawang putih, udang dan italian seasoning terasa sangat menggugah di lidah.
"Done, Shrimp Scampi with Creamy Garlic Fettucine & Broccoli ala Chef Ferdian!" ucapnya menyajikan piring itu di atas meja makan,
"Thank you so much, My Handsome Chef (Terima kasih banyak, kokiku yang ganteng)!" ucap Ajeng terkesima. Ia sudah tidak tahan untuk menyantap sajian makan malam buatan suaminya itu.
"You're welcome, My Beloved Queen (Sama-sama, Ratu Kesayanganku)!"
Ajeng mengambilkan gelas berisi air putih dan menyajikan ke depan suaminya. Mereka pun berdoa bersama-sama dan menyantap menu makan malam spesial mereka dengan nikmat.
\=====
"Dulu aku belajar sama Bunda," jawab Ferdian yang kini sedang membuka laptop mengerjakan tugas kuliahnya.
"Kok kamu mau belajar masak? Padahal kan laki-laki!"
"Ya, awalnya aku cuma senang aja perhatiin Bunda masak. Terus Bunda ajakin, entah kenapa ada perasaan bahagia waktu berhasil masak pertama kali. Jadi aja aku terusin hobinya. Aku sering nonton MasterChef dan cobain praktek, beruntung rasanya gak pernah salah," terang Ferdian.
"Hebat banget! Aku aja dulu paling malas kalau pergi ke dapur, apalagi harus kupas bawang yang baunya nempel lama di kulit!"
"Haha, mungkin karena hobi kamu gak disitu. Tetapi karena kamu perempuan, jadinya mau gak mau harus pergi ke dapur juga, kan?"
"Iya, semenjak tinggal sendiri aja aku mulai belajar masak, itu pun yang simpel aja. Aku gak mau repot sih!"
Ferdian menggeleng-geleng saja mendengar kebiasaan istrinya itu. Ajeng memang tipikal yang tidak mau repot apalagi di dapur. Meskipun begitu, istrinya itu selalu menyempatkan memasak untuk mereka, karena Ajeng tidak mau banyak mengeluarkan uang untuk makan di luar yang kebersihan dan kualitas makanannya belum tentu terjaga.
Ajeng duduk di samping Ferdian, di meja kerja mereka masing-masing. Sementara Ferdian mengerjakan tugas essay sastra kontemporernya, Ajeng mengeluarkan kertas untuk memeriksa hasil kuis yang diberikannya untuk para mahasiswanya. Ia jadi teringat kembali permintaan Pak Burhan untuk hari besok. Namun, sepertinya ia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu, baru berbicara dengan Ferdian. Ia pun larut untuk memeriksa hasil kerja mahasiswanya.
Waktu malam sudah menunjukan pukul 21.12 WIB, udara sudah semakin terasa dingin. Ferdian menutup laptopnya, tugas essaynya sudah berhasil ia kerjakan dengan tuntas. Sementara Ajeng masih fokus menyelesaikan pekerjaannya, masih ada beberapa lembar lagi kertas mahasiswanya.
Ferdian memperhatikan wajah istrinya yang serius. Sebenarnya ia ingin sekali menggodanya, tetapi pasti wanitanya itu akan marah. Ia hanya melipat tangannya di atas meja sambil menoleh dan menatap lekat istrinya.
__ADS_1
"Kamu udah selesai?" tanya Ajeng tanpa memandang suaminya, meskipun ia sadar sedang dipandangi.
"Udah, mau aku tungguin?" tanyanya.
"Kalau mau tidur duluan, duluan aja!" ucap Ajeng masih fokus memeriksa tugas.
"Aku di sini aja, tungguin kamu!"
Ajeng memandang suaminya seraya tersenyum. Beberapa menit kemudian, ia telah selesai dan mengembalikan kertas-kertas itu ke dalam mapnya.
"Sayang..." panggil Ferdian yang sudah menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
"Kenapa?" tanya Ajeng mematikan lampu kamar tidurnya. Ia berbaring di samping tubuh suaminya.
"Besok pagi aku harus pergi ke kampus tetangga," ujar Ferdian menatap langit-langit kamarnya yang sudah gelap.
"Ada acara apa memangnya?"
"Ada seminar sastra, kebetulan ada teori yang aku ambil untuk skripsi bakal dibahas di sana," terang Ferdian. "Jadi, aku mau nyimak pematerinya, siapa tau membantu!" ucapnya lagi.
"Emangnya kamu gak ada kuliah pagi?"
"Kuliah pagi dari jam 8 aja sebenarnya, cuma Pak Burhan skip kelas, katanya ada rapat di rektorat. Jadi aku mau sempetin ke seminar itu aja, meski sampai jam makan siang, habis itu balik lagi ke kampus karena ada kelasnya Miss Novi," jelas Ferdian.
"Oooh, ya udah kamu datang ke seminar aja. Siapa tau memang membantu banget," ucap Ajeng.
"Makasih Sayang!"
"Fer, aku juga ada acara di perpustakaan besok!" ucap Ajeng bergantian.
"Acara apa?" tanya Ferdian memandangi istrinya.
"Tapi kamu jangan terlalu pikirin ya?" ucap Ajeng khawatir suaminya itu malah akan membatalkan pergi ke seminar.
"Emang kenapa?"
"Pak Burhan kan kepala perpustakaan, sedangkan aku Duta Baca di fakultas. Beliau minta gantiin aku untuk kasih sambutan dan serah terima buku sumbangan dari Natabooks," kata Ajeng, nadanya terdengar kaku.
Ferdian merubah posisi tubuhnya setelah mendengar nama Natabooks. Kepalanya bertumpu pada tangannya, sementara ia menghadap miring pada istrinya. Tangannya membelai rambut panjang istrinya dan memainkannya beberapa helai.
"I trust you!" ucap Ferdian singkat sambil mengecup kening istrinya itu.
Hati Ajeng menjadi lega seketika, ia balik mengecup suaminya tepat di bibirnya, membuat malam itu semakin panjang dan hangat karena keduanya tak bisa lagi menahan hasrat yang terpendam.
\=====
Bersambung....
__ADS_1
Like, comment, vote & tips buat semangatin Author yaa
Makasih sudah membaca ^^