
Makan siang sudah selesai beberapa jam lalu. Sementara musik jazz yang terdengar romantis masih mengalun indah ditemani tarian tirai yang dibelai sang angin. Kedua pasangan itu masih menikmati kebersamaan dan kehangatannya di belakang pintu menuju teras balkoni. Arsene merangkul tubuh istrinya dari belakang, sementara ia menaruh dagunya di bahu istrinya yang terbuka.
“Kamu di sini untuk satu bulan kan?” tanya Arsene.
“Iya, coba cek aja tiket pesawat aku.” Zaara menoleh pada suaminya.
“Jadi selama itu juga kita bisa coba itu lagi?” Arsene menempelkan pipinya dengan pipi istrinya.
“Dikurang satu minggu karena aku bakal haid.”
“Kalau gak haid?”
“Berarti aku udah hamil!”
“Bisa secepat itu ya?” tanya Arsene mengangkat kedua alisnya.
“Bisa aja, gimana Allah kasih rezeki.”
“Kamu beneran siap kalau punya anak?”
“Mudah-mudahan, berani memulai berarti harus siap dengan konsekuensinya. Aku udah putuskan nikah sama kamu, jadi aku harus siap mengandung anak kamu di usia muda. Meski sebenarnya aku pun masih ragu-ragu. Malam tadi aja, tegangnya minta ampun. Hehe, maaf ya!” Zaara tertunduk mengingat kejadian semalam.
“Ssst… udah jangan minta maaf terus. Ini memang pengalaman pertama, jadi wajar kalau ada sedikit eror. Manusia itu harus coba terus sampai berhasil, baru bisa nikmati hasilnya. Masuk yuk, anginnya besar nanti kamu masuk angin lagi pake baju ginian!”
Arsene menuntun lengan istrinya untuk duduk di sofa, lalu menutup pintu kaca yang membatasi ruang tengah dan balkoni. Arsene duduk di samping istrinya yang menyalakan televisi dan menemukan film drama Hollywood romantis di sana. Meski sebenarnya Arsene tidak terlalu suka dengan film drama, melihat istrinya tertarik dengan film itu akhirnya ia mencoba mengikuti alur.
Zaara tampak terhanyut dengan alur cerita yang dibawakan oleh para aktris dan aktor yang terkenal. Arsene hanya memperhatikan lekukan wajah istrinya dari samping yang tersorot matahari siang. Ia mengaguminya dalam setiap lekukan wajahnya, teringat ranum bibir yang bulat dan imut itu membuat hasratnya tumbuh kembali. Apalagi Zaara terlihat cantik dalam balutan busana anggun itu. Lekuk tubuh bagian atasnya terlihat sempurna di matanya. Arsene menenggak salivanya dan matanya kembali ke layar televisi.
Tiba-tiba saja, Zaara mematikan layar dan menoleh ke arah suaminya.
“Kenapa dimatikan? Udah selesai nontonnya?” tanya Arsene keheranan.
Zaara meraih kerah kemeja suaminya dan mendekatkan tubuhnya. Wajahnya terlihat merona karena memendam malu. Hanya saja ia teringat sebuah pesan, semestinya seorang istri melunturkan rasa malunya di depan suami. Ia sadar dengan kesalahan di malam tadi, rasa khawatir terlalu menguasainya, sehingga menyulitkan permainan pertama suaminya itu. Kini ia cemas, malaikat akan melaknatnya.
Gadis itu dengan berani menarik kerah suaminya sehingga mendekatkan wajahnya satu sama lain. Dengan lembut dan mata redupnya, gadis itu meraih bibir bawah suaminya tanpa malu lagi. Tentu saja Arsene terkejut, tetapi ciuman itu selalu membuatnya lagi-lagi terlena, terlebih lagi hasratnya yang belum usai. Jantungnya berdebar, mengalirkan desiran tubuh yang mendorong rasa cinta terdalamnya. Arsene semakin menarik tubuh gadisnya hingga ditaruhnya di atas pangkuannya.
"Ke kamar yuk, sholat dulu!" ucap Zaara lirih.
"Sholat apa?!" tanya Arsene polos, mengingat mereka sudah melaksanakan sholat dzuhur setelah makan siang tadi.
"Sholat, mmh...."
__ADS_1
Arsene teringat apa yang dibacanya dalam buku Kado Pernikahan. Dengan cepat ia menggendong istrinya ke dalam kamar untuk menunaikan sholat sunnah sebelum kembali mencoba bersatu dalam cinta siang itu.
Kedua pemuda itu melaksanakan sholat seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. bermunajat agar hasrat cinta yang selama ini terpendam dalam bisa terlepas dalam ridho dan rahmat-Nya. Zaara mengecup punggung tangan suaminya lekat dan takzim. Berlanjut di atas kasur, Arsene kembali melafalkan doa agar percobaan kali ini bisa membawa berkah bagi keduanya, kemudian Arsene mengecup ubun-ubun istrinya sambil membacakan doa bagi istrinya yang shalihah.
Suasana berubah menjadi hangat dengan deru nafas yang saling bersahutan. Angin bertiup lembut membantu mengalirkan rasa sejuk sehingga prolog percintaan itu semakin melenakan keduanya. Arsene mulai memimpin permainan, membukanya dengan ciuman yang lembut dan syahdu. Kali ini permainannya lebih halus, lebih lambat, dan lebih sabar. Ia tidak ingin mengulangi hal yang terjadi semalam.
Permainan terus berlanjut, semakin panas, semakin lembut, dan semakin dalam. Kedua anak muda yang sudah menjalinkan ikatan dalam keridhoan Sang Pemilik Cinta itu tidak lagi menutup diri. Membiarkan cinta mengharmoni dalam getaran dan dorongan cepat yang lembut, menyimpan kenangan indah yang akan selalu terekam dalam jiwa selama mereka hidup. Aura penuh kasih menyelimuti keduanya yang kini berhasil menyatukan jiwa dan tubuh dalam satu cinta. Dzikir dan doa terlantun dalam hati yang tengah mencinta dan dicintai saat pelepasan hasrat terjadi, membuat atmosfer kamar semakin hangat.
Arsene mengecup lekat kening istrinya setelah melepaskan hasratnya yang pertama kali dan membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya, tubuhnya terasa letih sekali meski perasaannya telah lega. Ia membelai lembut rambut tergerai milik Zaara.
“Sakit?” tanyanya berbisik.
Zaara mengangguk lalu tersenyum kecil, “nanti juga hilang!” jawabnya pelan.
Arsene tersenyum, “makasih, Sayang!” ungkapnya sambil merangkulkan tubuhnya pada istrinya.
Rasa lelah menyapa tubuh mereka, membuat mata yang terjaga itu kini perlahan redup dan terpejam. Keduanya tertidur sampai akhirnya suara adzan dari ponsel Arsene membangunkan mereka.
Zaara bangkit dari kasurnya, masih menahan nyeri di bagian bawah tubuhnya yang kini terasa aneh. Badannya entah mengapa jadi terasa tidak nyaman dan pegal-pegal. Hanya saja gadis itu tetap bangkit sambil terus menutupi tubuhnya dengan kain gaunnya, karena panggilan Tuhannya. Mata Arsene ikut terbuka merasakan pergerakan dari seseorang di sampingnya.
“Mau kemana?” tanya Arsene pelan. Tubuhnya pun terasa sangat lelah, tulangnya dirasa remuk setelah aktivitasnya beberapa jam yang lalu.
“Aku mau mandi! Mau ikut?" tawar Zaara .
“Boleh?” tanyanya.
Zaara hanya mengedikkan bahunya dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah terseok-seok menahan sesuatu di bawah. Arsene menyusulnya dan bergabung dengannya di sana. Pria itu sama sekali lupa dengan lilin dan minyak esensialnya. Mungkin masih ada waktu lain untuk mencobanya.
\=====
Malam itu, Keluarga Ferdian belum juga pulang. Padahal hari sudah larut dan langit sudah pekat. Arsene yang sedang duduk di depan televisi, mencoba menghubungi nomor ayah dan ibunya itu. Sambungan terhubung.
“Mom, dimana kalian?” tanya Arsene khawatir.
“Wollongong.”
“Kapan pulang?”
“Santai aja, kita masih seneng-seneng di sini kok! Nanti Mommy hubungi lagi. Rajin-rajin aja bikin anak, biar Finn punya temen, haha!”
Arsene menepuk jidatnya.
__ADS_1
“Ya udah, hubungi aku kalau ada apa-apa!”
“Siap, Acen Sayang! Bye!”
Arsene menghela nafas, semoga saja ucapan ibunya itu benar kalau mereka sedang bersenang-senang di Wollongong, salah satu destinasi pantai yang juga banyak direkomendasikan para wisatawan.
“Jadi pada kemana mereka?” tanya Zaara yang baru selesai membereskan sisa makan malam.
“Wollongong, gak jauh sih! Tapi ini kan udah larut.” Arsene menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang empuk.
“Ya udah kita tunggu aja.”
“Di kamar aja yuk!” Arsene berdiri dan merangkul tubuh istrinya.
Alis Zaara terangkat, “oke!”
Pria itu menyalakan lilin aromaterapi yang diberikan ibunya tadi pagi, ingin tahu apa benar efeknya begitu besar seperti yang diucapkan ibunya? Sementara itu hasrat dalam tubuhnya sendiri pun masih menggebu-gebu meski sudah dikeluarkan tadi siang. Tampaknya ia masih membutuhkan penyaluran. Wangi aroma green tea benar-benar membuatnya tenang dan nyaman. Zaara yang baru saja mengganti bajunya di kamar mandi, cukup terkejut dengan wewangian itu.
“Wangi dari mana ini?” tanyanya sambil menaruh bajunya ke keranjang kotor miliknya.
“Ini!” Arsene menunjuk lilinnya.
“Enak banget wanginya,” ucap Zaara menghampiri suaminya.
“Kamu suka?”
“Mmh... mmh…” Zaara mengangguk.
Arsene menarik tubuh istrinya dan mengajaknya berbaring di atas kasur.
“Mumpung masih gak ada siapa-siapa di sini, kita main yuk!?” ajak Arsene mengerlingkan sebelah matanya dan tersenyum menyeringai.
“Main apa?” tanya Zaara polos.
“Main sepak bola, wkwk!”
\======
Bersambung...
Jangan lupa LIKE, COMMENT, & VOTE
__ADS_1
Makasiiih ^_^