Mahasiswaku Calon Suamiku?

Mahasiswaku Calon Suamiku?
(S2) Ep 100. Pria Berjubah


__ADS_3

Zaara bergidik setelah membaca puisi dari sebuah amplop yang ditujukan padanya. Benaknya tentu saja penasaran dengan siapa pengirim puisi ini. Bahkan ia merasa tertantang untuk mencari tahu. Ia harus melihatnya, meski hatinya takut bukan main. Padahal pernikahannya dengan Arsene sudah tersebar dengan baik di fakultasnya serta lingkungan masjid. Kecuali jika pengirim itu adalah mahasiswa baru. Tetapi siapa? Ia merasa tidak pernah berhubungan dengan mahasiswa baru satu pun, karena tidak terlibat dalam kepanitiaan ospek.


Zaara menatap pada kawan-kawannya yang juga penasaran.


“Gimana?” tanya Zaara meminta pendapat.


“Kita kejar yuk!” ajak Terry bersemangat.


“Yakin?!” tanya Hana.


“Kita kan bertiga, gak usah takut! Kalau ketemu, langsung aja labrak maksudnya kirim ini buat Zaara untuk apa? Dan sekalian kasih tau kalau Zaara udah nikah, kalau macam-macam siap aja berhadapan sama Arsene the Great, bhahaha!” Ide Terry memang luar biasa, membuat kedua teman lainnya sepakat.


“Jadi kemana kita?” tanya Hana.


“Ke depan perpus sastra!” jawab Zaara.


Ketiga gadis berhijab itu langsung berangkat tanpa basa-basi untuk kembali ke fakultas mereka dan menuju gedung perpustakaan di gedung B lantai satu. Dengan derap langkah cepat, mereka kembali melewati pepohonan rimbun, berjalan di atas trotoar, dan menyebrangi jalanan.


Suasana fakultas masih ramai oleh mahasiswa-mahasiswa yang masih harus menyelesaikan ujian akhir semesternya. Begitu pula di depan gedung B yang masih berseliweran orang-orang melewati koridor dari kelas ke kelas.


Seseorang berjaket hoodie hitam yang menutupi seluruh kepalanya, terlihat sedang menaruh sebuah kotak berwarna merah muda di atas kursi di depan perpustakaan. Jaket itu terlalu besar untuk badannya. Ketiga gadis itu melihat sosoknya yang bertubuh tinggi dan kurus. Dilihat dari manapun, sosoknya adalah seorang laki-laki. Sosok itu terlalu mencurigakan di sana. Jantung Zaara semakin tidak karuan saja melakukan misi ini.


Terry yang antusias mempercepat langkah kakinya ketika melihat sosok itu menghilang di balik gedung B. Sementara Zaara dan Hana mengambil kotak berwarna pink itu, tertulis nama Zaara di sana.


“Buka, Ra!” teriak Terry menghampiri, setelah ia gagal mendapati sosok misterius tersebut.


"Bukannya katanya tadi pakai jaket LDK?" tanya Zaara tidak mengerti.


"Udah ganti mungkin, buat kamuflase doang." Terry berucap.


Masuk akal, tetapi tetap saja terlalu aneh. Bisa jadi sosok itu merupakan aktivis LDK yang mengaguminya. Benak Zaara terus bertanya-tanya.


Kemudian, Zaara dengan cepat membuka kotak tersebut yang dipegangnya. Ternyata kotak itu berisi kertas lain yang terlipat. Ia kembali membacanya dengan suara yang bisa didengar oleh kedua sahabatnya.


Rinduku terlalu berat


Bahkan awan tidak mampu membawanya


Hujan sudah pasti kalah


Laut tak kan juga bisa menampungnya


Aku rindu sangat


Maukah kau berbagi?

__ADS_1


Agar bebanku tak sulit lagi


*note: cari aku di depan atm center gerbang timur. Jika berhenti, lebih baik aku mati


“Aahh...aku takut ah!” teriak Zaara meremas kertas itu. Apalagi setelah membaca frase terakhir di surat itu. Siapa yang berani mati untuknya?


“Udah jangan takut, kan ada kita! Lagian ini masih siang! Di ATM juga banyak orang.” Terry paling semangat untuk memecahkan misteri ini. Bahkan ia sudah berdiri untuk bisa melanjutkan apa yang tertulis.


“Tapi serem ih, kaya psycho gitu!” timpal Hana yang juga sependapat dengan Zaara.


“Maunya apa sih?!” Zaara menginjak-injakan sepatunya di atas ubin.


“Udah labrak aja makanya! Biar nanti pas Arsene pulang dia yang hadapi langsung!” lanjut Terry.


Zaara menatap Hana dengan cemas dan takut. Baru kali ini ia merasa ketakutan karena ada seseorang yang mengincar hatinya. Padahal ia sudah bersuami, mengapa harus seperti ini? Ia jadi ingin menghubungi Arsene dan meminta pendapatnya. Hanya saja Terry lekas-lekas menarik lengannya ketika ia akan mengambil ponsel dari dalam tasnya.


Mereka bertiga berjalan menyusuri trotoar kampus, melewati beberapa fakultas untuk bisa mencapai gerbang timur, yang letaknya lumayan jauh dari fakultas mereka. Biasanya mereka akan menggunakan angkutan kampus, hanya saja karena cuaca bagus dan rimbun pohon membantu menghalau sinar matahari siang, jadinya mereka memutuskan jalan kaki saja.


Benar kata Terry. Kondisi ATM center begitu ramai oleh mahasiswa yang memiliki keperluan transaksi. Memang, di jam siang ATM akan selalu penuh. Beberapa mahasiswa juga terlihat sedang duduk-duduk santai di kursi taman. Mereka menangkap sosok pria berjubah hitam tadi sedang berada di sisi ATM center, sambil membawa sebuah kotak yang lebih besar ukurannya dari yang tadi. Ketiganya semakin dekat, ketika pria itu menaruh kotak itu di atas lantai di samping pot tanaman. Kemudian sosok itu berlari dan menghilang di pintu gerbang.


“Mau sampai kapan main kaya gini terus?” dengus Zaara melihat sosok itu sudah pergi.


“Udah samperin aja dulu kotaknya!” ucap Terry. “Masih siang ini!” lanjutnya.


Zaara menghela nafas dan mengikuti langkah Terry yang berada di depan lebih cepat dari dirinya. Mungkin Terry khawatir kotak itu akan hilang atau diambil oleh orang. Terry melambaikan tangannya ketika berhasil meraih kotak berwarna cokelat itu.


Lagi-lagi tertulis nama Zaara di sana. Entah apa lagi isinya, puisi lagi kah? Kotak ini terasa lebih berat dari sebelumnya.


Zaara membukanya dengan jantung berdebar. Ada sebuah benda lembut di dalamnya. Ia ambil dan mengeluarkannya. Sebuah boneka koala kecil, terlihat lucu dan menggemaskan yang sedang memeluk anaknya. Sebuah gulungan kertas terselip di tangan boneka itu.


Selangkah lagi kita bertemu


Jangan sia-siakan langkahmu


Aku tak kan membuatmu


Kecewa dalam waktu


Yang singkat tetapi haru


Maafkan aku


*noted: temui aku di pinggir danau


jika berhenti, biarkan aku mati

__ADS_1


“Gimana? Masih mau cari tau orangnya?” tanya Terry menatap Zaara yang terlihat terdiam dan membisu. Raut cemas itu menghilang darinya, berganti harapan dalam hati.


Zaara mengangguk mantap. Terry tersenyum lebar dan menuntun Zaara melangkah menuju danau yang letaknya kurang lebih satu kilometer dari gerbang timur. Letak danau itu dekat dengan gerbang barat kampus yang biasa dilewati mobil. Jadi mereka harus kembali berjalan menuju tempat itu meski jalannya sedikit agak menanjak, karena danau buatan itu terletak di balik bukit, dimana para mahasiswa biasa melakukan penelitian kecil untuk botani.


Hati Zaara tidak karuan. Jantungnya terus berdegup kencang. Hatinya sedikit berharap. Dipegangnya erat boneka koala itu di tangannya. Mereka sudah memasuki lahan perbukitan. Zaara teringat percakapannya dengan Arsene saat mereka baru menikah. Pria itu membawanya kemari, dan saat itu juga seorang petugas keamanan kampus memergoki mereka.


Bukit itu dihiasi oleh banyak tanaman dan ragam pepohonan. Nama-nama tanaman dan pohon itu tertancap di bawah, sehingga para pengunjung bisa mengetahui nama latin untuk tanaman dan pohon tersebut. Ketiga gadis itu masih menyusuri jalan setapak di bukit itu menuju danau hijau yang cukup luas. Kemudian mereka menghentikan langkahnya, ketika ditemukan oleh mereka sosok pria berjubah hitam tadi tengah terduduk santai di pinggir danau. Ia tidak beranjak kemana-mana, dan hanya diam saja di tempatnya. Ketiga gadis itu memandangi punggungnya.


Zaara melirik kepada dua temannya. Terry memberikan kode untuk menghampirinya.


Zaara menghela nafas. Cara duduk pria itu sangat dikenalnya, tidak terlalu tegak dengan punggung yang agak membungkuk. Mungkinkah dia? Dengan langkah hati-hati, Zaara menghampirinya.


“Arsene?”


Zaara membuka suara. Diteguknya saliva ke dalam kerongkongannya. Ia tahu ia terlalu berharap bahwa sosok itu adalah pria yang dirindukannya selama ini.


Pria itu beranjak dari duduknya, lalu berbalik. Wajahnya tidak terlihat jelas karena hoodienya yang kebesaran berhasil menutup sebagian besar wajahnya. Kemudian, tangannya bergerak ke atas, mengambil pucuk hoodienya dan melepasnya. Wajahnya yang tampan terlihat dengan sangat jelas, memancarkan senyuman penuh rindu di sana.


Zaara seketika berlari menghampirinya, tak percaya, kalau pria itu ada di depan matanya saat ini. Dipeluknya erat tubuh pria itu sambil bercucuran air mata.


Ya, Arsene sudah pulang. Ia sengaja tidak memberitahukan kepulangannya itu pada istrinya, sebagai kejutan tak terkira untuk gadis pemilik pipi chubby itu.


“Kenapa gak bilang kalau udah pulang?!” isak Zaara di dada suaminya itu.


“Maaf, aku cuma ingin kasih kejutan buat kamu, kalau aku pulang lebih awal!” Arsene mengelus kepala istrinya.


“Kamu jahat!”


“Iya aku jahat, maafin aku ya?!”


Arsene menyeka pipi basah istrinya. Ia begitu bahagia bisa melihat wajah di depannya itu meski terlihat kemerahan karena menangis haru. Kini rasa rindunya benar-benar akan meluap, karena mereka akan terus bersama di hari-hari kedepan.


Arsene menangkup pipi istrinya, baru saja ia akan mendaratkan ciumannya. Tiba-tiba….


“Woy ada penonton di sini!” teriak Terry mengganggu acara temu kangen suami istri itu.


Arsene dan Zaara lupa kalau masih ada dua orang gadis di sana. Mereka tertawa-tawa bersamaan.


\=\=\=\=\=


Uhuuuy...


Jangan lupa klik LIKE yaa


VOTE nya yang rajin

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin komentar buat episode ini, biar author makin semangat lanjutin


Makasiiiih ^_^


__ADS_2